Nothing, perusahaan teknologi yang dikenal dengan pendekatan desain transparan dan inovatifnya, terus memperluas jangkauan produk audionya di Indonesia. Setelah sukses meluncurkan serangkaian earbuds dalam berbagai form factor, Nothing kini mengambil langkah berani dengan menghadirkan produk headphone over-ear pertamanya yang diberi nama Headphone (1). Langkah ini menandai ambisi besar Nothing untuk langsung menantang dominasi nama-nama besar di segmen headphone over-ear premium, seperti Sony, Bose, JBL, dan Sennheiser, yang telah lama menjadi pemain kunci di pasar ini.
Dengan perpaduan fitur canggih, desain futuristik yang khas, dan harga yang terbilang kompetitif di tengah tren kenaikan harga di kelasnya, Nothing Headphone (1) mencoba membuktikan bahwa pendatang baru pun bisa mencuri perhatian. Nothing percaya diri bahwa produk debutnya ini mampu menawarkan pengalaman audio premium yang berbeda. Seberapa mapan debut Nothing di pasar yang sudah jenuh ini? Mari kita selami lebih dalam dalam ulasan Nothing Headphone (1) berikut ini.
Desain: Sebuah Pernyataan Berani
Desain Nothing Headphone (1) adalah salah satu aspek yang paling menonjol dan langsung mencuri perhatian. Dengan estetika retro-futuristik, Headphone (1) terasa seperti angin segar di tengah lautan headphone yang seringkali memiliki desain seragam dan cenderung membosankan. Bentuknya yang persegi panjang tidak biasa, dilapisi aluminium berwarna perak yang elegan, dan di atasnya terdapat kubah plastik transparan yang mengekspos detail internal headphone. Ini bukan sekadar perangkat audio, melainkan sebuah aksesori fesyen yang berani.
Saat digunakan di tempat umum, headphone ini dengan mudah menarik perhatian. Banyak pasang mata melirik, terkesima dengan tampilan unik yang tidak konvensional. Desain ini tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga kokoh dan premium saat digenggam. Nothing Headphone (1) hadir dalam dua pilihan warna, yaitu Black dan White. Varian yang diuji oleh detikINET adalah warna White, yang didominasi oleh perpaduan warna putih, abu-abu, dan perak, dengan sedikit aksen hitam pada engsel, bantalan telinga, dan bantalan kepala, menciptakan tampilan yang bersih dan modern.

Namun, penggunaan material aluminium yang memberikan kesan premium juga berkontribusi pada bobot headphone ini. Dengan berat mencapai 329 gram, Nothing Headphone (1) terasa lebih berat dibandingkan beberapa kompetitor utamanya. Sebagai perbandingan, Sony WH-1000XM5, salah satu headphone NC terbaik di kelasnya, memiliki bobot sekitar 250 gram, sementara Bose QuietComfort Ultra juga berada di kisaran yang sama. Selisih hampir 80 gram ini mungkin menimbulkan pertanyaan tentang kenyamanan jangka panjang.
Meskipun demikian, Nothing berhasil mengkompensasinya dengan distribusi bobot yang baik serta bantalan telinga dan headband yang empuk. Headphone (1) bisa menjepit kepala dengan pas tanpa terasa menekan terlalu ketat, cukup nyaman dipakai mendengarkan lagu berjam-jam. Posisi headphone juga terasa mantap di kepala dan tidak mudah melorot, bahkan saat bergerak aktif. Ini menunjukkan bahwa Nothing memikirkan aspek ergonomi meskipun dengan bobot yang lebih tinggi.
Kekurangan signifikan terletak pada desain engselnya. Engsel Headphone (1) hanya bisa diputar 90 derajat dan tidak dapat dilipat ke dalam seperti kebanyakan headphone premium lainnya. Akibatnya, headphone ini agak kurang ringkas saat harus dibawa bepergian, dan ukuran case bawaannya juga memakan banyak tempat jika harus dimasukkan ke dalam tas. Berbicara tentang case, Nothing menyediakan carrying case berbentuk persegi dengan ritsleting tipis. Sayangnya, case ini dilapisi kain yang teksturnya mudah menarik debu dan bulu hewan peliharaan, sedikit mengurangi kesan premium.
