0

MotoGP Buka Peluang Balapan di Sirkuit Formula 1

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Gelombang potensi baru dalam kalender balap MotoGP semakin terbuka lebar, dengan adanya sinyal kuat untuk menggelar seri balapan di sirkuit yang selama ini identik dengan gemuruh Formula 1. Wacana ini mencuat bukan tanpa alasan, melainkan berakar dari kunjungan delegasi Dorna yang dipimpin oleh mantan safety officer FIM, Franco Uncini, ke Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan evaluasi mendalam mengenai kelayakan sirkuit kebanggaan Uni Emirat Arab itu sebagai calon tuan rumah balapan kelas premier roda dua. Sirkuit Yas Marina sendiri bukanlah nama baru di dunia balap internasional. Sejak pertama kali menggelar balapan Formula 1 pada tahun 2009, sirkuit ini telah mengukuhkan posisinya sebagai ikon grand prix senja, menjadi penutup musim F1 yang seringkali dramatis dan menentukan gelar juara dunia. Kini, pesona Yas Marina kembali dilirik, namun kali ini oleh kelas balap yang berbeda, yaitu MotoGP.

Franco Uncini mengungkapkan bahwa Yas Marina sebenarnya sudah pernah masuk dalam radar evaluasi MotoGP bertahun-tahun silam. Pada saat itu, tim inspeksi yang terdiri dari perwakilan Dorna dan para pembalap dari Komisi Keselamatan, termasuk dirinya dan Carmelo Ezpeleta, telah mengidentifikasi sejumlah solusi teknis yang dianggap dapat meningkatkan aspek keselamatan, terutama di area-area sirkuit yang memiliki lebar terbatas dan berpotensi menimbulkan risiko bagi motor MotoGP. Namun, di balik temuan solusi teknis tersebut, terdapat kendala struktural yang cukup signifikan, yaitu perbedaan pandangan antara dua badan otomotif dunia, FIA (Fédération Internationale de l’Automobile) dan FIM (Fédération Internationale de Motocyclisme). Perbedaan visi dan prioritas antara kedua federasi inilah yang pada akhirnya menjadi batu sandungan utama dalam merealisasikan rencana tersebut di masa lalu.

"Beberapa tahun lalu, kami mengunjungi Sirkuit Abu Dhabi karena Dorna ingin menggelar GP di sana," ujar Franco Uncini dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media otomotif terkemuka, GPOne. Pernyataannya ini mengkonfirmasi bahwa minat untuk membawa MotoGP ke Yas Marina bukanlah hal baru, melainkan sebuah aspirasi yang sudah lama terpendam. Uncini melanjutkan, "Selama inspeksi, yang dihadiri oleh Carmelo Ezpeleta, saya sendiri, dan empat pengendara dari Komisi Keselamatan, kami menemukan solusi yang memungkinkan. Dulu FIA berada di satu pihak dan FIM di pihak lain." Pengakuan ini menunjukkan adanya upaya rekonsiliasi dan kolaborasi yang telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil maksimal akibat perbedaan fundamental antara kedua badan pengatur.

Lebih lanjut, Uncini membeberkan tantangan yang dihadapi. "Saya bekerja keras untuk menyatukan kedua federasi, tetapi dunia otomotif belum siap untuk memberikan konsesi tertentu untuk sepeda motor," jelasnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pada saat itu, regulasi dan standar keselamatan yang diterapkan oleh FIA untuk Formula 1 belum sepenuhnya dapat diadaptasi atau tidak mempertimbangkan karakteristik unik balap motor. Motor MotoGP memiliki dinamika yang berbeda dengan mobil F1, terutama dalam hal titik pengereman, akselerasi, dan kemampuan manuver yang lebih lincah namun juga lebih rentan terhadap benturan dengan pembatas sirkuit. "Saat ini, lebih mudah untuk mengatur hal-hal tertentu karena Formula 1 dan MotoGP dimiliki oleh entitas yang sama," tambahnya, merujuk pada kepemilikan bersama antara Liberty Media yang menaungi Formula 1 dan Dorna Sports yang mengelola MotoGP. Perubahan struktur kepemilikan ini diharapkan dapat mempermudah proses negosiasi dan penyesuaian regulasi di masa depan.

