0

Populasi Robot AI Diprediksi Tembus 4 Miliar, Manusia Terpinggirkan

Share

Rob Garlick, mantan Head of Innovation, Technology, and Future of Work, dengan tegas menyatakan bahwa fokus tanpa henti pemilik bisnis pada profitabilitas akan menjadi katalisator utama di balik adopsi massal AI dan robot. Dalam wawancaranya dengan CNBC, Garlick menyoroti bagaimana sistem ekonomi dan bisnis modern secara intrinsik mengagungkan profitabilitas sebagai metrik keberhasilan tertinggi. "Kita memiliki sistem kepemimpinan dalam hal ekonomi dan bisnis yang mengagungkan profitabilitas," ujarnya, menjelaskan dasar filosofis di balik keputusan korporat untuk beralih ke otomatisasi. Dorongan untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya operasional telah lama menjadi inti strategi bisnis, dan dengan munculnya teknologi AI dan robotika yang semakin canggih, alat untuk mencapai tujuan tersebut kini menjadi jauh lebih kuat dan efisien.

Garlick melanjutkan dengan argumen yang meresahkan: "Ketika Anda menggabungkan profitabilitas dengan kemajuan teknologi, kita akan menyaksikan perdagangan terbesar dalam sejarah, yang pada dasarnya adalah kecerdasan buatan akan melakukan lebih banyak, lebih baik, dan lebih murah, dan itu akan mampu menggantikan peran manusia." Pernyataan ini merangkum esensi dari revolusi industri keempat yang sedang kita alami. AI tidak hanya mampu melakukan tugas-tugas yang repetitif dan berbasis data dengan kecepatan dan akurasi yang tak tertandingi, tetapi juga mulai menguasai domain yang sebelumnya dianggap eksklusif untuk manusia, seperti pengambilan keputusan kompleks, analisis prediktif, bahkan kreativitas dalam batas-batas tertentu. Kemampuan AI untuk beroperasi 24/7 tanpa perlu istirahat, gaji, tunjangan, atau bahkan risiko kesalahan manusia, menjadikannya proposisi yang sangat menarik bagi perusahaan yang berupaya memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi.

Riset yang dilakukan Garlick saat masih menjabat di Citi secara konkret mendukung prediksi ini. Laporan Citi tahun 2024 meramalkan bahwa populasi robot AI, yang mencakup segala bentuk dari robot humanoid canggih, kendaraan otonom, hingga agen-agen AI kecil berbasis perangkat lunak yang mengotomatiskan proses, akan melonjak drastis. Diproyeksikan bahwa jumlah robot aktif akan mencapai 1,3 miliar pada tahun 2035, sebuah angka yang sudah sangat besar. Namun, lompatan yang lebih signifikan diprediksi terjadi pada tahun 2050, di mana populasi robot AI diperkirakan akan meroket hingga 4 miliar. Angka ini jauh melampaui proyeksi jumlah pekerja manusia aktif di seluruh dunia pada periode yang sama, mengisyaratkan dominasi mesin dalam ekosistem tenaga kerja global.

Laporan Citi tidak hanya berhenti pada angka populasi, tetapi juga secara spesifik menguraikan betapa menguntungkannya investasi robotika. Sebagai ilustrasi, robot seharga USD 15.000 dapat mencapai titik impas hanya dalam 3,8 minggu jika menggantikan pekerja manusia dengan upah USD 41 per jam. Demikian pula, robot dengan harga USD 35.000 akan balik modal dalam 8,9 minggu untuk pekerjaan dengan gaji yang sama. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah indikator kuat bahwa manusia, dalam konteks efisiensi biaya dan produktivitas, akan kesulitan bersaing. "Anda saat ini sudah bisa membeli robot humanoid yang memberikan periode pengembalian modal kurang dari 10 minggu dibandingkan pekerja manusia. Manusia tidak dapat bersaing dalam hal ini," pungkas Garlick, memberikan gambaran yang suram tentang masa depan pekerjaan tradisional.

