BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Paris Saint-Germain (PSG) berhasil menghancurkan Chelsea dengan skor telak 5-2 dalam leg pertama babak 16 besar Liga Champions yang digelar di Parc des Princes, Paris, pada Kamis (12/3/2026) dini hari WIB. Kekalahan telak ini tak lepas dari sorotan tajam terhadap keputusan pelatih Chelsea, Liam Rosenior, yang memainkan kiper muda Filip Jorgensen sebagai starter. Meskipun sempat memberikan perlawanan sengit dan berhasil menahan imbang tuan rumah 2-2, The Blues akhirnya ambruk di 15 menit terakhir pertandingan, yang sebagian besar disebabkan oleh kesalahan fatal Jorgensen.
Kekalahan telak ini menjadi pukulan berat bagi Chelsea dalam upaya mereka melaju ke babak perempatfinal Liga Champions. Skor agregat 5-2 membuat tim asuhan Liam Rosenior ini membutuhkan keajaiban di leg kedua. Mereka harus menang dengan selisih empat gol, atau minimal tiga gol untuk bisa memaksakan babak tambahan waktu. Namun, melihat performa yang ditampilkan di leg pertama, target tersebut tampak sangat sulit untuk dicapai.
Momen krusial yang memicu keruntuhan Chelsea terjadi pada gol ketiga PSG. Filip Jorgensen, kiper berusia 23 tahun yang dipercaya tampil sejak menit awal, melakukan blunder fatal ketika operannya berhasil dipotong oleh pemain PSG, Bradley Barcola. Bola liar tersebut kemudian diselesaikan dengan indah oleh Vitinha melalui sebuah sontekan chip yang tak mampu dijangkau Jorgensen. Gol ini tidak hanya mengubah kedudukan menjadi 3-2 untuk keunggulan PSG, tetapi juga memukul mental para pemain Chelsea.
Parahnya, petaka bagi Chelsea tidak berhenti sampai di situ. Setelah gol ketiga, PSG semakin mengganas dan berhasil menambah keunggulan melalui brace dari Khvicha Kvaratskhelia. Gol kelima PSG dinilai juga memiliki andil dari kesalahan Jorgensen. Kali ini, ia gagal menepis tendangan Kvaratskhelia dengan baik, dan bola yang seharusnya bisa dihalau justru memantul masuk ke dalam gawang. Dua kesalahan fatal dalam waktu singkat ini menjadi sorotan utama yang mengarah pada keputusan Liam Rosenior.
Keputusan Liam Rosenior untuk memainkan Filip Jorgensen sebagai kiper utama, menggantikan Robert Sanchez yang lebih berpengalaman, menuai banyak pertanyaan. Jorgensen, meskipun sempat menampilkan performa apik saat Chelsea mengalahkan Aston Villa di pertandingan sebelumnya, hanya memiliki pengalaman bermain yang minim di tim utama Chelsea. Ia baru mencatatkan 9 penampilan, sebagian besar sebagai pengganti Sanchez yang telah bermain di 38 pertandingan sebelumnya.
Perbandingan pengalaman antara Jorgensen dan Sanchez semakin memperkuat keraguan terhadap keputusan Rosenior. Robert Sanchez, kiper yang lebih matang, memiliki rekam jejak yang baik, termasuk penampilan gemilang saat Chelsea meraih gelar Piala Dunia Antarklub tahun lalu, di mana ia berhasil menjaga gawangnya tetap aman dalam kemenangan 3-0 atas tim lawan. Pengalaman inilah yang seharusnya menjadi nilai tambah saat menghadapi tim sekelas PSG di kompetisi sekelas Liga Champions.
Menanggapi kritik atas keputusannya, Liam Rosenior mencoba untuk membela Filip Jorgensen. Ia menegaskan bahwa setiap pemain bisa membuat kesalahan dan itu adalah bagian dari permainan sepakbola. Rosenior menjelaskan bahwa ia memiliki alasan tersendiri dalam memilih Jorgensen untuk tampil sebagai starter. Ia mengungkapkan bahwa ia berusaha untuk meraih kemenangan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, dan Jorgensen memiliki kualitas yang berbeda yang ia yakini dapat memberikan kontribusi.
"Pemain membuat kesalahan. Filip bukan yang pertama membuat kesalahan. Dan itu bagian dari sepakbola," ujar Rosenior dalam konferensi pers pasca pertandingan. "Mereka memiliki kualitas yang berbeda. Rob luar biasa dalam mengantisipasi umpan silang dan menghentikan tembakan. Saya berusaha untuk menang dalam jangka pendek dan juga dalam jangka panjang. Filip memiliki kualitas yang berbeda dan salah satu kualitasnya, yang dia tunjukkan melawan Aston Villa."
Lebih lanjut, Rosenior merinci alasan di balik keputusannya, dengan menyoroti bagaimana ketenangan dalam penguasaan bola menjadi kunci kemenangan Chelsea sebelumnya. Ia berpendapat bahwa Jorgensen memiliki kemampuan untuk membantu tim bermain lebih tenang dalam membangun serangan, terutama saat menghadapi tim yang melakukan pressing tinggi seperti PSG.
"Salah satu alasan kami menang 4-1 di Aston Villa, kami sangat tenang dalam menguasai bola, yang sebelumnya tidak kami lakukan, tidak hanya pada Rob tapi juga seluruh tim. Bermain melawan tim yang menekan tinggi, jika kami tetap tenang dan melewati tekanan di fase awal, kita bisa menimbulkan banyak masalah, yang kami bisa lakukan," jelasnya.
Namun, Rosenior tidak dapat menyangkal dampak negatif dari kesalahan Jorgensen. Ia mengakui bahwa kesalahan tersebut sangat menyakitkan dan membuat Chelsea berada dalam posisi yang sangat sulit untuk membalikkan keadaan. "Sangat menyakitkan kami membuat kesalahan pada saat itu, membuat skor menjadi 3-2. Sekarang kami berada dalam posisi yang sangat, sangat sulit dalam pertandingan ini dengan hasil akhir," ungkapnya.
Kekalahan 5-2 ini tidak hanya menjadi pukulan telak bagi Chelsea di Liga Champions, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai strategi dan pengambilan keputusan Liam Rosenior. Keputusan untuk menurunkan kiper muda yang minim pengalaman dalam pertandingan sepenting ini, terutama ketika ada opsi kiper yang lebih berpengalaman, akan terus menjadi bahan perdebatan dan evaluasi di internal klub. Masa depan Chelsea di Liga Champions kini bergantung pada sebuah keajaiban di leg kedua, di mana mereka harus mampu mengalahkan PSG dengan selisih gol yang signifikan.

