Triasmitra Katrosden, yang dikenal sebagai salah satu operator kabel laut paling berpengalaman di Indonesia, telah menetapkan target agresif untuk menggelar jaringan kabel bawah laut yang tidak hanya akan meningkatkan konektivitas domestik tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital global. Momentum ini hadir setelah perusahaan tersebut baru saja merampungkan dan mengoperasikan SKKL Rising 8, sebuah rute vital yang menghubungkan Jakarta dengan Singapura. Keberhasilan proyek Rising 8 ini tidak hanya menjadi bukti kapabilitas teknis Triasmitra, tetapi juga fondasi kepercayaan diri untuk melangkah ke proyek yang skalanya lebih besar dan menantang di perairan Nusantara.
Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi, dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 21 Januari 2026, mengungkapkan bahwa persiapan untuk proyek SKKL di wilayah Indonesia tengah ini telah digarap secara paralel sejak tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan perencanaan yang matang dan visi jangka panjang perusahaan. "Sehingga ketika penggelaran Rising 8 ini selesai April, tahun ini juga akan langsung melanjutkan penggelaran SKKL di wilayah Indonesia tengah," ujar Titus, menyoroti kesinambungan proyek dan komitmen perusahaan untuk tidak menunda pembangunan infrastruktur esensial ini. Dukungan dari regulator juga telah dikantongi, dengan rekomendasi penting yang membuka jalan bagi Triasmitra untuk melanjutkan proyek penggelaran kabel bawah laut ini tanpa hambatan berarti.
Proyek SKKL Indonesia Tengah ini secara signifikan melampaui skala SKKL Rising 8. Jika Rising 8 menjadi jalur krusial untuk konektivitas internasional, proyek domestik ini akan menjadi tulang punggung digital bagi sejumlah pulau dan kota strategis di jantung kepulauan Indonesia. Dengan total panjang kabel yang mencapai 8.723 kilometer, rute ini jauh lebih panjang dibandingkan proyek sebelumnya, menggambarkan ambisi dan cakupan yang luas. Meskipun rutenya lebih panjang, Triasmitra tetap mengadopsi teknologi kabel laut yang serupa dengan Rising 8, yaitu penggunaan kabel repeater. Teknologi repeater ini sangat penting untuk menjaga integritas dan kekuatan sinyal data sepanjang ribuan kilometer, memastikan transmisi informasi yang cepat dan stabil tanpa degradasi kualitas.
Penggelaran kabel bawah laut sepanjang hampir 9.000 kilometer ini akan dibagi menjadi lima segmen untuk mempermudah manajemen proyek dan memungkinkan implementasi bertahap. Segmen pertama menjadi prioritas untuk dikerjakan lebih dulu, diikuti oleh segmen-segmen berikutnya secara bertahap, dengan target penyelesaian penuh pada tahun 2027. Pendekatan bertahap ini juga memungkinkan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan teknis dan logistik yang mungkin timbul di sepanjang proses pembangunan.
"Kami juga akan konsisten untuk membangun kapasitas yang terbesar di perairan Indonesia saat ini, yaitu per fiber pair-nya itu 24 Tbps dengan jumlah pair yang kami bangun adalah 16 fiber pair dan kita berharap RFS (ready for service) itu tahun 2027," tegas Titus Dondi. Pernyataan ini menegaskan komitmen Triasmitra terhadap kualitas dan kapasitas. Dengan 24 Terabit per detik (Tbps) per pasangan serat optik dan total 16 pasangan serat, SKKL ini akan memiliki kapasitas total yang sangat masif, mampu menangani volume data yang luar biasa besar. Kapasitas sebesar ini bukan hanya memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga merupakan langkah antisipasi untuk pertumbuhan permintaan data di masa depan, termasuk untuk adopsi teknologi 5G, Internet of Things (IoT), dan komputasi awan yang semakin meluas di seluruh wilayah. Ini menjadikan SKKL Indonesia Tengah sebagai salah satu jaringan kabel laut paling canggih dan berkapasitas tinggi di kawasan ini, sekaligus menempatkan Indonesia di garis depan infrastruktur digital regional.
