BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Proses syuting film "Kuyank" di tanah Kalimantan, tepatnya di wilayah Banjar, telah meninggalkan jejak pengalaman yang tak terhapuskan bagi seluruh pemain dan kru. Jauh melampaui tantangan logistik dan teknis yang kerap mewarnai produksi film, para insan perfilman ini justru menemukan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang mendalam. Interaksi dengan masyarakat Banjar, yang memegang teguh adat istiadat dan nilai-nilai kepercayaan leluhur, menjadi elemen paling berharga yang mereka bawa pulang dari pulau Borneo.
Rio Dewanto, salah satu aktor sentral dalam film ini, menjadi saksi langsung betapa kuatnya pondasi budaya masyarakat Banjar. Ia mengamati dengan seksama bagaimana mayoritas penduduk di sana, yang memeluk agama Islam, tetap menjaga dan menjalankan tradisi serta keyakinan warisan nenek moyang mereka dengan penuh khidmat. "Suku Banjar sendiri mayoritas muslim, adat kepercayaannya mereka sendiri yang mereka jalankan," ujar Rio saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada suatu kesempatan. Pengalaman ini baginya bukan sekadar sebuah pekerjaan, melainkan sebuah pembelajaran hidup yang unik dan mencerahkan, membuka matanya terhadap keberagaman yang ada di Indonesia.
Bagi Rio, proyek "Kuyank" ini merupakan kunjungan pertamanya ke Pulau Kalimantan, sebuah pengalaman personal yang sangat berharga. Ia mengakui bahwa tanpa keterlibatan dalam film ini, kemungkinan besar ia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Borneo. "Pengalaman syuting di Banjar menyenangkan, kalau gak ada project ini mungkin saya gak pernah ke Kalimantan," tuturnya dengan nada antusias. Keindahan alam Kalimantan yang memukau, ditambah dengan keramahan luar biasa dari warga setempat, semakin memperkaya kesan positif yang ia rasakan selama berada di lokasi syuting.
Namun, di tengah segala kebaikan yang ia temui, Rio justru dibuat terkejut oleh sebuah fenomena sederhana namun cukup unik. Ia mengenang dengan geli, "Orang sana ramah-ramah, yang saya bingung kenapa restoran di Kalimantan kok Wong Solo." Kehadiran rumah makan dengan nama yang identik dengan salah satu kota di Jawa Tengah ini, di tengah lanskap Kalimantan yang khas, menjadi sebuah anekdot menarik yang ia ceritakan. Hal ini menunjukkan betapa dinamisnya arus budaya dan kuliner di Indonesia, bahkan hingga ke pelosok daerah.
Lebih dari sekadar syuting di wilayah Banjar, tim "Kuyank" juga berkesempatan melakukan pengambilan gambar di kampung halaman salah seorang kru. Di sana, mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga turut serta dalam berbagai aktivitas lokal yang otentik. Salah satu kegiatan yang dicoba oleh Rio adalah memancing. Namun, pengalaman tersebut tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Dengan nada sedikit kecewa namun tetap ringan, ia bercerita, "Saya coba mancing tapi gak dapat-dapat ikannya." Meskipun demikian, kegagalan dalam menangkap ikan tidak mengurangi kesenangan dan kepuasan yang dirasakan selama proses syuting secara keseluruhan.
Meskipun ada sedikit hambatan personal seperti pengalaman memancing yang kurang beruntung, semangat kebersamaan dan antusiasme tim tetap membara. Ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan oleh seluruh elemen yang terlibat dalam film "Kuyank", terutama karena jadwal pemutaran perdana film ini direncanakan akan digelar di Banjar. Ini menjadi bentuk apresiasi dan penghargaan atas sambutan hangat serta dukungan yang diberikan oleh masyarakat setempat. "Alhamdulillah besok kita akan mengadakan premiere di Banjar," pungkas Rio dengan senyum lebar.
Film "Kuyank" sendiri didukung oleh jajaran aktor dan aktris berbakat lainnya, yang turut memperkaya narasi dan visual film. Di antaranya adalah Putri Intan Kasela, Ochi Rosdiana, Jolene Marie, Barry Prima, Dayu Wijanto, Ananda George, Betari Ayu, Hazman Al Idrus, dan Ellizabeth Christine. Keberagaman karakter dan talenta yang mereka bawa diharapkan dapat memberikan warna dan kedalaman pada cerita film ini. Dengan berbagai persiapan matang dan pengalaman produksi yang kaya, film "Kuyank" dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 29 Januari 2026. Para penikmat film tanah air dapat menantikan suguhan sinematik yang menjanjikan, yang tidak hanya menghibur tetapi juga memperkaya wawasan tentang kebudayaan Indonesia.
