0

Ramai di X, Apa Itu Ciplukan? Dulu Gratisan Kini Mahal

Share

Linimasa media sosial X (sebelumnya Twitter) mendadak ramai membahas buah masa kecil yang penuh nostalgia: ciplukan. Topik ini bahkan menjadi trending topic setelah sebuah unggahan teka-teki memancing ribuan reaksi netizen, mengingatkan kembali pada tanaman liar yang dulu kerap diabaikan, namun kini memiliki nilai jual tinggi dan disebut-sebut sebagai ‘superfood’.

Daftar Isi


Kehebohan bermula dari unggahan akun @onmyway1133 pada 9 Januari 2026. Ia membagikan foto buah misterius berwarna hijau dengan pola vena cokelat yang khas pada kelopaknya, disertai kepsyen menantang, "95% don’t know. Let’s guess, which fruit is this?" (95% orang tidak tahu. Ayo tebak, buah apa ini?). Unggahan tersebut langsung viral, memicu debat dan nostalgia massal di kalangan warganet. Ribuan komentar membanjiri, sebagian besar langsung mengenali buah tersebut sebagai ciplukan.

Momen ini menjadi katalisator bagi jutaan pengguna X untuk berbagi cerita masa kecil mereka. Ciplukan, atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Golden Berry atau Groundcherry, adalah tanaman yang dulu sering dianggap gulma di pedesaan Indonesia. Anak-anak di era 80-an hingga awal 2000-an mungkin masih ingat betapa mudahnya menemukan buah ini tumbuh liar di kebun, pekarangan, atau pinggir jalan, dan memetiknya secara cuma-cuma. Kini, buah tersebut telah naik kelas, bahkan dijual di supermarket besar dengan harga yang fantastis.

Diskusi di kolom balasan menyoroti perubahan status buah ini secara drastis. Akun @zaen_rizqillah mengenang masa kecilnya dengan komentar jenaka, "Ciplukan. Dulu ditakut-takuti tanaman ini tumbuh di tanah yang ada tinya. Sekarang dijual ratusan ribu di minimarket. Sudah benar dulu kenyang makan ini. Rasanya biasa, momen pencariannya yang seru!" Komentar serupa datang dari berbagai akun, mengungkapkan rasa kaget sekaligus haru melihat "buah kampung" ini kini dihargai tinggi. Beberapa netizen bahkan mengaitkan nama ciplukan dengan meme isu sosial atau topik politik, menunjukkan betapa luasnya jangkauan dan resonansi topik ini di berbagai kalangan pengguna X. Fenomena ini bukan hanya sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari nostalgia kolektif dan pengakuan terhadap nilai tersembunyi dari kekayaan alam Indonesia.

Apa Itu Ciplukan? Si Lentera Emas dari Semak Belukar

Ciplukan, atau secara ilmiah dikenal sebagai Physalis angulata, adalah anggota dari keluarga Solanaceae, yang juga mencakup tomat, kentang, dan terong. Tanaman ini adalah herba semusim yang tumbuh liar di daerah tropis dan subtropis, termasuk di seluruh wilayah Indonesia. Ciri khasnya adalah buahnya yang unik, terbungkus oleh kelopak tipis menyerupai lentera atau lampion berwarna hijau pucat yang akan mengering dan berubah menjadi cokelat kekuningan seiring matangnya buah di dalamnya.

Saat matang sempurna, buah ciplukan akan berwarna kuning keemasan, berukuran kecil sekitar 1-2 cm, dengan rasa manis sedikit asam yang menyegarkan. Teksturnya renyah dan berair, dengan biji-biji kecil di dalamnya. Di berbagai daerah, ciplukan memiliki nama lokal yang berbeda-beda, seperti cecendet (Sunda), nyornyoran (Madura), kopok-kopokan (Bali), ceplukan (Jawa), hingga lapuni (Maluku). Di kancah internasional, selain Golden Berry, ia juga dikenal sebagai Groundcherry atau Husk Cherry, seringkali dibingungkan dengan Physalis peruviana atau Cape Gooseberry, meskipun keduanya memiliki karakteristik yang mirip namun berbeda spesies.

Secara historis, ciplukan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai budaya, termasuk di Indonesia, untuk mengobati berbagai penyakit. Namun, popularitasnya sebagai makanan dan sumber nutrisi baru melambung tinggi dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan makanan sehat dan ‘superfood’.

