BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Dalam sebuah gelaran inspiratif bertajuk Women Support Woman 3.0 yang berlangsung di Masjid Al-Ikhlas, Pantai Indah Kapuk (PIK), dua figur publik kenamaan, Asri Welas dan Paula Verhoeven, berbagi pandangan mendalam mengenai perjalanan hidup perempuan, kekuatan diri, serta pentingnya integritas di era modern. Acara yang mengusung tema utama "Independence, Career, and Personal Branding Empowering Every Woman to Be Her Best" ini menjadi wadah krusial bagi para perempuan untuk melakukan refleksi diri, memperkuat kemandirian, dan menumbuhkan kepercayaan diri yang berakar pada nilai-nilai luhur. Kehadiran Asri Welas dan Paula Verhoeven dalam satu panggung tidak hanya menambah semarak acara, tetapi juga memberikan perspektif yang kaya dan relevan bagi audiens yang didominasi oleh kaum perempuan.
Asri Welas, dengan pengalaman hidupnya yang kaya, menekankan filosofi pentingnya penerimaan dan kedamaian dalam setiap proses yang dilalui perempuan. Ia menegaskan bahwa untuk menjadi kuat, seorang perempuan tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi sempurna. "Perempuan tidak harus sempurna untuk menjadi kuat. Kita belajar menerima proses dan tetap berdiri dengan nilai yang kita pegang," ujar Asri Welas, menggarisbawahi bahwa kekuatan sejati lahir dari kemampuan untuk merangkul setiap tahapan kehidupan, baik yang penuh tantangan maupun kebahagiaan, sembari tetap teguh pada prinsip dan jati diri yang dimiliki. Pernyataan ini menjadi pengingat berharga bagi banyak perempuan yang seringkali terjebak dalam ekspektasi masyarakat tentang kesempurnaan, padahal inti dari kekuatan adalah ketahanan, adaptabilitas, dan integritas moral.
Sementara itu, Paula Verhoeven, yang dikenal dengan kiprahnya di dunia digital dan bisnis, membawa sorotan pada aspek krusial di era informasi yang serba terhubung ini: menjaga keaslian diri. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kemudahan dalam membangun citra diri secara online, Paula mengingatkan bahwa personal branding yang sesungguhnya tidak terletak pada penampilan yang dibuat-buat atau pencitraan yang berlebihan. Sebaliknya, ia menekankan bahwa integritas adalah kunci utama. "Personal branding bukan tentang tampil sempurna, tetapi tentang menjadi diri sendiri dengan integritas," sambungnya. Pesan ini sangat relevan di era di mana batasan antara realitas dan persona digital seringkali kabur. Paula mengajak perempuan untuk membangun citra diri yang otentik, yang mencerminkan nilai-nilai pribadi, kejujuran, dan konsistensi, sehingga membangun kepercayaan yang langgeng dengan audiens atau kolega.
Acara Women Support Woman 3.0 sendiri dirancang secara holistik untuk membahas tiga pilar utama yang saling terkait dan fundamental bagi pemberdayaan perempuan. Pilar pertama, "Independence" atau kemandirian, menyoroti pentingnya perempuan memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri, baik secara finansial, emosional, maupun intelektual. Ini mencakup pengambilan keputusan yang mandiri, pengelolaan sumber daya pribadi, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup tanpa ketergantungan yang berlebihan. Pilar kedua, "Career" atau perjalanan karier, membahas bagaimana perempuan dapat menavigasi dunia profesional dengan sukses, mengatasi hambatan-hambatan gender yang mungkin ada, dan mencapai potensi maksimal dalam bidang pekerjaan mereka. Ini juga mencakup keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi, sebuah tantangan yang seringkali dihadapi oleh perempuan.
Pilar ketiga, "Personal Branding," seperti yang disinggung oleh Paula Verhoeven, berfokus pada bagaimana perempuan dapat membangun citra diri yang kuat, otentik, dan positif. Ini bukan hanya tentang bagaimana tampil di depan publik, tetapi lebih kepada bagaimana mengkomunikasikan nilai-nilai, keahlian, dan kepribadian diri secara efektif, sehingga dapat memberikan dampak positif dan membangun reputasi yang baik. Diskusi dalam acara ini secara tegas menekankan bahwa pertumbuhan profesional seorang perempuan tidak harus berarti mengorbankan identitas diri atau nilai-nilai fundamental yang diyakininya. Justru, dengan memegang teguh identitas dan nilai-nilai tersebut, perempuan dapat membangun karier yang kokoh dan personal branding yang otentik, yang pada akhirnya akan memperkuat posisinya di masyarakat.
Anesrembes, selaku Founder Intens Entertainment dan penggagas gerakan Women Support Woman, menjelaskan lebih lanjut mengenai visi di balik inisiatif sosial ini. "Women Support Woman adalah tentang banyak perempuan hadir untuk satu perempuan. Ini bukan sekadar acara, tetapi ruang aman untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama," tuturnya. Pernyataan ini menggambarkan esensi dari gerakan ini, yaitu menciptakan sebuah ekosistem di mana perempuan dapat saling mendukung, berbagi pengalaman, memberikan inspirasi, dan membangun solidaritas. Dalam konteks ini, "Women Support Woman" bukan hanya sebuah slogan, melainkan sebuah filosofi yang mengedepankan nilai kebersamaan, empati, dan kolaborasi antar perempuan. Acara seperti Women Support Woman 3.0 menjadi bukti nyata dari bagaimana ruang aman tersebut dapat diciptakan, di mana setiap perempuan merasa dihargai, didukung, dan diberdayakan.
Kehadiran Ibu Evelina Setiawan, Perwakilan Owner Agung Sedayu Group, dalam acara tersebut semakin memperkaya makna dan dampak dari Women Support Woman 3.0. Beliau menegaskan bahwa pembangunan kawasan PIK, yang menjadi lokasi acara, tidak hanya terbatas pada aspek fisik dan infrastruktur semata. Lebih dari itu, Agung Sedayu Group memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan manusia dan penanaman nilai-nilai sosial yang positif di dalam kawasan yang mereka kembangkan. "Sebagai pengembang kawasan, kami percaya bahwa tanggung jawab kami tidak berhenti pada pembangunan fisik. Kami ingin menghadirkan ruang-ruang yang menguatkan nilai, kebersamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat dan komunitas akan ikut berkembang," ujar Ibu Evelina Setiawan.
Pernyataan Ibu Evelina Setiawan ini sangat krusial karena menghubungkan pemberdayaan perempuan dengan dampak yang lebih luas pada struktur keluarga dan komunitas. Ketika perempuan diberdayakan, baik melalui kemandirian finansial, pengembangan diri, maupun dukungan sosial, maka hal tersebut akan berdampak positif pada ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Keluarga yang kuat akan menjadi fondasi bagi komunitas yang sehat dan berkembang. Dalam konteks ini, acara seperti Women Support Woman 3.0 menjadi salah satu upaya nyata untuk mewujudkan visi tersebut, yaitu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan pemberdayaan perempuan, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih baik secara keseluruhan.
Melalui kombinasi inspirasi dari figur publik seperti Asri Welas dan Paula Verhoeven, serta dukungan dari pengembang kawasan seperti Agung Sedayu Group, acara Women Support Woman 3.0 berhasil menjadi sebuah platform yang tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga memotivasi para perempuan untuk merangkul proses hidup, menjaga integritas diri, dan terus bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka, sembari membangun jaringan dukungan yang kuat satu sama lain. Ini adalah sebuah langkah maju yang signifikan dalam upaya pemberdayaan perempuan dan penguatan nilai-nilai sosial di masyarakat.

