BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kekecewaan mendalam menyelimuti tim Monster Energy Yamaha di Sirkuit Buriram, Thailand, menyusul hasil tes pramusim MotoGP 2026 yang menunjukkan jurang performa signifikan dibandingkan para rivalnya. Motor V4 terbaru Yamaha, yang digadang-gadang sebagai solusi untuk bangkit dari keterpurukan, justru masih berjuang keras untuk mengejar ketertinggalan. Data dari lintasan mencatat bahwa M1 V4 terbaru Yamaha masih tertinggal rata-rata 10 kilometer per jam dari motor tercepat di grid, yang saat ini dipegang oleh Ducati. Namun, masalahnya tidak berhenti pada kecepatan puncak semata. Sektor traksi menjadi sorotan utama yang menghambat potensi motor pabrikan Iwata tersebut, membuat mereka kesulitan bersaing bahkan dengan Honda dan Aprilia yang menunjukkan peningkatan signifikan.
Alex Rins, salah satu pebalap senior Monster Energy Yamaha, secara gamblang memaparkan akar masalah yang dihadapi timnya. "Kami kehilangan banyak tenaga mesin. Itu cukup jelas," ungkap Rins, mengutip pernyataan yang disiarkan oleh Crash. "Tapi juga dari sisi traksi. Dari sisi traksi, tampaknya, bukan hanya Ducati, tapi Honda, Aprilia, mereka mendapatkan traksi lebih baik dari kami dan mereka mendapatkan lebih banyak keuntungan: mereka lebih cepat keluar dari tikungan dan kemudian unggul di trek lurus." Pernyataan Rins ini menyoroti betapa krusialnya traksi bagi performa motor MotoGP modern. Kemampuan untuk keluar dari tikungan dengan cepat dan efisien sangat menentukan kecepatan di lintasan lurus berikutnya, sebuah area di mana Yamaha kini tertinggal jauh.
Lebih lanjut, Rins menambahkan bahwa meskipun motor V4 terbaru Yamaha memiliki keunggulan pada sektor pengereman, performanya menurun drastis saat memasuki tikungan. "Motor ini tidak begitu bagus saat berbelok," keluh rider asal Spanyol tersebut, yang pada hari pertama tes hanya mampu menempati posisi ke-19. Ketidakmampuan bermanuver dengan lincah di tikungan menjadi hambatan besar, mengingat sirkuit MotoGP umumnya memiliki banyak kombinasi tikungan yang menuntut kelincahan dan stabilitas motor. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Yamaha telah melakukan perubahan fundamental pada konfigurasi mesin menjadi V4, tantangan dalam pengembangan sasis dan aerodinamika untuk mendukung mesin baru ini masih sangat besar.
Keluhan Rins ini ternyata bukan sekadar pendapat pribadi, melainkan sebuah gambaran yang juga dirasakan oleh rekan setimnya, Fabio Quartararo. Sang juara dunia MotoGP 2021 ini bahkan menyampaikan kekhawatiran yang lebih serius, menyatakan bahwa Yamaha M1 V4 saat ini masih jauh dari kata siap untuk bersaing, bahkan dalam jangka waktu yang relatif singkat. "Dalam waktu satu minggu, bahkan dalam satu bulan, rasanya kami belum siap," ujar Quartararo, yang akrab disapa El Diablo. Pernyataannya ini menyiratkan bahwa progres yang dicapai dalam tes sejauh ini masih sangat minim, dan tim membutuhkan lebih banyak waktu serta terobosan signifikan untuk bisa mengejar ketertinggalan.
Quartararo melanjutkan dengan menjelaskan kompleksitas masalah yang dihadapi. "Mungkin pebalap Yamaha lainnya sedikit lebih baik. Tapi menurut saya, sejak saya menggunakan motor V4 ini, saya belum pernah mencetak dua hasil bagus berturut-turut dengan motor yang sama," ungkapnya. Pengakuan ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa bahkan dengan motor yang sama, para pebalap Yamaha belum menemukan setelan yang konsisten dan optimal. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kejelasan arah pengembangan motor dan kesulitan tim dalam menemukan setup yang dapat diandalkan secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Quartararo mengungkapkan perjuangannya dalam menemukan solusi. "Saya selalu mencoba hal baru. Dan meskipun banyak perubahan, kami belum bisa menemukan titik acuan dan melakukan perbaikan. Ini yang sedang kami coba temukan. Tapi setidaknya besok saya ingin tetap menggunakan motor yang sama, meskipun saya tidak menyukainya," tukas Quartararo, yang pada tes tersebut finis di posisi ke-18. Sikap Quartararo untuk tetap menggunakan motor yang sama, meskipun tidak menyukainya, menunjukkan determinasi untuk mendapatkan data yang konsisten demi menemukan titik acuan perbaikan. Namun, hal ini juga menggarisbawahi keputusasaan yang mungkin dirasakan ketika perubahan yang dilakukan belum memberikan hasil yang diharapkan.
