Intel, raksasa semikonduktor global yang pernah mendominasi pasar, kembali menghadapi tantangan signifikan pada kuartal keempat tahun 2025. Perusahaan melaporkan pendapatan sebesar USD 13,7 miliar, menunjukkan penurunan 4% secara tahunan. Meskipun angka ini masih berada di kisaran atas proyeksi internal perusahaan, kondisi ini mencerminkan situasi bisnis yang kompleks dan tidak seimbang. Secara keseluruhan tahun 2025, pendapatan Intel turun tipis dari USD 53,1 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD 52,9 miliar, menandakan bahwa upaya pemulihan masih membutuhkan waktu dan strategi yang lebih matang di tengah dinamika pasar yang bergejolak.
Kinerja yang fluktuatif ini terutama disebabkan oleh kondisi fundamental yang krusial: Intel menjual hampir seluruh chip yang diproduksi, namun kapasitas manufaktur internalnya belum mampu mengejar lonjakan permintaan yang ada. Keterbatasan pasokan, khususnya pada node teknologi terbaru, telah memaksa Intel untuk membuat keputusan strategis yang sulit. Perusahaan kini memprioritaskan segmen dengan margin keuntungan tinggi, seperti pusat data dan kecerdasan buatan (AI), sembari membatasi produksi prosesor untuk segmen konsumen yang memiliki margin lebih rendah. Strategi ini, meskipun logis dari sudut pandang bisnis jangka pendek, berpotensi menimbulkan implikasi terhadap ketersediaan dan harga produk-produk Intel di pasar konsumen.
Penopang Utama dan Segmen yang Melambat
Divisi data center dan AI (DCAI) menjadi penopang utama kinerja Intel di tengah gejolak ini. Unit bisnis ini mencatat pertumbuhan pendapatan yang impresif, naik 9% secara kuartalan dan 5% secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh permintaan yang kuat dari penyedia layanan cloud global dan pelanggan enterprise yang berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur komputasi untuk mendukung beban kerja AI dan analitik data berskala besar. Prosesor Intel Xeon Scalable, yang menjadi tulang punggung banyak pusat data di dunia, serta akselerator AI seperti seri Gaudi, yang dioptimalkan untuk beban kerja paralel dan inferensi AI, menunjukkan performa penjualan yang solid. Investasi Intel dalam ekosistem perangkat lunak seperti oneAPI juga mulai membuahkan hasil, menarik lebih banyak pengembang dan pelanggan ke platform Intel untuk solusi AI mereka.
Sebaliknya, grup client computing (CCG), yang mencakup prosesor Intel Core untuk PC desktop dan laptop, serta unit pemrosesan grafis (GPU) Arc, mencatat penurunan pendapatan. Segmen ini mengalami penurunan 7% pada kuartal ini dan 3% sepanjang tahun 2025. Penurunan ini mencerminkan kondisi pasar PC global yang masih lesu pasca-pandemi, dengan perlambatan permintaan konsumen dan dampak inflasi yang menekan daya beli. Selain itu, persaingan ketat dari AMD dengan lini prosesor Ryzen dan GPU Radeon-nya, serta NVIDIA di pasar GPU, turut memberikan tekanan pada pangsa pasar dan profitabilitas Intel di segmen ini. Ketimpangan kinerja antara kedua divisi ini secara jelas mendorong manajemen Intel untuk mengalihkan prioritas produksi ke segmen bisnis yang dinilai lebih menguntungkan dan memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang lebih besar, yaitu AI dan pusat data.
Strategi Pengalihan Pasokan dan Implikasi Pasar
Chief Financial Officer Intel, David Zinsner, menjelaskan perubahan strategi alokasi pasokan perusahaan. "Kami mengalokasikan kapasitas internal terutama untuk data center, sementara porsi produksi chip konsumen lebih banyak dialihkan ke foundry eksternal seperti TSMC," ujarnya, seperti dikutip dari Techspot, Rabu (28/1/2026). Pernyataan ini menegaskan langkah Intel dalam memprioritaskan produksi chip dengan margin tinggi di fasilitas manufaktur internalnya yang berharga, sementara produk-produk konsumen yang lebih massal dan kompetitif dialihdayakan ke pihak ketiga.
Strategi ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, langkah ini memungkinkan Intel untuk memaksimalkan keuntungan dari investasi besar pada teknologi manufaktur terbarunya dan memenuhi permintaan kritis dari pasar AI dan enterprise yang sedang booming. Di sisi lain, hal ini berpotensi berdampak pada ketersediaan dan harga prosesor konsumen Intel di masa mendatang. Pengalihan produksi ke foundry eksternal seperti TSMC dapat menambah biaya produksi, yang pada gilirannya bisa diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi. Selain itu, ketergantungan pada foundry eksternal juga mengurangi kontrol Intel atas jadwal produksi dan pasokan, yang bisa menjadi masalah jika ada gangguan rantai pasok global.
