Insiden "nyaris adu banteng" yang disebutkan merujuk pada peristiwa di mana salah satu satelit Starlink hampir bertabrakan dengan satelit yang diluncurkan oleh Tiongkok. Meskipun detail spesifik mengenai jenis satelit Tiongkok atau jarak pasti antara kedua objek tidak selalu dipublikasikan secara luas, kejadian semacam ini secara rutin dipantau oleh berbagai lembaga pelacak antariksa dan menjadi perhatian serius. Ancaman tabrakan di orbit rendah Bumi (LEO) bukan hanya sekadar kecelakaan kecil; ini dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai Sindrom Kessler, di mana tabrakan tunggal menghasilkan ribuan fragmen puing yang kemudian dapat menabrak satelit lain, menciptakan reaksi berantai dan pada akhirnya membuat LEO tidak dapat digunakan selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Konsekuensi dari skenario seperti ini akan sangat merugikan bagi infrastruktur antariksa yang mendukung komunikasi global, navigasi, dan pemantauan Bumi.
Untuk mengatasi risiko yang meningkat ini, SpaceX telah mengumumkan rencana untuk memindahkan semua satelit Starlink dari ketinggian orbit sekitar 550 kilometer ke ketinggian yang lebih rendah, yakni sekitar 480 kilometer. Michael Nicolls menjelaskan dalam postingannya di platform X bahwa "Menurunkan ketinggian satelit akan menghasilkan pemadatan orbit Starlink, dan akan meningkatkan keamanan luar angkasa dalam beberapa cara." Pemadatan ini bukan berarti penumpukan satelit di area yang lebih kecil, melainkan penempatan mereka di lapisan atmosfer yang sedikit lebih padat. Keputusan ini didasarkan pada dua alasan utama yang saling melengkapi: pertama, untuk mengurangi risiko tabrakan dengan menempatkan satelit Starlink di wilayah yang tidak terlalu padat dibandingkan orbit yang lebih tinggi yang seringkali menjadi persimpangan berbagai misi antariksa; dan kedua, untuk memungkinkan satelit keluar dari orbit lebih cepat jika terjadi insiden atau anomali.
Alasan kedua sangat krusial dalam konteks manajemen puing antariksa. Ketika sebuah satelit mengalami kegagalan, kemampuan untuk dengan cepat de-orbit (keluar dari orbit dan terbakar di atmosfer Bumi) adalah kunci untuk mencegahnya menjadi puing antariksa yang tidak terkendali. Pada ketinggian yang lebih rendah, bahkan gesekan kecil dengan sisa-sisa atmosfer Bumi dapat mempercepat proses peluruhan orbit. Hal ini mengurangi "waktu peluruhan balistik," yaitu waktu yang dibutuhkan sebuah objek untuk jatuh kembali ke Bumi secara alami akibat gaya tarik atmosfer.
Nicolls juga menyoroti fenomena ‘solar minimum’ yang akan terjadi pada awal tahun 2030-an sebagai faktor pendorong utama lainnya. Solar minimum adalah periode dalam siklus Matahari 11 tahunan di mana aktivitas Matahari berada pada titik terendah, dengan jumlah bintik Matahari dan letupan surya yang minimal. Aktivitas Matahari memiliki dampak signifikan pada atmosfer Bumi, terutama pada lapisan terluar. Selama solar maximum (aktivitas Matahari tinggi), radiasi ultraviolet dan sinar-X yang intens dari Matahari memanaskan dan memperluas atmosfer Bumi. Ini menyebabkan atmosfer "membengkak" ke ketinggian yang lebih tinggi, meningkatkan kepadatan atmosfer bahkan pada ketinggian orbit LEO, sehingga meningkatkan gaya hambat (drag) pada satelit dan mempercepat de-orbit mereka.
Namun, selama solar minimum, kebalikannya terjadi. Aktivitas Matahari yang rendah menyebabkan atmosfer Bumi mendingin dan berkontraksi. Ini berarti kepadatan atmosfer pada ketinggian orbit tertentu akan menurun. Seperti yang dijelaskan Nicolls, "Seiring dengan mendekatnya solar minimum, kepadatan atmosfer menurun yang artinya waktu peluruhan balistik pada ketinggian tertentu meningkat – menurunkan orbit akan berarti pengurangan >80% dalam waktu peluruhan balistik selama solar minimum, atau 4+ tahun berkurang menjadi beberapa bulan." Dengan kata lain, jika Starlink tetap berada di ketinggian 550 km selama solar minimum, satelit yang rusak mungkin membutuhkan waktu lebih dari empat tahun untuk secara alami keluar dari orbit. Namun, dengan diturunkannya ke 480 km, waktu peluruhan tersebut dapat dipercepat menjadi hanya beberapa bulan, bahkan dalam kondisi solar minimum yang mengurangi efek gaya hambat. Ini adalah langkah proaktif yang cerdas untuk memastikan bahwa bahkan dalam kondisi lingkungan antariksa yang kurang menguntungkan, satelit Starlink yang tidak berfungsi dapat segera dihapus dari orbit, mengurangi potensi ancaman puing.
