0

Pendiri Apple Ngaku Jarang Pakai AI, Katanya Mengecewakan

Share

Steve Wozniak, salah satu tokoh legendaris di balik berdirinya raksasa teknologi Apple, secara mengejutkan mengungkapkan pandangannya yang kurang antusias terhadap kecerdasan buatan (AI) saat ini. Dalam sebuah wawancara yang menarik perhatian publik, Wozniak mengaku jarang sekali menggunakan AI, dan bahkan lebih sering merasa kecewa dengan hasilnya. Pernyataan ini tentu saja menimbulkan gelombang diskusi, mengingat posisinya sebagai pionir di dunia teknologi yang seringkali diidentikkan dengan inovasi dan terobosan.

Sebagai sosok yang dikenal dengan pemikiran out-of-the-box dan kontribusinya yang fundamental dalam revolusi komputer personal, skeptisisme Wozniak terhadap AI memiliki bobot tersendiri. Ia menjelaskan bahwa, meskipun AI dirancang untuk memberikan informasi dan bantuan, pengalaman pribadinya seringkali jauh dari ekspektasi. Salah satu keluhan utamanya adalah kecenderungan AI untuk menghasilkan jawaban yang sangat panjang dan relevan secara umum, namun ironisnya, seringkali meleset dari inti pertanyaan spesifik yang ingin ia ketahui. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, AI memberikan tumpukan jerami yang lebih besar dengan janji jarum ada di dalamnya, tanpa benar-benar menunjuk lokasinya.

Lebih lanjut, Wozniak juga menyoroti gaya komunikasi AI yang dinilainya terlalu "kering" dan "terlalu sempurna". Dalam pandangannya, respons yang dihasilkan oleh AI terasa hampa dari sentuhan personal atau nuansa emosional yang lazim ditemukan dalam interaksi antarmanusia. Ia merindukan respons yang terasa lebih manusiawi, yang tidak hanya menyajikan fakta secara rapi, tetapi juga memiliki kedalaman, empati, atau bahkan sedikit humor. Bagi Wozniak, interaksi dengan teknologi seharusnya memperkaya pengalaman manusia, bukan malah membuatnya terasa steril dan mekanis. Ketiadaan "jiwa" dalam jawaban AI menjadi poin kritik yang signifikan baginya, seorang insinyur yang selalu mengedepankan pengalaman pengguna yang intuitif dan menyenangkan.

Pandangan Wozniak ini jelas merupakan kontras yang mencolok dengan optimisme yang meluap-luap dari mayoritas pelaku industri teknologi. Di tengah euforia global terhadap potensi transformatif AI, suara Wozniak terdengar sebagai pengingat akan batas-batas dan tantangan yang masih harus diatasi. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa Wozniak tidak sepenuhnya menolak perkembangan teknologi ini. Ia mengakui bahwa inovasi adalah keniscayaan dan teknologi akan terus berevolusi. Poinnya adalah, pada fase saat ini, AI dinilai belum mampu meniru aspek-aspek krusial yang membentuk esensi kemanusiaan.

Wozniak secara eksplisit menyebutkan bahwa AI belum bisa meniru emosi, kepedulian, atau bahkan keinginan tulus untuk membantu orang lain. Hal-hal ini, menurutnya, adalah inti dari kecerdasan manusia yang melampaui sekadar komputasi dan analisis data. Kapasitas untuk berempati, memahami konteks sosial yang kompleks, atau bertindak berdasarkan nilai-nilai moral adalah domain yang hingga kini masih menjadi misteri bagi AI. Ia berargumen bahwa pemahaman manusia tentang cara kerja otak kita sendiri pun masih sangat terbatas, sehingga upaya untuk mereplikasi kecerdasan pada level tersebut menjadi tantangan yang monumental. Model-model AI saat ini, terutama Large Language Models (LLM), bekerja dengan memprediksi urutan kata berikutnya berdasarkan pola data yang sangat besar, bukan dengan pemahaman kognitif atau kesadaran diri layaknya manusia.

Meskipun demikian, Wozniak tetap membuka pintu untuk kemungkinan di masa depan. Ia percaya bahwa suatu hari nanti, AI mungkin saja bisa mencapai titik di mana ia menjadi lebih pintar dan mampu memahami manusia layaknya sesama manusia. Ini adalah visi tentang Artificial General Intelligence (AGI), sebuah bentuk AI hipotetis yang memiliki kemampuan kognitif setara atau bahkan melampaui manusia. Namun, ia menyiratkan bahwa perjalanan menuju titik tersebut masih sangat panjang dan memerlukan terobosan fundamental yang belum terlihat saat ini.

