0

Marcus Gideon: Raymond/Joaquin Fantastis, Namun Sektor Ganda Putra Indonesia Perlu Evaluasi Mendalam Pasca All England 2026

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Marcus Fernaldi Gideon, legenda bulu tangkis Indonesia yang pernah mencicipi manisnya gelar juara All England sebanyak dua kali, akhirnya angkat bicara mengenai kiprah ganda putra Merah Putih di turnamen bulu tangkis tertua di dunia, All England 2026. Kekecewaan menyelubungi jagat bulu tangkis tanah air setelah Indonesia harus mengakhiri penantian gelar di Birmingham. Sektor ganda putra, yang selalu menjadi andalan dan harapan besar, hanya mampu menembus babak semifinal, sebuah pencapaian yang belum memenuhi ekspektasi tinggi yang selalu melekat pada nama besar Indonesia di kancah internasional.

Pasangan ganda putra muda, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, menjadi duta terbaik Indonesia di sektor ini. Perjuangan mereka terhenti di babak semifinal oleh pasangan Korea Selatan, Kim Won Ho dan Seo Seung Jae, dengan skor 19-21 dan 13-21. Kekalahan ini tidak hanya memutus langkah Raymond/Joaquin menuju final, tetapi juga mengakhiri tradisi panjang Indonesia yang hampir selalu berhasil menempatkan wakilnya di partai puncak All England selama lebih dari satu dekade terakhir. Sebuah rekor yang kini terputus, menyisakan pekerjaan rumah besar bagi dunia bulu tangkis Indonesia.

Marcus Gideon, yang bersama pasangannya Kevin Sanjaya Sukamuljo pernah menjuarai All England pada tahun 2017 dan 2018, memberikan apresiasi yang tulus terhadap penampilan Raymond/Joaquin. Ia mengakui bahwa pencapaian mereka yang mampu melaju hingga semifinal adalah sebuah prestasi yang luar biasa, terutama bagi pasangan yang masih tergolong baru di panggung sebesar All England. "Kalau pencapaian Raymond/Joaquin menurut saya sudah luar biasa ya bisa sampai semifinal," ujar Marcus saat ditemui di Gideon Badminton Hall, seperti dikutip pada Selasa (10/3/2026). Namun, ia segera menambahkan catatan penting yang mencerminkan realitas dan target yang sesungguhnya diemban oleh sektor ganda putra Indonesia. "Tapi targetnya mungkin bukan di situ, targetnya pasti ke Fajar/Fikri atau ke Leo/Bagas mungkin ya," imbuhnya, menyiratkan bahwa ekspektasi publik dan PBSI lebih tertuju pada pasangan-pasangan yang sudah lebih mapan dan berpengalaman di level elite.

Pernyataan Marcus ini menyoroti jurang pemisah antara pencapaian individu dan target kolektif sektor. "Jadi, kalau dibilang pencapaian Raymond/Joaquin ya sangat baik tapi kalau buat pencapaian ganda putra ya agak kurang, kalau cuma sampai itu. Biasanya kan kita selalu minimum ada final lah," tegas Marcus, menggambarkan standar tinggi yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Ia merasakan ada sesuatu yang perlu dikaji lebih dalam ketika Indonesia, yang notabene memiliki tradisi kuat di ganda putra, gagal menembus final turnamen bergengsi ini.

Ketika ditanya mengenai akar permasalahan yang menyebabkan ganda putra Indonesia belum mampu kembali mengukir prestasi di final All England, Marcus mengaku tidak memiliki jawaban pasti. Ia menyatakan bahwa dari sisi latihan, ia melihat program yang dijalankan di Pelatnas PBSI sudah cukup memadai, bahkan terstruktur dengan baik melalui adanya tingkatan Pelatnas A, B, dan AB. "Nah, ini kurang tahu kenapa problemnya? Soalnya latihannya sudah bagus dan menurut saya, programnya di sana (Pelatnas PBSI) juga sudah lumayan, ada Pelatnas A, B, terus yang utama juga ada AB-nya jadi kalau juara katanya baru dapat (reward) next turnamen-nya," paparnya.

Marcus kemudian membandingkan dengan era keemasannya, di mana sistem keberangkatan turnamen terasa berbeda dan memiliki dampaknya tersendiri. "Kalau zaman saya mau kalah atau enggak, berangkat terus. Itu ada plus minus juga, tapi anaknya jadi lebih terpacu juga," kenangnya. Ia menyadari bahwa dinamika persaingan di ganda putra saat ini sangatlah ketat, terutama dengan munculnya pasangan-pasangan kuat seperti Kim Won Ho/Seo Seung Jae yang ia sebut sebagai lawan yang sangat sulit dihadapi. "Tapi di ganda Kim/Seo memang lagi susah banget ya," akunya.

Marcus Gideon soal Hasil All England: Raymond/Joaquin Luar Biasa, tapi...

Perlu diingat kembali, Indonesia pernah mengalami masa dominasi ganda putra yang luar biasa, terutama melalui pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang akrab disapa Minions. Dari tahun 2017 hingga 2022, Minions tak tergoyahkan di puncak peringkat dunia, bahkan berhasil meraih gelar All England secara beruntun pada 2017 dan 2018. Dominasi mereka baru berakhir ketika pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, mengambil alih tahta. Namun, Marcus tetap optimis bahwa ganda putra Indonesia masih memiliki potensi untuk bangkit dan mengalahkan pasangan-pasangan tangguh seperti Kim/Seo di masa mendatang.