Isu mengenai kemungkinan balapan MotoGP di sirkuit yang selama ini eksklusif untuk Formula 1 kembali menguat, terutama setelah CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta, sempat menyinggung adanya potensi penyelenggaraan balapan di sirkuit jalanan (street circuit) saat kunjungannya ke GP Las Vegas. Meskipun kini kepemilikan Formula 1 oleh Liberty Media memberikan sinyal positif untuk kolaborasi lintas disiplin, proses homologasi dan pemenuhan standar keselamatan yang ketat tetap menjadi prasyarat mutlak. Ezpeleta menegaskan bahwa meskipun ada keinginan, adaptasi sirkuit seperti Yas Marina tetap memerlukan pertimbangan matang.

"Tembok jadi masalah jika tidak ada area aliran air. Namun ini bisa dibuat jika tata letaknya memungkinkan. Dinding di jalan lurus bukanlah masalah. Akan spektakuler melihat MotoGP di lokasi seperti itu, tetapi Abu Dhabi membutuhkan area pengaman yang memadai," ujar Ezpeleta, merujuk pada aspek keselamatan yang paling krusial. Ia menggambarkan bahwa, meskipun sirkuit jalanan memiliki tantangan tersendiri, solusi teknis dapat ditemukan jika ada kemauan politik dan kolaborasi yang baik. Tantangan utama yang diangkat adalah keberadaan tembok pembatas yang terlalu dekat dengan lintasan, yang berpotensi membahayakan pembalap jika terjadi insiden. Area pengaman atau runoff area yang memadai menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko cedera parah.

Ezpeleta kemudian menjelaskan lebih lanjut mengenai kesulitan yang dihadapi di masa lalu. "Saat itu, FIA tidak mau mengadaptasinya, bahkan sebagian pun tidak. Kami tidak meminta untuk membangun gravel di mana-mana, mungkin sepertiga aspal dan dua pertiga gravel. Itu tidak mungkin saat itu, tetapi mengapa tidak sekarang?" ungkapnya. Pernyataan ini menyoroti sikap konservatif FIA di masa lalu yang enggan melakukan penyesuaian berarti untuk mengakomodasi kebutuhan MotoGP. Permintaan FIM pada saat itu pun terbilang moderat, hanya meminta sebagian kecil lintasan diubah menjadi area gravel untuk menambah faktor keselamatan, namun tetap ditolak. Namun, dengan adanya potensi kepemilikan bersama dan kemajuan teknologi, Ezpeleta optimis bahwa hambatan tersebut bisa diatasi.

MotoGP Buka Peluang Balapan di Sirkuit Formula 1

Perubahan lanskap kepemilikan dalam dunia balap motor dan mobil tampaknya menjadi katalisator utama bagi terbukanya peluang ini. Ketika dua entitas yang memiliki kepentingan besar dalam olahraga motor dan mobil berada di bawah naungan yang sama, proses negosiasi dan penyesuaian regulasi dapat berjalan lebih efisien. Liberty Media, sebagai pemilik Formula 1, juga memiliki kepentingan dalam pengembangan Dorna Sports untuk memaksimalkan potensi komersial dan hiburan dari MotoGP. Kolaborasi semacam ini membuka pintu bagi pembagian sumber daya, keahlian teknis, dan bahkan penggunaan infrastruktur sirkuit yang sudah ada.

