BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Anrez Adelio secara terbuka mengakui bahwa bayi yang dilahirkan oleh Friceilda Prillea, yang akrab disapa Icel, adalah buah cintanya. Pengakuan ini muncul di tengah bergulirnya kasus dugaan kekerasan seksual yang dilaporkan oleh Icel. Anrez menyatakan sikapnya yang menghormati sepenuhnya keputusan Icel, termasuk haknya untuk belum mengizinkan Anrez bertemu dengan buah hati mereka. "Ya kalau itu kan hak dia ya, kalau dari pihak aku dan keluarga kan emang selalu dari awal. Makanya orang-orang bilangnya kayak, ‘Lo kenapa sih Res baru muncul sekarang?’ Gak ada yang baru muncul sekarang, komunikasi sudah dari lama. Aku juga muncul kan bukan aku yang nyamperin wartawan," ungkap Anrez Adelio saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, kemarin.
Pernyataan Anrez ini sekaligus membantah tudingan bahwa dirinya sengaja mencari perhatian dengan membuat klarifikasi di media. Ia juga dengan tegas menyangkal anggapan bahwa kemunculannya baru terjadi setelah Icel hamil besar dan mendekati masa persalinan. "Aku mah jalanin hidup kayak normal pada umumnya saja. Makanya kalau dibilang kayak, ‘Baru muncul sekarang pas sudah mau lahiran, pas sudah hamil gede. Selama ini ke mana saja?’ Itu kan berkat narasi yang menyesatkan yang dibangun di sana," jelasnya dengan nada tegas. Anrez merasa bahwa narasi yang beredar di publik telah dibangun sedemikian rupa untuk menciptakan kesan yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Ia merasa bahwa publik telah diberi informasi yang bias dan menyesatkan mengenai kronologi hubungannya dengan Icel serta kemunculannya dalam masalah ini.
Mengenai upaya untuk dapat bertemu dengan anaknya, Anrez Adelio memilih untuk menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang sedang berjalan. Ia percaya bahwa pihak kepolisian akan dapat menilai secara objektif mengenai kebenaran dari setiap tuduhan yang dilontarkan. "Nanti itu biar kita tunjukin semua sama pihak kepolisian ya, biar pihak kepolisian, pihak penyidik bisa menilai sebenarnya yang benar-benar terjadi itu gimana sih gitu," ujarnya, menekankan pentingnya proses hukum sebagai landasan utama penyelesaian masalah ini. Anrez berpendapat bahwa forum yang paling tepat untuk menyampaikan fakta dan bukti adalah di hadapan pihak berwenang, bukan melalui media massa atau platform publik lainnya.
Anrez menyayangkan sikap Icel yang dinilainya lebih memilih untuk membangun narasi melalui media, podcast, dan berbagai platform publik lainnya. Ia menganggap hal tersebut tidaklah penting dan justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman lebih lanjut di masyarakat. "Karena kan pihak sana kan selalu ini ya, selalu ke media, selalu ke podcast, selalu ke mana untuk bangun narasi. Itu kan menurut aku gak penting ya narasi-narasi kayak gitu. Yang penting itu bukan klarifikasi di media, di pihak kepolisiannya langsung biar polisi yang menilai sendiri," tegasnya. Baginya, klarifikasi yang disampaikan di depan publik seringkali bersifat subyektif dan belum tentu mencerminkan kebenaran yang utuh. Ia meyakini bahwa hanya melalui proses investigasi yang mendalam oleh pihak kepolisian, kebenaran yang sesungguhnya akan terungkap.
Lebih lanjut, Anrez Adelio mengaku sangat menantikan panggilan dari pihak kepolisian. Ia telah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjawab dan membantah tuduhan yang dilayangkan oleh pihak Icel. Kesiapannya ini menunjukkan bahwa ia tidak gentar menghadapi proses hukum dan justru ingin segera memberikan klarifikasi resminya di hadapan penyidik. "Aku sangat menunggu bahkan, aku sangat menunggu. Aku sudah siapin semuanya biar pihak kepolisian lihat dan menilai sendiri. Pastilah, barang buktilah bentuknya," ungkapnya dengan penuh keyakinan. Anrez bertekad untuk menunjukkan bukti-bukti yang kuat guna membuktikan kebenaran versinya.
