0

Once Mekel Khawatir Hoaks Merusak Generasi Muda, Tekankan Pentingnya Fondasi Nilai Kebangsaan di Era Digital

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Penyanyi legendaris yang kini juga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Once Mekel, menyuarakan keprihatinannya yang mendalam terkait maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks yang dinilai sangat mengkhawatirkan dampaknya terhadap generasi muda. Di era digital yang serba cepat dan terhubung ini, kemudahan akses informasi ternyata membawa pedang bermata dua. Di satu sisi, informasi membuka jendela dunia, namun di sisi lain, ia juga menjadi lahan subur bagi disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi yang mengancam kohesi sosial. Once Mekel secara gamblang menyampaikan bahwa generasi muda merupakan kelompok yang paling rentan terpapar oleh arus deras hoaks ini. Tanpa bekal yang memadai, mereka dapat dengan mudah terjerumus ke dalam jurang kesalahpahaman, prasangka, bahkan kebencian terhadap sesama.

Kekhawatiran ini diungkapkan oleh Once Mekel saat ia menggelar kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI yang berlangsung di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Acara tersebut turut dihadiri oleh akademisi terkemuka, Hamry Gusman Zakaria, yang turut memperkaya diskusi mengenai pentingnya literasi digital dan pemahaman ideologi bangsa di kalangan anak muda. Once Mekel menekankan bahwa kemajuan teknologi, meskipun membawa banyak manfaat, pada dasarnya bersifat netral. Ia ibarat sebuah alat yang bisa digunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Tanpa pemahaman yang baik dan etika yang kuat dalam penggunaannya, teknologi justru berpotensi besar memicu perpecahan dan konflik di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Once Mekel secara tegas mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai luhur kebangsaan yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Empat pilar kebangsaan yang dimaksud, meliputi Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara yang mempersatukan, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang merangkul keberagaman, menjadi benteng pertahanan utama dalam menghadapi gempuran hoaks dan disinformasi. Pancasila, dengan segala nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, harus diinternalisasi dan diwujudkan dalam setiap interaksi, termasuk di ranah digital.

Lebih lanjut, Once Mekel menggarisbawahi pentingnya membangun fondasi toleransi yang kokoh di antara sesama warga negara. Toleransi bukan hanya sekadar sikap saling menghargai perbedaan, tetapi juga kemampuan untuk memahami, menerima, dan hidup berdampingan dengan berbagai macam latar belakang, keyakinan, dan pandangan hidup. Tanpa toleransi yang kuat, bahkan sebuah bangsa yang besar pun dapat terpecah belah oleh perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan. Dalam konteks era digital, di mana informasi dapat tersebar tanpa batas dan tanpa filter, fondasi toleransi ini menjadi semakin krusial.

Once Mekel mengingatkan bahwa ancaman hoaks bukan hanya sebatas penyebaran berita palsu, tetapi juga upaya sistematis untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Melalui narasi-narasi yang menyesatkan, hoaks dapat menumbuhkan rasa curiga, ketidakpercayaan, dan kebencian antar kelompok masyarakat. Hal ini sangat berbahaya karena dapat mengikis rasa nasionalisme dan semangat kebersamaan yang telah dibangun dengan susah payah. Generasi muda, yang merupakan agen perubahan masa depan, harus dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital yang memadai, serta pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan agar tidak mudah terprovokasi oleh hoaks.

Dalam pandangan Once Mekel, sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini merupakan langkah strategis untuk membentengi generasi muda dari pengaruh negatif hoaks. Dengan memahami dan menginternalisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, generasi muda akan memiliki pegangan nilai yang kuat. Pegangan ini akan membantu mereka membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Selain itu, pemahaman tentang Bhinneka Tunggal Ika akan mengajarkan mereka pentingnya menghargai perbedaan dan menjaga kerukunan antarumat beragama, suku, dan golongan.

Once Mekel juga menekankan bahwa peran orang tua, pendidik, dan tokoh masyarakat sangatlah penting dalam mendampingi generasi muda menghadapi tantangan era digital. Mereka perlu diajari cara memverifikasi informasi sebelum mempercayainya, serta bagaimana bersikap bijak dalam menyebarkan informasi di media sosial. Pengawasan yang bijak dari orang tua juga diperlukan agar anak-anak tidak terpapar konten-konten negatif yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka.

Lebih jauh, Once Mekel menyarankan agar materi sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini tidak hanya disajikan dalam bentuk ceramah, tetapi juga dikemas secara menarik dan relevan dengan dunia generasi muda. Penggunaan media digital, seperti video pendek, infografis, atau bahkan permainan interaktif, dapat menjadi alternatif yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan kepada mereka. Dengan cara ini, nilai-nilai luhur bangsa dapat lebih mudah dicerna dan diinternalisasi oleh generasi muda.

Kekhawatiran Once Mekel ini patut menjadi perhatian serius bagi seluruh masyarakat Indonesia. Hoaks bukan hanya sekadar masalah teknis penyebaran informasi, tetapi juga ancaman fundamental terhadap keutuhan bangsa. Dengan memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai kebangsaan, terutama di kalangan generasi muda, kita dapat bersama-sama menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan produktif, serta menjaga keharmonisan bangsa yang kaya akan keberagaman. Generasi muda adalah aset bangsa yang paling berharga, dan melindungi mereka dari jerat hoaks adalah tanggung jawab kita bersama.

Dalam kesempatan yang sama, akademisi Hamry Gusman Zakaria menambahkan bahwa literasi digital harus menjadi kurikulum wajib bagi generasi muda. Kemampuan untuk menganalisis sumber informasi, mengidentifikasi bias, dan memahami etika berkomunikasi di ruang digital adalah keterampilan esensial yang harus dimiliki oleh setiap individu di era modern ini. Tanpa literasi digital yang memadai, generasi muda akan terus menjadi sasaran empuk bagi penyebar hoaks dan disinformasi yang berpotensi merusak tatanan sosial dan politik.

Once Mekel menegaskan kembali bahwa teknologi pada hakikatnya adalah alat yang netral. Kebermanfaatannya atau justru bahayanya terletak pada bagaimana manusia menggunakannya. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai luhur Pancasila di dalam diri generasi muda sangatlah krusial. Nilai-nilai Pancasila, seperti ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, harus menjadi panduan dalam setiap tindakan, termasuk saat berinteraksi di dunia maya.

Pentingnya fondasi toleransi yang kuat antar sesama juga kembali ditekankan oleh Once Mekel. Ia berpandangan bahwa tanpa toleransi, bangsa mana pun akan rentan terhadap perpecahan. Perbedaan pendapat, keyakinan, dan latar belakang adalah keniscayaan dalam masyarakat yang majemuk. Namun, jika perbedaan tersebut tidak dikelola dengan bijak dan dilandasi oleh semangat toleransi, maka ia dapat menjadi sumber konflik yang merusak. Di era digital, di mana narasi-narasi provokatif dapat dengan mudah tersebar, toleransi menjadi tameng yang sangat penting untuk menjaga keharmonisan sosial.

Dengan demikian, kekhawatiran Once Mekel mengenai pengaruh hoaks terhadap generasi muda bukanlah sekadar retorika kosong. Ia adalah peringatan keras yang mengajak kita semua untuk segera bertindak. Investasi terbesar kita adalah pada generasi muda, dan membekali mereka dengan pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan adalah kunci untuk memastikan masa depan Indonesia yang lebih baik, bebas dari belenggu kebohongan dan perpecahan.