0

Nasib Tragis Game Sepakbola Buatan Sifu: Sempat Ramai, Sekarang Sepi.

Share

Jakarta – Kisah miris menghampiri jagat game sepakbola, bukan dari raksasa industri, melainkan dari studio independen yang pernah menuai pujian tinggi. Game sepakbola berjudul Rematch, yang digarap oleh developer di balik mahakarya bela diri Sifu, yakni Sloclap, kini berada di ambang keterpurukan. Sempat mencicipi masa keemasan dengan jumlah pemain yang membludak, Rematch kini hanya menyisakan keramaian yang sepi, sebuah fenomena yang patut disayangkan mengingat reputasi sang pengembang.

Pada awal peluncurannya di bulan Juni 2025, Rematch berhasil menarik perhatian komunitas game global. Ekspektasi membumbung tinggi, mengingat Sloclap sebelumnya sukses besar dengan game Sifu yang memukau, menawarkan pengalaman seni bela diri yang menantang dan memuaskan. Banyak yang berharap Rematch akan menghadirkan angin segar di tengah dominasi game sepakbola mapan seperti EA Sports FC (sebelumnya FIFA) dan eFootball (sebelumnya PES). Sebagai game sepakbola buatan studio independen, Rematch diharapkan mampu memberikan alternatif dengan inovasi atau pendekatan yang berbeda, bebas dari tekanan komersial yang sering membelenggu judul-judul AAA.

Antusiasme ini terlihat jelas dari data yang terekam di SteamDB. Puncak kejayaan Rematch terjadi pada 16 Juni 2025, tak lama setelah dirilis, ketika game ini berhasil menembus angka impresif 92.841 pemain yang bermain secara bersamaan dalam satu waktu. Angka ini adalah pencapaian luar biasa untuk sebuah judul indie yang berani masuk ke genre kompetitif seperti sepakbola. Komunitas gamer global sempat ramai membicarakan Rematch, membandingkannya dengan para pesaing besar, dan berharap game ini bisa menjadi kuda hitam yang mengubah peta persaingan. Screenshot gameplay, video highlight, dan diskusi di forum-forum game memenuhi lini masa, menunjukkan betapa besar potensi yang terlihat pada saat itu.

Namun, seperti kisah yang sering terjadi dalam industri game, terutama bagi game yang mengandalkan model live-service atau multiplayer online, kejayaan ini tidak bertahan lama. Grafik jumlah pemain Rematch menunjukkan penurunan yang sungguh curam dan mengkhawatirkan hanya dalam hitungan hari. Tujuh hari setelah puncak keemasannya, pada 23 Juni 2025, jumlah pemain sudah anjlok menjadi 82.936. Angka tersebut, meskipun masih terbilang besar, sudah menjadi sinyal awal adanya masalah.

Penurunan ini terus berlanjut secara drastis dari minggu ke minggu, bulan ke bulan. Data terbaru dari SteamDB pada Selasa, 6 Januari 2026, mencatat bahwa hanya 4.149 orang yang memainkan Rematch secara bersamaan. Angka ini merupakan penurunan lebih dari 95% dari puncak tertinggi hanya dalam waktu tujuh bulan. Bahkan dalam 24 jam terakhir, jumlah pemain tertinggi yang tercatat hanya menyentuh 5.045 pemain. Ini adalah angka yang sangat memprihatinkan, menempatkan Rematch dalam kategori game yang kesulitan mempertahankan basis pemainnya, bahkan terancam ditinggalkan sepenuhnya.

Pertanyaan besar pun muncul: Apa yang sebenarnya terjadi pada Rematch? Mengapa sebuah game dari developer sekelas Sloclap, yang pernah sukses besar, bisa mengalami nasib tragis seperti ini?

Mengacu pada informasi yang dihimpun dari laporan The Gamer dan diskusi di komunitas, akar permasalahan Rematch terletak pada fondasi teknis yang rapuh dan implementasi fitur yang kurang matang. Sejak peluncurannya, Rematch dilaporkan telah mengalami masalah serius dengan netcode dan sinkronisasi. Dalam sebuah game sepakbola multiplayer, kedua elemen ini adalah tulang punggung yang menentukan kualitas pengalaman bermain. Netcode yang buruk dapat menyebabkan lag, delay, atau desynchronization antara apa yang pemain lihat di layar dan apa yang sebenarnya terjadi di server. Bayangkan saja, Anda menekan tombol operan, tetapi bola baru teroper beberapa detik kemudian, atau Anda melihat lawan Anda "teleport" secara acak di lapangan. Ini tidak hanya merusak imersi, tetapi juga menciptakan lingkungan bermain yang tidak adil dan penuh frustrasi.

Masalah sinkronisasi yang berlarut-larut membuat inti permainan multiplayer Rematch menjadi tidak menyenangkan. Para pemain, yang pada awalnya tertarik dengan janji pengalaman sepakbola baru, dengan cepat merasa bosan dan kecewa. Bagaimana mungkin sebuah game sepakbola dapat dinikmati jika setiap pertandingan terasa seperti perjuangan melawan koneksi internet atau bug teknis, bukan melawan lawan manusia? Masalah-masalah teknis ini, meskipun dikabarkan sudah mulai membaik sejak dirilis, pada dasarnya sudah mengikis kepercayaan dan kesabaran para pemain di masa-masa awal yang krusial.

