BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Menjelang akhir bulan suci Ramadan, Risty Tagor mengungkapkan pergolakan emosi yang mendalam, di mana perasaan haru menyelimutinya tatkala harus bersiap berpamitan dengan bulan penuh berkah ini. Nuansa kesedihan yang sama kerap ia rasakan setiap tahunnya, tepat ketika momen Lebaran semakin mendekat. "Kalau aku selalu sedih kalau sudah mau cepat-cepat Lebaran, karena Ramadan-nya sudah mau selesai ya," ujar Risty Tagor dengan nada lirih saat ditemui di kawasan Ampera, Jakarta Selatan, pada hari Jumat, 13 Maret 2026.
Bagi Risty, Ramadan bukan sekadar periode waktu dalam kalender tahunan, melainkan sebuah anugerah istimewa yang dianugerahi dengan limpahan kebaikan dan menjadi sarana berharga untuk melakukan introspeksi diri serta perbaikan spiritual. "Momen penuh ampunannya, penuh keberlimpahan kebaikannya sudah mau selesai," tambahnya, menyiratkan betapa ia menghargai setiap detik yang dilaluinya di bulan ini. Ia melihat Ramadan sebagai kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, membersihkan hati dari segala prasangka buruk, serta meningkatkan kualitas ibadah. Setiap ibadah yang dilakukan di bulan ini dijanjikan akan dilipatgandakan pahalanya, menjadikannya momentum yang tak ternilai untuk meraih keridaan Tuhan.
Namun, di balik rasa haru yang menyertai kepergian Ramadan, terselip pula antisipasi dan kerinduan yang mendalam akan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Lebaran, baginya, adalah momen suci yang ditunggu-tunggu karena menjadi kesempatan berharga untuk berkumpul kembali dengan seluruh anggota keluarga besar. "Yang paling dirindukan sebenarnya ketemu sama banyak saudara yang mungkin ketemunya cuma pas Lebaran saja," ungkapnya dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya.
Kehidupan modern yang serba cepat dan tuntutan kesibukan sehari-hari seringkali membuat anggota keluarga terpisah jarak, baik karena pekerjaan maupun urusan pribadi lainnya. "Karena banyak saudara-saudara kita yang sudah pada sibuk atau merantau, biasanya bisa bertemu setahun sekali di Lebaran," jelasnya lebih lanjut. Pertemuan di hari Lebaran bukan hanya sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah ajang untuk saling menguatkan tali persaudaraan, berbagi cerita, dan mempererat kembali hubungan yang mungkin sempat renggang akibat jarak dan waktu. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk mengenang kembali masa lalu, berbagi kebahagiaan, dan menciptakan memori baru yang akan dikenang sepanjang tahun.
Meskipun Lebaran identik dengan tradisi mudik ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar, Risty memastikan bahwa tahun ini ia tidak memiliki rencana untuk melakukan perjalanan pulang kampung. Keputusan ini diambilnya bukan tanpa alasan. "Karena orang tuanya serta keluarga besar tinggal di Jakarta," terangnya. Dengan demikian, perayaan Lebarannya akan tetap terasa hangat dan penuh makna karena seluruh anggota keluarga inti dan sebagian besar kerabatnya berada di satu kota yang sama. Ini berarti, ia tidak perlu menghadapi hiruk pikuk perjalanan mudik yang melelahkan, melainkan dapat fokus menikmati kebersamaan dengan orang-orang terkasih.
Lebaran adalah momen yang sarat makna, tidak hanya sebagai perayaan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya kebersamaan, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan. Bagi Risty Tagor, momen akhir Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk merenungi perjalanan spiritualnya selama sebulan terakhir, bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan, serta mempersiapkan diri untuk menyambut hari kemenangan dengan hati yang bersih dan penuh sukacita.
