Terkuaknya "Epstein Files" telah mengguncang dunia akademik dan ilmiah, mengungkap sebuah jaringan mengerikan yang menghubungkan Jeffrey Epstein, seorang pelaku kejahatan seksual dan pedofilia yang terkenal, dengan sejumlah besar ilmuwan terkemuka. Dokumen-dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat ini tidak hanya membeberkan skala keterlibatan finansial Epstein dalam proyek-proyek sains, tetapi juga menyoroti intervensinya yang tidak biasa dan sangat mengkhawatirkan dalam urusan penelitian, yang kini memicu perdebatan sengit tentang etika, integritas ilmiah, dan tanggung jawab institusi.
Laporan dari jurnal sains terkemuka, Nature, mengutip sejumlah dokumen DOJ yang merinci bagaimana Epstein menginvestasikan jutaan dolar AS ke dalam berbagai proyek sains. Yang lebih mengejutkan, dan jauh lebih meresahkan, adalah fakta bahwa ia terhubung dengan sekitar 30 ilmuwan besar dari berbagai disiplin ilmu. Jaringan ini tidak hanya sebatas hubungan donor-penerima dana; dokumen-dokumen tersebut mengungkapkan bahwa Epstein secara mengejutkan menjadi konsultan bagi para ilmuwan ini dalam berbagai aspek, mulai dari urusan publikasi ilmiah, pengurusan visa untuk peneliti asing, penanganan krisis kehumasan, hingga bahkan mengajaknya terlibat langsung dalam penelitian itu sendiri. Ini adalah tingkat keterlibatan yang sangat tidak lazim bagi seorang donor, apalagi seorang dengan reputasi kelam seperti Epstein.
Keterlibatan Epstein yang mendalam dalam ranah akademik ini menciptakan sebuah bayangan gelap yang mengerikan. Mengapa seorang penjahat seksual yang didakwa bisa begitu dihormati dan diberi akses ke lingkar dalam komunitas ilmiah? Pertanyaan ini menjadi inti dari krisis etika yang kini dihadapi banyak institusi dan individu. Meskipun Epstein pertama kali didakwa atas kasus kejahatan seksual pada tahun 2008, beberapa ilmuwan dan institusi tetap mempertahankan hubungan dengannya dan terus menerima pendanaan. Sebuah contoh nyata adalah sumbangan sebesar USD 800.000 yang diberikan Epstein kepada Massachusetts Institute of Technology (MIT). Akibat dari terkuaknya hubungan ini, dua ilmuwan di MIT kini telah mundur dari jabatannya, dan satu lagi dibebastugaskan, menandakan adanya konsekuensi serius yang mulai dirasakan.
Penting untuk dicatat bahwa munculnya nama seorang ilmuwan dalam "Epstein Files" tidak secara otomatis menjadikan mereka penjahat atau kaki tangan Epstein. Jaringan Epstein memang sangat menggurita dan luas, menjangkau berbagai sektor dan individu. Banyak yang mungkin awalnya tidak menyadari latar belakang Epstein yang sebenarnya, atau tergoda oleh tawaran dana yang melimpah dan kesempatan untuk memajukan penelitian mereka. Namun, yang menjadi perhatian utama Nature dan komunitas akademik adalah seberapa dalam dan pribadi Epstein terlibat dalam bidang penelitian yang ia danai.
Komunikasi antara Epstein dan para ilmuwan tersebut, sebagaimana terungkap dalam dokumen, menunjukkan pola interaksi yang sangat memprihatinkan. Sebagai seorang non-ilmuwan dengan riwayat kriminal yang serius, intervensinya dalam aspek-aspek inti penelitian, seperti publikasi atau bahkan desain eksperimen, menimbulkan kekhawatiran besar tentang integritas ilmiah. Apakah ia mencoba memengaruhi arah penelitian agar sesuai dengan agenda pribadinya yang menyimpang? Apakah ia menggunakan pendanaannya sebagai alat untuk mendapatkan akses ke individu, data, atau teknologi tertentu untuk tujuan yang tidak etis?
Matematikawan Jesse Kass dari University of California, dalam komentarnya kepada Nature, menyatakan bahwa belum pernah ada pendonor pribadi yang terlibat langsung dalam riset sejauh Epstein. Pernyataan ini menggarisbawahi keanehan dan bahaya dari situasi tersebut. Keterlibatan semacam ini melampaui batas-batas kemitraan donor-penerima dana yang sehat dan masuk ke wilayah yang berpotensi merusak otonomi dan objektivitas penelitian. Kekhawatiran ini diperparah oleh laporan mengenai komunikasi yang "memprihatinkan" antara Epstein dan para ilmuwan, yang mengindikasikan bahwa hubungannya bukan sekadar transaksional, melainkan intervensi langsung yang mengganggu batas profesionalisme.
Komunitas akademik kini dihadapkan pada pertanyaan serius: "Harus dibahas serius apa yang salah dan tidak boleh terjadi lagi, terkait partnership dengan pendana pribadi," kata Kass. Pernyataan ini mencerminkan sentimen yang berkembang di kalangan akademisi yang menyerukan reformasi mendasar dalam cara institusi sains berinteraksi dengan donor pribadi. Kejadian ini memaksa institusi untuk mengevaluasi kembali kebijakan mereka tentang uji tuntas (due diligence) terhadap sumber pendanaan, memastikan bahwa dana yang diterima tidak berasal dari sumber yang tidak etis atau memiliki agenda tersembunyi yang merusak integritas ilmiah.
Pelepasan lebih dari 3 juta dokumen oleh DOJ pada 30 Januari 2026 merupakan tindak lanjut dari disahkannya Undang-Undang Transparansi Epstein oleh Kongres AS pada akhir tahun 2025. Undang-undang ini dirancang untuk memberikan kejelasan dan akuntabilitas atas jaringan luas Epstein dan untuk memastikan bahwa semua individu yang terlibat dalam aktivitasnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat diidentifikasi dan dipertanggungjawabkan. Pelepasan dokumen ini adalah langkah penting menuju transparansi, namun sekaligus membuka kotak pandora yang mengungkapkan kedalaman korupsi moral yang telah merasuki beberapa sudut institusi paling dihormati di dunia.
Kasus Epstein ini menjadi peringatan keras bagi dunia sains. Ini menunjukkan kerapuhan integritas ilmiah di hadapan kekayaan dan pengaruh yang tidak terkontrol. Potensi penyalahgunaan penelitian untuk tujuan yang tidak etis, kompromi moral yang dilakukan demi pendanaan, dan bahaya dari kurangnya pengawasan terhadap donor adalah pelajaran yang harus dipetik. Ke depannya, institusi ilmiah harus membangun kerangka kerja yang lebih kuat untuk menapis sumber pendanaan, menegakkan standar etika yang ketat, dan melindungi para peneliti dari eksploitasi dan manipulasi. Hanya dengan demikian, kepercayaan publik terhadap sains dapat dipulihkan dan sisi gelap mengerikan yang diungkap oleh "Epstein Files" dapat dicegah agar tidak terulang kembali.

