BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah gejolak harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Indonesia justru menunjukkan stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) yang patut diacungi jempol. Pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa harga BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina maupun SPBU swasta tidak mengalami kenaikan per awal April 2026. Keputusan ini diambil meskipun negara-negara tetangga justru telah beberapa kali melakukan penyesuaian harga ke atas. Lonjakan harga minyak mentah global, yang merupakan komponen utama dalam penentuan harga BBM, secara alami mendorong kenaikan harga jual di banyak negara. Namun, Indonesia berhasil menjaga stabilitas harga jual BBM di dalam negeri, sebuah kontras yang menarik jika dibandingkan dengan tren di negara-negara tetangganya. Harga BBM di negara-negara tetangga Indonesia menunjukkan variasi yang cukup signifikan, mulai dari kisaran Rp 8.000-an per liter untuk jenis tertentu hingga mencapai angka yang mengejutkan, bahkan hingga Rp 50.000-an per liter untuk beberapa jenis BBM di negara yang berbeda. Perbedaan ini tentu menjadi perhatian penting bagi konsumen dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan energi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Menteri Bahlil Lahadalia telah memberikan kepastian bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM pada periode 1 April 2026. Harga Pertalite, salah satu BBM bersubsidi yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetap berada di angka Rp 10.000 per liter, sementara Solar subsidi dijual dengan harga Rp 6.800 per liter. Kepastian ini disambut baik oleh publik di tengah maraknya spekulasi mengenai potensi kenaikan harga BBM yang biasanya santer terdengar menjelang awal bulan. Menteri Bahlil Lahadalia secara gamblang menyatakan dalam Konferensi Pers tentang Kebijakan Pemerintah dalam Mitigasi Risiko dan Antisipasi Dinamika Global yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, bahwa penyesuaian harga untuk BBM bersubsidi tidak akan dilakukan, baik itu kenaikan maupun penurunan. "Artinya flat, masih memakai harga sekarang," tegasnya.
Lebih lanjut, mengenai BBM non-subsidi, Menteri Bahlil menjelaskan bahwa hingga tanggal 31 Maret 2026, pemerintah bersama dengan Pertamina dan operator SPBU swasta lainnya masih dalam tahap pembahasan penyesuaian harga. Namun, ia menekankan bahwa hingga pengumuman tersebut disampaikan, belum ada keputusan final mengenai perubahan harga. "Sampai hari ini (31 Maret 2026) kami dengan tim Pertamina, maupun dengan SPBU-SPBU swasta lain, sedang melakukan pembahasan sampai waktu selesai. Nah, waktunya kapan, tunggu dulu. Jadi artinya apa, belum ada penyesuaian harga, masih tetap sama," tegasnya, memberikan kelegaan bagi konsumen BBM non-subsidi.
Dengan demikian, harga BBM di SPBU Pertamina per awal April 2026 masih sama seperti yang berlaku pada bulan Maret 2026. Pertalite tetap dibanderol Rp 10.000 per liter. Untuk BBM non-subsidi, Pertamax dijual seharga Rp 12.300 per liter, Pertamax Green 95 seharga Rp 12.900 per liter, dan Pertamax Turbo Rp 13.100 per liter. Sementara itu, untuk jenis diesel, Solar subsidi tetap Rp 6.800 per liter, Dexlite Rp 14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter. Harga yang relatif stabil ini tentu menjadi salah satu faktor penentu daya saing ekonomi Indonesia di kancah regional.
Perbandingan dengan Negara Tetangga
Membandingkan harga BBM di Indonesia dengan negara-negara tetangganya memberikan gambaran yang lebih luas mengenai posisi Indonesia dalam konteks regional.
Malaysia:
Malaysia, sebagai salah satu negara tetangga terdekat Indonesia, telah beberapa kali melakukan penyesuaian harga BBM. Meskipun harga BBM subsidi di Malaysia tetap lebih terjangkau dibandingkan dengan beberapa jenis BBM non-subsidi di Indonesia, BBM non-subsidi di Malaysia justru mengalami beberapa kali kenaikan. Pemerintah Malaysia baru-baru ini mengumumkan harga BBM untuk periode 2 April hingga 8 April 2026. Menurut pernyataan Kementerian Keuangan, harga bensin RON 97 ditetapkan sebesar 4,95 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 20.850 per liter), yang mengalami sedikit penurunan dari pekan sebelumnya sebesar 5,15 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 21.692 per liter).
Sementara itu, harga bensin RON 95 non-subsidi tetap berada di angka 3,87 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 16.300 per liter). Untuk program subsidi Budi95, bensin RON 95 dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu 1,99 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 8.382 per liter). Namun, sektor solar mengalami kenaikan harga yang signifikan. Harga solar di Malaysia Barat ditetapkan sebesar 6,02 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 25.357 per liter), naik dari harga sebelumnya 5,52 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 23.250 per liter). Di wilayah Sabah, Sarawak, dan Labuan, harga solar subsidi tetap stabil di angka 2,15 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 9.056 per liter).
