0

Realme Kembali Jadi Sub-brand Oppo Usai Restrukturisasi

Share

Jakarta – Perjalanan Realme sebagai merek independen yang memukau dunia teknologi sejak tahun 2018 tampaknya akan memasuki babak baru yang signifikan. Setelah bertahun-tahun beroperasi di bawah bendera sendiri, media Tiongkok, Leifeng.com, melaporkan bahwa Realme akan kembali diintegrasikan sebagai sub-brand di bawah payung manajemen Oppo. Kabar ini, yang bersumber dari informan internal Oppo, mengindikasikan adanya restrukturisasi besar-besaran di dalam ekosistem mantan konglomerat BBK Electronics. Perubahan fundamental ini diprediksi akan membentuk ulang lanskap persaingan pasar ponsel pintar global dalam beberapa tahun mendatang.

Sejak kemerdekaannya, Realme telah menunjukkan pertumbuhan yang fenomenal, dengan cepat menempatkan diri sebagai pemain kunci, terutama di pasar negara berkembang. Strateginya yang agresif dalam menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga kompetitif, ditujukan untuk segmen anak muda dan berorientasi performa, telah membuahkan hasil yang luar biasa. Namun, dinamika pasar yang terus berubah dan kebutuhan akan efisiensi operasional yang lebih tinggi tampaknya mendorong keputusan untuk kembali ke struktur yang lebih terpusat.

Menurut laporan yang beredar, Sky Li, pendiri dan CEO Realme yang telah memimpin merek ini sejak awal kemandiriannya, akan tetap mempertahankan jabatannya. Di bawah struktur baru ini, Li akan memimpin Realme sebagai sub-brand yang berada di bawah naungan manajemen Oppo. Ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan dalam struktur korporat, identitas dan arah strategis Realme kemungkinan besar akan tetap dipertahankan, dengan Sky Li sebagai nahkoda utama. Keberlanjutan kepemimpinan ini diharapkan dapat memastikan transisi yang mulus dan menjaga semangat inovasi yang telah menjadi ciri khas Realme.

Dalam skema manajemen baru ini, Oppo akan memposisikan dirinya sebagai merek utama, yang kemungkinan besar akan fokus pada segmen premium dan inovasi terdepan. Sementara itu, Realme dan OnePlus akan beroperasi sebagai sub-brand pelengkap, masing-masing dengan strategi pemasaran dan target pasar yang jelas dan terpisah. Realme diprediksi akan terus menargetkan segmen nilai dan performa tinggi untuk konsumen muda, sedangkan OnePlus kemungkinan akan mempertahankan posisinya sebagai "flagship killer" dengan fokus pada performa unggul dan pengalaman pengguna premium. Penataan ini bertujuan untuk menciptakan portofolio merek yang komprehensif, mampu menjangkau berbagai segmen pasar dan kebutuhan konsumen.

Restrukturisasi ini bukan sekadar perubahan hierarki. Lebih jauh, langkah ini diambil dengan tujuan strategis untuk memperkuat kolaborasi internal antara Oppo, Realme, dan OnePlus. Di era persaingan yang semakin ketat, sinergi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), manajemen rantai pasokan, dan strategi pemasaran menjadi krusial. Dengan integrasi yang lebih dalam, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, menghindari duplikasi investasi yang tidak perlu, dan mengoptimalkan upaya ekspansi global.

Salah satu motivasi utama di balik restrukturisasi ini adalah untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan efisien. Dalam lingkungan bisnis yang bergerak cepat, kemampuan untuk merespons tren pasar dan tantangan dengan sigap adalah kunci keberhasilan. Dengan struktur yang lebih terintegrasi, proses persetujuan dan alokasi sumber daya dapat disederhanakan, memungkinkan ketiga merek untuk bergerak lebih lincah. Petinggi Oppo meyakini bahwa langkah ini akan meminimalkan birokrasi dan memaksimalkan potensi kolektif dari ekosistem mereka.

Meskipun terjadi perubahan besar dalam struktur organisasi, laporan dari Android Headlines pada Kamis (8/1/2026) menegaskan bahwa kembalinya Realme sebagai sub-brand Oppo tidak akan memengaruhi rencana peluncuran produknya. Perangkat yang sedang dalam tahap pengembangan akan terus berjalan sesuai dengan peta jalan yang sudah ada. Ini adalah kabar baik bagi para penggemar Realme, yang dapat mengharapkan inovasi dan produk-produk baru akan terus hadir tanpa hambatan. Justru, integrasi ini berpotensi membuka pintu bagi Realme untuk mengakses teknologi dan sumber daya R&D Oppo yang lebih canggih, yang mungkin sebelumnya tidak tersedia secara penuh.

