0

Ngeri! Elon Musk Mau Terbangkan 1 Juta Satelit "Pusat Data" ke Ruang Angkasa

Share

Jakarta – Ambisi Elon Musk melalui perusahaan luar angkasanya, SpaceX, kembali mengguncang dunia dengan proposal yang tak kalah revolusioner dari Starlink. SpaceX secara resmi mengajukan permohonan kepada Komisi Komunikasi Federal (FCC) Amerika Serikat untuk meluncurkan hingga satu juta satelit ke orbit Bumi, bukan untuk menyediakan internet, melainkan sebagai "pusat data orbital" raksasa. Rencana monumental ini digadang-gadang sebagai solusi paling efisien dan hemat energi untuk menopang kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) yang melonjak drastis, seperti dilaporkan BBC pada Senin, 2 Februari 2026.

Dalam dokumen pengajuan yang detail, SpaceX memaparkan visi untuk membangun infrastruktur komputasi di luar angkasa, yang diklaim akan menjadi tulang punggung bagi perkembangan AI global. Konsep "pusat data orbital" ini muncul sebagai respons terhadap tekanan luar biasa yang dialami infrastruktur komputasi di Bumi. Selama ini, pusat data konvensional berbentuk gudang-gudang raksasa berisi ribuan server dan perangkat keras canggih yang memproses serta menyimpan triliunan gigabyte data. Namun, menurut SpaceX, lonjakan permintaan pemrosesan data akibat ekspansi masif penggunaan AI telah melampaui "kemampuan terestrial" atau kapasitas infrastruktur yang ada di darat.

Ketika Bumi Tak Lagi Cukup: Dorongan di Balik Pusat Data Orbital

Perkembangan AI, khususnya model bahasa besar (Large Language Models/LLMs) seperti yang kita saksikan saat ini, membutuhkan daya komputasi yang fantastis. Proses pelatihan model-model ini melibatkan analisis miliaran parameter dan triliunan data poin, sebuah tugas yang memakan waktu berbulan-bulan dan membutuhkan ribuan Graphics Processing Unit (GPU) yang bekerja secara paralel. Setelah dilatih pun, proses inferensi atau penggunaan model AI untuk menjawab pertanyaan atau melakukan tugas masih memerlukan daya komputasi yang signifikan.

Pusat data di Bumi menghadapi tantangan serius dalam memenuhi permintaan ini. Konsumsi energi mereka sangat besar, seringkali setara dengan kebutuhan listrik sebuah kota kecil. Selain itu, panas yang dihasilkan oleh server-server ini memerlukan sistem pendingin canggih yang mengonsumsi air dalam jumlah masif, menimbulkan kekhawatiran lingkungan, terutama di tengah krisis air global. Kebutuhan akan lahan yang luas untuk pembangunan pusat data baru juga menjadi isu, apalagi dengan semakin ketatnya regulasi lingkungan dan terbatasnya lokasi strategis yang dekat dengan sumber energi terbarukan. SpaceX berpendapat bahwa dengan memindahkan sebagian beban komputasi ini ke orbit, mereka dapat mengatasi kendala-kendala tersebut secara fundamental.

Ekspansi di Orbit Rendah Bumi: Skala yang Belum Pernah Ada

Jika permohonan ini disetujui oleh FCC, rencana ini akan secara drastis menambah jumlah satelit yang dioperasikan SpaceX di orbit. Saat ini, jaringan Starlink, yang menyediakan layanan internet broadband global, sudah terdiri dari hampir 10.000 satelit yang mengelilingi Bumi. Angka ini saja sudah memicu kritik dan kekhawatiran dari berbagai pihak terkait kepadatan ruang angkasa, sebuah klaim yang telah berulang kali dibantah oleh Elon Musk. Namun, proyek "pusat data orbital" ini akan membawa skala yang jauh lebih besar: satu juta satelit bertenaga surya.

Meskipun dokumen permohonan tersebut tidak mencantumkan jadwal peluncuran yang spesifik, gagasan untuk menambahkan satu juta objek ke orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) pada ketinggian sekitar 500 hingga 2.000 kilometer adalah sebuah langkah yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah eksplorasi antariksa. SpaceX mengklaim bahwa sistem raksasa ini akan mampu menyediakan kapasitas komputasi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, berpotensi melayani miliaran pengguna dan aplikasi AI di seluruh dunia, dari analisis data ilmiah hingga simulasi kompleks dan pengembangan AI generatif generasi berikutnya.

Visi Kardashev II: Peradaban Antariksa Elon Musk

Lebih jauh, SpaceX menempatkan proyek ambisius ini dalam konteks visi yang jauh lebih besar. Mereka menyebut proyek ini sebagai langkah awal menuju realisasi peradaban tingkat Kardashev II. Konsep hipotetis yang diperkenalkan oleh astronom Nikolai Kardashev pada 1960-an ini mengklasifikasikan peradaban berdasarkan jumlah energi yang dapat mereka manfaatkan. Peradaban Tipe I adalah yang mampu memanfaatkan seluruh energi planetnya. Peradaban Tipe II mampu memanfaatkan energi Matahari secara penuh, biasanya dengan membangun struktur raksasa seperti Bola Dyson untuk menangkap seluruh output energi bintang. Sementara itu, Peradaban Tipe III mampu menguasai energi seluruh galaksi. Dengan membangun pusat data yang sepenuhnya bertenaga surya di ruang angkasa, Musk dan SpaceX tampaknya melihat diri mereka sebagai pelopor menuju era di mana manusia tidak lagi terikat pada sumber daya terbatas di Bumi, melainkan memanfaatkan kekayaan energi kosmik.

