BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor senior Roy Marten, sosok yang telah malang melintang di dunia seni peran Indonesia, baru-baru ini membagikan pandangannya yang mendalam mengenai dinamika pernikahan dan perceraian. Sebagai seorang ayah dari Gading Marten, yang juga dikenal publik, Roy Marten tidak hanya berfokus pada karirnya, tetapi juga memberikan perspektif berharga mengenai hubungan rumah tangga yang kerap dilanda badai. Dalam wawancaranya yang eksklusif dengan detikcom di Studio Brownis, Jalan Kapten P Tendean, pada Kamis, 15 Januari 2026, Roy Marten mengemukakan sebuah perbedaan psikologis fundamental antara laki-laki dan perempuan ketika dihadapkan pada konflik yang berujung pada perceraian.
Perbedaan mental ini, menurut Roy Marten, sangat mencolok dan menentukan. Ia berpendapat bahwa ketika kata "cerai" terucap dari mulut seorang istri, hal tersebut menandakan sebuah ambang batas kesabaran yang telah terlampaui. Berbeda dengan laki-laki yang mungkin mengucapkannya sebagai gertakan atau ekspresi sementara dari rasa bosan, bagi perempuan, permintaan cerai adalah sebuah keputusan final yang telah melalui pertimbangan matang dan mendalam. "Kalau seorang perempuan sudah meminta cerai, biasanya tidak bisa dicegah. Biasanya ya," ungkap Roy Marten dengan nada tegas namun penuh perenungan. Pernyataannya ini bukanlah sekadar opini belaka, melainkan sebuah refleksi dari pengamatannya terhadap berbagai kasus dan mungkin juga pengalaman pribadi yang membentuk pandangannya.
Roy Marten lebih lanjut menjelaskan bahwa secara psikologis, ketika seorang perempuan telah sampai pada titik meminta cerai, itu berarti hatinya telah mencapai "titik nadir". Titik nadir ini diibaratkan sebagai dasar terdalam dari sebuah keputusasaan atau kekecewaan. Pada fase ini, segala upaya untuk mempertahankan hubungan, sekecil apapun itu, akan menemui jalan buntu. Hati sang istri seolah telah tertutup rapat, bagaikan sebuah pintu yang terkunci rapat, di mana semua usaha untuk membukanya kembali menjadi sia-sia. "Kalau perempuan bilang ‘Saya mau cerai…’, itu sudah sampai pada titik nadir. Kita pertahankan kayak apa, ya dia akan minta cerai," tambahnya, menggarisbawahi ketidakmungkinan untuk membalikkan keadaan pada titik tersebut.
Sebaliknya, Roy Marten melihat psikologi laki-laki dalam menghadapi ancaman perceraian memiliki karakteristik yang berbeda. Ia berpendapat bahwa laki-laki cenderung lebih mudah menggunakan kata "cerai" sebagai bentuk gertakan atau bahkan sebagai ekspresi dari rasa bosan sementara. Hal ini bukan berarti laki-laki tidak serius dalam pernikahan, melainkan cara mereka mengekspresikan ketidakpuasan atau keinginan untuk perubahan cenderung berbeda. "Kalau pihak laki-laki bilang mau cerai, biasanya enggak serius. Mungkin gertak, atau mungkin sudah bosan," jelas aktor kawakan tersebut. Pandangan ini menyoroti perbedaan dalam mekanisme pertahanan diri dan ekspresi emosi antara kedua gender ketika dihadapkan pada tekanan dalam pernikahan.
Lebih jauh lagi, Roy Marten mencoba menguraikan aspek psikologis dalam menjalani bahtera rumah tangga dengan sebuah analogi yang menarik: pernikahan diibaratkan seperti anggur. Anggur, sebagai simbol, memiliki tiga fase rasa yang mencerminkan tahapan dalam sebuah pernikahan. Fase pertama adalah rasa yang menyenangkan, menggambarkan euforia dan kebahagiaan di awal pernikahan, di mana segalanya terasa sempurna dan penuh gairah. Fase kedua adalah rasa yang memusingkan, mengacu pada periode di mana konflik, perbedaan pendapat, dan tantangan mulai muncul, membuat pasangan merasa bingung dan pusing dalam menghadapinya. Dan fase ketiga adalah rasa pemabuk, yang bisa diartikan sebagai titik di mana pasangan menjadi terbiasa, mungkin kehilangan gairah, atau bahkan merasa "mabuk" oleh rutinitas dan kesulitan yang terus menerus.
Analogi anggur ini menyiratkan bahwa pernikahan bukanlah sebuah perjalanan yang mulus, melainkan sebuah proses yang dinamis dengan berbagai rasa dan tantangan. Roy Marten menekankan bahwa mental pasangan haruslah kuat dan siap menghadapi ketiga fase rasa ini. Kesiapan mental ini bukan hanya berarti mampu menikmati fase menyenangkan, tetapi juga mampu menavigasi fase memusingkan dan tidak terjebak dalam fase pemabuk yang dapat mengarah pada kebosanan atau bahkan perceraian. Keempat, dan ini adalah poin krusial yang disampaikan Roy Marten, mental yang kuat juga berarti memiliki kesadaran bahwa setiap fase memiliki dinamikanya sendiri dan memerlukan pendekatan yang berbeda pula.
Dalam konteks yang lebih luas, Roy Marten menyiratkan bahwa pemahaman terhadap perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan, serta kesiapan mental untuk menghadapi berbagai fase dalam pernikahan, adalah kunci untuk membangun hubungan yang langgeng. Ketika seorang istri sudah sampai pada "titik nadir", itu adalah sinyal peringatan keras bahwa ada sesuatu yang fundamental telah rusak dalam hubungan. Hal ini mengingatkan kita bahwa pernikahan memerlukan komunikasi yang terbuka, empati, dan kemauan untuk terus menerus belajar dan beradaptasi.
Roy Marten, dengan pengalamannya yang kaya, tidak hanya berbagi pandangan, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang sedang atau akan menjalani pernikahan. Pandangannya mengenai "titik nadir" seorang istri yang meminta cerai menjadi sebuah pengingat bahwa terkadang, sebuah keputusan yang diambil oleh pasangan, terutama oleh perempuan, adalah hasil dari perjalanan panjang perjuangan dan kesabaran yang telah mencapai batasnya. Oleh karena itu, penting bagi setiap pasangan untuk senantiasa menjaga komunikasi, menghargai perasaan satu sama lain, dan tidak pernah berhenti berusaha untuk memahami dan mendukung pasangan dalam setiap fase kehidupan pernikahan. Perbedaan psikologis yang ia paparkan bukan untuk menciptakan jurang pemisah, melainkan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong upaya untuk menjembatani perbedaan tersebut demi keharmonisan rumah tangga.