Transformasi Harga: Dari Gratisan Jadi Superfood Mahal

Perubahan status ciplukan dari "gulma" menjadi komoditas mahal di supermarket adalah salah satu aspek yang paling mengejutkan bagi banyak orang. Dulu, anak-anak desa bisa memetiknya sesuka hati tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Kini, harga ciplukan segar di supermarket premium bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kilogram, bahkan untuk kemasan kecil sekalipun.

Penyebab utama kenaikan harga ini adalah pergeseran persepsi dan permintaan pasar. Ciplukan mulai dikenal luas sebagai "superfood" berkat profil nutrisinya yang kaya. Gaya hidup sehat yang semakin populer membuat masyarakat perkotaan, khususnya, mencari alternatif makanan yang tidak hanya lezat tetapi juga kaya manfaat. Produsen dan pengecer melihat peluang ini, mulai membudidayakan ciplukan secara lebih terstruktur dan memasarkannya sebagai buah eksotis dengan klaim kesehatan yang kuat.

Selain itu, faktor kelangkaan di area perkotaan juga turut mendongkrak harga. Ciplukan yang dulunya tumbuh liar kini semakin sulit ditemukan di tengah pesatnya pembangunan. Budidaya yang terorganisir, meskipun ada, belum mampu sepenuhnya memenuhi lonjakan permintaan. Proses panen yang masih sering dilakukan secara manual dan relatif sulit karena ukuran buah yang kecil serta kelopaknya yang tipis juga menjadi faktor penyumbang biaya produksi dan harga jual yang lebih tinggi. Perubahan ini menunjukkan bagaimana tren kesehatan global dapat mengangkat nilai ekonomi dari tanaman lokal yang sebelumnya terabaikan.

Segudang Manfaat Kesehatan Ciplukan: Mengapa Ia Layak Disebut Superfood?

Di balik harganya yang melonjak, ciplukan memang menyimpan segudang manfaat kesehatan yang menjadikannya pantas menyandang gelar superfood. Buah ini kaya akan vitamin, mineral, serat, protein, serta berbagai senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh.

Berikut adalah beberapa manfaat utama ciplukan bagi kesehatan tubuh:

  • Kaya Antioksidan: Ciplukan mengandung beragam antioksidan seperti flavonoid, karotenoid, polifenol, dan terutama physalins, senyawa unik yang ditemukan pada genus Physalis. Antioksidan ini berperan penting dalam melawan radikal bebas dalam tubuh, mengurangi stres oksidatif, dan melindungi sel-sel dari kerusakan, yang dapat mencegah berbagai penyakit kronis.
  • Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh: Kandungan Vitamin C yang tinggi pada ciplukan adalah pendorong utama sistem imun. Vitamin C dikenal dapat merangsang produksi sel darah putih, yang merupakan garis pertahanan utama tubuh melawan infeksi virus dan bakteri.
  • Menjaga Kesehatan Mata: Ciplukan adalah sumber Vitamin A dan beta-karoten yang baik. Kedua nutrisi ini esensial untuk menjaga penglihatan yang sehat, mencegah degenerasi makula terkait usia, dan melindungi mata dari kerusakan akibat radikal bebas.
  • Potensi Anti-inflamasi: Senyawa physalins dalam ciplukan telah diteliti memiliki sifat anti-inflamasi yang kuat. Ini dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh yang menjadi akar dari banyak penyakit, termasuk arthritis, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
  • Mendukung Kesehatan Jantung: Kandungan serat, kalium, dan antioksidan dalam ciplukan dapat berkontribusi pada kesehatan kardiovaskular. Serat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat, sementara kalium penting untuk mengatur tekanan darah. Antioksidan juga melindungi pembuluh darah dari kerusakan.
  • Mengatur Gula Darah: Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa ciplukan mungkin memiliki efek hipoglikemik, yang berarti dapat membantu mengatur kadar gula darah. Ini berpotensi bermanfaat bagi penderita diabetes atau mereka yang berisiko. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
  • Sumber Serat Pangan: Ciplukan mengandung serat yang baik untuk pencernaan. Serat membantu melancarkan buang air besar, mencegah sembelit, dan menjaga kesehatan mikrobioma usus.
  • Meningkatkan Kesehatan Tulang: Buah ini juga mengandung Vitamin K, yang penting untuk pembekuan darah dan kesehatan tulang. Vitamin K membantu dalam penyerapan kalsium dan menjaga kepadatan tulang.
  • Potensi Antikanker: Meskipun masih dalam tahap penelitian awal, beberapa studi laboratorium menunjukkan bahwa senyawa dalam ciplukan, khususnya physalins, memiliki sifat antikanker dengan menghambat pertumbuhan sel kanker dan memicu apoptosis (kematian sel terprogram) pada beberapa jenis sel kanker.

