0

Penalti Buruk Brahim Diaz di Final Piala Afrika 2025 Mengubur Impian Maroko, Senegal Juara Lewat Gol Tunggal Pape Gueye

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Momen krusial yang seharusnya menjadi penentu sejarah bagi Timnas Maroko di final Piala Afrika 2025 justru berakhir tragis akibat kegagalan mengeksekusi tendangan penalti oleh bintangnya, Brahim Diaz. Kesempatan emas untuk meraih trofi bergengsi itu melayang begitu saja di menit-menit akhir pertandingan melawan Senegal, yang akhirnya keluar sebagai juara dengan kemenangan tipis 1-0. Pertandingan dramatis yang berlangsung di Prince Moulay Abdellah Stadium, Senin (19/1/2026) dini hari WIB, ini akan dikenang sebagai salah satu final Piala Afrika paling menegangkan dan penuh kontroversi.

Sejak awal pertandingan, kedua tim menunjukkan tensi tinggi. Maroko, yang dijagokan dalam turnamen ini, berambisi mengakhiri puasa gelar yang sudah berlangsung sejak tahun 1974. Senegal, dengan skuad tangguh mereka, juga tidak kalah ngotot untuk meraih kemenangan. Babak pertama berakhir tanpa gol, mencerminkan pertahanan solid kedua belah pihak dan kegagalan lini serang dalam menemukan celah. Permainan mulai memanas jelang akhir babak kedua, ketika sebuah gol dari Abdoulaye Seck untuk Senegal sempat dianulir oleh wasit, memicu protes dari kubu Senegal.

Puncak drama terjadi pada menit keempat masa injury time. Sebuah insiden di dalam kotak penalti Senegal membuat wasit menunjuk titik putih, memberikan hadiah penalti kepada Maroko setelah Brahim Diaz dilanggar oleh Malick Diouf. Keputusan ini sontak memicu kemarahan tim Senegal. Para pemain mereka melakukan protes keras dengan meninggalkan lapangan, mengancam akan melakukan walk out. Setelah jeda sekitar 20 menit yang menegangkan, dan dengan konfirmasi dari Video Assistant Referee (VAR) yang menguatkan keputusan wasit, pertandingan akhirnya dilanjutkan. Penalti untuk Maroko tetap diberikan.

Saat itulah sorotan tertuju pada Brahim Diaz, pemain Real Madrid yang menjadi andalan Maroko sepanjang turnamen. Di momen yang paling ditunggu-tunggu, momen yang berpotensi mengukir sejarah emas bagi "Singa Atlas," Diaz mengambil inisiatif sebagai eksekutor penalti. Dengan penuh percaya diri, ia memilih gaya tendangan Panenka, sebuah teknik berisiko tinggi yang mengharuskan pemain mencungkil bola pelan ke arah tengah gawang. Harapannya adalah mengecoh kiper Senegal, Edouard Mendy. Namun, eksekusi Diaz kali ini tidak berjalan sesuai rencana. Bola tendangannya yang meluncur pelan ke tengah gawang justru dengan mudah ditangkap oleh Mendy. Momen tersebut menjadi pukulan telak bagi Maroko dan publik pendukungnya. Skor 0-0 bertahan hingga peluit akhir babak kedua dibunyikan, memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

Kegagalan Diaz dalam memanfaatkan kesempatan emas tersebut memberikan momentum psikologis bagi Senegal. Di babak perpanjangan waktu, skuad asuhan Pape Thiaw berhasil memanfaatkan keunggulan mereka. Pape Gueye berhasil mencetak gol tunggal di babak tambahan, yang terbukti menjadi gol penentu kemenangan. Maroko, yang berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan di sisa waktu yang semakin menipis, gagal menciptakan peluang berarti. Peluit panjang dibunyikan, mengukuhkan kemenangan Senegal 1-0 dan mengantarkan mereka meraih gelar juara Piala Afrika 2025.

Ironisnya, meskipun gagal di momen paling krusial, Brahim Diaz tetap dianugerahi gelar top skor Piala Afrika 2025 dengan total lima gol yang ia cetak sepanjang turnamen. Pemain berusia 26 tahun ini menunjukkan performa gemilang dan menjadi motor serangan Maroko, namun catatan golnya tidak mampu berbanding lurus dengan kontribusinya di partai puncak. Kegagalannya dalam eksekusi penalti menjadi sorotan utama, sebuah pengingat pahit bahwa dalam sepak bola, momen krusial bisa menentukan segalanya.

Kekalahan ini semakin memperpanjang dahaga gelar Piala Afrika bagi Timnas Maroko. Terakhir kali mereka mengangkat trofi Piala Afrika adalah pada edisi tahun 1974. Kekalahan di final 2025 ini, terutama dengan cara yang dramatis seperti ini, tentu akan menjadi luka mendalam bagi para pemain, staf pelatih, dan seluruh pendukung Maroko. Momen penalti yang gagal dieksekusi oleh Brahim Diaz akan terus menghantui, menjadi bahan perdebatan, dan pengingat betapa tipisnya perbedaan antara kemenangan gemilang dan kekecewaan mendalam dalam dunia sepak bola.

Perjalanan Maroko di Piala Afrika 2025 memang penuh harapan, namun harus berakhir dengan kekecewaan. Gol Senegal di babak perpanjangan waktu, yang dicetak oleh Pape Gueye, menjadi penutup kisah dramatis ini. Sementara itu, Senegal merayakan gelar juara mereka, dan Brahim Diaz, sang top skor yang sekaligus menjadi pesakitan di final, harus menanggung beban kegagalan di momen terpenting. Keberanian untuk mencoba tendangan Panenka di final, meskipun berujung pada kegagalan, menunjukkan kepercayaan diri tinggi Diaz. Namun, di panggung sebesar final Piala Afrika, risiko yang diambilnya berbuah pahit. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa dalam sepak bola, terkadang keberanian saja tidak cukup, dan eksekusi yang sempurna di saat genting adalah kunci segalanya.