Aspek krusial lain dari restrukturisasi ini adalah integrasi sistem layanan purnajual Realme ke dalam jaringan Oppo. Ini mencakup lebih dari 5.000 toko fisik Realme yang tersebar di Tiongkok. Bagi konsumen, integrasi ini berarti akses yang lebih luas dan terstandardisasi terhadap layanan dukungan, perbaikan, dan garansi. Dengan menggabungkan sumber daya layanan pelanggan, baik Oppo maupun Realme dapat menawarkan pengalaman pasca-penjualan yang lebih mulus dan efisien, yang merupakan faktor penting dalam membangun loyalitas merek. Skala operasi yang lebih besar juga dapat menghasilkan peningkatan efisiensi biaya dan kualitas layanan.

Sejarah mencatat, Realme sebenarnya bermula sebagai sub-brand Oppo pada Mei 2018. Namun, hanya beberapa bulan setelah itu, Realme bertransisi menjadi merek ponsel independen, sebuah langkah yang saat itu dipandang berani dan inovatif. Keputusan untuk memisahkan diri memungkinkan Realme untuk mengejar strategi yang lebih berani dan menargetkan pasar yang berbeda tanpa terbebani oleh citra merek premium Oppo. Keberhasilan Realme sebagai merek independen adalah bukti dari strategi tersebut.

Latar belakang yang lebih luas dari restrukturisasi ini adalah bubarnya BBK Electronics pada tahun 2023. BBK Electronics adalah konglomerat induk yang menaungi sejumlah merek ponsel pintar terkemuka, termasuk Oppo, Vivo, OnePlus, iQOO, dan Realme. Pembubaran ini menandai berakhirnya era di mana merek-merek ini secara tidak langsung berada di bawah satu atap, meskipun masing-masing beroperasi dengan otonomi yang cukup besar. Setelah pembubaran BBK, Oppo dan Vivo dilaporkan beroperasi secara independen, bersama dengan imoo, produsen smartwatch untuk anak-anak. Keputusan Oppo untuk kembali mengintegrasikan Realme, dan juga OnePlus, mencerminkan pergeseran strategis yang lebih besar dalam upaya untuk membangun ekosistem yang lebih kohesif di tengah pasar yang semakin matang dan kompetitif.

Integrasi ini juga dapat dilihat sebagai respons terhadap konsolidasi pasar dan tekanan persaingan dari raksasa teknologi lainnya seperti Samsung, Xiaomi, dan Apple. Dengan menyatukan kekuatan, Oppo, Realme, dan OnePlus dapat menghadirkan front persatuan yang lebih kuat, mengoptimalkan investasi, dan mempercepat inovasi. Potensi untuk berbagi teknologi inti, komponen, dan bahkan platform perangkat lunak (seperti ColorOS atau Realme UI) dapat menghasilkan produk yang lebih canggih dan terintegrasi. Misalnya, penelitian di bidang kamera, pengisian daya cepat, atau chip kustom yang dilakukan oleh Oppo dapat dengan mudah diadaptasi dan diterapkan pada perangkat Realme atau OnePlus, mempercepat siklus inovasi.

Di sisi lain, tantangan juga mungkin muncul. Salah satunya adalah menjaga identitas merek yang unik untuk Realme. Sejak menjadi independen, Realme telah berhasil membangun basis penggemarnya sendiri dengan citra yang dinamis dan berjiwa muda. Integrasi yang terlalu dalam bisa berisiko mengaburkan perbedaan ini, membuat Realme terlihat terlalu mirip dengan Oppo, yang dapat mengurangi daya tariknya bagi segmen pasar tertentu. Namun, dengan Sky Li yang tetap memimpin dan fokus pada strategi pemasaran yang berbeda, manajemen tampaknya bertekad untuk mempertahankan esensi merek Realme.

Pengamat industri teknologi akan memantau dengan cermat bagaimana restrukturisasi ini akan memengaruhi pangsa pasar dan strategi global ketiga merek. Apakah ini akan memungkinkan Oppo untuk lebih efektif bersaing di segmen premium dengan Apple dan Samsung, sementara Realme dan OnePlus mendominasi segmen menengah dan performa? Atau apakah akan ada tumpang tindih yang tidak disengaja yang dapat membingungkan konsumen? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Namun yang jelas, langkah ini menandai babak baru yang menarik dalam evolusi pasar ponsel pintar dan bagaimana perusahaan-perusahaan besar beradaptasi untuk tetap relevan dan kompetitif.

Secara keseluruhan, kembalinya Realme sebagai sub-brand Oppo adalah langkah strategis yang didorong oleh kebutuhan akan efisiensi, sinergi, dan daya saing yang lebih besar. Dengan Sky Li yang tetap memegang kendali dan janji untuk mempertahankan peta jalan produk, para penggemar Realme dapat menantikan masa depan yang cerah dengan dukungan yang lebih kuat dari ekosistem Oppo yang terintegrasi. Ini adalah langkah yang berani, yang jika dieksekusi dengan baik, dapat mengokohkan posisi Oppo dan merek-mereknya sebagai kekuatan dominan di industri ponsel pintar global. Pasar akan mengawasi dengan saksama bagaimana kolaborasi yang diperkuat ini akan membuahkan hasil dalam inovasi produk dan pengalaman konsumen.

(vmp/vmp)