0

Resep Khusus Sahrul Gunawan dan Istri dalam Jaga Keharmonisan Rumah Tangga

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sahrul Gunawan dan sang istri, Dine Mutiara Aziz, tengah menikmati puncak kebahagiaan pernikahan yang telah terjalin harmonis selama kurang lebih tiga tahun. Jauh dari hiruk pikuk tuntutan dan target yang seringkali membebani hubungan, pasangan ini secara sadar memilih untuk mengadopsi konsep slow living sebagai pondasi utama dalam menjaga keutuhan dan kedamaian rumah tangga mereka. Konsep ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah filosofi hidup yang diyakini mampu membentengi pernikahan dari potensi konflik yang timbul akibat ekspektasi berlebihan.

"Kayaknya kalau kita mah santai ya," ujar Sahrul Gunawan kepada awak media di Studio Rumpi: No Secret TTV, sebuah pernyataan lugas yang mencerminkan inti dari pendekatan mereka dalam berumah tangga. Dine Mutiara Aziz, sang istri, turut mengamini dengan menambahkan, "Slow living soalnya kita sih. Gak ada target, gak ada apa, ngejalanin senyamannya kita gitu." Ungkapan ini menegaskan bahwa kebahagiaan dalam pernikahan bagi mereka bukanlah tentang pencapaian-pencapaian eksternal, melainkan tentang kenyamanan internal yang tercipta dari penerimaan dan aliran yang alami.

Kunci kenyamanan yang Sahrul sebutkan berakar pada prinsip penerimaan. Ia dengan bijak menyadari bahwa ikatan pernikahan bukanlah arena untuk membentuk pasangan sesuai citra ideal yang diinginkan, melainkan sebuah ruang untuk saling melengkapi dan menghargai apa adanya. "Karena, bersama itu kan tidak harus jadi membuat pasangan kita sesuai dengan keinginan kita. Jadi, aku kenapa nyaman itu karena ya sudah kita jalan yang bikin happy masing-masing tapi tetap berkomitmen," jelas Sahrul. Pemahaman mendalam ini menjadi fondasi kokoh yang memungkinkan setiap individu dalam rumah tangga untuk tetap menjadi diri sendiri sembari tetap terikat dalam janji suci.

Konsep quality time pun dijalani dengan pendekatan yang sama fleksibelnya. Dine menjelaskan bahwa tidak ada aturan baku mengenai jadwal kencan rutin, baik harian maupun mingguan. Momen-momen berharga justru seringkali hadir secara spontan, muncul dari celah-celah kesibukan masing-masing. "Quality time jalan terus, tapi gak ada target harus satu bulan sekali, harus satu minggu sekali. Pokoknya pas kita bisa, jalan," tutur Dine. Pendekatan ini menghilangkan rasa tertekan dan justru membuat setiap momen kebersamaan terasa lebih autentik dan bermakna.

Sahrul menambahkan, keindahan momen kebersamaan justru terletak pada ketidakterencanaannya. "Jadi gak yang direncanain gimana-gimana. Malah itu jadi beban gitu ya, jadi kayak seperti oh harus, harus. Gak gitu," ucap Sahrul. Ketika kebersamaan hadir tanpa paksaan, ia menjadi sebuah hadiah yang dinikmati dengan tulus, memperkuat ikatan emosional tanpa harus terasa seperti sebuah kewajiban.

Kematangan dalam membina rumah tangga yang ditunjukkan oleh Sahrul dan Dine rupanya tidak lepas dari pengalaman hidup mereka sebelumnya. Keduanya merupakan "alumni" dari kegagalan rumah tangga di masa lalu, sebuah fakta yang justru mereka jadikan sebagai guru berharga. Dine secara blak-blakan mengakui bahwa status ini memberikan perspektif yang berbeda. "Pokoknya gimana lulusan orang-orang gagal tuh lebih santai ngejalanin perjalanan rumah tangga. Alumnus, jadi lebih berusaha untuk bertoleransi lebih tinggi, lebih matang," ungkap Dine. Pengalaman pahit tersebut telah mengasah kemampuan mereka untuk lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan dan tantangan.

Hal ini diamini sepenuhnya oleh Sahrul Gunawan. Ia menambahkan bahwa pengalaman masa lalu yang terkadang getir justru menjadi katalisator perubahan positif. Pelajaran berharga dari kegagalan di masa lalu telah membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih bijaksana, tenang, dan mampu menghargai setiap proses dalam pernikahan. "Itu tepatnya. Jadi akhirnya jadi lebih slow," pungkas Sahrul. Dengan pemahaman ini, pernikahan mereka kini berjalan di atas landasan yang lebih kuat, di mana setiap momen dihargai, setiap perbedaan diterima, dan setiap langkah dijalani dengan penuh ketenangan dan cinta. Konsep slow living yang mereka anut bukan sekadar gaya hidup, melainkan sebuah strategi cerdas yang telah terbukti ampuh dalam merajut keharmonisan abadi.

Di era modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, konsep slow living yang diadopsi Sahrul Gunawan dan Dine Mutiara Aziz menawarkan sebuah perspektif segar mengenai bagaimana menjaga keharmonisan rumah tangga. Daripada terbebani oleh target-target pernikahan yang seringkali tidak realistis, mereka memilih untuk merangkul setiap momen dengan kesadaran dan penerimaan. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi potensi konflik, tetapi juga memperdalam apresiasi terhadap pasangan dan hubungan yang telah terjalin. Keberhasilan mereka dalam mengintegrasikan slow living ke dalam kehidupan pernikahan menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan, penerimaan, dan kemampuan untuk menikmati setiap tahapan perjalanan bersama tanpa terburu-buru. Pengalaman masa lalu yang telah mereka lalui menjadi bukti nyata bahwa luka dapat menjadi sumber kebijaksanaan, dan kegagalan bisa menjadi batu loncatan untuk membangun masa depan yang lebih kokoh dan penuh makna. Dengan demikian, resep khusus Sahrul dan Dine bukan sekadar saran, melainkan sebuah inspirasi bagi banyak pasangan untuk menemukan keseimbangan dan kedamaian dalam bahtera rumah tangga mereka.