Jalur SKKL Indonesia Tengah ini dirancang untuk menghubungkan titik-titik vital di berbagai provinsi, menciptakan jaring laba-laba konektivitas yang kuat. Rutenya akan menyambungkan kabel laut dari Sanur (Bali), Kawinda Nae, Labuan Bajo, Makassar, Selayar, Bau Bau, Wakatobi, Kendari, Morowali, hingga Luwuk. Setiap titik pendaratan memiliki nilai strategis tersendiri. Sanur di Bali berfungsi sebagai gerbang utama dan hub pariwisata internasional. Labuan Bajo dan Wakatobi merupakan Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang sangat membutuhkan konektivitas handal untuk mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Makassar adalah pusat ekonomi dan logistik terbesar di Indonesia Timur, yang akan mendapatkan dorongan besar dengan adanya infrastruktur ini. Sementara itu, Morowali menjadi pusat industri nikel yang berkembang pesat, memerlukan jaringan komunikasi yang kuat untuk mendukung operasional bisnis dan investasi.
Penggelaran SKKL Indonesia Tengah akan dilakukan dalam dua tahap utama. Tahap pertama akan fokus pada Segmen Sanur hingga Makassar, menghubungkan hub-hub penting di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Sementara Tahap 2, yang dijadwalkan akan dibangun pada tahun 2027, akan melanjutkan ekspansi untuk Segmen Selayar sampai Luwuk, menjangkau lebih banyak wilayah di Sulawesi dan sekitarnya. Pembagian tahap ini memungkinkan percepatan pembangunan di area-area krusial sambil mempersiapkan ekspansi lebih lanjut.
Untuk merealisasikan proyek ambisius ini, Triasmitra akan mengalokasikan anggaran sekitar USD 350 juta, atau setara dengan Rp 5,9 triliun, mengacu pada kurs USD 1 = Rp 16.966. Angka investasi yang sangat besar ini menunjukkan komitmen serius perusahaan dalam mendukung pemerataan digital dan pembangunan ekonomi di Indonesia. Investasi ini tidak hanya mencakup biaya pengadaan kabel dan peralatan repeater canggih, tetapi juga biaya survei kelautan yang ekstensif, instalasi, dan pemeliharaan jangka panjang. Dana sebesar ini akan menjadi motor penggerak ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan industri terkait.
Dani Samsul Ependi, Direktur Operasional Katrosden Triasmitra, pada kesempatan yang sama, menjelaskan tahapan operasional yang sedang dan akan dilakukan. "Selanjutnya kami akan melakukan marine survey dan juga kami sudah menjajaki vendor dan material kabel maupun repeater yang akan digunakan, juga sudah siap ada beberapa MoU dengan calon pelanggan," ungkap Dani. Marine survey atau survei kelautan adalah langkah krusial untuk memetakan kondisi dasar laut, mengidentifikasi potensi hambatan seperti gunung bawah laut, palung, atau zona gempa, serta menentukan rute terbaik yang aman dan efisien untuk penanaman kabel. Pemilihan vendor dan material kabel serta repeater juga merupakan proses yang sangat selektif, memastikan bahwa teknologi yang digunakan adalah yang terbaik di kelasnya untuk menjamin keandalan dan daya tahan jaringan di lingkungan bawah laut yang ekstrem. Selain itu, kesiapan beberapa Memorandum of Understanding (MoU) dengan calon pelanggan menunjukkan adanya permintaan yang kuat dan kepercayaan pasar terhadap proyek ini, menjamin bahwa infrastruktur yang dibangun akan segera dimanfaatkan secara optimal setelah siap beroperasi.
Pembangunan kabel laut raksasa di Indonesia tengah ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa; ini adalah investasi masa depan bagi bangsa. Ini adalah jembatan digital yang akan menghubungkan jutaan penduduk, memungkinkan akses ke informasi, pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi yang sebelumnya terbatas. Dengan konektivitas yang lebih baik, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah-daerah terpencil dapat terhubung ke pasar yang lebih luas, sekolah dapat menerapkan pembelajaran daring yang lebih efektif, dan layanan publik dapat menjangkau masyarakat dengan lebih efisien. Proyek ini akan menjadi katalisator bagi transformasi digital Indonesia secara keseluruhan, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah barat, tetapi juga merata ke seluruh pelosok negeri, mewujudkan visi Indonesia yang terhubung, inklusif, dan berdaya saing di kancah global.

