BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kepergian Lula Lahfah, seorang selebgram berusia 26 tahun, pada 23 Januari 2026 lalu, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan sahabat. Ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Lula meninggalkan jejak kenangan yang kuat sebagai pribadi yang penuh perhatian, terutama terhadap keluarganya. Penemuan jenazahnya yang mendadak mengejutkan banyak pihak, terlebih lagi ia diketahui mengidap penyakit kompleks, yang paling dominan adalah GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Kezia, salah satu sepupu Lula, dalam keterangannya kepada awak media di kawasan Buaran, Jakarta Timur, pada Sabtu, 31 Januari 2026, menceritakan lebih dalam mengenai kondisi kesehatan Lula. "Dia (Lula) memang sakit sih, sakitnya kompleks kan. Kak Lula sakitnya sudah lama. Dia itu sudah punya GERD sudah lama. Sakit di perutnya kompleks itu sudah lama, nggak tahu deh aku dari tahun berapa, setahuku sih sudah lama," ungkap Kezia dengan nada pilu. Meskipun tidak bisa memastikan kapan persisnya Lula mulai mengidap penyakit tersebut, Kezia menegaskan bahwa GERD telah menjadi bagian dari perjuangan kesehatan Lula dalam jangka waktu yang cukup panjang. Penyakit GERD, yang ditandai dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan, dapat menimbulkan berbagai gejala seperti nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada, kesulitan menelan, hingga gangguan pernapasan. Kompleksitas penyakit Lula yang disebut Kezia mungkin mengindikasikan adanya komorbiditas lain yang memperberat kondisinya, meskipun detail pastinya tidak diungkapkan.
Namun, di tengah perjuangan melawan penyakitnya, sosok Lula Lahfah justru semakin bersinar dalam ingatan orang-orang terdekatnya sebagai pribadi yang luar biasa. Kezia tak henti-hentinya memuji Lula sebagai sosok yang baik hati dan sangat peduli. Perhatian Lula terhadap keluarganya menjadi poin yang paling sering diangkat. "Misalnya dia ke luar negeri, dia itu selalu nge-chat, kayak, ‘Mau titip apa?’. Pokoknya dia nggak pernah lupa deh sama keluarganya, selalu ingat, terus orangnya down to earth banget," tutur Kezia dengan mata berkaca-kaca. Ungkapan ini menggambarkan betapa Lula, meskipun memiliki popularitas sebagai selebgram, tetap membumi dan mengutamakan hubungan dengan orang-orang terkasih. Tindakan kecil seperti menanyakan keinginan keluarga saat bepergian ke luar negeri menunjukkan betapa besar porsi keluarga dalam benak Lula. Hal ini kontras dengan citra sebagian figur publik yang terkadang terkesan jauh dari keluarga karena kesibukan atau gaya hidup. Lula justru menjadi contoh nyata bagaimana kesuksesan tidak mengubah jati dirinya sebagai individu yang berbakti dan menyayangi keluarganya.
Kepergian Lula Lahfah sendiri diumumkan secara resmi oleh pihak kepolisian. Berdasarkan hasil penyelidikan yang komprehensif, Polres Jakarta Selatan melalui konferensi pers yang disampaikan oleh Iskandarsyah pada Jumat, 30 Januari 2026, menyatakan bahwa Lula Lahfah meninggal dunia karena kehabisan napas. Kepolisian menegaskan bahwa tidak ditemukan adanya indikasi kekerasan maupun tindak pidana dalam kasus ini. "Berdasarkan rangkaian penyelidikan yang kami lakukan, tidak ditemukan peristiwa pidana. Saudari LL meninggal dunia karena kehabisan napas dan tidak terdapat tanda-tanda penganiayaan atau kekerasan," ujar Iskandarsyah dengan tegas.
