0

Rizky Billar Ungkap Celetukan Lucu saat Anak Belajar Puasa

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Momen bulan Ramadan tahun ini menghadirkan kehangatan dan keistimewaan tersendiri bagi pasangan selebriti Rizky Billar dan Lesti Kejora. Kegembiraan tidak hanya terpancar dari pelaksanaan ibadah mereka yang khusyuk, tetapi juga dari perkembangan luar biasa yang ditunjukkan oleh putra sulung mereka, Muhammad Levian Al Fatih Billar, yang akrab disapa Abang L. Di usianya yang masih sangat belia, Abang L menunjukkan antusiasme yang luar biasa untuk mulai menunaikan salah satu rukun Islam, yaitu puasa. Rizky Billar dengan penuh rasa bangga menceritakan bagaimana sang buah hati mulai mencoba menahan rasa lapar dan dahaga, meskipun belum mampu untuk berpuasa seharian penuh. Ini merupakan langkah awal yang sangat berarti dalam penanaman nilai-nilai agama sejak dini.

"Abang saat ini kan sudah mulai belajar puasa ya, meskipun masih setengah hari. Tahun ini mungkin belajar pertama kali," ungkap Rizky Billar dengan senyum merekah saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada hari Kamis, 26 Februari 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa momen Ramadan kali ini menjadi saksi bisu dari pertumbuhan spiritual Abang L yang patut diapresiasi. Usia balita memang menjadi tantangan tersendiri dalam mengajarkan konsep puasa yang membutuhkan kesabaran dan pemahaman mendalam. Namun, ketertarikan Abang L untuk terlibat dalam ibadah ini menjadi bukti dari didikan agama yang baik dari kedua orang tuanya.

Proses belajar, sebagaimana lazimnya, tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Rizky Billar dengan jujur mengungkapkan bahwa pada hari pertama Abang L mencoba berpuasa, sang anak sempat menunjukkan sedikit rewel dan kebingungan dengan perubahan rutinitas makannya. Perubahan mendadak ini tentu saja menimbulkan pertanyaan dan ekspresi polos dari Abang L yang belum sepenuhnya memahami konsep menahan diri dari makan dan minum. Celetukan-celetukan lugu yang keluar dari mulut mungilnya saat merasa lapar sukses membuat Rizky Billar dan Lesti Kejora diliputi rasa gemas yang mendalam, bercampur dengan haru melihat semangat sang anak dalam belajar beribadah.

"Hari pertama dia mungkin agak rewel, kaget. Kita coba ‘Ayo Bang sampai Maghrib, usahain sampai Maghrib bisa nggak, mampu nggak?’. Terus dia bilang ‘Nggak Bun, Abang laper, Abang pengen makan, boleh nggak?’," tutur Rizky Billar, menirukan perkataan polos sang putra. Ungkapan ini menggambarkan betapa natural dan jujurnya seorang anak kecil dalam mengekspresikan kebutuhannya. Reaksi ini bukan sekadar kelucuan semata, namun juga menjadi momen berharga bagi Rizky Billar dan Lesti Kejora untuk mendampingi dan menjelaskan lebih lanjut tentang arti penting puasa.

Menyadari bahwa Abang L masih dalam tahap belajar dan belum memiliki kekuatan fisik serta mental untuk menahan lapar dalam jangka waktu yang lama, Rizky Billar dan Lesti Kejora memilih pendekatan yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Mereka tidak ingin memaksakan kehendak atau memberikan beban yang terlalu berat bagi sang anak. Prinsip utama mereka adalah menanamkan pemahaman dan kebiasaan beribadah sejak dini, tanpa menciptakan asosiasi negatif atau rasa terbebani pada Abang L. Ini adalah bentuk pengasuhan yang mengedepankan proses dan penghargaan terhadap kemampuan anak.

"Ya udah kita nggak bisa maksain kan, apalagi masih dalam tahap belajar," ujarnya dengan nada lembut. Pernyataan ini menegaskan komitmen mereka untuk tidak memaksakan kehendak dan menghargai tahapan perkembangan anak. Bagi Rizky Billar dan Lesti Kejora, yang terpenting adalah Abang L merasa nyaman dan memiliki pengalaman positif dalam belajar berpuasa. Memaksa anak dalam hal ibadah justru dapat menimbulkan resistensi dan membuat anak enggan melakukannya di kemudian hari. Pendekatan yang sabar dan penuh pengertian adalah kunci utama.

Lebih lanjut, Rizky Billar berbagi tentang prinsip mendidiknya yang unik, terutama dalam hal urusan ibadah. Ia memiliki pandangan yang berbeda mengenai cara memotivasi anak untuk berpuasa. Alih-alih menggunakan iming-iming hadiah mewah di awal sebagai cara agar sang anak mau berpuasa, Rizky Billar lebih memilih untuk memberikan apresiasi setelah Abang L berhasil menunjukkan usahanya. Pendekatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai kerja keras, pencapaian, dan kepuasan diri atas usaha yang telah dilakukan, bukan sekadar motivasi eksternal yang bersifat sementara.

