BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Setelah puluhan tahun lamanya terpendam, denyut kebenaran akhirnya terucap dari bibir Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan. Melalui sebuah pernyataan terbuka yang disiarkan melalui akun media sosial pribadinya, Denada akhirnya mengakui Ressa Rizky Rossano sebagai anak kandungnya. Pengakuan ini disertai dengan permohonan maaf yang tulus atas segala kegaduhan dan luka yang mungkin telah ditimbulkan selama ini. Namun, di balik pengakuan yang ditunggu-tunggu, masih tersisa kerinduan mendalam di hati Ressa, sebuah harapan yang belum sepenuhnya terpuaskan.
"Alhamdulillah ya, Kak, ya, tapi Ressa juga pengin ditemuin. Senang? Senang pasti senang, tapi juga menjalin hubunganlah yang baik," ujar Ressa dengan nada yang sedikit menggantung, saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, pada Selasa (3/2/2026). Ungkapan ini mencerminkan sebuah kelegaan yang bercampur dengan keinginan kuat untuk melangkah lebih jauh. Pengakuan Denada memang disambut dengan rasa syukur, namun Ressa merasakan ada jurang yang masih membentang, sebuah jarak emosional yang belum terjembatani oleh sekadar kata-kata di media sosial. Ia mendambakan sebuah pertemuan, sebuah interaksi langsung yang dapat memvalidasi pengakuan tersebut dan mulai membangun kembali jembatan hubungan yang telah lama terputus.
Sejak video pengakuan Denada beredar, Ressa mengaku belum ada komunikasi langsung yang terjalin. Pemuda berusia 24 tahun asal Banyuwangi ini memilih untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan atau berasumsi mengenai motif di balik langkah Denada yang baru diungkapkan sekarang. Kehati-hatian ini mungkin lahir dari pengalaman pahit yang telah ia lalui, sebuah penantian panjang yang kini akhirnya menemukan titik terang, namun masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Ressa, dengan segala kerendahan hati, menyatakan bahwa ia hanya ingin menjalin hubungan yang baik, sebuah hubungan yang didasari oleh pengertian dan kehadiran nyata, bukan hanya sekadar pernyataan publik.
Selain video klarifikasi, Denada juga sempat mengganti bio Instagramnya menjadi ‘Proud Ibu of AA & RR’, sebuah indikasi lain dari perubahan sikapnya. Namun, ironisnya, Ressa mengaku belum sempat melihat perubahan tersebut. Hal ini semakin mempertegas rasa "terputus" yang dirasakan Ressa. Meskipun Denada telah berusaha menunjukkan perubahan, Ressa merasa belum sepenuhnya terhubung dengan perubahan tersebut. Ia membutuhkan lebih dari sekadar simbol di dunia maya; ia membutuhkan bukti nyata dari kasih sayang seorang ibu.
Permohonan maaf yang disampaikan Denada, meski tulus, rupanya belum mampu menyentuh relung hati Ressa sepenuhnya. "Ya… ya maaf ya Mbak, ya. Kalau belum ke… anu (hati) sih kayaknya. Ya intinya belum aja kena ke hati, Kak," ungkap Ressa dengan jujur. Pengakuan dan permohonan maaf yang datang setelah puluhan tahun tentu membawa luka yang dalam. Ressa merasakan bahwa kata-kata maaf tersebut, meskipun diucapkan, belum sepenuhnya mampu menyembuhkan luka batin yang telah tergores begitu lama. Ia membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan; ia membutuhkan penerimaan yang utuh, penerimaan yang terasa di hati, bukan hanya diucapkan di depan publik.
Harapan terbesar Ressa saat ini adalah Denada mau bertemu dengannya. Ia percaya bahwa pertemuan tatap muka akan menjadi langkah krusial untuk menyatukan kembali hati mereka yang terpisah. "Hal itu diharapkan bisa membuat dirinya lebih puas," tegas Ressa, menyiratkan bahwa kepuasan batinnya belum tercapai hanya dengan pengakuan verbal. Ia mendambakan sebuah momen intim, sebuah kesempatan untuk bertatap muka, berbicara dari hati ke hati, dan merasakan kehangatan seorang ibu yang telah lama ia rindukan.
Denada sendiri, dalam video yang diunggahnya dengan suara bergetar pada Senin (2/2/2026), menyadari betul dampak dari pengakuannya yang datang terlambat. Ia mengakui bahwa tindakannya merahasiakan status Ressa selama ini merupakan sebuah kebodohan yang sangat disesalinya. "Itu kesalahan saya, itu kebodohan saya, itu kekhilafan saya, dan saya minta maaf," ucap Denada dengan nada penuh penyesalan. Ia memahami bahwa penundaan ini mungkin telah meninggalkan luka yang dalam, dan ia berharap agar Ressa mau memaafkan dan menerima dirinya sebagai ibu kandungnya, dengan segala kekurangan yang dimilikinya.
Lebih jauh lagi, Denada tidak hanya meminta maaf kepada Ressa, tetapi juga kepada mendiang ibundanya, Emilia Contessa, serta adik-adiknya. Ini menunjukkan kesadaran Denada akan dampak luas dari keputusannya yang lalu. Ia berharap agar Allah mengampuni segala dosa dan kekhilafan yang telah dilakukannya. "Saya juga minta maaf kepada almarhum Mama, dan saya juga minta maaf kepada semua adik-adik saya. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa dan khilaf saya. Amin ya Rabbal’alamin," pungkasnya.
Namun, di tengah rentetan permohonan maaf dan pengakuan ini, suara Ressa tetap menggema, sebuah rindu yang belum terobati. Ia menginginkan lebih dari sekadar pernyataan di media sosial; ia menginginkan kehadiran, sentuhan, dan kehangatan seorang ibu yang nyata. Pengakuan Denada adalah langkah awal yang penting, sebuah pintu yang mulai terbuka, namun jalan menuju penyembuhan luka dan pembangunan kembali hubungan yang kokoh masih panjang. Ressa menunggu, berharap, dan merindukan sebuah pertemuan yang akan menjadi jembatan menuju hati yang utuh.