Kontrol dan Antarmuka Pengguna: Inovasi Fisik yang Presisi
Satu hal yang membuat reviewer jatuh cinta dengan Nothing Headphone (1) adalah sistem kontrolnya. Di saat headphone premium lain beralih ke kontrol sentuh demi tampilan minimalis, Headphone (1) tetap mengandalkan kontrol fisik, namun dengan metode yang cukup unik dan inovatif. Ini adalah keputusan yang menyegarkan di tengah dominasi kontrol sentuh yang kadang kurang responsif atau mudah salah pencet.
Headphone (1) dapat dikontrol lewat deretan tombol yang ada di sisi kanan. Di bagian belakang terdapat tombol gulir, mirip dengan dial pada kamera retro atau scroll wheel pada mouse. Tombol ini bisa diputar ke kiri atau ke kanan untuk mengatur volume dengan presisi, dan juga bisa ditekan untuk memutar atau menjeda lagu. Pengalaman menggunakan scroll wheel ini sangat intuitif dan memberikan umpan balik taktil yang memuaskan.

Di bawah tombol gulir terdapat paddle yang multifungsi. Paddle ini dapat dipakai untuk memutar lagu selanjutnya atau kembali ke lagu sebelumnya. Saat ada panggilan masuk, paddle ini bisa dipakai untuk menerima atau menolak telepon. Lebih lanjut, tombol ini juga bisa ditekan beberapa saat untuk fast forward atau rewind lagu, memberikan kontrol granular atas pemutaran media.
Tombol power dapat ditemukan di bagian paling bawah headphone, berdampingan dengan port USB-C untuk pengisian daya, audio jack 3,5mm untuk koneksi kabel, dan lampu indikator daya/koneksi. Di bagian dalam headphone, dekat bantalan telinga, terdapat tombol tersembunyi untuk memulai pemasangan perangkat.
Terakhir, di sudut kanan atas ear cup terdapat tombol yang dapat dikustomisasi untuk berbagai fungsi. Pengguna bisa mengaturnya untuk mengatur noise control (ANC/Transparency), memanggil asisten suara, membisukan mikrofon, dan fungsi lainnya. Tombol ini juga memiliki kemampuan untuk ditekan dan ditahan, sehingga bisa dipakai untuk mengakses dua fungsi sekaligus, memaksimalkan efisiensi.
Secara keseluruhan, kontrol fisik ini sangat membantu menikmati musik dengan lebih presisi. Tidak perlu menebak-nebak lagi saat mengganti lagu atau khawatir tidak sengaja tertekan seperti halnya kontrol sentuh. Pengguna mendapatkan umpan balik langsung dari setiap interaksi. Namun, akan lebih baik lagi kalau beberapa tombol, terutama yang sering diakses seperti scroll wheel atau paddle, diletakkan di bagian depan atau tengah ear cup agar lebih mudah dicapai tanpa perlu meraba-raba.
Fitur Canggih dan Aplikasi Pendamping Nothing X
Konektivitas Nothing Headphone (1) didukung oleh Bluetooth 5.3, memastikan koneksi yang stabil dan efisien. Perangkat ini juga mendukung Google Fast Pair dan Microsoft Swift Pair, memungkinkan proses pemasangan instan dan mulus dengan perangkat Android dan Windows. Bagi mereka yang lebih memilih koneksi kabel atau ingin mendapatkan kualitas audio maksimal tanpa kompresi Bluetooth, Nothing menyediakan kabel USB-C audio dan headphone jack 3,5mm, memungkinkan koneksi ke ponsel, laptop, atau perangkat audio lainnya.

Satu hal yang membuat Headphone (1) lebih menonjol dari banyak kompetitornya adalah rating IP52. Ini berarti headphone ini tahan terhadap percikan air dan debu. Rating ini adalah nilai tambah yang signifikan, memberikan kebebasan lebih besar bagi pengguna aktif yang mungkin ingin memakai headphone ini saat berolahraga di gym, jogging, atau bahkan saat terjebak hujan ringan tanpa rasa khawatir akan kerusakan.
