BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Komika Pandji Pragiwaksono, didampingi kuasa hukumnya, Haris Azhar, melakukan pertemuan penting dengan petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kantor Pusat MUI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa sore (3/2/2026). Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam, hingga pukul 17.30 WIB, ini menjadi sorotan publik mengingat kontroversi yang melingkupi materi stand-up comedy Pandji bertajuk "Mens Rea" yang tayang di Netflix. Materi tersebut telah memicu beragam reaksi, mulai dari apresiasi hingga kecaman, bahkan berujung pada pelaporan Pandji ke Polda Metro Jaya.
Haris Azhar menjelaskan bahwa kunjungan mereka ke MUI bertujuan sebagai bentuk silaturahmi dan tabayun, sebuah upaya untuk mengklarifikasi dan menjelaskan situasi yang berkembang terkait penampilan Pandji. Ia mengungkapkan bahwa diskusi mengenai materi "Mens Rea" dan isu yang dituduhkan kepada kliennya, meskipun belum secara formal, sudah mulai hangat diperbincangkan di kalangan petinggi MUI. "Tadi kita ketemu dengan Prof. Kiai Haji Cholil Nafis. Tadi kita ke sini sebenarnya niatnya tabayun, silaturahim, menjelaskan situasi yang berkembang belakangan ini. Karena persoalan Mens Rea, hal yang dituduhkan kepada Pandji juga, ini bahasa saya sedikit banyaknya sudah didiskusikan secara informal oleh sejumlah petinggi di MUI," ujar Haris Azhar di kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa (3/2/2026).
Menurut Haris, dialog dengan MUI dianggap sebagai langkah awal yang strategis dan krusial di tengah gelombang laporan yang muncul terhadap Pandji. Ia meyakini bahwa MUI, dengan kapasitas keilmuan dan kedudukannya sebagai institusi keagamaan yang dihormati, memiliki kemampuan untuk merespons polemik ini dengan bijaksana dan arif. "Menurut kami memang Pandji penting untuk bertemu dan dialog. Kunci pentingnya Pandji adalah dialog. Dari semua laporan yang ada, kita memulai dengan MUI. Kami yakin MUI dengan fasilitas keilmuan dan institusinya akan merespons situasi ini dengan arif," tegasnya.
Haris Azhar menekankan bahwa kedatangan mereka ke MUI tidak dilandasi oleh tuntutan akan hasil atau keputusan tertentu. Murni, niat baik untuk menjelaskan konteks, maksud, dan proses kreatif di balik pertunjukan "Mens Rea". "Kita tidak minta pesanannya hasilnya harus seperti apa. Kita ikhlas saja datang. Kita jelaskan Mens Rea itu pertunjukan apa, tujuannya apa, prosesnya seperti apa. Selebihnya ngobrol rileks, tukar pikiran, dan diskusi banyak hal," imbuhnya, menunjukkan keterbukaan dan itikad baik yang dibawa.
Pandji Pragiwaksono turut mengamini pernyataan kuasa hukumnya. Ia menyatakan bahwa kunjungannya ke MUI adalah bentuk silaturahmi sekaligus upaya klarifikasi atas karyanya yang mungkin menimbulkan berbagai tafsir. "Saya di sini berniat untuk bersilaturahmi, kemudian untuk bertabayun, mencoba untuk menjelaskan maksud di balik pertunjukan saya. Saya dan Haris sering mengucapkan bahwa saya secara rekam jejak sangat sering menyediakan diri untuk dialog," ungkap Pandji, menekankan rekam jejaknya yang terbuka terhadap komunikasi.
Pandji menegaskan bahwa sebagai seorang seniman, ia selalu terbuka untuk berdialog, terutama dengan pihak-pihak yang merasa tidak nyaman atau memiliki perbedaan pandangan terhadap materi "Mens Rea". Baginya, dialog adalah langkah pertama yang ideal ketika muncul kebingungan atau ketidakjelasan mengenai sebuah karya seni. "Saya tentu akan sangat senang kalau ketika ada kebingungan atau ketidakjelasan atas produk pertunjukan saya, langkah pertama yang diambil adalah berdialog. Alhamdulillah dialognya juga terjadi," tuturnya penuh syukur.
Ia menambahkan bahwa perbincangan dengan petinggi MUI berlangsung dalam suasana yang hangat dan menyenangkan, bahkan diwarnai dengan tawa. Hal ini menjadi sebuah pengalaman positif baginya untuk dapat menjelaskan langsung maksud dan tujuannya. "Pembicaraannya berjalan dengan sangat menyenangkan, penuh tawa. Saya senang bisa punya kesempatan untuk bertemu dan menjelaskan, karena itu buat saya yang paling krusial," katanya, menekankan pentingnya kesempatan untuk klarifikasi langsung.
Pandji Pragiwaksono juga mengemukakan pandangannya sebagai seorang seniman. Ia mengakui bahwa sebuah karya seni dapat memiliki beragam interpretasi dari audiens. Namun, ia berhak pula untuk memberikan penjelasan mengenai maksud dan latar belakang penciptaan karyanya. "Ketika saya bikin karya tentu ada banyak penafsiran. Tapi senimannya sendiri juga bisa ditanya untuk kejelasan maksud dari sebuah karya," pungkasnya, menegaskan hakikat kebebasan berekspresi yang dibarengi dengan tanggung jawab untuk menjelaskan.
