BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Penyanyi Nindy Ayunda baru saja merayakan momen ulang tahunnya dengan cara yang sangat istimewa, memilih Hong Kong sebagai destinasi liburan singkatnya selama empat hari tiga malam. Yang membuat perjalanan kali ini berbeda adalah keputusannya untuk menikmati momen tersebut sepenuhnya tanpa ditemani anak-anaknya, melainkan bersama sahabat-sahabat kuliahnya. Perjalanan ini bukan hanya sekadar liburan, tetapi juga menjadi ajang nostalgia yang mendalam sekaligus mewujudkan impian masa remajanya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri bersama para sahabat terdekat. Terlebih lagi, Nindy mengakui bahwa sudah hampir satu dekade ia tidak menginjakkan kaki di negara yang pernah menjadi salah satu tempat favoritnya untuk bernyanyi dan menghibur.
"Sudah lama banget nggak ke Hong Kong, terakhir tuh anak aku masih di perut yang kedua sekitar 10 tahun lalu," cerita Nindy dengan nada bersemangat saat ditemui awak media di Studio TransTV, Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada Selasa, 10 Maret 2026. "Bukannya nostalgia, justru kita tuh kayak newbie, datang kayak baru pertama kali." Pengalaman ini sungguh mengejutkan Nindy. Ia merasa seolah-olah baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, padahal kenangan masa lalunya di Hong Kong begitu kuat.
Keterkejutan terbesar Nindy datang dalam bentuk culture shock yang tak terduga. Setelah absen sekian lama, ia merasakan perubahan signifikan pada wajah Hong Kong modern. Salah satu hal yang paling membuatnya pangling adalah perubahan sikap warga lokal dan para pedagang. Jika dulu ia mengingat mereka sebagai sosok yang cenderung kurang ramah dan bahkan terkesan galak, kini ia justru merasakan sambutan yang jauh lebih hangat dan bersahabat. "Dulu waktu aku masih sering nyanyi bolak-balik ke Hong Kong, orang-orang di sana tuh kayak nggak ramah," ungkapnya, mengingat kembali pengalaman masa lalunya. "Masuk butik pinggir jalan saja kita takut. Kalau pegang tuh harus beli, dibilang ‘Don’t touch!’. Pokoknya galak-galak dan kasar." Perbandingan antara pengalaman masa lalu dan masa kini sungguh kontras, membuat Nindy merasa lebih nyaman dan senang menjelajahi kota.
Namun, di tengah keramahan yang baru ditemuinya, ada satu hal yang sukses membuat Nindy cukup terkejut dan sedikit tercengang. "Yang pasti kita langsung kaget, ternyata makanan di Hong Kong lebih mahal banget sekarang," celetuk pelantun lagu "Buktikan" ini, sedikit mengernyitkan dahi saat mengingat pengeluaran untuk kuliner. Kenaikan harga makanan ini menjadi salah satu aspek yang paling terasa dampaknya bagi dompetnya. Ia mengakui bahwa harga makanan di restoran maupun jajanan kaki lima kini jauh melambung tinggi dibandingkan dengan kunjungannya yang terakhir. Hal ini tentu menjadi catatan penting bagi para wisatawan yang berencana mengunjungi Hong Kong, agar dapat mempersiapkan anggaran yang lebih besar untuk urusan perut.
Selain soal harga makanan yang meroket, Nindy juga tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap perkembangan infrastruktur di Hong Kong. Ia menyoroti betapa canggihnya kota tersebut kini. Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah akses jalan baru yang dibangun menuju bandara, yang ia akui sangat mempermudah perjalanan. Tidak hanya itu, ia juga takjub dengan adanya rute darat cepat yang kini memungkinkan perjalanan langsung ke Makau tanpa perlu lagi repot naik feri. Kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur ini menunjukkan bahwa Hong Kong terus berinovasi untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi para pengunjungnya.
Di balik semua kejutan dan perubahan yang ia rasakan, Nindy berhasil membawa pulang memori yang sangat manis dari liburannya. Saat sedang asyik hangout di kawasan Central yang selalu ramai dan penuh kehidupan, ia dan teman-temannya bertemu dengan seorang kakek-kakek fotografer jalanan. Kakek tersebut menunjukkan antusiasme yang luar biasa untuk memotret Nindy dan rombongan. Meskipun kendala bahasa sempat menjadi tantangan, karena kakek tersebut sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, Nindy merasa sangat senang dengan semangatnya. "Kakeknya nggak bisa bahasa Inggris sama sekali. Pas aku minta tolong, dia senang banget ada obyek foto," cerita Nindy dengan mata berbinar.
Bahkan, kakek fotografer itu awalnya menolak untuk dibayar, namun Nindy bersikeras untuk memberikan imbalan atas jasa dan kebaikannya. "Bahkan dia awalnya nggak mau dibayar sampai akhirnya aku paksa," pungkas Nindy antusias. Berkat pertemuan tak terduga ini, Nindy dan teman-temannya berhasil mendapatkan foto-foto yang sangat bagus dan berkesan, yang akan menjadi kenangan abadi dari liburan spesialnya tersebut. Momen ini menegaskan bahwa di tengah kemajuan teknologi dan perubahan zaman, kehangatan dan kebaikan hati manusia tetap menjadi elemen yang paling berharga dan mampu menciptakan cerita indah.
Perjalanan Nindy ke Hong Kong ini bukan hanya sekadar pelarian dari rutinitas, tetapi sebuah pengalaman multidimensional yang membawanya kembali ke masa lalu, menghadapi realitas masa kini, dan menciptakan kenangan baru yang tak ternilai harganya. Ia belajar bahwa setiap perubahan, baik dalam aspek budaya, ekonomi, maupun infrastruktur, dapat memberikan kejutan yang beragam, namun pada akhirnya, kebaikan dan kehangatan manusia tetap menjadi esensi yang paling menyentuh hati. Liburan ini memberinya perspektif baru tentang Hong Kong, sebuah kota yang terus bertransformasi namun tetap menyimpan pesona tersendiri di hati para pengunjungnya. Nindy Ayunda membuktikan bahwa liburan tanpa anak-anak dapat menjadi momen berharga untuk merefleksikan diri, mempererat persahabatan, dan menikmati kebebasan eksplorasi.

