BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes, kini tengah menjadi sorotan tajam di dunia sepak bola Belanda setelah melontarkan kritik pedas terhadap klubnya, Ajax Amsterdam. Pernyataan ini dilontarkan Paes tak lama setelah Ajax menelan kekalahan telak 1-3 dari FC Groningen pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kekalahan ini semakin memperpanjang catatan buruk Ajax di bawah kepemimpinan pelatih Fred Grim, yang belum mampu meraih kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir. Paes, yang baru saja bergabung dengan raksasa Amsterdam tersebut, secara terang-terangan menyatakan bahwa timnya tidak menunjukkan performa sebagai sebuah kesatuan yang solid. Ia menilai bahwa kepemimpinan di dalam skuad Ajax masih sangat minim, yang pada akhirnya berujung pada performa yang tidak memuaskan.
“Setelah kekalahan 2-1, kami tidak menunjukkan bahwa kami adalah sebuah tim. Itu menyakitkan,” ujar Maarten Paes usai pertandingan, seperti yang dilansir dari Voetbal Primeur, pada Selasa, 10 Maret 2026. Lebih lanjut, Paes menambahkan, “Saya melihat diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya bukan tipe orang yang suka menunjuk jari; saya sudah dewasa, jadi saya bertanggung jawab, tetapi saya pikir Anda juga melihat bahwa kami saling mengecewakan pada akhirnya.” Pernyataan ini menunjukkan adanya kesadaran diri dari Paes, namun ia juga tidak ragu untuk menyoroti kelemahan kolektif tim.
Namun, kritikan yang dilontarkan oleh kiper berusia 27 tahun itu rupanya tidak diterima dengan baik oleh beberapa figur penting dalam sepak bola Belanda. Salah satunya adalah legenda Ajax Amsterdam dan mantan pemain tim nasional Belanda, Rafael van der Vaart. Van der Vaart secara tegas menyemprot balik Maarten Paes, menilai bahwa kritikan tersebut tidak pantas dilayangkan oleh seorang pemain yang baru saja bergabung dengan klub. Van der Vaart bahkan melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyarankan agar Paes dikembalikan ke klub lamanya, FC Dallas, di Amerika Serikat.
“Saya akan langsung mengirim kiper itu kembali ke, dari mana asalnya, Amerika?” kata Van der Vaart dengan nada geram, seperti yang dilansir dari Ziggo Sport. Mantan gelandang yang pernah berseragam Real Madrid dan Tottenham Hotspur ini melanjutkan, “Dia baru bergabung dengan tim dan harus membuktikan segalanya. Lalu dia akan mengatakan mereka bukan tim, yang menurutku sangat mudah. Dia menghentikan bola, berlari keluar dari area penalti, dan memaki semua orang. Aku sama sekali tidak bisa memahami itu.” Ucapan Van der Vaart ini menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap sikap Paes, yang dianggapnya tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengkritik tim yang baru saja dibelanya. Ia berpendapat bahwa Paes seharusnya lebih fokus pada adaptasi dan pembuktian diri, alih-alih melontarkan kritik yang dapat menimbulkan perpecahan di dalam tim.
Tidak hanya Rafael van der Vaart, analis sepak bola yang juga memiliki rekam jejak sebagai pelatih di Ajax, Henk ten Cate, turut memberikan komentarnya terkait kritikan Maarten Paes. Ten Cate sependapat dengan Van der Vaart, menilai bahwa kritik yang dilontarkan oleh Paes terlalu berlebihan dan terburu-buru, mengingat statusnya sebagai pemain baru di klub. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan pendapat, terutama dalam situasi yang sedang sulit bagi tim dan pelatih.