Nothing Headphone (1) didukung oleh aplikasi pendamping Nothing X, yang tersedia untuk Android dan iOS. Aplikasinya sangat mudah digunakan, dengan antarmuka yang minimalis dan semua pengaturan penting terpampang jelas di halaman depan sehingga mudah diakses. Ini menunjukkan fokus Nothing pada pengalaman pengguna yang intuitif.
Di deretan paling atas aplikasi terdapat pengaturan untuk noise cancellation atau peredam kebisingan aktif (ANC). Ada empat mode yang dapat dipilih: Low, Mid, High, dan Adaptive. Mode Adaptive secara cerdas menyesuaikan tingkat peredaman bising berdasarkan lingkungan sekitar. Pengguna juga bisa menonaktifkan noise cancellation sepenuhnya, atau jika ingin tetap mendengar suara di sekeliling saat berada di kendaraan umum atau berbicara dengan orang lain, bisa mengaktifkan mode Transparency.
Headphone (1) juga mendukung spatial audio untuk menghasilkan suara yang terdengar tiga dimensi, menciptakan pengalaman mendengarkan yang lebih imersif dan tidak flat. Fitur ini tersedia dalam mode fixed, di mana posisi suara tetap relatif terhadap perangkat, atau head-tracking, yang akan membuat sumber suara mengikuti gerakan kepala pengguna, memberikan sensasi berada di tengah-tengah aksi.
Bagi para audiophile atau mereka yang suka mengutak-atik profil suara headphone, tersedia Equalizer yang cukup ekstensif. Ada versi Simple yang berisi preset seperti Balanced, More Bass, More Treble, atau Custom untuk mengatur tri-band equalizer dasar. Kemudian ada mode Advanced yang tidak hanya menawarkan equalizer 8-band yang lebih mendetail, tapi juga memungkinkan penyesuaian frekuensi dan Q factor. Terakhir, ada tab Explore berisi EQ buatan pakar audio yang sudah dikurasi langsung oleh Nothing, memberikan opsi siap pakai bagi yang tidak ingin repot.
Fitur lain yang melengkapi Headphone (1) termasuk Bass enhancement yang dapat meningkatkan dentuman bass dari level 1-5, cocok untuk penggemar musik dengan beat kuat. Lalu ada Low lag mode yang dapat sangat bermanfaat saat bermain game atau menonton video, mengurangi latensi antara audio dan visual. Fitur Dual Connection memungkinkan headphone terhubung ke dua perangkat sekaligus (misalnya laptop dan HP), mempermudah transisi audio. Pengguna juga dapat memilih antara codec AAC atau LDAC, dengan LDAC menawarkan kualitas audio high-resolution yang superior jika perangkat sumber mendukungnya. Terakhir, Over-ear detection akan secara otomatis menjeda musik saat headphone dilepas dan melanjutkannya saat dipakai kembali.

Kualitas Audio: Dominasi Bass dengan Potensi Tersembunyi
Nothing Headphone (1) mengandalkan dynamic driver 40mm di masing-masing ear cup dengan tuning yang dikembangkan bersama KEF, perusahaan audio terkemuka asal Inggris yang dikenal dengan produk speaker high-end mereka. Kemitraan ini menjanjikan kualitas suara yang telah melewati proses tuning yang cermat.
Setelah menguji headphone ini selama beberapa minggu menggunakan lagu dari berbagai genre, dapat disimpulkan bahwa profil suara Headphone (1) lebih dominan ke arah bass. Bagi penggemar musik hip-hop, R&B, atau elektronik, karakter suara ini bisa langsung dimanjakan dengan hentakan bass yang kuat, dalam, dan bertenaga. Dentuman bass terasa memuaskan tanpa terlalu muddy atau mengganggu frekuensi lain.
Namun, dominasi bass ini memiliki konsekuensi pada genre musik lain. Saat dipakai mendengarkan musik klasik dengan equalizer default-nya, Headphone (1) mampu memisahkan masing-masing instrumen dengan cukup jelas, memberikan soundstage yang lumayan luas. Namun, entah karena bass yang terlalu tinggi atau treble-nya yang kurang menonjol, suara instrumen seperti biola dan terompet terdengar redup dan kurang memiliki kilau serta kejernihan yang diharapkan. Detail-detail halus dari instrumen akustik seolah terpendam.