Penting untuk dicatat bahwa pengumuman ini dibuat hanya beberapa minggu setelah SpaceX menghadapi dua insiden terkait satelitnya. Selain insiden nyaris tabrakan dengan satelit Tiongkok, salah satu satelit Starlink juga dilaporkan mengalami anomali yang menyebabkan jatuhnya ke Bumi. Meskipun insiden tunggal satelit yang jatuh kembali ke Bumi bukanlah hal yang luar biasa dalam operasi konstelasi besar, dua kejadian yang berdekatan ini, ditambah dengan risiko tabrakan, memperkuat urgensi tindakan mitigasi. Nicolls menambahkan bahwa penurunan ketinggian satelit Starlink diharapkan dapat meningkatkan keamanan konstelasi satelit, terutama dengan risiko yang sulit dikendalikan seperti manuver dan peluncuran oleh operator satelit lain yang tidak terkoordinasi.
Isu koordinasi antar-operator satelit merupakan tantangan besar dalam manajemen lalu lintas antariksa modern. Dengan semakin banyaknya negara dan perusahaan swasta yang meluncurkan satelit, terutama konstelasi mega seperti Starlink, OneWeb, dan Project Kuiper milik Amazon, orbit LEO menjadi semakin ramai. Tanpa sistem yang komprehensif dan terkoordinasi secara internasional untuk melacak, memprediksi, dan mengatur pergerakan satelit, risiko tabrakan akan terus meningkat. Organisasi seperti Komite Koordinasi Puing Antariksa Antar-Lembaga (IADC) dan berbagai badan antariksa nasional telah mengembangkan pedoman, tetapi implementasi dan kepatuhan yang konsisten masih menjadi pekerjaan rumah.
SpaceX, sebagai pemain utama dalam "Ekonomi Antariksa Baru," memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam menetapkan standar untuk operasi satelit yang berkelanjutan. Konstelasi Starlink sendiri sudah terdiri dari ribuan satelit dan direncanakan akan mencapai puluhan ribu di masa depan. Skala operasi ini menuntut pendekatan yang sangat hati-hati terhadap mitigasi puing dan keselamatan antariksa. Keputusan untuk menurunkan orbit menunjukkan bahwa SpaceX serius dalam menanggapi kekhawatiran ini, tidak hanya karena tekanan eksternal tetapi juga sebagai bagian dari filosofi operasional yang bertanggung jawab.
Langkah ini juga memiliki implikasi teknis dan operasional bagi SpaceX. Mengoperasikan satelit pada ketinggian yang lebih rendah berarti satelit akan mengalami gaya hambat atmosfer yang sedikit lebih besar secara terus-menerus, meskipun masih sangat minim. Ini mungkin memerlukan penggunaan propelan yang lebih sering untuk menjaga posisi orbit, yang berpotensi memengaruhi umur operasional satelit atau memerlukan desain yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar. Namun, keuntungan dalam hal keamanan dan manajemen risiko puing jelas dianggap lebih besar daripada biaya operasional tambahan tersebut.
Secara keseluruhan, keputusan SpaceX untuk menurunkan orbit ribuan satelit Starlink adalah langkah signifikan menuju peningkatan keselamatan antariksa di LEO yang semakin padat. Ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang dinamika lingkungan antariksa, tantangan yang ditimbulkan oleh puing antariksa dan kepadatan lalu lintas, serta komitmen untuk beradaptasi demi keberlanjutan jangka panjang. Di tengah persaingan ketat dalam perlombaan antariksa modern, tindakan proaktif semacam ini diharapkan dapat menjadi preseden bagi operator satelit lainnya untuk mengadopsi praktik terbaik dan memastikan bahwa ruang angkasa tetap dapat diakses dan bermanfaat bagi generasi mendatang, tanpa terancam oleh "Sindrom Kessler" yang mengerikan.