"Kita sih memang gak pernah ngajarin untuk kasih menjanjikan ya, tapi lebih kepada apresiasi setelah dia melakukan. Jadi dia melakukan dulu, nanti kalau memang sudah berhasil baru kita apresiasi, ‘Abang ini hadiah atas apa yang sudah Abang lakukan’," pungkasnya dengan mantap. Prinsip ini sangat baik karena mengajarkan Abang L bahwa pencapaian datang dari usaha dan kerja keras. Hadiah atau apresiasi yang diberikan setelah berhasil akan terasa lebih bermakna dan menjadi pengingat akan perjuangan yang telah dilalui. Hal ini juga mencegah Abang L menjadi anak yang terbiasa mendapatkan sesuatu tanpa usaha.

Pendekatan Rizky Billar ini patut diacungi jempol. Ia tidak hanya mengajarkan pentingnya ibadah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai positif seperti kemandirian, usaha, dan penghargaan terhadap diri sendiri. Di era modern ini, di mana banyak orang tua cenderung memberikan imbalan materi agar anak mau melakukan sesuatu, prinsip Rizky Billar ini menjadi angin segar. Ini adalah contoh nyata bagaimana orang tua dapat mendidik anak dengan cara yang lebih bermakna dan berkelanjutan, membentuk karakter yang kuat dan berintegritas.

Kisah Abang L belajar puasa ini menjadi inspirasi bagi banyak orang tua. Momen Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang momen pembelajaran dan penguatan ikatan keluarga. Melihat anak kecil bersemangat untuk belajar beribadah adalah pemandangan yang mengharukan dan membanggakan. Celetukan polos Abang L, meski terdengar lucu, menyimpan pesan mendalam tentang proses adaptasi dan pembelajaran yang sedang dilaluinya.

Rizky Billar dan Lesti Kejora menunjukkan bahwa mendidik anak, terutama dalam hal agama, memerlukan kesabaran, pemahaman, dan pendekatan yang sesuai dengan usia serta tahapan perkembangan anak. Mereka tidak terburu-buru, tidak memaksakan, melainkan mendampingi dengan penuh cinta dan kasih sayang. Pengalaman ini akan menjadi fondasi penting bagi Abang L dalam menumbuhkan kecintaan pada agamanya kelak.

Lebih jauh lagi, dalam konteks pendidikan agama anak, prinsip yang dipegang oleh Rizky Billar ini sejalan dengan teori psikologi perkembangan. Anak usia dini belajar terbaik melalui pengalaman langsung, observasi, dan penguatan positif. Memberikan apresiasi setelah usaha berhasil dilakukan akan menciptakan asosiasi positif yang kuat antara ibadah dengan rasa pencapaian dan kebanggaan. Hal ini berbeda dengan pemberian hadiah di awal yang bisa jadi hanya memicu motivasi ekstrinsik semata dan tidak bertahan lama ketika godaan atau tantangan muncul.

Keterlibatan Abang L dalam belajar puasa juga menjadi cerminan dari lingkungan keluarga yang religius. Ketika orang tua secara konsisten menunjukkan dan mempraktikkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, anak akan lebih mudah menyerap dan meniru perilaku tersebut. Momen Ramadan menjadi kesempatan emas bagi Rizky Billar dan Lesti Kejora untuk semakin memperkuat nilai-nilai ini dalam diri Abang L.

Di sisi lain, celetukan "Nggak Bun, Abang laper, Abang pengen makan, boleh nggak?" yang dilontarkan Abang L merupakan ekspresi jujur dari kebutuhan biologis yang belum bisa dikendalikan sepenuhnya oleh anak seusianya. Respons orang tua yang tidak memaksa dan justru memberikan penjelasan serta pengertian, adalah kunci utama agar anak tidak merasa bersalah atau takut saat tidak berhasil memenuhi ekspektasi. Ini mengajarkan anak bahwa kegagalan dalam proses belajar adalah hal yang wajar dan bagian dari perjalanan.

Penting untuk dicatat bahwa usaha Rizky Billar dalam mendidik Abang L tidak hanya berfokus pada aspek ibadah, tetapi juga pada pembentukan karakter. Dengan memberikan apresiasi setelah usaha, ia secara tidak langsung mengajarkan Abang L tentang pentingnya ketekunan, kesabaran, dan penghargaan terhadap proses. Ini adalah pelajaran berharga yang akan membekas seumur hidupnya, jauh melampaui sekadar kemampuan berpuasa.

Dalam dinamika keluarga selebriti, di mana sorotan publik selalu ada, cara Rizky Billar dan Lesti Kejora dalam mendidik anak menjadi contoh yang patut dicontoh. Mereka tidak hanya fokus pada penampilan publik, tetapi juga pada pondasi moral dan spiritual anak. Hal ini menunjukkan bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, terdapat nilai-nilai keluarga yang kuat dan upaya serius dalam membentuk generasi penerus yang baik.

Kemampuan Abang L untuk menunjukkan ketertarikan pada puasa, meski masih dalam tahap belajar, adalah anugerah tersendiri. Hal ini memberikan kesempatan bagi Rizky Billar dan Lesti Kejora untuk tidak hanya mendidik secara teori, tetapi juga secara praktik. Setiap interaksi, setiap celetukan, setiap usaha yang dilakukan Abang L, menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi seluruh keluarga.

Terakhir, momen Ramadan ini menjadi pengingat bagi Rizky Billar dan Lesti Kejora, serta para orang tua pada umumnya, bahwa mendidik anak adalah sebuah perjalanan yang panjang dan penuh tantangan, namun juga penuh dengan kebahagiaan. Dengan cinta, kesabaran, dan pendekatan yang tepat, setiap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan beriman kuat. Kisah Abang L belajar puasa adalah bukti nyata dari keindahan proses tersebut.