Kesimpulan ini didapatkan setelah tim penyidik melakukan serangkaian tindakan investigasi yang mendalam. Hal ini meliputi pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, baik dari kalangan kerabat, sahabat, maupun pihak-pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan Lula. Selain itu, pengumpulan barang bukti yang relevan di tempat kejadian perkara (TKP) juga menjadi bagian krusial dari proses penyelidikan. Olah TKP yang dilakukan oleh tim identifikasi memberikan gambaran detail mengenai kondisi terakhir Lula di apartemennya. Lebih lanjut, polisi juga telah menelaah dan menganalisis keterangan dari tenaga medis yang sempat menangani atau memberikan perawatan kepada Lula Lahfah, baik sebelum maupun pada saat kejadian. Keterangan medis ini sangat penting untuk memahami kondisi kesehatan Lula dan kemungkinan penyebab kematiannya dari sudut pandang medis.
Meskipun penyebab kematiannya adalah kehabisan napas, latar belakang penyakit GERD yang diderita Lula menjadi salah satu faktor yang mungkin berkontribusi. GERD yang parah dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk gangguan pernapasan. Asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat mengiritasi saluran napas, menyebabkan batuk kronis, sesak napas, atau bahkan serangan asma. Dalam kasus yang lebih ekstrem, iritasi kronis dapat menyebabkan peradangan yang lebih luas atau komplikasi lain yang memengaruhi sistem pernapasan. Meskipun demikian, pihak kepolisian tidak merinci lebih lanjut apakah GERD secara langsung menjadi penyebab langsung dari kehabisan napas yang dialami Lula, namun hal ini menjadi salah satu konteks penting yang perlu dipahami.
Kematian Lula Lahfah menjadi pengingat bagi banyak orang, terutama para kaum muda yang seringkali mengabaikan kesehatan diri di tengah kesibukan dan tuntutan gaya hidup modern. Fenomena penyakit degeneratif yang menyerang usia muda semakin marak terjadi, dan GERD adalah salah satunya. Penting bagi setiap individu untuk lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan, melakukan pemeriksaan rutin, dan mengadopsi gaya hidup yang sehat, termasuk pola makan yang teratur dan pengelolaan stres yang baik. Kesibukan sebagai selebgram, meskipun memberikan popularitas dan penghasilan, tentu menuntut energi dan waktu yang besar. Namun, kesehatan harus tetap menjadi prioritas utama.
Sosok Lula Lahfah, dengan segala kebaikan dan perhatiannya terhadap keluarga, akan terus dikenang. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa kesuksesan duniawi tidak lantas membuat seseorang melupakan akar dan nilai-nilai kekeluargaan. Ia adalah bukti bahwa seseorang bisa menjadi populer dan dicintai banyak orang, namun tetap memiliki hati yang tulus dan perhatian yang besar bagi orang-orang terdekatnya. Kepergiannya yang mendadak, meski tanpa tanda kekerasan, tetap meninggalkan luka yang mendalam. Namun, warisan kebaikan dan kasih sayangnya kepada keluarga akan terus hidup dalam ingatan mereka yang mengenalnya.
Penelusuran lebih lanjut mengenai riwayat kesehatan Lula, jika ada, mungkin akan memberikan gambaran yang lebih utuh. Namun, dari kesaksian sepupunya, Kezia, jelas terlihat bahwa Lula adalah sosok yang memiliki beban kesehatan yang cukup berat, namun tetap mampu menjalani hidupnya dengan penuh kasih dan perhatian kepada keluarga. Hal ini patut diapresiasi dan dijadikan pelajaran berharga bagi kita semua. Di era digital yang serba cepat ini, penting untuk tidak terjebak dalam kesibukan semata, melainkan juga meluangkan waktu untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, serta yang terpenting, merawat hubungan baik dengan keluarga. Lula Lahfah, meski kini telah tiada, telah meninggalkan jejak yang tak terlupakan sebagai sosok yang tidak pernah lupa akan keluarganya, sebuah warisan moral yang sangat berharga.

