BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Insiden tragis kembali mewarnai hiruk pikuk lalu lintas jalan tol di Indonesia. Sebuah peristiwa yang melibatkan sebuah SUV bongsor sekelas Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner, kembali menegaskan peringatan keras bagi para pengemudi: jangan pernah tergiur untuk memacu kendaraan beroda empat berdimensi besar ini dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Fenomena ini, sayangnya, masih saja ditemukan, dan seringkali berujung pada konsekuensi yang fatal. Kecelakaan yang terjadi di Tol Jatibening, yang terekam jelas melalui rekaman dashcam, menjadi bukti nyata betapa berbahayanya tindakan nekat ini. Sebuah SUV bongsor, yang diduga kuat adalah sebuah Fortuner, melintir tak terkendali sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dan terbalik, sebuah pemandangan yang mengerikan dan memilukan. Kejadian ini bukanlah yang pertama kali terjadi, namun tampaknya kesadaran akan risiko yang mengintai belum merata di kalangan pengemudi SUV sejenis.
Berdasarkan analisis mendalam dari berbagai sumber dan pakar keselamatan berkendara, SUV berjenis ladder frame seperti Pajero Sport dan Fortuner, secara inheren memiliki karakteristik yang berbeda dengan sedan atau mobil penumpang lainnya. Desainnya yang kokoh dan tangguh, memang dirancang untuk menghadapi medan yang berat dan medan off-road, namun bukan untuk kecepatan ekstrem di jalan raya mulus. Salah satu kelemahan utama yang seringkali menjadi sumber masalah adalah kecenderungan limbung (body roll) yang lebih signifikan ketika dikemudikan dalam kecepatan tinggi, terutama saat melakukan manuver mendadak atau menghindar. Stabilitas yang berkurang ini, ditambah dengan pusat gravitasi yang lebih tinggi, membuat risiko terguling meningkat drastis. Dalam kasus kecelakaan di Tol Jatibening, terlihat jelas bagaimana SUV bongsor tersebut, setelah mencoba menghindari truk yang bergerak lambat di depannya, kehilangan kendali. Upayanya untuk berpindah lajur dengan cepat dan agresif, terutama ketika sudah mendekati bahu jalan, justru memicu efek melintir yang tak dapat dikendalikan lagi.
Rekaman video dashcam yang beredar luas di media sosial, khususnya di akun Instagram info_pondokgede, memberikan gambaran kronologis yang cukup detail mengenai peristiwa nahas tersebut. Video tersebut memperlihatkan sebuah mobil putih yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi di lajur paling kanan (lajur 3). Tak lama kemudian, sebuah mobil lain muncul di lajur 2, juga dengan kecepatan yang sama tingginya. Kedua mobil ini kemudian melakukan manuver mendadak ke lajur 1, nyaris menyentuh bahu jalan, untuk menghindari sebuah truk yang sedang berjalan di lajur 2. Di tengah kekacauan manuver kedua mobil tersebut, muncul dari belakang sebuah SUV bongsor dengan kecepatan yang tak kalah mengerikan di lajur 3. Mobil yang diduga kuat adalah Fortuner ini, tampaknya mencoba mengikuti jejak kedua mobil di depannya untuk menghindari truk. Namun, ketika ia berusaha melakukan hal serupa dengan berpindah ke lajur 1 dan mendekati bahu jalan, malapetaka tak terhindarkan. Ban mobil tersebut kehilangan cengkeraman, mengakibatkan kendaraan melintir hebat, menghantam pembatas jalan, dan berakhir dalam posisi terbalik. Kejadian ini sontak memicu keprihatinan dan diskusi luas mengenai keselamatan berkendara bagi pemilik SUV bongsor.
Sony Susmana, seorang praktisi keselamatan berkendara yang juga menjabat sebagai Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), memberikan pandangannya yang tajam mengenai permasalahan ini. Beliau menegaskan bahwa mobil-mobil SUV dengan konstruksi ladder frame, seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport, memang secara fundamental tidak dirancang untuk aktivitas kebut-kebutan di jalan tol. Struktur sasis yang kokoh, yang ideal untuk menahan beban berat dan medan berat, justru dapat menjadi bumerang ketika dipacu pada kecepatan tinggi di jalan yang mulus. "Mobil dengan dimensi bongsor tersebut bisa kehilangan kestabilan apabila dipacu dengan kecepatan tinggi di jalan tol," ujar Sony Susmana. Beliau menambahkan bahwa kecelakaan di Tol Jatibening adalah bukti nyata dari pernyataan tersebut, di mana mobil tersebut tiba-tiba melintir dan tak terkendali, sebuah skenario yang sangat umum terjadi pada kendaraan dengan pusat gravitasi tinggi dan suspensi yang tidak dirancang untuk kecepatan ekstrem. Ironisnya, meskipun sudah banyak kasus serupa yang dilaporkan, masih banyak pengemudi SUV sejenis yang tetap nekat memacu kendaraan mereka dengan kecepatan yang jauh melebihi batas kewajaran di jalan tol.