Thailand:
Thailand mencatat rekor harga BBM tertinggi sepanjang sejarahnya. Laporan dari Bangkok Post mengindikasikan bahwa harga bahan bakar diesel dan bensin di negara Gajah Putih ini mencapai titik tertinggi setelah pengumuman terbaru mengenai subsidi bahan bakar oleh pemerintah. Per tanggal 2 April 2026, harga BBM di Thailand kembali mengalami kenaikan. Menurut The Nation Thailand, harga bensin telah mencapai kisaran Rp 27.000 per liter, sementara harga diesel bahkan menembus angka Rp 31.131 per liter.
Di SPBU PTT Thailand, harga BBM jenis Gasohol E85 dijual seharga 34,99 Baht Thailand (setara Rp 18.173 per liter). Gasohol E20 dibanderol 38,25 Baht (Rp 19.866 per liter), dan Gasohol 91 seharga 42,88 Baht (Rp 22.271 per liter). Untuk jenis Petrol, harganya mencapai 51,84 Baht atau Rp 26.924 per liter, sementara Gasohol 95 Super Power dijual seharga 53,04 Baht atau Rp 27.547 per liter. Harga BBM jenis diesel sendiri mencapai 44,24 Baht (Rp 22.977 per liter). Yang paling mencengangkan, BBM Super Power Diesel bahkan dibanderol dengan harga 59,94 Baht atau setara dengan Rp 31.131 per liter. Tingginya harga ini tentu akan memberikan dampak signifikan pada biaya operasional transportasi dan daya beli masyarakat Thailand.
Filipina:
Filipina juga menerapkan harga yang relatif tinggi untuk bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan laporan dari NewsWatch Plus Philippines, harga bensin RON 91 berkisar antara 81,65 hingga 104,1 Peso Filipina (sekitar Rp 22.968 hingga Rp 29.283 per liter). Harga bensin RON 95 bahkan lebih tinggi, mencapai 82,55 hingga 111,8 Peso (sekitar Rp 23.221 hingga Rp 31.449 per liter). Untuk bensin RON 97, harganya berkisar antara 84,55 hingga 114 Peso (sekitar Rp 23.783 hingga Rp 32.068 per liter). Sementara itu, BBM jenis diesel memiliki harga yang cukup merata, yaitu antara 109,5 hingga 114,8 Peso (sekitar Rp 30.802 hingga Rp 32.293 per liter). Kestabilan harga BBM di Filipina sangat bergantung pada dinamika pasar global dan kebijakan pemerintah terkait subsidi.
Vietnam:
Pemerintah Vietnam telah mengambil langkah proaktif dengan memangkas pajak bahan bakar demi meringankan beban harga BBM bagi masyarakatnya. Meskipun demikian, harga BBM di Vietnam masih sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga BBM yang tetap stabil di Indonesia. Harga bensin E5 RON 92 di Vietnam saat ini berada di kisaran VND 23.320 (sekitar Rp 14.984 per liter). Untuk RON 95, harganya sedikit lebih tinggi, yaitu VND 24.330 (sekitar Rp 15.633 per liter). Harga bahan bakar diesel di Vietnam sendiri mencapai VND 35.440 (sekitar Rp 22.772 per liter). Upaya pemangkasan pajak ini menunjukkan komitmen pemerintah Vietnam dalam menjaga daya beli masyarakatnya di tengah tantangan ekonomi global.
Singapura:
Singapura menjadi salah satu negara tetangga yang menjual BBM dengan harga tertinggi di kawasan ini. Bahkan, beberapa jenis BBM di Singapura dapat mencapai angka yang fantastis, yaitu hingga Rp 54.000 per liter. Berdasarkan informasi dari situs resmi Caltex Singapura, harga BBM reguler 92 dijual seharga 3,43 Dolar Singapura (setara Rp 45.266 per liter). Untuk bensin RON 95, harganya adalah 3,47 Dolar Singapura (Rp 45.794 per liter). Bensin RON 98 bahkan mencapai harga 4,16 Dolar Singapura (setara Rp 54.900 per liter). Paling mengejutkan adalah harga bahan bakar jenis diesel, yang dijual seharga 4,23 Dolar Singapura atau Rp 55.823 per liter. Tingginya harga BBM di Singapura mencerminkan struktur ekonomi dan kebijakan energi negara kota tersebut, yang mengutamakan efisiensi energi dan penggunaan transportasi publik yang berkelanjutan.
Dari perbandingan ini, terlihat jelas bahwa Indonesia, dengan kebijakan menahan kenaikan harga BBM bersubsidi dan menjaga stabilitas harga BBM non-subsidi, berhasil memposisikan diri sebagai salah satu negara dengan harga BBM paling terjangkau di antara negara-negara tetangganya. Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi perekonomian Indonesia, baik dari sisi daya beli masyarakat maupun biaya operasional sektor industri dan transportasi. Namun, tantangan ke depan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga dan keberlanjutan fiskal pemerintah, mengingat tingginya harga minyak dunia yang masih berfluktuasi. Kebijakan pemerintah dalam menunda kenaikan harga BBM ini menjadi strategi yang cerdas dalam meredam inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

