BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Rangga Moela, sosok yang dikenal publik dengan paras rupawan dan gaya hidupnya yang dinamis, baru saja menyelesaikan perjalanan spiritualnya yang penuh makna ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah. Kepulangannya disambut dengan gelombang rasa haru yang masih menyelimutinya, membekas kuat dalam setiap helaan napas dan tatapan matanya. Pengalaman mendalam di Mekah dan Madinah seolah terpatri permanen dalam benaknya, menciptakan jejak emosional yang begitu dalam, hingga tak jarang air mata mengalir deras ketika ia mencoba mengisahkan kembali momen-momen berharga tersebut.
"Benar-benar di sana dikasih kemudahan, nggak ada celah satupun, dan amaze aja gitu," ujar Rangga, dikutip dari Rumpi, Trans TV, Sabtu (31/1/2026), dengan nada suara yang masih bergetar oleh keharuan. Kata-kata sederhana itu menyimpan kekaguman yang luar biasa terhadap kelancaran dan kemudahan yang ia rasakan selama menjalani seluruh rangkaian ibadah umrah. Tidak ada kendala berarti, tidak ada kesulitan yang berarti, seolah semesta merestui dan membukakan pintu rahmat-Nya seluas-luasnya bagi langkah-langkah spiritualnya.
Namun, di balik kemudahan dan kekaguman yang ia rasakan kini, tersimpan sebuah perjalanan batin yang panjang dan penuh keraguan. Rangga mengakui bahwa keinginan untuk menjalankan ibadah umrah sebenarnya sudah lama bersemayam dalam hatinya, namun berbagai faktor, terutama ketakutan, kerap menjadi penghalang. Ia mengaku sering menunda-nunda kesempatan untuk beribadah di Tanah Suci. Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Ia banyak mendengar cerita dari orang lain mengenai pengalaman spiritual yang begitu mendalam, yang terkadang disertai dengan gejolak emosi yang kuat, bahkan tangisan yang tak tertahankan. Hal inilah yang membuatnya merasa gentar.
"Jujur selama ini waktu umurku masih muda tuh setiap kali di ajak umrah itu kayak, ‘Ah nggak deh’. Deg-degan waktu itu kan ya kita mikirnya manusia kan banyak dosa ya. Kayak belum siap gitu untuk pergi umrah," jelas Rangga lagi, kali ini tak bisa menahan lagi tangisnya, air mata mengalir membasahi pipinya, menggambarkan betapa beratnya pergulatan batin yang ia lalui. Perasaan "belum siap" itu datang dari kesadaran akan segala kekurangan dan kesalahan yang mungkin pernah ia lakukan. Ia khawatir, jiwanya belum cukup murni untuk menghadap Sang Pencipta di tempat yang paling suci. Ketakutan akan menghadapi kenyataan diri di hadapan keagungan Tuhan membuatnya memilih untuk menunda, menunggu momen yang dirasa lebih tepat.
Perasaan deg-degan itu semakin kuat ketika ia membayangkan betapa sucinya Tanah Suci dan betapa besar keagungan Allah SWT. Ia merasa dirinya masih terlalu kecil dan penuh cela untuk bisa berdiri di sana dengan hati yang lapang. Perasaan ini terus menghantuinya setiap kali ada tawaran atau kesempatan untuk berangkat umrah. Ia selalu mencari alasan untuk menunda, mulai dari kesibukan pekerjaan, belum memiliki bekal yang cukup, hingga keraguan akan kesiapan mental dan spiritualnya.
Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, Rangga mulai merasakan sebuah dorongan yang lebih kuat. Ia mulai merenungi makna kehidupan dan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadap Sang Khalik. Ia menyadari bahwa tidak ada waktu yang lebih baik selain sekarang. Panggilan ilahi itu semakin menggema dalam relung hatinya, mengalahkan segala keraguan dan ketakutan yang pernah ada. Ia mulai merasa bahwa menunda ibadah adalah sebuah kerugian yang tak ternilai.
Akhirnya, tibalah saatnya ketika Rangga merasa bahwa ia telah memiliki bekal yang cukup, baik dari segi materi maupun kesiapan batin. Uang yang ia kumpulkan selama ini, ditambah dengan niat yang semakin bulat dan kuat, menjadi pendorong utamanya untuk akhirnya memberanikan diri. Ia memutuskan bahwa tidak ada lagi alasan untuk menunda. Momen itu adalah kini.