Masalah serupa juga ditemukan saat mendengarkan lagu rock modern. Suara gitar di intro lagu ‘Don’t Make Me a Target’ dari Spoon terdengar kurang ‘menggigit’ dan kurang memiliki attack yang kuat, begitu juga dengan suara hi-hat dan simbal yang agak tenggelam dan kehilangan sparkle-nya. Ini mengindikasikan bahwa frekuensi mid-treble mungkin sedikit recessed dalam tuning default.
Vokal juga terkadang kesulitan terdengar menonjol. Efek airy yang menjadi ciri khas vokal Grimes, seperti di lagu ‘Oblivion’, menjadi kurang terdengar karena terpendam dalam campuran musik yang didominasi bass dan mid-low. Ini menunjukkan bahwa meskipun driver 40mm memiliki potensi, tuning default mungkin belum sepenuhnya optimal untuk semua jenis konten audio.

Pengalaman menonton film menggunakan headphone ini juga terkadang bikin frustrasi. Suaranya terasa terlalu menggema, sehingga dialog percakapan tidak terdengar jelas dan seringkali tertutup oleh efek suara lainnya. Saat dipakai menonton film action dengan banyak adegan tembak-menembak seperti Heat atau Civil War, suara senapan yang seharusnya memekakkan telinga malah seperti diredam, mengurangi dampak dan imersi.
Meskipun demikian, fleksibilitas equalizer yang tersedia di aplikasi Nothing X menjadi penyelamat. Pengguna yang bersedia meluangkan waktu untuk mengutak-atik pengaturan EQ dapat dengan mudah menyesuaikan profil suara agar lebih sesuai dengan preferensi pribadi atau genre musik yang didengarkan, membuka potensi tersembunyi dari driver 40mm tersebut.
Peredaman Suara (ANC) dan Kualitas Mikrofon: Performa Unggul
Nothing Headphone (1) diklaim dapat meredam suara hingga 42 dB dan rentang frekuensi 2.000 Hz, angka yang cukup impresif untuk headphone debut. Dalam pengujian, performa Active Noise Cancellation (ANC) perangkat ini terbukti sangat baik. Suara kantor yang berisik, deru mesin kereta LRT Jabodebek, atau kebisingan lalu lintas di jalan raya dapat diredam dengan optimal. Hal ini menjadikan Headphone (1) pilihan yang cocok untuk menemani commuting atau bekerja di area yang berisik, membantu pengguna fokus tanpa gangguan.
Bahkan ketika ANC dimatikan pun, Headphone (1) bisa mengurangi suara berisik dengan cukup baik berkat isolasi pasif yang diberikan oleh bentuk bantalan telinganya yang benar-benar pas dan menutupi seluruh telinga. Ini menambah nilai lebih pada pengalaman peredaman suara secara keseluruhan.
Jika ingin berbicara dengan orang lain tanpa harus repot melepas headphone, cukup aktifkan mode Transparency. Mikrofon Headphone (1) cukup jago dalam meneruskan suara dari luar ke telinga tanpa membuatnya terdengar artifisial atau robotik. Suara lingkungan terdengar alami dan jelas, memungkinkan pengguna tetap sadar akan sekitar mereka.

Headphone (1) total memiliki enam mikrofon, tapi hanya empat yang dipakai khusus untuk panggilan telepon. Kualitas panggilan teleponnya patut diacungi jempol. Selama pengujian, lawan bicara tidak pernah mengeluhkan suara tidak jelas atau terputus-putus. Suara di latar belakang juga diredam cukup baik, jadi suara kalian tetap akan terdengar jelas walau berada di area yang ramai, menjadikan headphone ini handal untuk conference call atau panggilan pribadi.
Daya Tahan Baterai: Sang Juara Kelas Berat
Nothing Headphone (1) dilengkapi dengan baterai besar berkapasitas 1.040 mAh, yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk terisi penuh dari kosong. Headphone ini juga mendukung fitur pengisian cepat yang sangat berguna: setelah mengisi daya selama lima menit, pengguna dapat memakainya untuk mendengarkan lagu hingga 2,4 jam dengan ANC aktif.
