BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Fenomena perilaku ugal-ugalan di jalan raya yang kerap dikaitkan dengan pengendara mobil Low Cost Green Car (LCGC) memang belakangan ini menjadi sorotan publik. Berbagai insiden memprihatinkan terus bermunculan, menambah daftar panjang kekhawatiran akan keselamatan berlalu lintas. Salah satu peristiwa yang baru-baru ini menggemparkan adalah tindakan nekat seorang pengendara LCGC Toyota Calya yang melawan arah di Jalan Gunung Sahari, Jakarta, hingga akhirnya memicu kemarahan massa.
Kejadian mengerikan ini terjadi pada Rabu sore, 25 Oktober 2026. Mobil Calya berwarna hitam tersebut terlihat dengan berani menerobos arus lalu lintas yang padat, melawan arah, dan bahkan menabrak sejumlah pengendara motor yang sedang melintas. Alih-alih bertanggung jawab, pengemudi tersebut justru berusaha melarikan diri dari kejaran warga yang murka. Massa yang geram tak tinggal diam, mereka mengejar mobil tersebut, bahkan ada yang sampai memecahkan kaca. Namun, upaya melarikan diri pengemudi tersebut semakin membabi buta, dengan manuver maju mundur yang justru berujung menabrak mobil polisi yang mencoba menghentikannya. Akhirnya, setelah terkepung oleh warga, mobil tersebut berhasil dihentikan.
Insiden di Jalan Gunung Sahari bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Jauh sebelumnya, telah banyak laporan mengenai pengendara LCGC yang melakukan pelanggaran serupa, terutama aksi melawan arah. Lebih mengkhawatirkan lagi, beberapa dari mereka bahkan menunjukkan sikap defensif, marah-marah ketika ditegur, dan bahkan berujung pada tindakan kekerasan. Perilaku yang meresahkan ini menimbulkan pertanyaan besar di benak banyak orang: mengapa pengendara LCGC seringkali menunjukkan kelakuan yang buruk di jalanan?
Menjawab kegelisahan publik, Sony Susmana, seorang praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), memberikan analisis mendalam. Menurutnya, salah satu kemungkinan besar penyebab perilaku ugal-ugalan ini adalah banyaknya pengguna LCGC yang merupakan pengemudi baru di dunia roda empat. Sayangnya, kebiasaan-kebiasaan buruk yang terbentuk saat mereka masih menjadi pengendara sepeda motor, seperti kurangnya kesadaran akan ruang gerak kendaraan yang lebih besar, seringkali terbawa ketika beralih ke mobil.
"Dengan maraknya LCGC yang digunakan sebagai armada ojek online (ojol), memang banyak pengemudi-pengemudi pemula bermunculan. Mereka rata-rata tumbuh dari pengendara motor. Tahu dong motor jalannya kayak apa di sini? Jika ketemu hambatan, banyak yang harusnya menghindar, ngerem tapi ini malah ngeles ke kiri atau kanan. Sekalipun bahaya, motor itu kecil, masih bisa dimaklumi. Tapi kalau sudah beralih ke mobil, bahaya," jelas Sony kepada detikOto.
Sony menekankan bahwa terlepas dari jenis kendaraan yang dikemudikan, baik itu mobil LCGC, sedan mewah, atau truk besar, setiap pengemudi tidak boleh meremehkan tanggung jawab dan bahaya yang melekat pada kegiatan mengemudi. Pengemudi pemula, khususnya, memiliki kewajiban untuk secara fundamental mengubah pola pikir dan perilakunya di jalan raya.
"Pertama, tumbuhkan etika dalam berkendara. Kedua, pahami aturan lalu lintas. Ketiga, jangan pernah berhenti belajar," tegas Sony. Ia mengimbau agar para pengendara LCGC, maupun pengemudi pemula secara umum, untuk tidak bertindak sembarangan di jalan raya. Ada seperangkat etika berkendara yang mutlak harus dipahami dan dijalankan dengan disiplin. Hal ini mencakup berbagai manuver, mulai dari berbelok, berpindah lajur, hingga menghadapi situasi yang tidak terduga.