Anrez menambahkan bahwa bukti-bukti yang telah ia kumpulkan tidak hanya terbatas pada satu atau dua item saja. Ia memiliki berbagai macam bukti yang sangat relevan untuk mendukung pernyataannya. "Aku sudah siapin semuanya biar pihak kepolisian lihat dan menilai sendiri. Pastilah, barang buktilah bentuknya," ucapnya. Ia merinci bahwa bukti-bukti tersebut mencakup rekaman suara, percakapan melalui pesan singkat (chat), hingga rekaman video. "Ya macam-macamlah, banyak. Ada rekaman suara, ada chat, ada video, ada semua," pungkasnya, menyiratkan bahwa ia memiliki arsip yang lengkap dan terorganisir untuk mendukung klaimnya. Pengumpulan bukti yang komprehensif ini menunjukkan keseriusan Anrez dalam menghadapi tuduhan tersebut dan keyakinannya bahwa bukti-bukti tersebut akan sangat membantu proses klarifikasi di kepolisian.
Dengan pengakuan ini, Anrez Adelio secara implisit mengakui adanya hubungan yang terjalin dengan Icel yang berujung pada kelahiran seorang anak. Namun, ia menekankan bahwa segala detail mengenai hubungan tersebut, termasuk narasi yang dibangun oleh Icel, akan dijelaskan secara rinci di hadapan pihak kepolisian. Pendekatan ini menunjukkan strategi Anrez untuk memisahkan urusan pribadi dan hukum dari sorotan publik yang terkadang bisa menyesatkan. Ia memilih jalur formal dan legal untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapinya, mempercayakan sepenuhnya kepada institusi penegak hukum untuk melakukan investigasi dan pengambilan keputusan. Sikap ini juga dapat diartikan sebagai upaya Anrez untuk menjaga reputasi dan menghindari spekulasi yang tidak berdasar di kalangan publik, sembari menunggu proses hukum berjalan dengan adil.
Pentingnya bukti-bukti yang telah dikumpulkan Anrez, seperti rekaman suara, chat, dan video, menjadi kunci dalam persidangan atau proses investigasi yang akan datang. Keberagaman jenis bukti ini menunjukkan bahwa Anrez telah melakukan persiapan yang matang untuk membuktikan argumennya. Ia tidak hanya mengandalkan kesaksian verbal, tetapi juga bukti-bukti konkret yang dapat diverifikasi secara objektif. Hal ini penting untuk mengklarifikasi kronologi kejadian, sifat hubungan, dan potensi adanya misrepresentasi fakta yang mungkin telah terjadi. Dengan demikian, Anrez berharap agar pihak kepolisian dapat melihat gambaran yang utuh dan akurat mengenai apa yang sebenarnya terjadi, tanpa dipengaruhi oleh narasi yang dibangun secara sepihak di media.
Lebih jauh, Anrez Adelio tampaknya ingin menegaskan bahwa ia tidak menghindari tanggung jawab, melainkan memilih cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Pernyataannya bahwa ia "sangat menunggu" panggilan polisi menunjukkan kesiapannya untuk menghadapi konsekuensi dari tindakannya, sekaligus memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menyampaikan klarifikasi dan membuktikan kebenarannya. Sikap ini mencerminkan kedewasaan dalam menghadapi masalah, dengan memilih dialog dan proses hukum yang transparan sebagai jalan keluar. Ia juga berharap bahwa dengan memberikan bukti-bukti yang kuat, dapat terjadi pemahaman yang lebih baik di antara semua pihak yang terlibat, termasuk publik.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan figur publik dan isu sensitif terkait kekerasan seksual serta pengakuan anak. Cara Anrez Adelio menangani masalah ini, yaitu dengan menunggu proses hukum dan menyiapkan bukti, menjadi poin penting yang patut dicermati. Ia memilih untuk tidak terpancing oleh opini publik atau narasi yang berkembang di media, melainkan fokus pada penyelesaian masalah melalui jalur yang legal dan terstruktur. Ini adalah pendekatan yang bijaksana, mengingat bahwa setiap pernyataan di ruang publik dapat memiliki konsekuensi hukum dan sosial. Dengan menunggu panggilan polisi, Anrez memberikan kesempatan kepada sistem peradilan untuk bekerja secara profesional dan independen dalam mengungkap kebenaran.
Harapan Anrez agar polisi dapat "menilai sendiri" menunjukkan keinginannya untuk keadilan yang objektif. Ia percaya bahwa dengan adanya bukti-bukti yang lengkap, penyidik akan mampu membuat penilaian yang adil dan berdasarkan fakta. Ini juga merupakan pesan kepada publik bahwa persidangan dan investigasi bukanlah panggung untuk drama, melainkan proses serius yang membutuhkan objektivitas dan bukti yang kuat. Dengan demikian, Anrez Adelio telah mengambil langkah strategis untuk mengendalikan narasi melalui proses hukum, bukan melalui pernyataan-pernyataan sporadis di media yang bisa disalahartikan.