"Kalau menurut saya memang harus bisa main lama soalnya kan dia (Kim/Seo) defense-nya bagus, sementara bola (di All England) katanya agak berat, jadi harus bisa tahan lama dan enggak buru-buru," terang Marcus, memberikan analisis taktis mengenai cara mengalahkan pasangan Korea Selatan tersebut. Ia menekankan pentingnya kesabaran dan strategi yang matang, bukan sekadar mengandalkan kekuatan pukulan. "Smes sekencang saja enggak tembus langsung, apalagi yang powernya enggak sampai situ, berarti kan mainnya harus gimana, dipikir juga. Enggak semua dihajar kencang langsung mati, tapi seharusnya ada jalan keluarnya," jelasnya.

Marcus Gideon juga melihat adanya potensi dalam pasangan ganda putra Indonesia lainnya yang dapat menyulitkan lawan-lawan kuat seperti Kim/Seo. Ia mencontohkan keunggulan servis dari Leo Rolly Carnando. "Soalnya kan kayak Leo kan servisnya bagus, seharusnya bisa ngambil dari 1, 2, 3-nya di situ," kata Marcus, yang akrab disapa Sinyo ini. Namun, ia kembali mengingatkan bahwa kemenangan tidak hanya bergantung pada satu elemen saja. "Tapi kalau enggak mati dari situ harus bisa tahan lama juga nggak boleh mati. Harus cepat matiin ya dari pukulan ke-3 itu. Tapi kalau main kita tetap harus ada banyak plan. Jika plan 1 enggak work out ya kita biar ganti-ganti plan B. Sebab, enggak semua yang kita ekspektasi langsung mati, realitasnya belum tentu sama," tandasnya, menekankan pentingnya fleksibilitas strategi dan kemampuan adaptasi di lapangan.

Penilaian Marcus Gideon ini menjadi sebuah refleksi penting bagi seluruh pemangku kepentingan di dunia bulu tangkis Indonesia. Ia tidak hanya memberikan pujian atas usaha keras Raymond/Joaquin, tetapi juga secara konstruktif membuka ruang untuk evaluasi mendalam mengenai strategi pembinaan, program latihan, serta mentalitas juara yang perlu terus ditanamkan kepada para atlet ganda putra Indonesia. Kegagalan menembus final All England 2026, meskipun menyakitkan, harus dijadikan momentum untuk bangkit, belajar, dan kembali mengukir kejayaan di masa depan. Perjalanan masih panjang, dan generasi penerus harus mampu belajar dari pengalaman pahit ini demi mengembalikan kejayaan ganda putra Indonesia di kancah dunia.

Analisis Marcus Gideon juga menyoroti pentingnya pemahaman mendalam terhadap karakteristik lawan. Pasangan seperti Kim/Seo memiliki pertahanan yang solid dan mampu bermain dalam reli panjang, ditambah dengan kondisi bola All England yang dilaporkan sedikit lebih berat, menuntut stamina dan kesabaran ekstra dari para pemain Indonesia. Marcus menyarankan agar pemain tidak terburu-buru dalam menyerang, melainkan mencari celah dengan sabar dan memanfaatkan setiap kesempatan. Ia juga menekankan bahwa kekuatan pukulan semata tidak selalu menjadi solusi, melainkan bagaimana cara menyusun serangan yang efektif dan cerdas.

Lebih lanjut, Marcus melihat adanya potensi pada pasangan lain seperti Leo Rolly Carnando, yang memiliki keunggulan dalam servis. Keunggulan ini bisa menjadi modal awal untuk memenangkan poin krusial di awal reli. Namun, ia mengingatkan bahwa kemenangan tidak hanya bergantung pada satu atau dua keunggulan saja. Jika serangan awal tidak berhasil mematikan lawan, pemain harus mampu bertahan dalam reli panjang dan mencari cara untuk mengakhiri poin di pukulan ketiga, sebagaimana yang menjadi prinsip dalam permainan ganda putra modern. Fleksibilitas strategi, atau memiliki "plan B" ketika "plan A" tidak berjalan sesuai harapan, adalah kunci untuk menghadapi lawan-lawan tangguh. Realitas di lapangan seringkali berbeda dengan ekspektasi, sehingga kemampuan adaptasi menjadi sangat vital.

Pesan Marcus Gideon ini menegaskan bahwa meskipun pencapaian Raymond/Joaquin patut diapresiasi, fokus utama harus tetap pada peningkatan performa sektor ganda putra secara keseluruhan. Tradisi emas Indonesia di All England harus terus dijaga, dan untuk itu, diperlukan evaluasi yang komprehensif, strategi yang lebih matang, dan mentalitas juara yang terus diasah. Tantangan di depan memang berat, namun dengan kerja keras, dedikasi, dan pemahaman yang mendalam tentang permainan, ganda putra Indonesia optimis dapat kembali ke puncak kejayaan. (mcy/krs)