Nasib Tragis Game Sepakbola Buatan Sifu: Sempat Ramai, Sekarang Sepi

Selain masalah teknis, sistem pencocokan peringkat (ranked matchmaking) di Rematch juga dinilai amburadul. Pemain dengan peringkat yang jauh berbeda sering kali ditempatkan dalam satu tim atau saling berhadapan. Ini menciptakan ketidakseimbangan yang parah dalam setiap pertandingan. Pemain dengan tier tinggi mungkin merasa bosan karena terus-menerus berhadapan dengan lawan yang jauh di bawah level mereka, atau sebaliknya, pemain baru akan merasa frustrasi karena terus-menerus dihancurkan oleh lawan yang jauh lebih jago. Sistem seperti ini tidak hanya menghambat progres pemain, tetapi juga merusak semangat kompetisi yang sehat dan adil. Akibatnya, baik pemain kasual maupun kompetitif tidak menemukan kepuasan yang mereka cari, mendorong mereka untuk mencari game lain yang menawarkan pengalaman lebih seimbang.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah status Sloclap sebagai studio game independen. Meskipun memiliki talenta dan visi yang luar biasa, seperti yang terbukti dari kesuksesan Sifu, mereka tidak memiliki sumber daya dan tenaga kerja sebesar raksasa game live-service kelas atas (AAA) seperti Electronic Arts atau Konami. Hal ini secara langsung berdampak pada laju penambahan fitur baru dan perbaikan bug. Jika sebuah game AAA bisa meluncurkan patch besar setiap bulan atau bahkan mingguan, Sloclap mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengatasi masalah serupa.

Meskipun komunitas gamer umumnya memberikan kelonggaran tertentu kepada pengembang independen saat peluncuran, laju pembaruan yang lambat pada akhirnya akan menyebabkan basis pemain kehilangan minat. Di era game live-service yang serba cepat, di mana para pemain mengharapkan konten segar, perbaikan bug yang responsif, dan keseimbangan yang terus-menerus, Rematch kesulitan untuk bersaing. Kurangnya pembaruan yang substansial membuat game terasa stagnan, tidak ada alasan bagi pemain untuk kembali atau merekomendasikannya kepada teman.

Perbandingan dengan raksasa seperti EA Sports FC atau eFootball menjadi tak terhindarkan. Game-game tersebut, meskipun sering dikritik, memiliki anggaran pengembangan dan pemasaran yang masif, tim pengembang yang sangat besar, serta lisensi pemain dan liga yang tak terhingga. Mereka dapat menghadirkan grafis realistis, mode permainan yang beragam, dan aliran konten baru yang konsisten. Rematch, sebagai pendatang baru, harus menawarkan sesuatu yang benar-benar revolusioner atau setidaknya sangat solid secara fundamental untuk bisa bersaing. Sayangnya, masalah teknis dan matchmaking yang disebutkan di atas justru menjadi penghalang utama.

Komunitas yang awalnya penuh harapan kini berubah menjadi gelombang kekecewaan. Banyak pemain yang telah berinvestasi waktu dan uang pada Rematch merasa dikhianati oleh pengalaman bermain yang tidak memenuhi janji. Mereka beralih kembali ke game sepakbola favorit mereka yang lebih stabil atau mencari pengalaman baru di genre lain. Siklus ini, di mana pemain yang kecewa pergi dan tidak ada pemain baru yang datang, adalah resep pasti untuk kegagalan game live-service.

Masa depan Rematch kini diselimuti kabut tebal. Kebangkitan game ini masih belum terlihat jelas. Untuk bisa kembali menarik pemain, Sloclap harus melakukan perombakan besar-besaran, tidak hanya pada sisi teknis tetapi juga pada sistem matchmaking dan mungkin juga menambahkan konten baru yang menarik. Mereka perlu berkomunikasi secara transparan dengan komunitas, mengakui kesalahan, dan menunjukkan roadmap yang jelas untuk perbaikan. Namun, dengan jumlah pemain yang sudah sangat sedikit, upaya untuk membangun kembali momentum akan menjadi tantangan yang sangat berat. Membangun kembali kepercayaan dan menarik kembali pemain yang sudah pergi adalah tugas yang jauh lebih sulit daripada menarik pemain baru.

Kisah Rematch ini menjadi pengingat pahit tentang tantangan dalam mengembangkan game live-service, terutama bagi studio independen yang berani masuk ke genre yang sangat kompetitif. Bahkan dengan reputasi yang kuat dan talenta yang terbukti, fondasi teknis yang kokoh, sistem yang adil, dan dukungan pasca-peluncuran yang konsisten adalah kunci utama untuk mempertahankan basis pemain. Nasib tragis Rematch adalah pelajaran berharga bagi seluruh industri game, bahwa hype saja tidak cukup; eksekusi yang sempurna adalah segalanya.

(hps/fay)