Sony memberikan panduan praktis bagi para pengemudi, terutama yang masih baru dan mungkin merasa kurang percaya diri. "Pindah lajur harus diawali dengan memeriksa kaca spion, menyalakan lampu sein, dan memastikan jalur yang dituju benar-benar kosong sebelum bergerak. Kedua, ketika merasa bingung atau perlu berhenti, carilah tempat yang aman di bahu jalan, nyalakan lampu hazard, dan gunakan aplikasi navigasi untuk mencari tahu arah yang benar. Ketiga, selalu sesuaikan kecepatan kendaraan dengan batas kecepatan yang berlaku dan kondisi lalu lintas di sekitar Anda," pungkas Sony. Ia berharap dengan kesadaran dan edukasi yang tepat, angka pelanggaran dan insiden berbahaya yang melibatkan pengendara LCGC dapat diminimalisir, menciptakan lingkungan berlalu lintas yang lebih aman dan tertib bagi semua pengguna jalan.
Lebih lanjut, Sony Susmana menggarisbawahi pentingnya pemahaman mendalam mengenai dimensi kendaraan. Pengendara motor yang terbiasa dengan kelincahan kendaraannya, seringkali lupa bahwa mobil, meskipun berukuran kecil seperti LCGC, memiliki radius putar yang lebih lebar, titik blind spot yang lebih luas, dan membutuhkan jarak pengereman yang lebih panjang. Kebiasaan "selip" atau menyelinap di antara kendaraan lain yang umum dilakukan oleh pengendara motor, dapat berakibat fatal ketika dilakukan oleh pengemudi mobil. Ketidakmampuan beradaptasi dengan karakteristik kendaraan roda empat inilah yang seringkali menjadi akar masalah dari perilaku ugal-ugalan yang terlihat.
Selain faktor kebiasaan dari kendaraan sebelumnya, Sony juga menyinggung aspek psikologis. Penggunaan LCGC sebagai kendaraan pertama, terutama bagi mereka yang sebelumnya hanya mengandalkan transportasi umum atau ojek, bisa jadi menimbulkan rasa euforia dan kebebasan yang berlebihan. Tanpa adanya pengalaman mengemudi yang cukup dan pemahaman tentang konsekuensi dari setiap tindakan, rasa percaya diri yang semu ini dapat berkembang menjadi arogansi di jalan raya. Mereka mungkin merasa memiliki hak lebih untuk mendominasi jalan, mengabaikan hak pengguna jalan lain, dan bahkan meremehkan aturan lalu lintas yang ada.
"Kita harus sadar bahwa jalan raya bukanlah arena balap pribadi. Ini adalah ruang publik yang harus dibagi dengan ratusan, bahkan ribuan orang lain dengan latar belakang dan tingkat keahlian yang berbeda. Setiap keputusan yang kita ambil di balik kemudi memiliki dampak langsung pada keselamatan diri sendiri dan orang lain," ujar Sony. Ia menyarankan agar para pengemudi LCGC yang merasa masih ragu, untuk tidak sungkan mengikuti pelatihan mengemudi lanjutan atau defensive driving course. Pelatihan semacam ini akan membekali mereka dengan teknik mengemudi yang lebih aman, cara mengantisipasi bahaya, serta bagaimana bereaksi dalam situasi darurat.
Pentingnya sosialisasi dan edukasi juga menjadi poin krusial yang diangkat oleh Sony. Pihak kepolisian dan instansi terkait diharapkan dapat meningkatkan patroli di area-area rawan pelanggaran, serta gencar melakukan kampanye keselamatan berlalu lintas yang menyasar segmen pengguna LCGC. Materi edukasi perlu disajikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami, menekankan pada konsekuensi hukum dan sosial dari pelanggaran lalu lintas, serta pentingnya etika berkendara sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Pesan terakhir Sony Susmana ditujukan langsung kepada para pengemudi LCGC dan pengemudi pemula pada umumnya. "Jangan pernah merasa Anda adalah pengemudi paling mahir hanya karena sudah memiliki SIM atau sudah beberapa kali berkendara. Belajar adalah proses yang berkelanjutan. Perhatikan rambu-rambu, pahami marka jalan, beri prioritas kepada pejalan kaki, dan yang terpenting, selalu utamakan keselamatan. Ingat, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal dan mengubah hidup Anda serta orang lain selamanya."
Dengan penekanan pada edukasi, pelatihan, dan perubahan pola pikir, diharapkan fenomena pengendara LCGC yang sering berulah di jalan raya dapat diminimalisir. Keselamatan berlalu lintas adalah tanggung jawab bersama, dan setiap individu memiliki peran penting dalam mewujudkan jalanan yang lebih aman dan tertib bagi semua. Perilaku ugal-ugalan yang terlihat pada sebagian pengendara LCGC ini sejatinya bukan inheren pada jenis mobilnya, melainkan cerminan dari kurangnya kesadaran, pengalaman, dan etika berkendara yang perlu segera diperbaiki.

