BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Artis muda berbakat, Rebecca Klopper, belakangan ini menjadi sorotan publik terkait kehidupan pribadinya, khususnya status asmaranya. Dalam sebuah kesempatan wawancara yang ditayangkan di kanal YouTube TS Media, Kamis (5/2/2026), Rebecca dengan jujur mengakui bahwa dirinya saat ini sedang menjomblo. Pengakuan ini sontak memancing rasa penasaran penggemar dan publik mengenai alasan di balik status "single banget keparahan" yang diutarakannya. Pernyataan tersebut bukan sekadar pengakuan biasa, melainkan sebuah refleksi diri yang mendalam mengenai pandangannya terhadap hubungan asmara di era digital ini.
Lebih lanjut, Rebecca Klopper mengungkapkan ketidakberaniannya untuk mencari pasangan melalui aplikasi kencan daring atau dating apps. Alasannya cukup mengejutkan dan menunjukkan sisi kewaspadaannya yang tinggi. "Takut. Dari tontonan kan ada yang meninggal dari dating apps, takut jadinya," tuturnya, merujuk pada berbagai kisah dan pemberitaan mengenai potensi bahaya yang mengintai pengguna aplikasi kencan. Ketakutan ini bukanlah tanpa dasar. Di era serba digital ini, kasus penipuan, pelecehan, bahkan tindak kejahatan yang bermula dari perkenalan di dating apps bukanlah hal yang asing terdengar. Pengalaman dan informasi yang ia terima dari berbagai sumber, termasuk dari media dan tontonan, telah membentuk pandangan dan kehati-hatiannya dalam menjajaki hubungan baru. Hal ini menunjukkan bahwa di balik citra artis yang glamor, Rebecca memiliki kepedulian yang tinggi terhadap keselamatan dirinya.

Rebecca kemudian membeberkan bagaimana ia lebih nyaman dalam menemukan pasangan hidup. Baginya, proses perkenalan yang ideal adalah melalui jalur yang lebih konvensional dan terpercaya. "Biasa dari mutual friend ke relationship. Sudah ada yang kenal, testimoni, baru deh. Kalau benar-benar stranger, takut sih," katanya. Pendekatan ini mengedepankan prinsip kepercayaan yang dibangun melalui perantara yang sudah dikenal. Adanya teman bersama atau kenalan bersama menjadi semacam "garansi" awal yang membuatnya merasa lebih aman dan nyaman untuk memulai sebuah hubungan. Proses ini memungkinkan adanya semacam "riset" awal atau rekomendasi dari pihak ketiga yang dipercaya, sebelum ia benar-benar membuka diri kepada seseorang yang baru.
Metode yang diungkapkan Rebecca ini mencerminkan preferensinya pada hubungan yang dibangun di atas fondasi pertemanan yang sudah ada atau melalui rekomendasi dari lingkaran sosialnya. Ia cenderung menghindari perkenalan dari orang yang benar-benar asing tanpa adanya track record atau informasi yang memadai. Hal ini sangat kontras dengan tren modern di mana banyak orang beralih ke aplikasi kencan sebagai cara utama untuk bertemu calon pasangan. Pilihan Rebecca ini bisa jadi merupakan cerminan dari nilai-nilai tradisional yang masih dipegangnya, atau mungkin sebagai respons terhadap maraknya kasus negatif yang terkait dengan perkenalan daring.
Perlu diingat bahwa Rebecca Klopper terakhir kali diketahui menjalin hubungan asmara dengan Fadly Faisal. Hubungan mereka sempat menjadi sorotan publik dan mendapatkan banyak perhatian dari penggemar. Namun, seperti yang diakuinya, hubungan tersebut kini telah berakhir, dan ia kembali ke status lajang. Keputusan untuk berhati-hati dalam mencari pasangan baru, terutama dengan menghindari dating apps, adalah langkah yang dapat dimengerti mengingat banyaknya risiko yang ada.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena yang diungkapkan Rebecca ini menarik untuk dicermati. Banyak individu, terutama kaum muda, yang kini dihadapkan pada dilema dalam mencari pasangan di era digital. Di satu sisi, dating apps menawarkan kemudahan dan jangkauan yang lebih luas untuk bertemu orang baru. Namun, di sisi lain, risiko dan ketidakpastiannya juga semakin nyata. Pernyataan Rebecca bisa menjadi pengingat bagi banyak orang untuk tetap waspada dan bijak dalam menggunakan teknologi untuk urusan percintaan. Penting untuk tidak hanya mengandalkan kecanggihan aplikasi, tetapi juga tetap mengutamakan keselamatan dan membangun kepercayaan melalui cara-cara yang lebih personal dan terukur.
Kecenderungan Rebecca untuk menghindari dating apps juga bisa dilihat dari sisi psikologis. Ketakutan yang ia ungkapkan menunjukkan bahwa ia sangat memprioritaskan rasa aman dan kenyamanan emosional. Ia mungkin merasa lebih rentan dan terbuka terhadap potensi bahaya ketika bertemu orang asing secara daring. Proses pencarian pasangan yang lebih lambat dan berbasis perkenalan melalui teman justru memberikannya rasa kontrol dan keamanan yang lebih besar. Ini adalah pendekatan yang sangat personal dan mencerminkan kepribadiannya yang hati-hati.
Di sisi lain, ada argumen yang mengatakan bahwa dating apps jika digunakan dengan bijak bisa menjadi alat yang efektif. Banyak pasangan bahagia yang berawal dari perkenalan di aplikasi kencan. Namun, Rebecca tampaknya lebih memilih jalur yang ia anggap lebih aman dan terjamin. Keputusannya ini bisa memicu diskusi lebih lanjut mengenai pro dan kontra penggunaan dating apps di kalangan selebriti maupun masyarakat umum. Apakah ada cara lain yang lebih efektif dan aman bagi publik figur untuk menemukan pasangan?