Prosesi perpisahan dengan Ramadan ini seringkali diwarnai dengan berbagai ibadah tambahan, seperti tadarus Al-Qur’an secara intensif, i’tikaf di masjid, dan memperbanyak doa serta munajat kepada Allah SWT. Risty, seperti banyak umat Muslim lainnya, berusaha memaksimalkan sisa-sisa waktu di bulan Ramadan untuk mengumpulkan bekal spiritual sebanyak-banyaknya sebelum kembali ke rutinitas sehari-hari. Ia menyadari bahwa kesempatan untuk merasakan atmosfer spiritual Ramadan seperti ini hanya datang setahun sekali, sehingga penting untuk menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
Perasaan haru yang dirasakannya menjelang akhir Ramadan juga bisa diartikan sebagai bentuk kecintaan dan penghargaan terhadap bulan yang penuh keberkahan ini. Kepergiannya meninggalkan kesedihan, namun juga meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang diharapkan dapat terus dibawa dan diamalkan di bulan-bulan berikutnya. Ramadan mengajarkan tentang disiplin diri, empati terhadap sesama, dan pentingnya bersyukur. Nilai-nilai ini, menurut Risty, seharusnya tidak berhenti di bulan Ramadan saja, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Meskipun tidak mudik, Risty tetap memiliki rencana untuk merayakan Lebaran dengan penuh suka cita di Jakarta. Ia kemungkinan akan menghabiskan waktu bersama orang tua dan kerabat terdekatnya, saling mengunjungi, bertukar cerita, dan menikmati hidangan khas Lebaran. Kebersamaan keluarga adalah prioritas utamanya, dan hal itu dapat terwujud meskipun tanpa harus melakukan perjalanan jauh.
Perasaan Risty Tagor yang penuh haru menjelang akhir Ramadan ini mencerminkan betapa bulan suci ini memiliki tempat istimewa di hatinya. Ia menyadari bahwa setiap momen yang dilaluinya di bulan Ramadan adalah anugerah yang tak ternilai. Kesedihan atas kepergiannya dibarengi dengan rasa syukur atas kesempatan yang telah diberikan. Ia berharap agar kebaikan-kebaikan yang telah ia dapatkan selama Ramadan dapat terus membekas dan menjadi motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa mendatang. Lebaran pun disambutnya dengan hati yang lapang, siap untuk merayakan kemenangan spiritual bersama orang-orang tercinta.
Fokusnya pada momen kebersamaan keluarga di hari Lebaran juga menunjukkan betapa pentingnya ikatan keluarga baginya. Di tengah kesibukan dunia hiburan, ia tetap memegang teguh nilai-nilai kekeluargaan. Hal ini menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahwa kesuksesan karier tidak lantas membuat seseorang melupakan akar dan pondasi hidupnya, yaitu keluarga.
Bagi Risty, Ramadan adalah bulan "penyetelan ulang" spiritual, sebuah kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dan memperbaharui niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Perasaan haru yang ia ungkapkan adalah tanda bahwa ia benar-benar menghayati dan merasakan dampak positif dari ibadah puasa dan amalan-amalan lainnya selama Ramadan. Ia tidak ingin momen berharga ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai persiapan Lebaran, Risty memberikan jawaban yang santai namun tetap menunjukkan antusiasme. "Ya, seperti biasa saja, paling nanti bersiap-siap untuk berkumpul dengan keluarga," ujarnya sambil tersenyum. Ia tidak terlalu memusingkan hal-hal materiil yang seringkali menjadi fokus utama banyak orang menjelang Lebaran, melainkan lebih menekankan pada esensi kebersamaan dan spiritualitas.
Pengalaman Risty ini bisa menjadi refleksi bagi banyak orang. Bagaimana kita menyikapi akhir Ramadan dan menyambut Lebaran, mencerminkan seberapa dalam kita memaknai bulan suci ini. Perasaan haru yang tulus, kerinduan akan kebersamaan, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah beberapa elemen penting yang membuat perayaan Lebaran terasa lebih bermakna.
Dalam kesederhanaannya, Risty Tagor berhasil menyampaikan pesan yang kuat tentang nilai-nilai Ramadan dan Lebaran. Ia mengingatkan kita bahwa di balik kemeriahan dan tradisi, terdapat makna spiritual yang mendalam yang seharusnya menjadi pegangan hidup. Perasaan harunya menjelang akhir Ramadan bukan hanya kesedihan biasa, melainkan sebuah penghargaan atas karunia ilahi dan sebuah janji untuk terus membawa semangat kebaikan Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

