0

NASA Akui Insiden Astronot Terdampar Kegagalan Tingkat Tertinggi

Share

Kategori "Kecelakaan Tipe A" di NASA dicadangkan untuk insiden yang mengakibatkan kerugian finansial melebihi USD 2 juta, hilangnya kendaraan atau kendali atasnya, atau adanya korban jiwa. Dalam kasus Starliner, meskipun wahana tersebut pada akhirnya berhasil diselamatkan dan astronot kembali dengan selamat, durasi penundaan yang luar biasa panjang dan serangkaian masalah teknis serius yang dihadapi, menciptakan risiko yang tak dapat diterima. Laporan internal NASA menyoroti bahwa insiden ini nyaris menjadi bencana, dengan potensi konsekuensi yang jauh lebih buruk seandainya serangkaian peristiwa tidak berjalan sesuai rencana atau jika tim penyelamat tidak bertindak cepat dan efektif.

Jared Isaacman, seorang pilot jet amatir yang kini menjabat sebagai bos baru NASA sejak akhir tahun 2025, tidak segan-segan melontarkan kritik keras. Ia menyalahkan baik Boeing sebagai produsen wahana antariksa Starliner maupun NASA sendiri atas rentetan keputusan buruk dan kepemimpinan yang gagal, yang pada akhirnya memicu kegagalan misi tersebut. Insiden yang menarik perhatian global ini bermula ketika dua astronot, Suni Williams dan Butch Wilmore, terjebak di Starliner selama lebih dari sembilan bulan, jauh melampaui durasi misi awal yang hanya direncanakan selama 8 hingga 14 hari, sebelum akhirnya berhasil dipulangkan pada Maret 2025. Isaacman, yang dikenal sebagai astronot non-profesional pertama yang melakukan spacewalk, mengambil alih jabatan tertinggi NASA setelah dicalonkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Proses persetujuan pencalonan Isaacman sendiri tidak luput dari gejolak politik. Trump sempat mengajukan namanya, namun kemudian menariknya kembali di tengah perseteruan publik dengan Elon Musk, bos Tesla dan SpaceX, yang diketahui merupakan sekutu dekat Isaacman dalam komunitas penerbangan dan antariksa swasta. Namun, pada akhirnya, pencalonan Isaacman kembali diajukan dan disetujui, menempatkannya pada posisi strategis untuk mereformasi badan antariksa tersebut.

Terkait misi Starliner, Isaacman mengungkapkan bahwa wahana antariksa tersebut sebenarnya telah menghadapi berbagai masalah dan anomali pada misi-misi uji coba sebelumnya. Namun, terlepas dari peringatan dini tersebut, Starliner tetap mendapatkan persetujuan untuk meluncurkan astronot. "Hari ini, kami secara resmi mendeklarasikan kecelakaan Tipe A dan memastikan akuntabilitas kepemimpinan agar situasi seperti ini tidak pernah terulang kembali," tegas Isaacman dalam pernyataannya, menandaskan komitmennya untuk transparansi dan perbaikan internal.

Peringkat "Tipe A" secara simbolis menempatkan insiden Starliner pada level yang sama dengan tragedi pesawat ulang-alik Columbia pada tahun 2003 dan Challenger pada tahun 1986. Bencana Challenger terjadi pada Januari 1986 ketika pesawat ulang-alik tersebut meledak 73 detik setelah lepas landas karena kegagalan O-ring pada roket pendorong padat, menewaskan tujuh astronot. Sementara itu, tragedi Columbia pada Februari 2003 juga menewaskan tujuh astronot saat pesawat hancur saat kembali ke Bumi akibat kerusakan sayap yang disebabkan oleh serpihan busa isolasi yang lepas saat peluncuran. Meski dalam insiden Starliner tidak ada korban luka dan misi berhasil mendapatkan kembali kendali sebelum berlabuh dan akhirnya dipulangkan, penetapan klasifikasi tingkat tertinggi ini secara eksplisit mengakui adanya potensi terjadinya kecelakaan signifikan yang bisa berujung fatal.

Penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh tim ahli NASA dan independen menyoroti berbagai akar permasalahan. Laporan tersebut mengidentifikasi kegagalan perangkat keras (hardware) sebagai salah satu penyebab utama. Lebih jauh lagi, laporan itu juga menguak adanya salah langkah kepemimpinan dan masalah budaya yang mengakar di dalam organisasi Boeing, yang merupakan kontraktor utama Starliner. Secara spesifik, laporan tersebut menyoroti praktik rekayasa teknis yang buruk dan kurangnya pengawasan yang memadai di pihak Boeing. Kombinasi faktor-faktor ini secara kolektif mengubah misi yang seharusnya berdurasi singkat, 8 hingga 14 hari, menjadi penderitaan berbulan-bulan bagi astronot Suni Williams dan Butch Wilmore.

Kedua astronot veteran tersebut terpaksa menunggu dalam kondisi tidak pasti di orbit, dengan sistem wahana yang terus menunjukkan anomali, sebelum akhirnya mendapatkan "tumpangan pulang" dari penerbangan SpaceX pada Maret 2025. Peristiwa ini secara tidak langsung menyoroti ironi dan dinamika persaingan antara dua kontraktor komersial utama NASA, Boeing dan SpaceX, dalam program pengiriman kru ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Setelah pengalaman traumatis tersebut, Suni Williams dan Butch Wilmore kini telah pensiun dari NASA, mengakhiri karier cemerlang mereka sebagai penjelajah angkasa.

Menanggapi temuan-temuan laporan, NASA menyatakan komitmennya untuk mengambil tindakan perbaikan yang komprehensif. Tindakan ini diharapkan mencakup peninjauan ulang prosedur persetujuan misi, peningkatan standar pengawasan terhadap kontraktor, dan upaya untuk memperbaiki masalah budaya yang teridentifikasi. Isaacman menekankan bahwa meskipun Boeing adalah pembuat Starliner, tanggung jawab akhir tetap berada di tangan NASA yang menerima wahana tersebut dan meluncurkan astronotnya. "Untuk menjalankan misi-misi yang mengubah dunia, kita harus transparan, baik mengenai keberhasilan maupun kekurangan. Kita harus mengakui kesalahan kita dan memastikan hal itu tidak pernah terjadi lagi," ujar Isaacman, seperti dikutip oleh detikINET dari BBC. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi baru kepemimpinan NASA di bawah Isaacman, yang mengedepankan akuntabilitas dan pembelajaran dari setiap kegagalan, betapapun pahitnya.

Insiden Starliner ini bukan hanya menjadi catatan kelam bagi Boeing, tetapi juga pelajaran berharga bagi seluruh industri antariksa komersial dan NASA sendiri. Program Kru Komersial (Commercial Crew Program) NASA, yang dirancang untuk mengandalkan sektor swasta dalam transportasi astronot, telah menunjukkan keberhasilan besar melalui SpaceX. Namun, kegagalan Starliner mengingatkan akan kompleksitas dan risiko inheren dalam eksplorasi antariksa, serta pentingnya pengawasan yang ketat dan standar keamanan yang tak tergoyahkan, bahkan ketika berkolaborasi dengan mitra komersial. Masa depan Starliner dipertanyakan, sementara NASA dituntut untuk menunjukkan bahwa mereka mampu belajar dari kesalahan masa lalu demi memastikan keselamatan para astronot dan keberlanjutan misi-misi penjelajahan luar angkasa yang ambisius.