Erreza Hardian, seorang pakar keselamatan berkendara yang juga seorang asesor LSP EMI, turut angkat bicara mengenai fenomena yang kerap terjadi ini. Beliau menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang membuat pengemudi SUV bongsor terlena adalah performa kendaraan itu sendiri. Tenaga mesin yang besar, responsivitas akselerasi yang cepat, dan kenyamanan saat dikendarai, seringkali membuat pengemudi tanpa sadar terlena dan memacu kendaraannya pada kecepatan yang sangat tinggi. "Karena (nyetir mobil semacam Pajero) memang enak sih dan itu tadi pengemudi tidak akan sadar tahu-tahu sudah 150 km/jam dan sulit pengendalian," ungkap Erreza. Beliau juga menyoroti perbedaan mendasar pada sistem power steering antara mobil sport dengan SUV bongsor. Pada kecepatan tinggi, sistem power steering pada beberapa SUV bongsor cenderung tetap terasa ringan, sehingga saat pengemudi melakukan manuver mendadak untuk menghindar, efeknya bisa menjadi sangat ekstrem. "Kalau mobil dengan standar tinggi power steering akan menyesuaikan jadi kalau manuver kaget tuh mobil tidak berbelok ekstrem," jelas Erreza, membandingkan dengan kendaraan yang memiliki sistem power steering yang lebih canggih dan adaptif.
Dalam konteks keselamatan berkendara, penting untuk diingat bahwa jalan tol memiliki batas kecepatan yang ditetapkan demi menjaga keamanan seluruh pengguna jalan. Batas kecepatan ini bukan sekadar angka, melainkan hasil perhitungan ilmiah yang mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk karakteristik kendaraan dan kondisi jalan. Mengemudikan SUV bongsor sekelas Pajero Sport atau Fortuner dengan kecepatan tinggi di jalan tol ibarat bermain dengan api. Kendaraan yang besar dan berat memang memberikan rasa aman dan gagah, namun di balik itu tersimpan potensi bahaya yang sangat besar jika tidak dikendalikan dengan bijak. Penting bagi setiap pengemudi untuk menyadari bahwa kemampuan teknis kendaraan bukanlah jaminan mutlak keselamatan, terutama jika pengemudi tidak memiliki kesadaran dan disiplin dalam berkendara.
Melihat kembali insiden di Tol Jatibening, serta berbagai kejadian serupa sebelumnya, seharusnya menjadi cambuk peringatan bagi seluruh pengemudi SUV bongsor. Jangan pernah meremehkan kemampuan kendaraan Anda atau kondisi jalan. Selalu prioritaskan keselamatan, baik bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya. Mengemudi dengan kecepatan yang terkendali, menjaga jarak aman, dan menghindari manuver mendadak adalah kunci utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Mengendalikan ego dan hasrat untuk memacu kendaraan hingga batas maksimal adalah bentuk kedewasaan berlalu lintas yang sangat penting. Ingatlah, setiap detik di jalan tol adalah pertaruhan. Jangan sampai Anda menjadi korban berikutnya dari kesadaran yang terlambat. Patuhi rambu-rambu lalu lintas, perhatikan batas kecepatan, dan selalu utamakan keselamatan. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Selain faktor kecepatan dan karakteristik kendaraan, perlu juga digarisbawahi pentingnya pemeliharaan kendaraan yang optimal. Ban yang aus, sistem pengereman yang tidak prima, atau suspensi yang sudah tidak layak pakai, dapat semakin memperparah risiko kecelakaan, terutama ketika kendaraan dipacu pada kecepatan tinggi. Pengemudi SUV bongsor harus lebih teliti dalam melakukan pengecekan rutin terhadap kondisi kendaraannya. Jangan sampai performa kendaraan yang prima justru menjadi ancaman karena ketidakpedulian pemiliknya terhadap pemeliharaan.
Lebih jauh lagi, perlu adanya edukasi yang lebih masif dari berbagai pihak, baik pemerintah, produsen kendaraan, maupun komunitas otomotif, mengenai bahaya mengemudikan SUV bongsor dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Kampanye keselamatan berkendara yang menargetkan pemilik kendaraan jenis ini sangatlah krusial. Melalui kampanye tersebut, diharapkan kesadaran akan risiko yang melekat pada kendaraan jenis ini dapat meningkat secara signifikan.
Penting juga untuk diingat bahwa jalan tol adalah fasilitas publik yang digunakan oleh berbagai jenis kendaraan, mulai dari mobil kecil hingga truk besar. Perilaku mengemudi yang agresif dan membahayakan dari satu pengemudi dapat berdampak buruk pada semua pengguna jalan. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya etika berlalu lintas di jalan tol harus selalu dijaga. Menghormati pengguna jalan lain, menjaga jarak aman, dan menghindari perilaku yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas adalah prinsip dasar yang harus selalu dipegang teguh.
Pada akhirnya, pesan utama yang harus tertanam kuat di benak setiap pengemudi SUV bongsor adalah: jangan pernah tergiur untuk ngebut di jalan tol. Keindahan dan kekuatan kendaraan Anda tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan. Kendalikan kecepatan Anda, nikmati perjalanan dengan aman, dan pastikan Anda sampai di tujuan dengan selamat. Ingatlah, keluarga dan orang-orang tercinta menanti kepulangan Anda. Jangan pernah membuat mereka cemas karena keputusan Anda yang keliru di jalan raya. Ketaatan pada aturan dan kesadaran akan risiko adalah kunci utama untuk menjaga keselamatan di jalan tol. Marilah kita bersama-sama menciptakan budaya berkendara yang aman dan bertanggung jawab di Indonesia.