Sebelumnya, polemik "Mens Rea" telah menimbulkan reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah pihak, salah satunya adalah Presidium Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) yang diwakili oleh Rizki Abdul Rahman Wahid. Laporan tersebut menyoroti materi stand-up comedy yang dianggap menyindir kebijakan pemberian konsesi tambang kepada NU. Data yang dihimpun hingga akhir Januari 2026 menunjukkan bahwa Polda Metro Jaya telah menerima sekitar enam laporan terkait "Mens Rea", terdiri dari lima laporan polisi dan satu pengaduan masyarakat. Laporan-laporan ini mencakup dugaan pelanggaran seperti fitnah di muka umum, penghasutan, serta penistaan agama, yang kesemuanya merupakan isu sensitif dan serius dalam konteks hukum dan sosial di Indonesia.
Pertemuan Pandji Pragiwaksono dengan petinggi MUI ini menjadi momentum penting dalam upaya meredakan ketegangan dan mencari pemahaman bersama. Melalui dialog dan tabayun, diharapkan dapat tercipta suasana yang lebih kondusif, di mana perbedaan pandangan dapat dikelola dengan bijak dan karya seni dapat diapresiasi dalam kerangka kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Peran MUI sebagai lembaga yang memiliki otoritas keagamaan dan keilmuan diharapkan dapat memberikan pandangan yang konstruktif dalam penyelesaian polemik ini, serta menjadi jembatan dialog antara seniman, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Ke depannya, diharapkan dialog semacam ini dapat menjadi contoh bagaimana perbedaan pendapat dan kontroversi dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati, bukan melalui polarisasi dan pelaporan yang justru dapat memperuncing masalah.
Kasus "Mens Rea" ini juga mengangkat kembali diskusi mengenai batas-batas kebebasan berekspresi di Indonesia, terutama dalam ranah seni pertunjukan yang seringkali bersifat satir dan kritis. Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa seni stand-up comedy, layaknya bentuk seni lainnya, seringkali menggunakan hiperbola, sarkasme, dan sudut pandang yang provokatif untuk menyampaikan pesan atau mengkritisi fenomena sosial dan politik. Namun, pemahaman ini perlu diimbangi dengan kesadaran akan nilai-nilai yang dihormati oleh masyarakat luas, serta kewajiban untuk tidak menyinggung unsur-uns yang sangat fundamental dan sakral bagi mayoritas.
Proses tabayun yang dilakukan Pandji Pragiwaksono ke MUI menunjukkan kesadaran akan pentingnya menghargai pandangan lembaga keagamaan, terutama dalam isu-isu yang berpotensi menyentuh ranah keagamaan atau moralitas publik. Pertemuan ini diharapkan tidak hanya meredakan kontroversi yang ada, tetapi juga dapat menjadi pembelajaran bagi para seniman untuk lebih berhati-hati dalam meramu materi karyanya, sembari tetap mempertahankan integritas artistik dan kebebasan berekspresi. Di sisi lain, masyarakat juga diajak untuk lebih terbuka dalam menafsirkan karya seni, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan negatif, dan lebih memilih dialog sebagai solusi pertama ketika terjadi ketidaksepahaman.
Keberanian Pandji untuk menghadapi dialog semacam ini patut diapresiasi, karena dalam banyak kasus, para seniman memilih untuk menarik diri atau menghindari konfrontasi langsung ketika karyanya menuai kontroversi. Namun, dengan memilih jalur dialog dan tabayun, Pandji Pragiwaksono menunjukkan komitmennya untuk membangun pemahaman dan menjaga harmoni sosial, sebuah sikap yang krusial dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia. Pertemuan ini menjadi sebuah babak penting dalam dinamika hubungan antara seni, agama, dan masyarakat di Indonesia, dan semoga memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat.
Lebih lanjut, kasus "Mens Rea" ini juga dapat dijadikan studi kasus dalam memahami bagaimana media digital dan platform streaming internasional seperti Netflix dapat menjadi medium penyebaran konten yang cepat dan luas, namun juga rentan terhadap perbedaan interpretasi budaya dan norma yang berlaku di berbagai negara. Apa yang dianggap wajar dan dapat diterima di satu budaya, bisa jadi menimbulkan kegaduhan di budaya lain. Oleh karena itu, dialog lintas budaya dan pemahaman mendalam tentang konteks lokal menjadi semakin penting di era globalisasi ini.
Harapan besar tertuju pada bagaimana proses hukum dan dialog ini akan berakhir. Apakah akan ada resolusi yang memuaskan semua pihak, ataukah polemik ini akan terus berlanjut. Apapun hasilnya, pertemuan antara Pandji Pragiwaksono dan petinggi MUI ini telah membuka pintu komunikasi yang mungkin sebelumnya tertutup, dan ini adalah langkah positif yang patut diapresiasi dalam upaya menjaga kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat yang dinamis dan beragam.