Secara teknis, adaptasi sirkuit F1 untuk MotoGP memang memerlukan beberapa penyesuaian spesifik. Salah satu aspek yang paling krusial adalah radius tikungan. Sirkuit F1 umumnya dirancang dengan tikungan yang lebih lebar dan alur yang lebih mulus untuk mengakomodasi kecepatan tinggi mobil. Sementara itu, MotoGP seringkali membutuhkan tikungan yang lebih tajam dan cepat berganti arah, yang menuntut desain lintasan yang berbeda. Selain itu, seperti yang diungkapkan oleh Ezpeleta, keberadaan area runoff yang memadai sangat vital. Di sirkuit jalanan atau sirkuit yang sangat terkendala ruang, area runoff seringkali terbatas, digantikan oleh tembok atau pagar pembatas yang bisa sangat berbahaya bagi pembalap motor. Solusi seperti penambahan aspal atau area gravel di luar tikungan menjadi penting untuk memberikan ruang bagi pembalap yang kehilangan kendali.

Selain itu, lebar lintasan juga menjadi pertimbangan. Sirkuit F1 mungkin memiliki lebar yang cukup, namun detail seperti desain kerb (tepian lintasan) dan drainase juga perlu disesuaikan dengan karakteristik motor. Motor MotoGP memerlukan permukaan lintasan yang konsisten dan bebas dari hambatan yang tidak terduga. Keberadaan elemen-elemen sirkuit seperti trotoar atau pembatas yang terlalu agresif bisa menimbulkan risiko tergelincir atau terlemparnya motor.

Namun, di sisi lain, menggelar MotoGP di sirkuit F1 seperti Yas Marina juga menawarkan keuntungan yang signifikan. Sirkuit-sirkuit ini biasanya memiliki infrastruktur kelas dunia, termasuk paddock yang modern, fasilitas media yang lengkap, tribun penonton yang luas, dan sistem keamanan yang canggih. Selain itu, reputasi sirkuit tersebut sebagai tuan rumah ajang balap internasional dapat mendongkrak daya tarik komersial dan pariwisata bagi gelaran MotoGP. Terutama, sirkuit seperti Yas Marina yang memiliki lokasi strategis dan fasilitas pendukung yang mumpuni, dapat menarik perhatian penonton dari berbagai belahan dunia.

Potensi peningkatan nilai komersial adalah salah satu daya tarik utama bagi Dorna. Dengan masuknya sirkuit-sirkuit F1 yang prestisius ke dalam kalender MotoGP, akan terbuka peluang untuk kesepakatan sponsorship yang lebih besar, peningkatan penjualan tiket, dan eksposur global yang lebih luas. Ditambah lagi, kemudahan aksesibilitas dan fasilitas akomodasi di kota-kota yang menjadi tuan rumah sirkuit F1 juga akan memudahkan para penggemar untuk datang dan menyaksikan balapan secara langsung.

Perkembangan ini juga dapat membuka kesempatan bagi pembalap-pembalap muda untuk merasakan sensasi balapan di sirkuit-sirkuit legendaris yang selama ini hanya bisa mereka saksikan di televisi. Pengalaman bertanding di lintasan yang sama dengan para bintang F1 dapat menjadi motivasi tambahan dan tolok ukur bagi perkembangan karir mereka di dunia balap motor.

Jika hambatan teknis dan keselamatan yang ada saat ini dapat diatasi melalui kolaborasi yang lebih erat antara FIM, FIA, dan Dorna, bukan tidak mungkin di masa depan kita akan menyaksikan MotoGP mengaspal di Sirkuit Formula 1 seperti Yas Marina. Langkah ini tidak hanya akan memperkaya variasi sirkuit dalam kalender MotoGP, tetapi juga membuka babak baru dalam sejarah olahraga balap roda dua, menunjukkan bahwa batasan antara berbagai disiplin balap semakin kabur dan kolaborasi justru dapat menciptakan peluang-peluang baru yang inovatif dan spektakuler bagi para penggemar di seluruh dunia. Masa depan balap motor terlihat semakin cerah dengan potensi ekspansi ke arena-arena yang sebelumnya dianggap eksklusif.