0

Peringatan Seram Pakar Jika Harga Bitcoin Terus Runtuh

Share

Jakarta – Awal tahun 2026 menjadi periode yang menghantam keras bagi pasar aset digital, khususnya Bitcoin. Mata uang kripto terbesar di dunia ini mengalami periode yang sangat buruk, terjun bebas hampir 14% sejauh ini di tahun berjalan. Lebih mencemaskan lagi, sejak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di atas USD 120.000 pada bulan Oktober tahun lalu, Bitcoin telah terkikis hampir 40% dari nilainya. Penurunan drastis ini menandai tren penurunan terpanjang yang pernah tercatat sejak tahun 2018, memicu kekhawatiran serius di kalangan investor dan analis pasar.

Kondisi ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa; banyak pihak menilai ini adalah sinyal alarm keras bagi siapa pun yang telah menanamkan modal besar-besaran di aset kripto. Di tengah gejolak ini, perhatian tertuju pada Michael Burry, seorang investor legendaris yang dikenal karena secara akurat memprediksi dan mengambil posisi short terhadap pasar perumahan Amerika Serikat sebelum keruntuhannya yang mengguncang dunia pada tahun 2008. Kini, Burry kembali muncul dengan ramalan suram, menyiratkan bahwa penurunan Bitcoin saat ini bisa menjadi pertanda bencana yang jauh lebih besar di masa depan.

Dalam analisisnya yang tajam, Burry memperingatkan bahwa kerugian berkelanjutan pada harga Bitcoin dapat menciptakan tekanan finansial yang luar biasa pada neraca keuangan investor yang terlalu banyak berinvestasi di kripto. Skenario ini, menurut Burry, akan memicu aksi jual panik yang lebih lanjut, mendorong pasar ke dalam "spiral kematian" yang mungkin sangat sulit untuk dipulihkan. Efek domino ini berpotensi menghancurkan nilai portofolio secara masif dan menimbulkan gelombang likuidasi yang tak terkendali.

Lebih jauh, Burry mengamati bahwa koreksi harga yang terjadi baru-baru ini pada aset safe-haven seperti emas dan perak, setelah reli yang kuat selama setahun penuh, bisa jadi memiliki korelasi langsung dengan gejolak di pasar kripto. Ia berargumen bahwa banyak investor mungkin terpaksa menjual aset tradisional mereka, seperti logam mulia, untuk menutupi kerugian besar yang mereka alami di pasar kripto. Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan likuiditas yang meluas, di mana kebutuhan akan dana tunai mendesak mendorong penjualan aset apa pun yang masih memiliki nilai.

"Skenario memuakkan kini sudah di depan mata," tulis Burry dengan nada peringatan yang dikutip detikINET dari Futurism. Kekhawatirannya tidak berhenti pada investor individu. Ia secara spesifik menyoroti dampak potensial terhadap para pemain besar di ekosistem kripto. Burry memperkirakan bahwa penurunan sepuluh persen lagi pada harga Bitcoin dapat berakibat bencana bagi bendahara kripto terbesar di dunia, Strategy Inc. (yang dikenal dengan investasinya yang masif dalam Bitcoin). Selain itu, penurunan ini juga berpotensi mendorong beberapa perusahaan penambang kripto, yang beroperasi dengan margin keuntungan yang semakin tipis, mendekati jurang kebangkrutan.

Peringatan Burry ini muncul di tengah periode yang memang penuh gejolak di Wall Street dan pasar keuangan global secara keseluruhan. Dolar AS, yang secara tradisional dianggap sebagai mata uang cadangan global dan aset safe-haven, telah mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir. Pelemahan dolar ini mencerminkan kekhawatiran investor yang mencari taruhan lebih aman di luar negeri, menjauh dari aset-aset yang berdenominasi dolar AS. Kekhawatiran inflasi yang tak terkendali, ketidakpastian geopolitik yang meningkat, dan kebijakan moneter pemerintahan Trump yang goyah dan kurang prediktif, telah membuat investasi asing, khususnya di Eropa, jauh lebih menggoda dan menarik bagi para pemodal. Stabilitas politik yang relatif, pertumbuhan ekonomi yang lebih menjanjikan, dan kebijakan bank sentral yang lebih terukur di beberapa negara Eropa, menjadi magnet bagi arus modal global.