Di sisi lain spektrum, banyak tokoh teknologi terkemuka justru melontarkan klaim-klaim besar dan visi futuristik yang ambisius tentang AI. Sundar Pichai, CEO Google, bahkan menyebut AI akan menjadi sesuatu yang "lebih besar dari internet." Pernyataan ini tidaklah ringan, mengingat bagaimana internet telah merevolusi setiap aspek kehidupan manusia. Bagi Pichai, AI berpotensi menciptakan transformasi fundamental yang melampaui sekadar penyedia informasi, melainkan sebagai asisten pribadi yang cerdas, penemu ilmiah, atau bahkan motor ekonomi baru.

Senada dengan Pichai, CEO Apple Tim Cook juga menunjukkan optimisme serupa, meskipun Apple sendiri dikenal lebih hati-hati dalam meluncurkan teknologi baru dan seringkali memilih untuk menyempurnakan daripada menjadi yang pertama. Namun, investasi Apple dalam AI, baik melalui peningkatan fitur Siri maupun pengembangan chip khusus AI di perangkatnya, menunjukkan keyakinan internal mereka terhadap masa depan teknologi ini.

Dari kubu Microsoft, CEO Satya Nadella mengibaratkan kehadiran AI seperti lompatan dari sepeda ke mesin uap. Analogi ini menekankan betapa revolusionernya AI sebagai kekuatan pendorong yang akan mengubah lanskap industri secara drastis, meningkatkan efisiensi, dan membuka peluang yang sebelumnya tak terbayangkan. Microsoft sendiri telah menjadi pemain kunci dalam pengembangan AI melalui investasinya di OpenAI dan integrasi teknologi ChatGPT ke dalam berbagai produknya. Bill Gates, salah satu pendiri Microsoft, bahkan menyebut AI sebagai teknologi fundamental yang setara dengan mikroprosesor atau internet, menandakan bahwa ia melihat AI sebagai pondasi bagi era komputasi berikutnya.

Pernyataan paling ekstrem datang dari investor kenamaan Marc Andreessen, yang dengan berani mengatakan bahwa AI akan "menyelamatkan dunia." Klaim ini mencerminkan keyakinan akan potensi AI dalam mengatasi berbagai tantangan global, mulai dari penyakit mematikan, perubahan iklim, hingga masalah kelangkaan sumber daya. Bagi para penganut optimisme ini, AI bukan hanya alat, melainkan solusi transformatif yang mampu mengangkat peradaban manusia ke tingkat yang lebih tinggi.

Meskipun demikian, perdebatan seputar AI tidak hanya didominasi oleh suara-suara optimis. Kritik dan kekhawatiran terhadap teknologi ini juga tidak sedikit, bahkan terus berkembang seiring dengan laju perkembangannya. Kekhawatiran umum meliputi potensi hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi, bias algoritmik yang dapat memperburuk ketidakadilan sosial, penyebaran misinformasi dan disinformasi, hingga isu-isu etika yang lebih dalam terkait otonomi dan kontrol atas sistem cerdas.

Mustafa Suleyman, CEO Inflection AI (dan sebelumnya salah satu pendiri DeepMind), bahkan sempat menyebut kritik publik terhadap AI sebagai hal yang "mencengangkan." Pernyataan ini mungkin mencerminkan rasa frustrasinya terhadap penolakan atau ketakutan yang tidak beralasan, sementara ia dan rekan-rekannya melihat potensi besar AI untuk kebaikan. Di sisi lain, CEO Nvidia Jensen Huang, yang perusahaannya menjadi pemasok utama chip grafis untuk pengembangan AI, menilai bahwa sentimen negatif terhadap AI justru merugikan masyarakat. Baginya, ketakutan yang berlebihan dapat menghambat inovasi dan adopsi teknologi yang sebenarnya dapat membawa manfaat signifikan bagi kemajuan manusia.

Dalam dikotomi antara optimisme yang meluap dan skeptisisme yang beralasan, pandangan Steve Wozniak menawarkan perspektif yang berharga. Sebagai seorang insinyur yang telah menyaksikan dan membentuk evolusi teknologi dari dekat, kritiknya tidak datang dari penolakan buta, melainkan dari pengamatan cermat terhadap kinerja AI saat ini dibandingkan dengan harapan dan potensi sejati yang ia lihat dalam kecerdasan. Wozniak mengingatkan kita bahwa meskipun AI telah mencapai kemajuan luar biasa, masih ada jurang yang dalam antara komputasi cerdas dan kecerdasan manusiawi yang penuh emosi, empati, dan pemahaman kontekstual yang mendalam. Debat ini, dengan Wozniak sebagai salah satu suaranya, akan terus membentuk arah pengembangan dan penerimaan AI di masa depan.