Salah satu produk yang kemungkinan akan terpengaruh adalah seri Core Ultra 3 mendatang, yang dikenal dengan nama kode Panther Lake. Berbeda dari generasi sebelumnya seperti Core Ultra (Meteor Lake) dan Core Ultra 2 (Lunar Lake) yang sebagian besar diproduksi di TSMC untuk tile tertentu, Panther Lake diharapkan sebagian besar dibuat di fasilitas internal Intel menggunakan node teknologi terbaru. Jika masalah pasokan pada node internal terus berlanjut, peluncuran dan ketersediaan Panther Lake bisa tertunda atau terbatas.
Tantangan Manufaktur: Node 18A dan Yield
Masalah pasokan Intel terutama berasal dari proses manufaktur 18A, sebuah node teknologi yang sangat krusial dalam roadmap "five nodes in four years" Intel. Transisi ke node ini dilaporkan berjalan tidak mulus, dengan tingkat yield (persentase chip fungsional yang dihasilkan dari satu wafer) yang berada di bawah target awal. Yield yang rendah berarti lebih banyak wafer yang terbuang dan biaya produksi per chip menjadi jauh lebih tinggi, sehingga mengurangi kapasitas produksi efektif Intel.
Intel menyatakan bahwa yield pada node 18A telah meningkat sekitar 7-8% per bulan, meskipun dari basis awal yang rendah. Peningkatan ini menunjukkan adanya kemajuan, namun kecepatan peningkatannya masih menjadi perhatian. CEO Intel, Pat Gelsinger, menyatakan bahwa yield saat ini "sesuai rencana internal," tetapi mengakui bahwa belum mencapai level ideal. Komentar ini menggarisbawahi tantangan inheren dalam mengembangkan dan meningkatkan produksi pada node semikonduktor cutting-edge yang semakin kompleks. Setiap nanometer baru memerlukan inovasi material, teknik litografi yang lebih canggih, dan kontrol kualitas yang sangat ketat.
Proses 18A sangat penting bagi Intel karena merupakan langkah kunci untuk merebut kembali kepemimpinan teknologi manufaktur dari pesaing seperti TSMC. Kesuksesan 18A akan menjadi penentu daya saing Intel dalam dekade mendatang, terutama untuk produk-produk berkinerja tinggi seperti chip AI dan prosesor server. Selain 18A, Intel juga sedang mengembangkan node lanjutan 14A, yang diharapkan akan menjadi generasi berikutnya setelah 18A, serta arsitektur Nova Lake yang dijadwalkan meluncur pada akhir 2026. Upaya-upaya ini merupakan bagian dari strategi IDM 2.0 Intel, yang bertujuan untuk memperkuat posisi Intel sebagai produsen dan desainer chip terkemuka di dunia.
Prospek dan Jalan ke Depan
Pat Gelsinger dan David Zinsner memperkirakan bahwa kuartal pertama tahun 2026 akan menjadi titik terendah dari keterbatasan pasokan ini, dengan pemulihan yang mulai terlihat pada kuartal berikutnya. Proyeksi ini memberikan secercah harapan bahwa tantangan manufaktur akan mulai terkendali dan kapasitas produksi akan meningkat. Namun, pasar tetap akan mengamati dengan seksama apakah Intel dapat memenuhi target ini, mengingat kompleksitas teknologi dan persaingan yang ketat.
Dalam jangka panjang, Intel memiliki roadmap yang ambisius. Selain node 18A dan 14A, perusahaan juga berinvestasi besar pada teknologi pengemasan canggih seperti Foveros dan EMIB (Embedded Multi-die Interconnect Bridge) yang memungkinkan integrasi berbagai tile chip (chiplet) menjadi satu unit yang lebih besar dan efisien. Arsitektur Nova Lake yang akan datang diharapkan membawa inovasi signifikan dalam kinerja dan efisiensi daya, menargetkan pasar client computing yang membutuhkan reboot untuk kembali bersaing secara agresif.
Situasi Intel di Q4 2025 menyoroti perjuangan berkelanjutan raksasa teknologi ini untuk menavigasi lanskap semikonduktor yang berubah cepat. Dengan pendapatan yang menurun dan masalah pasokan yang membayangi, Intel berada pada persimpangan jalan yang krusial. Keberhasilan strategi IDM 2.0, terutama dalam mengatasi tantangan manufaktur node 18A dan mengelola alokasi pasokan secara efektif, akan menjadi penentu utama apakah Intel dapat kembali ke jalur pertumbuhan yang kuat dan merebut kembali dominasinya di pasar global. Dunia menanti apakah Intel dapat mengubah tantangan pasokan menjadi peluang untuk inovasi dan kepemimpinan yang lebih besar.