Cara Konsumsi yang Aman dan Batasan

Ciplukan dapat dinikmati dengan berbagai cara, namun penting untuk memastikan buahnya sudah matang sempurna. Buah ciplukan yang masih hijau atau mentah memiliki rasa pahit dan berpotensi mengandung senyawa solanin-seperti yang bisa beracun jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, atau diare. Pastikan buah berwarna kuning keemasan dan kelopaknya kering sebelum dikonsumsi.

  • Konsumsi Langsung: Cara termudah adalah memakan buah ciplukan segar langsung setelah kelopaknya dibuka. Rasanya manis asam yang unik sangat cocok sebagai camilan sehat.
  • Olahan Makanan: Ciplukan juga bisa diolah menjadi berbagai hidangan. Buah ini lezat jika ditambahkan ke salad buah, yogurt, atau sereal. Ia juga dapat diolah menjadi selai, jeli, saus untuk hidangan penutup, atau bahkan sebagai garnish pada kue dan tart.
  • Minuman: Jus ciplukan yang dicampur dengan buah lain dapat menjadi minuman segar dan menyehatkan. Beberapa orang juga mengeringkan ciplukan untuk diseduh sebagai teh herbal.

Meskipun kaya manfaat, ahli kesehatan menyarankan agar tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Konsumsi dalam jumlah wajar adalah kunci. Bagi individu dengan riwayat alergi terhadap tanaman dalam keluarga Solanaceae (seperti tomat atau kentang), disarankan untuk berhati-hati. Ibu hamil dan menyusui, serta penderita penyakit tertentu yang sedang mengonsumsi obat-obatan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi ciplukan dalam jumlah besar atau sebagai terapi alternatif.

Budidaya dan Potensi Ekonomi Ciplukan

Melihat lonjakan permintaan dan harga ciplukan, banyak petani dan pegiat pertanian mulai melirik potensi budidaya tanaman ini. Dari yang dulunya tumbuh liar tanpa perawatan, kini ciplukan mulai ditanam secara terorganisir di beberapa daerah. Budidaya ciplukan relatif mudah karena tanaman ini tidak membutuhkan perawatan intensif dan tahan terhadap berbagai kondisi tanah. Namun, untuk menghasilkan buah berkualitas tinggi, diperlukan perhatian pada kesuburan tanah dan pengendalian hama.

Potensi ekonomi ciplukan tidak hanya terbatas pada penjualan buah segar. Industri makanan dan minuman dapat mengolahnya menjadi produk turunan seperti jus, selai premium, atau ekstrak untuk suplemen kesehatan. Bahkan, daun dan batang ciplukan dalam pengobatan tradisional juga dipercaya memiliki khasiat, membuka peluang untuk pengembangan produk herbal. Kebangkitan ciplukan menunjukkan bagaimana nilai suatu komoditas dapat berubah drastis seiring dengan perkembangan informasi dan tren pasar, memberikan harapan baru bagi petani lokal.

Kesimpulan: Kebangkitan Sang Buah Nostalgia

Fenomena ciplukan yang ramai di X adalah bukti nyata bagaimana nostalgia, informasi kesehatan, dan dinamika pasar dapat berpadu menciptakan tren yang menarik. Dari sekadar "buah gratisan" yang tumbuh liar di pekarangan, ciplukan kini telah bertransformasi menjadi "superfood" mahal yang dicari banyak orang. Kisah ciplukan bukan hanya tentang kenaikan harga, melainkan juga tentang pengakuan terhadap kekayaan alam lokal yang selama ini terabaikan, sekaligus pelajaran tentang pentingnya menghargai apa yang ada di sekitar kita. Bagi generasi yang tumbuh besar dengan memetik ciplukan di sawah, ini adalah kebangkitan manis dari sepotong memori masa kecil yang tak ternilai harganya.

(afr/afr)