“Beberapa hal tidak bisa dikatakan begitu cepat setelah pertandingan,” ujar Henk ten Cate, menyiratkan bahwa Paes seharusnya menunggu waktu yang lebih tepat untuk menyampaikan evaluasinya. Ia menambahkan, “Terutama tidak ketika pelatih sedang berada di bawah tekanan, ketika keadaan tidak berjalan baik, dan Anda masih baru. Itu tidak mungkin.” Pernyataan Ten Cate ini menyoroti sensitivitas situasi di Ajax saat ini, di mana pelatih Fred Grim sedang menghadapi tekanan besar akibat rentetan hasil negatif. Kehadiran pemain baru yang langsung mengkritik secara terbuka dikhawatirkan dapat memperkeruh suasana dan menambah beban bagi staf kepelatihan.
Maarten Paes sendiri bergabung dengan Ajax Amsterdam pada tanggal 2 Februari 2026, setelah didatangkan dari FC Dallas. Pemain yang berposisi sebagai penjaga gawang ini dikontrak oleh De Godenzonen selama 3,5 tahun. Sejak debutnya bersama Ajax, tim tersebut belum pernah merasakan kemenangan dalam tiga pertandingan yang telah dilakoni, yang semakin mempertegas performa buruk yang sedang dialami oleh klub bersejarah ini. Kekalahan dari FC Groningen menjadi salah satu momen paling memukul bagi Ajax musim ini, dan pernyataan Paes yang kemudian memicu reaksi keras dari legenda klub, menunjukkan adanya perpecahan pandangan mengenai cara terbaik untuk mengatasi krisis yang sedang melanda tim.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah kritikan Maarten Paes ini merupakan bentuk kepeduliannya terhadap nasib tim, atau justru menjadi bumerang yang akan memperburuk situasi internal Ajax? Respons keras dari Rafael van der Vaart dan Henk ten Cate menunjukkan bahwa banyak pihak yang merasa Paes telah melangkahi batas kewenangannya sebagai pemain baru. Di sisi lain, Ajax Amsterdam sendiri sedang membutuhkan perubahan dan evaluasi mendalam untuk mengembalikan performa terbaiknya. Namun, cara penyampaian kritik yang dipilih oleh Paes tampaknya menjadi poin utama yang dipermasalahkan oleh para legenda dan pengamat sepak bola Belanda.
Situasi ini tentu menjadi ujian berat bagi Maarten Paes dalam adaptasinya di Eropa. Ia harus belajar menavigasi dinamika internal klub sebesar Ajax, yang memiliki sejarah panjang dan ekspektasi tinggi dari para pendukungnya. Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan membangun kepercayaan dengan rekan setim serta staf pelatih akan menjadi kunci baginya untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi tim. Kritik yang dilontarkan Paes, meskipun mungkin berawal dari niat baik, justru berpotensi menciptakan hambatan baru jika tidak ditangani dengan bijak.
Perdebatan antara Maarten Paes dan Rafael van der Vaart ini mencerminkan betapa panasnya atmosfer sepak bola Belanda, terutama ketika tim sebesar Ajax sedang terpuruk. Kebutuhan akan performa yang solid dan mentalitas juara menjadi tuntutan utama, dan setiap pernyataan, sekecil apapun, dapat memicu reaksi yang luas. Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga bagi pemain baru di klub manapun, tentang pentingnya memahami budaya klub, menghormati senioritas, dan memilih waktu serta cara yang tepat dalam menyampaikan evaluasi atau kritik demi kebaikan bersama.
Masa depan Maarten Paes di Ajax Amsterdam kini patut untuk terus dipantau. Apakah ia akan mampu membuktikan diri dan membalikkan pandangan negatif dari para legenda, atau justru kritiknya ini akan menjadi awal dari periode yang lebih sulit baginya di Belanda? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti, Ajax Amsterdam sedang berada dalam persimpangan jalan, dan setiap langkah yang diambil, baik oleh pemain maupun manajemen, akan sangat menentukan nasib mereka di sisa musim kompetisi ini. Perdebatan ini menjadi bukti bahwa di balik layar performa tim, terdapat berbagai dinamika dan pandangan yang saling bertentangan, yang semuanya berusaha mencari solusi terbaik untuk mengembalikan kejayaan klub.