Burry memberikan beberapa ambang batas harga kritis untuk Bitcoin yang, jika dilewati, dapat memicu konsekuensi yang semakin parah. Jika Bitcoin jatuh di bawah level psikologis USD 70.000, Burry memperingatkan bahwa industri keuangan secara keseluruhan dapat menderita kerugian besar. Ini bukan hanya tentang investor ritel, tetapi juga lembaga keuangan besar yang telah mulai mengadopsi atau memiliki eksposur terhadap aset kripto, baik melalui investasi langsung, produk derivatif, atau layanan kustodian. Kerugian di level ini dapat memicu panggilan margin (margin call) skala besar dan potensi kegagalan di beberapa lini bisnis.

Situasi akan menjadi lebih mengerikan jika Bitcoin terus merosot hingga di bawah USD 50.000. Pada titik ini, Burry memperingatkan bahwa para penambang kripto bisa terpaksa gulung tikar secara massal. Biaya operasional penambangan, terutama energi listrik, seringkali sangat tinggi. Dengan harga Bitcoin yang rendah, aktivitas penambangan menjadi tidak menguntungkan, memaksa penutupan operasi dan likuidasi peralatan. Ini tidak hanya akan berdampak pada pasokan Bitcoin, tetapi juga menciptakan gelombang pengangguran di sektor tersebut. Bersamaan dengan itu, Burry memprediksi "aksi jual katastropik" untuk logam mulia seperti emas dan perak, karena investor panik mencari likuiditas untuk menutupi kerugian kripto mereka, memperburuk tekanan di pasar komoditas.

Tentu saja, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah pesimisme Burry kali ini akan terbukti akurat dalam memprediksi keruntuhan besar Bitcoin. Rekam jejaknya memang menunjukkan kesuksesan luar biasa dengan "Big Short" pada tahun 2008, namun ia juga memiliki sejarah panjang dalam mengkritik mata uang kripto, seringkali melabelinya sebagai tidak berharga dan gelembung spekulatif. Sepanjang tahun-tahun sebelumnya, Burry telah berulang kali menyuarakan skeptisisme terhadap nilai intrinsik Bitcoin dan aset digital lainnya.

Namun, rekam jejak Burry juga tidak selalu mulus dan tanpa cela. Setelah aksi shorting terkenalnya pada krisis perumahan 2008, ia juga membuat banyak prediksi yang salah selama bertahun-tahun. Misalnya, ia pernah memprediksi keruntuhan pasar saham yang tidak pernah terwujud, atau melakukan taruhan besar pada saham tertentu yang justru merugi. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah Burry adalah seorang nabi yang melihat kebenaran yang tidak terlihat oleh orang lain, atau terkadang ia terlalu pesimis dan melihat bencana di setiap sudut?

Para pendukung Bitcoin, di sisi lain, berargumen bahwa setiap penurunan adalah peluang beli dan bahwa aset digital ini telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai krisis dan koreksi pasar di masa lalu. Mereka menunjuk pada inovasi teknologi yang terus berlanjut di ruang kripto, seperti pengembangan solusi Layer 2, peningkatan adopsi DeFi (Decentralized Finance), dan integrasi yang semakin dalam dengan sistem keuangan tradisional melalui ETF dan investasi institusional dari perusahaan-perusahaan selain Strategy Inc. yang mulai mengikuti tren ini.

Psikologi pasar juga memainkan peran krusial. Meskipun Burry memperingatkan tentang spiral kematian, ada segmen investor ritel yang dikenal dengan mentalitas "diamond hands" – menahan aset mereka meskipun terjadi penurunan harga yang tajam, dengan keyakinan pada potensi jangka panjang Bitcoin. Namun, sentimen ini bisa rapuh jika tekanan jual menjadi terlalu besar dan berita negatif terus mendominasi.

Selain itu, landscape regulasi global juga menjadi faktor penentu. Peningkatan pengawasan dan potensi regulasi yang lebih ketat, terutama setelah gejolak pasar, bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, regulasi dapat memberikan legitimasi dan stabilitas yang dibutuhkan untuk adopsi institusional yang lebih luas; di sisi lain, regulasi yang terlalu ketat atau tidak terkoordinasi dapat menghambat inovasi dan menekan pasar lebih lanjut.

Pada akhirnya, apakah Bitcoin akan benar-benar memasuki "spiral kematian" seperti yang diramalkan Burry, atau apakah ia akan sekali lagi menunjukkan ketahanannya dan bangkit dari abu, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Peringatan Burry ini tentu saja menjadi pengingat yang serius bagi semua investor untuk selalu berhati-hati, melakukan diversifikasi portofolio, dan tidak terlalu banyak berinvestasi dalam satu kelas aset yang volatil. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak pasar yang terus-menerus, masa depan Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan akan terus menjadi salah satu cerita keuangan yang paling menarik untuk diikuti.

(fyk/fyk)