Analisis mendalam terhadap pernyataan para pebalap Yamaha dan data tes di Buriram menunjukkan bahwa masalah utama tim berakar pada dua aspek krusial: kekuatan mesin dan traksi saat keluar tikungan. Penggunaan mesin V4 seharusnya memberikan keunggulan dalam hal tenaga puncak dan power delivery yang lebih baik dibandingkan mesin inline-four sebelumnya. Namun, kenyataannya, Yamaha masih tertinggal dari Ducati, yang dikenal memiliki salah satu mesin V4 terkuat di MotoGP. Ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas desain mesin V4 Yamaha, sistem manajemen mesin, atau bahkan strategi pengembangan yang diambil. Apakah Yamaha terlalu fokus pada aspek tertentu sehingga mengabaikan yang lain? Atau apakah ada kendala teknis yang lebih dalam yang belum teratasi?
Sektor traksi yang buruk menjadi masalah berulang bagi Yamaha selama bertahun-tahun, bahkan ketika mereka masih menggunakan mesin inline-four. Peralihan ke mesin V4 tampaknya belum sepenuhnya menyelesaikan masalah ini, dan bahkan mungkin memperburuknya jika tidak dikelola dengan baik. Traksi yang buruk tidak hanya mengurangi kecepatan keluar tikungan, tetapi juga meningkatkan keausan ban, yang merupakan faktor penting dalam balapan jarak jauh. Keterbatasan traksi ini juga memaksa para pebalap untuk mengurangi sudut menikung mereka, yang pada gilirannya memengaruhi kecepatan di sektor-sektor yang membutuhkan kelincahan.
Dampak dari masalah ini sangat nyata terhadap performa tim. Yamaha, yang pernah menjadi kekuatan dominan di MotoGP, kini berjuang untuk sekadar masuk dalam sepuluh besar. Tertinggal 10 km/jam dari motor tercepat mungkin terdengar kecil, namun dalam dunia MotoGP yang sangat kompetitif, perbedaan sekecil itu bisa berarti perbedaan posisi puluhan meter di garis finis. Ditambah lagi dengan masalah traksi, Yamaha menjadi mudah dilewati di trek lurus oleh rival-rivalnya, yang semakin memperburuk keadaan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi masa depan Yamaha di MotoGP. Sejak era dominasi Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo, Yamaha telah mengalami pasang surut, namun perubahan ke mesin V4 diharapkan menjadi titik balik positif. Jika motor V4 ini pun masih berjuang keras, maka tim harus melakukan evaluasi total terhadap strategi pengembangan mereka. Apakah mereka membutuhkan perubahan personel di departemen teknis? Apakah mereka perlu menjalin kerjasama yang lebih erat dengan pemasok komponen eksternal? Atau apakah mereka perlu meninjau kembali filosofi desain motor mereka secara keseluruhan?
Fabio Quartararo, sebagai pebalap bintang mereka, memiliki beban berat di pundaknya. Pengakuannya bahwa dia belum pernah mencetak dua hasil bagus berturut-turut dengan motor V4 ini menunjukkan kurangnya konsistensi yang dialami oleh Yamaha. Konsistensi adalah kunci untuk meraih gelar juara, dan tanpa itu, Yamaha akan terus tertinggal. Pernyataannya bahwa dia "selalu mencoba hal baru" namun "belum bisa menemukan titik acuan" juga mengindikasikan kesulitan dalam menemukan arah pengembangan yang tepat. Ini bisa menjadi indikasi bahwa tim sedang mencoba berbagai solusi secara sporadis tanpa memiliki rencana jangka panjang yang jelas dan terarah.
Bagi para penggemar Yamaha, situasi ini tentu mengecewakan. Merek yang memiliki sejarah panjang dan gemilang di dunia balap motor ini kini terlihat tertinggal jauh dari para pesaingnya. Ketergantungan pada solusi jangka pendek dan kesulitan dalam menemukan solusi permanen untuk masalah fundamental seperti traksi menjadi perhatian utama.
Penting untuk dicatat bahwa tes pramusim adalah bagian dari proses pengembangan. Masih ada waktu sebelum musim balap resmi dimulai, dan Yamaha tentu akan terus bekerja keras untuk mengatasi masalah-masalah ini. Namun, pengakuan dari para pebalapnya sendiri bahwa mereka "belum siap" dalam jangka waktu yang relatif pendek, mengindikasikan bahwa tantangan yang dihadapi Yamaha sangat besar. Pertanyaannya adalah, apakah mereka memiliki sumber daya, keahlian, dan kemauan untuk melakukan perubahan radikal yang diperlukan agar bisa kembali bersaing di level teratas MotoGP?
Dalam menghadapi kenyataan pahit ini, Yamaha perlu melakukan introspeksi mendalam. Mereka harus menganalisis data tes secara menyeluruh, mendengarkan masukan dari para pebalap dan insinyur mereka, dan yang terpenting, mengambil tindakan yang tegas dan terarah. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif dan strategis, Yamaha dapat berharap untuk mengatasi ketertinggalan 10 km/jam dan masalah traksi yang menghantui M1 V4 mereka, serta mengembalikan kejayaan mereka di kancah MotoGP. Kegagalan untuk melakukan hal tersebut bisa berarti perpanjangan periode sulit bagi tim yang pernah mendominasi balapan roda dua dunia.