Elon Musk sendiri, melalui unggahan di platform X miliknya, turut menanggapi isu kepadatan satelit yang kemungkinan akan muncul. Dengan nada khasnya, ia menulis, "Ruang angkasa begitu luas sehingga sulit dipahami. Jarak antar satelit akan sangat jauh sehingga sulit terlihat satu sama lain." Pernyataan ini mencerminkan keyakinannya bahwa orbit Bumi masih memiliki kapasitas yang tak terbatas, terlepas dari kekhawatiran yang disuarakan oleh para ilmuwan dan regulator.

Klaim Lingkungan vs. Kekhawatiran Baru di Angkasa

SpaceX juga mengklaim bahwa pusat data di orbit akan lebih ramah lingkungan dibandingkan rekan-rekan mereka di Bumi. Mereka menyoroti bahwa pusat data terestrial membutuhkan energi yang sangat besar dan air dalam jumlah signifikan untuk proses pendinginan. Di sisi lain, satelit pusat data orbital ini akan sepenuhnya mengandalkan energi surya dan beroperasi di lingkungan vakum yang secara alami menyediakan pendinginan pasif yang efisien, mengurangi jejak karbon dan konsumsi sumber daya alam.

Namun, di balik klaim-klaim revolusioner tersebut, sejumlah kekhawatiran serius tetap mengemuka dari komunitas ilmiah, ahli antariksa, dan regulator. Seorang ahli yang sebelumnya diwawancarai oleh BBC menekankan bahwa meluncurkan perangkat keras ke orbit masih merupakan proses yang sangat mahal. Selain itu, infrastruktur untuk melindungi, mendinginkan (dari panas internal dan radiasi matahari), dan memberi daya pada perangkat komputasi di lingkungan antariksa yang ekstrem tergolong sangat rumit dan rentan.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah masalah puing antariksa. Penambahan satu juta satelit baru, bahkan jika dirancang untuk dapat bermanuver, akan secara eksponensial meningkatkan risiko tabrakan di orbit rendah. Fenomena yang dikenal sebagai Sindrom Kessler, di mana satu tabrakan memicu serangkaian tabrakan lain, dapat menciptakan awan puing yang pada akhirnya membuat sebagian orbit tidak dapat digunakan. Peringatan serupa datang dari pihak lain yang menyoroti meningkatnya risiko tabrakan antar wahana antariksa di orbit rendah, yang berpotensi merusak mesin operasional, mengancam misi luar angkasa lainnya, atau bahkan menyebabkan material jatuh kembali ke Bumi.

Dampak pada Astronomi dan Tata Kelola Antariksa

Para astronom juga telah lama mengeluhkan dampak jaringan Starlink yang ada saat ini. Pada tahun 2024, mereka menilai gelombang radio dari satelit Starlink menyilaukan teleskop dan secara signifikan mengganggu penelitian astronomi. Satelit-satelit ini juga memantulkan cahaya matahari, menciptakan "garis-garis" terang dalam citra teleskop, mengaburkan objek langit yang jauh dan mengganggu observasi yang sensitif. Penambahan satu juta satelit baru, bahkan jika didesain dengan teknologi anti-refleksi terbaru, dikhawatirkan akan memperparah masalah ini secara drastis, berpotensi menghalangi kemampuan kita untuk mempelajari alam semesta dari Bumi.

Selain itu, ada pertanyaan besar mengenai tata kelola antariksa. Siapa yang akan mengatur lalu lintas satu juta satelit? Bagaimana dengan masalah kedaulatan data jika pusat data global berada di luar yurisdiksi negara mana pun? Dan bagaimana masyarakat internasional akan memastikan akses yang adil dan aman ke ruang angkasa jika satu entitas mendominasi sebagian besar orbit Bumi? Badan-badan seperti International Telecommunication Union (ITU) dan Committee on Space Research (COSPAR) kemungkinan akan menghadapi tantangan regulasi yang belum pernah ada sebelumnya.

Meskipun demikian, Musk sebelumnya menepis klaim bahwa satelit-satelit SpaceX memakan terlalu banyak ruang di orbit dan menghambat para pesaingnya. Dengan rekam jejaknya dalam mewujudkan proyek-proyek yang sebelumnya dianggap mustahil, dunia akan mengamati dengan napas tertahan bagaimana FCC dan komunitas global akan merespons proposal ambisius yang berpotensi mengubah lanskap teknologi dan antariksa ini secara fundamental. Langkah Elon Musk ini bukan hanya tentang inovasi teknologi, melainkan juga tentang mendefinisikan kembali batas-batas kemampuan manusia dan tempat kita di alam semesta.

(agt/afr)