"Ya bayangin saja ya, kita jalan-jalan ke luar negeri sudah kemana aja, tapi kalau ini tuh beda banget gitu," tutur Rangga sambil menyeka air matanya, mencoba mengartikulasikan perbedaan fundamental antara perjalanan wisata biasa dengan perjalanan spiritual. Perjalanan ke luar negeri, meskipun seringkali menyenangkan dan memberikan pengalaman baru, tetaplah bersifat duniawi. Ada kesenangan sementara, ada pemandangan indah yang bisa dinikmati, namun pada akhirnya kembali pada rutinitas yang sama. Berbeda dengan umrah, yang merupakan sebuah perjalanan jiwa, sebuah momen untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, untuk membersihkan diri dari segala dosa, dan untuk merenungi kebesaran-Nya.
Perjalanan umrah bukanlah sekadar "jalan-jalan", melainkan sebuah ibadah yang memiliki makna spiritual yang mendalam. Ia adalah undangan dari Allah SWT untuk datang ke rumah-Nya, untuk merasakan kedekatan yang tak terhingga, dan untuk mendapatkan pengampunan atas segala khilaf. Rangga akhirnya memahami perbedaan itu. Pengalamannya di Tanah Suci telah mengubah perspektifnya secara drastis. Ia merasakan ketenangan yang luar biasa, kedamaian batin yang selama ini ia cari. Ia merasa seperti terlahir kembali, dengan jiwa yang lebih bersih dan hati yang lebih lapang.
Keberanian Rangga untuk akhirnya berangkat umrah setelah sekian lama menunda, merupakan sebuah bukti bahwa hidayah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Ketakutan awal yang ia rasakan adalah hal yang wajar bagi seorang manusia yang menyadari akan dosanya. Namun, yang luar biasa adalah ketika ia mampu mengalahkan ketakutan itu dengan keberanian untuk berhijrah, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Saat ia melangkahkan kaki pertama di tanah suci, Rangga merasakan sebuah energi yang luar biasa. Ia melihat jutaan umat muslim dari berbagai belahan dunia berkumpul di satu tempat, bersatu dalam satu tujuan, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Kehadiran jamaah yang begitu banyak itu tidak membuatnya merasa terintimidasi, melainkan justru memberikan rasa kebersamaan dan kekuatan spiritual yang luar biasa. Ia merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas global yang memiliki keyakinan yang sama.
Ketika ia melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, Rangga merasakan sebuah koneksi yang tak terlukiskan dengan Sang Pencipta. Ia merasa begitu dekat, begitu terhubung, seolah tak ada jarak antara dirinya dan Allah SWT. Tangis yang ia rasakan saat itu bukanlah tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan, tangis keharuan atas rahmat dan karunia yang diberikan. Ia menangis memohon ampunan, menangis bersyukur, dan menangis memohon kekuatan untuk tetap berada di jalan-Nya.
Begitu pula saat ia berada di Raudhah, taman dari taman-taman surga, Rangga merasakan kehadiran spiritual yang begitu kuat. Ia berdoa dengan khusyuk, memohon segala kebaikan dunia dan akhirat. Setiap doa yang ia panjatkan terasa begitu tulus dan penuh harap. Ia menyadari betapa kecilnya dirinya di hadapan keagungan Allah SWT, namun ia juga merasakan betapa besar kasih sayang-Nya.
Rangga Moela kini kembali ke tanah air dengan membawa bekal spiritual yang tak ternilai harganya. Pengalaman umrahnya telah menjadi titik balik dalam kehidupannya. Ia kini lebih bijak dalam memandang hidup, lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, dan lebih termotivasi untuk terus berbuat kebaikan. Tangis yang pecah saat ia berani menjalankan umrah adalah simbol dari sebuah perjuangan batin yang berhasil ia menangkan, sebuah bukti bahwa keberanian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan akan selalu berbuah kebahagiaan dan kedamaian. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada jalan yang benar dan merasakan indahnya kedekatan dengan Sang Pencipta.