Pengalaman masa lalu, termasuk hubungannya dengan Fadly Faisal, mungkin juga turut memengaruhi pandangannya saat ini. Setiap pengalaman hubungan, baik yang berhasil maupun yang berakhir, dapat memberikan pelajaran berharga yang membentuk cara seseorang memandang dan mendekati hubungan di masa depan. Dengan pengalamannya, Rebecca kini tampaknya lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih calon pasangan.
Pernyataan Rebecca Klopper ini bukan hanya sekadar gosip, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana generasi muda saat ini menavigasi dunia percintaan di tengah derasnya arus teknologi. Ia memilih untuk tidak mengikuti tren secara membabi buta, melainkan berdasarkan pertimbangan pribadi yang matang, terutama terkait dengan keselamatan. Keberaniannya untuk mengungkapkan ketakutan dan preferensinya ini patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan kedewasaan dan kesadaran diri yang tinggi.
Meskipun Rebecca tidak secara spesifik menyebutkan sumber "tontonan" yang membuatnya takut menggunakan dating apps, publik dapat dengan mudah menghubungkannya dengan berbagai film, serial, atau bahkan berita kriminal yang seringkali menyoroti sisi gelap dari dunia kencan daring. Narasi-narasi tersebut, baik fiksi maupun non-fiksi, memiliki dampak yang signifikan dalam membentuk persepsi publik, terutama bagi mereka yang memiliki kecenderungan untuk berhati-hati.

Dalam kesimpulannya, Rebecca Klopper saat ini sedang menikmati masa lajangnya dan memilih pendekatan yang sangat hati-hati dalam mencari pasangan baru. Ia tidak tertarik untuk menggunakan dating apps karena kekhawatiran akan keselamatan, dan lebih memilih perkenalan melalui teman-teman atau kenalan bersama. Pilihan ini mencerminkan prioritasnya pada keamanan, kenyamanan, dan hubungan yang dibangun di atas kepercayaan. Keputusan ini juga dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi dalam mencari cinta, dan tidak lupa untuk tetap mengutamakan keselamatan diri.