Pengalaman syuting di Kalimantan, khususnya di Banjar, bukan hanya tentang menghasilkan sebuah karya film. Lebih dari itu, ini adalah tentang merajut koneksi antarbudaya, memperluas pemahaman tentang kearifan lokal, dan menghargai kekayaan tradisi yang terus hidup di berbagai penjuru nusantara. Bagi Rio Dewanto dan seluruh tim "Kuyank", perjalanan ini adalah sebuah bukti nyata bahwa proses kreatif seringkali melahirkan lebih dari sekadar produk seni, tetapi juga pelajaran hidup yang berharga dan kenangan yang akan terus terukir. Keramahan masyarakat Banjar, kekayaan adat istiadat mereka, bahkan keunikan kuliner yang ia temui, semuanya menjadi bagian integral dari narasi film ini, baik di layar maupun di balik layar. Keinginan untuk menggelar premiere di Banjar adalah sebuah gestur tulus untuk mengembalikan sebagian dari apa yang telah mereka terima, sebuah bentuk rasa terima kasih atas sambutan yang hangat dan kesempatan untuk merasakan denyut kehidupan masyarakat Banjar secara langsung.
Proses pembuatan film "Kuyank" ini memang bisa dianggap sebagai sebuah ekspedisi budaya yang terselubung dalam produksi sinema. Para pemain dan kru tidak hanya dituntut untuk menghidupkan karakter di depan kamera, tetapi juga diajak untuk berinteraksi, belajar, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Kehidupan masyarakat Banjar yang erat kaitannya dengan alam dan nilai-nilai spiritual menjadi latar belakang yang kuat bagi cerita yang akan disajikan. Rio Dewanto, dengan keterbukaannya terhadap pengalaman baru, berhasil menangkap esensi dari kehidupan masyarakat Banjar. Ia melihat bagaimana Islam dan tradisi leluhur berjalan beriringan, menciptakan sebuah harmoni budaya yang unik. Hal ini menjadi poin penting yang membedakan pengalaman syuting di Kalimantan dibandingkan di lokasi lain.
Kejutan Rio mengenai restoran "Wong Solo" di Kalimantan juga menggarisbawahi betapa luasnya jangkauan budaya kuliner Indonesia. Ini bukan berarti mengurangi keunikan budaya lokal, melainkan menunjukkan bagaimana Indonesia adalah sebuah negara yang dinamis, di mana berbagai elemen budaya dapat saling berinteraksi dan berasimilasi. Fenomena seperti ini seringkali luput dari perhatian, namun bagi seorang pengamat yang jeli seperti Rio, hal ini menjadi catatan menarik yang menambah dimensi pada pengalamannya.
Kekecewaan Rio saat memancing, meskipun kecil, adalah bagian dari petualangan. Pengalaman seperti inilah yang seringkali membuat sebuah perjalanan menjadi lebih otentik dan tak terlupakan. Kegagalan dalam hal ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah momen pembelajaran dan bahan cerita yang lucu. Penting untuk dicatat bahwa meskipun ada tantangan kecil, semangat positif dan kebersamaan dalam tim tetap terjaga, yang merupakan kunci sukses dalam setiap produksi film.
Rencana pemutaran perdana di Banjar adalah sebuah langkah strategis dan apresiatif. Ini bukan hanya tentang mempromosikan film, tetapi juga tentang merayakan kebersamaan dan berbagi hasil karya dengan komunitas yang telah memberikan begitu banyak dukungan. Dengan demikian, film "Kuyank" tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi dan penghargaan antarbudaya. Tanggal rilis yang telah ditetapkan, 29 Januari 2026, memberikan waktu yang cukup bagi tim untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, baik dari segi promosi maupun distribusi. Kehadiran aktor-aktor senior seperti Barry Prima dan Dayu Wijanto, bersama dengan talenta muda yang menjanjikan, semakin memperkuat keyakinan bahwa "Kuyank" akan menjadi film yang menarik untuk ditonton.
Pengalaman Rio Dewanto di Kalimantan ini merupakan cerminan dari bagaimana industri perfilman Indonesia terus berkembang dengan menjelajahi kekayaan budaya yang tersebar di seluruh nusantara. "Kuyank" diharapkan dapat menjadi salah satu film yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengedukasi penonton tentang keberagaman budaya Indonesia, dengan fokus pada kehidupan masyarakat Banjar yang kaya akan tradisi dan nilai. Keberhasilan sebuah film seringkali tidak hanya diukur dari kesuksesan komersialnya, tetapi juga dari dampak positif yang ditimbulkannya, baik dalam industri perfilman itu sendiri maupun dalam apresiasi terhadap budaya lokal. Pengalaman yang dibagikan oleh Rio Dewanto memberikan gambaran yang menarik tentang sisi lain dari sebuah produksi film, sisi yang penuh dengan pembelajaran, interaksi manusia, dan penghargaan terhadap warisan budaya bangsa.