Implikasi dari proyeksi ini jauh melampaui sekadar statistik ekonomi. Pergeseran fundamental ini akan menciptakan gelombang disrupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam struktur sosial dan ekonomi. Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, baik fisik maupun kognitif, akan menjadi yang pertama dan paling terdampak. Mulai dari manufaktur, logistik, layanan pelanggan, entri data, hingga bahkan beberapa profesi di bidang akuntansi dan hukum yang melibatkan analisis dokumen, semuanya berpotensi besar untuk diotomatisasi. Ribuan, bahkan jutaan, pekerja manusia di sektor-sektor ini akan menghadapi risiko kehilangan pekerjaan.

Dampak "peminggiran" manusia ini akan terasa secara global. Negara-negara berkembang dengan populasi pekerja berupah rendah yang besar, yang selama ini menjadi daya tarik investasi manufaktur, mungkin akan kehilangan keunggulan kompetitif mereka. Pabrik-pabrik "pintar" yang sepenuhnya otomatis dapat dibangun di mana saja, mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja murah. Hal ini berpotensi memperlebar jurang ketimpangan antara negara-negara yang mampu berinvestasi besar dalam AI dan robotika dengan negara-negara yang tertinggal.

Secara sosial, pertanyaan mendasar tentang makna pekerjaan dan identitas manusia akan muncul ke permukaan. Jika pekerjaan, yang selama ini menjadi salah satu pilar utama identitas dan tujuan hidup bagi banyak orang, mulai digantikan oleh mesin, bagaimana masyarakat akan beradaptasi? Munculnya tingkat pengangguran massal dapat memicu krisis sosial, ekonomi, dan bahkan psikologis yang parah. Konsep-konsep seperti Universal Basic Income (UBI) atau pendapatan dasar universal, yang sempat dianggap utopis, kini mulai diperdebatkan secara serius sebagai solusi potensial untuk menopang kehidupan masyarakat di era otomatisasi penuh.

Namun, tidak semua pandangan terhadap masa depan ini sepenuhnya pesimistis. Beberapa ahli berpendapat bahwa AI dan robotika juga akan menciptakan jenis pekerjaan baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, pekerjaan yang menuntut kreativitas tingkat tinggi, pemikiran strategis, kecerdasan emosional, dan kemampuan untuk berinteraksi dengan AI itu sendiri. Pekerjaan yang melibatkan desain, pemeliharaan, etika, dan interpretasi output AI mungkin akan menjadi sangat berharga. Fokus akan bergeser dari melakukan tugas-tugas rutin menjadi memecahkan masalah kompleks, berinovasi, dan memberikan sentuhan manusiawi yang tidak bisa ditiru oleh mesin.

Meskipun demikian, transisi ini tidak akan mudah. Kebutuhan akan program reskilling dan upskilling besar-besaran akan menjadi krusial. Sistem pendidikan harus direformasi untuk mempersiapkan generasi mendatang dengan keterampilan yang relevan di era AI, bukan hanya menghafal fakta atau melakukan tugas yang mudah diotomatisasi. Keterampilan seperti pemikiran kritis, adaptabilitas, kolaborasi, dan literasi digital akan menjadi jauh lebih penting daripada sebelumnya.

Tantangan etika juga akan menjadi sentral. Siapa yang bertanggung jawab ketika robot atau AI membuat keputusan yang merugikan? Bagaimana kita memastikan bahwa pengembangan AI dilakukan secara bertanggung jawab, tanpa bias, dan dengan mempertimbangkan kesejahteraan manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan kerangka kerja regulasi dan etika yang kuat yang harus dikembangkan bersama oleh pemerintah, industri, dan masyarakat sipil.

Pada akhirnya, prediksi 4 miliar robot AI pada tahun 2050 adalah seruan untuk bertindak. Ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan skenario yang semakin mendekati kenyataan. Cara kita merespons revolusi ini—baik sebagai individu, perusahaan, maupun pemerintah—akan menentukan apakah kita dapat mengelola transisi ini menuju masa depan yang lebih inklusif dan sejahtera, atau justru menghadapi disrupsi yang tak terkendali dan kesenjangan yang semakin dalam. Masa depan pekerjaan dan peran manusia di dalamnya sedang ditulis ulang oleh kode dan algoritma, dan kita memiliki tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa bab selanjutnya membawa kemajuan yang merata bagi seluruh umat manusia.