Menurut klaim Nothing, baterai Headphone (1) dapat bertahan hingga 35 jam untuk mendengarkan lagu dengan ANC. Menurut pengujian detikINET, klaim itu cukup akurat, di mana Headphone (1) bisa mencapai 35 jam dengan mudah dalam mode ANC dan bahkan saat menggunakan codec LDAC yang memakan lebih banyak daya.
Dari segi daya tahan baterai saja, Nothing Headphone (1) sudah mampu mengalahkan sejumlah pemain veteran di kelasnya. Sebagai perbandingan, headphone Sony WH-1000XM6 yang digadang sebagai headphone NC terbaik di kelasnya menawarkan daya tahan baterai hingga 30 jam dengan ANC. Ini menjadikan Headphone (1) salah satu pilihan terbaik bagi mereka yang memprioritaskan durasi penggunaan panjang.
Jika ANC tidak diaktifkan, Nothing mengklaim baterai headphone ini dapat bertahan hingga 80 jam dalam sekali pengisian, angka yang luar biasa dan jarang ditemukan di segmen ini. Namun, perlu diingat bahwa performa baterai headphone secara keseluruhan bergantung pada berbagai faktor, termasuk tingkat volume mendengarkan dan codec audio yang dipilih. Dengan daya tahan baterai yang superior ini, Headphone (1) sangat cocok untuk perjalanan jauh atau penggunaan intensif tanpa sering khawatir kehabisan daya.

Opini detikINET: Sebuah Debut Penuh Janji
Debut Nothing di segmen headphone over-ear mungkin tidak sepenuhnya sempurna, namun secara keseluruhan adalah sebuah debut yang sangat kuat dan patut diacungi jempol. Walau Headphone (1) adalah produk over-ear pertamanya, nama Nothing langsung mencuri perhatian berkat desain retro-futuristiknya yang unik dan berani, membedakannya dari kompetitor di pasar yang seringkali homogen.
Tidak hanya itu, Nothing Headphone (1) juga menawarkan paket fitur yang sangat lengkap dan matang. Mulai dari kontrol fisik yang presisi dan intuitif, rating IP52 untuk ketahanan terhadap air dan debu yang memberikan kebebasan lebih, daya tahan baterai yang luar biasa panjang, Active Noise Cancellation (ANC) yang memuaskan, hingga aplikasi pendamping Nothing X yang kaya fitur dan mudah digunakan. Semua ini menunjukkan bahwa Nothing tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga pada fungsionalitas dan pengalaman pengguna yang komprehensif.
Tentu saja kualitas audio menjadi jualan utama headphone, dan di sinilah Nothing Headphone (1) menunjukkan potensi besar meski dengan beberapa catatan. Profil suara yang cenderung dominan bass mungkin tidak cocok untuk semua genre musik atau selera pendengar. Namun, fleksibilitas equalizer yang ekstensif di aplikasi Nothing X menjadi penyelamat, memungkinkan pengguna untuk mengutak-atik dan menyesuaikan profil suara agar sesuai dengan preferensi mereka. Kekurangannya sangat minor dan bisa diatasi dengan penyesuaian, namun hal minor inilah yang bisa menaikkan status headphone dari bagus menjadi luar biasa. Fondasi headphone ini sudah tepat, hanya eksekusi tuning default-nya saja yang mungkin perlu sedikit penyempurnaan di masa depan.
Kalau kalian tidak masalah jika harus mengutak-atik equalizer demi mendapatkan suara yang diinginkan, menghargai desain yang unik dan berani, atau ingin menjajal headphone premium dengan budget di bawah Rp 5 juta yang menawarkan fitur lengkap dan daya tahan baterai superior, Nothing Headphone (1) patut dipertimbangkan serius. Nothing Headphone (1) telah berhasil menciptakan fondasi yang kokoh di pasar headphone over-ear premium dan menjadi pesaing serius, membuat kita penasaran untuk melihat inovasi apa lagi yang akan dibawa Nothing di generasi berikutnya.

