0

Lintasi 12 Negara, Ini Dokumen yang Harus Dibawa saat Umroh Naik Motor

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan Daeng Anhsar melintasi 12 negara dengan sepeda motor dari Lumajang menuju Makkah, Arab Saudi, bukan sekadar ujian fisik dan mental semata, melainkan sebuah petualangan yang menuntut persiapan administrasi yang matang. Pengalaman luar biasa ini membuka wawasan tentang dokumen-dokumen krusial yang wajib disiapkan bagi para petualang roda dua yang berencana menunaikan ibadah umroh dengan cara yang tak lazim ini. Daeng Anshar, sang pelopor, dengan ramah membagikan kiat-kiat berharga, dimulai dari pengurusan dokumen pribadi hingga kelengkapan kendaraan.

Hal mendasar yang pertama dan utama adalah kepemilikan paspor yang masih berlaku. Pengurusan paspor dilakukan di kantor imigrasi setempat. Dokumen ini menjadi gerbang awal untuk melintasi batas negara. Namun, bagi seorang penjelajah roda dua, paspor saja tidak cukup. Kebutuhan akan Surat Izin Mengemudi (SIM) Internasional menjadi sangat vital. SIM Internasional ini, yang diterbitkan oleh Korlantas (Kepala Kepolisian Republik Indonesia), adalah prasyarat mutlak untuk mengajukan dokumen penting lainnya, yaitu Carnet de Passages en Douane. Tanpa SIM Internasional, langkah selanjutnya untuk mendapatkan Carnet akan terhambat. Daeng Anshar menekankan, "Pertama kita harus punya SIM internasional dulu lah. Karena dari SIM internasional ini salah satu persyaratan kalau kita buat karnet."

Carnet de Passages en Douane, yang dijuluki Daeng Anshar sebagai "paspor kendaraan," adalah dokumen yang sangat penting. Dokumen ini berfungsi sebagai izin lintas batas untuk kendaraan bermotor, memastikan bahwa kendaraan Anda diakui dan diizinkan untuk masuk serta keluar dari setiap negara yang dilalui. Penerbitan Carnet ini biasanya dilakukan oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI). "Carnet ini kayak semacam paspornya kendaraan lah. Dan itu wajib kita punya. Kalau tanpa ini ya kita enggak bisa lintas negara," tegas Daeng Anshar. Proses pengurusan Carnet ini umumnya memakan waktu sekitar satu hingga dua minggu, sehingga penting untuk mengurusnya jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Perjalanan melintasi belasan negara secara otomatis mengharuskan seseorang untuk berurusan dengan kebijakan visa yang berbeda-beda di setiap negara. Strategi cerdas yang diterapkan oleh Daeng Anshar adalah tidak mengurus semua visa di tanah air. Ia menerapkan metode "estafet" dalam pengurusan visa, yang berarti ia mengurus visa negara berikutnya saat masih berada di negara sebelumnya. Namun, ada satu pengecualian penting: Visa China. "Visa itu kalau perjalanan yang kemarin yang wajib kita urus dari Indonesia itu visa China dulu," jelas Daeng. Keputusan ini didasarkan pada kedekatan geografis dan durasi izin masuk. "China ini yang paling dekatlah yang sekiranya 90 hari kita sudah masuk Cina kan. Jadi saya urusnya dari Indonesia, selebihnya ya kita urus di negara sebelumnya," tambahnya.

Rute yang ditempuh Daeng Anshar adalah bukti nyata betapa kompleksnya persiapan administrasi. Ia melintasi 12 negara yang meliputi Malaysia, Thailand, Laos, China, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, Iran, Uni Emirat Arab (UAE), Oman, dan puncaknya di Arab Saudi. Dalam perjalanannya, ia menemukan bahwa banyak negara di Asia Tenggara yang menerapkan kebijakan bebas visa bagi warga negara Indonesia. "Asia Tenggara tadi kan free visa tuh," ujarnya. Begitu pula dengan beberapa negara di Asia Tengah, seperti Kazakhstan dan Uzbekistan, yang juga menawarkan kemudahan bebas visa atau proses pengurusan visa yang relatif sederhana.

Iran, misalnya, memberikan bebas visa selama 14 hari. "Iran free visa 14 hari. 14 hari. Iya," konfirmasi Daeng. Untuk negara-negara seperti Afghanistan dan Uni Emirat Arab, proses pengurusan visa juga dilaporkan tidak terlalu rumit. "Afghanistan tadi sama Uni Emirat, Arab (Saudi). itu pun gampang (mengurus) visanya," ungkapnya. Fleksibilitas dalam mengurus visa inilah yang memungkinkan kelancaran perjalanannya, menghindari penumpukan dokumen dan potensi kendala di awal perjalanan.

Selain dokumen pribadi dan kendaraan, ada beberapa pertimbangan lain yang patut diperhatikan oleh calon jemaah umroh yang ingin menempuh jalur darat. Asuransi perjalanan yang mencakup perlindungan untuk kecelakaan, sakit, dan kehilangan barang menjadi sangat penting, mengingat risiko yang mungkin dihadapi selama perjalanan panjang. Kesiapan mental dan fisik juga merupakan aset tak ternilai. Latihan fisik secara rutin, pemahaman tentang kondisi geografis dan iklim di negara-negara yang akan dilalui, serta kesiapan menghadapi perbedaan budaya dan bahasa, semuanya berkontribusi pada keberhasilan misi ini.

Dalam konteks ibadah umroh, persiapan spiritual juga tidak boleh dilupakan. Memperdalam pemahaman tentang tata cara umroh, doa-doa yang relevan, serta niat yang tulus untuk beribadah akan memperkaya pengalaman spiritual selama perjalanan. Membawa perlengkapan ibadah yang memadai, seperti mukena, sajadah, dan kitab suci, juga akan sangat membantu.

Lebih jauh lagi, bagi mereka yang merencanakan perjalanan serupa, riset mendalam tentang rute, kondisi jalan, dan peraturan lalu lintas di setiap negara menjadi suatu keharusan. Informasi terkini mengenai kondisi keamanan di wilayah-wilayah yang berpotensi rawan juga perlu dicari. Komunikasi yang baik dengan otoritas setempat dan penggunaan aplikasi navigasi yang andal akan sangat membantu.

Penting untuk dicatat bahwa perjalanan umroh naik motor lintas negara seperti yang dilakukan Daeng Anshar adalah sebuah ekspedisi yang membutuhkan tingkat persiapan, kemandirian, dan keberanian yang tinggi. Ini bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan sebuah bentuk penjelajahan spiritual yang penuh tantangan. Dokumen-dokumen yang disebutkan di atas adalah fondasi administrasi yang memungkinkan petualangan ini terwujud. Namun, di balik setiap dokumen, tersembunyi cerita tentang dedikasi, ketekunan, dan keimanan yang kuat.

Secara rinci, berikut adalah daftar dokumen penting yang harus disiapkan:

  1. Paspor: Dokumen identitas pribadi yang wajib dimiliki dan masih berlaku. Pengurusannya dilakukan di kantor imigrasi. Pastikan masa berlaku paspor minimal enam bulan dari tanggal keberangkatan.

  2. SIM Internasional: Diperlukan untuk mengesahkan kemampuan mengemudi di luar negeri dan sebagai syarat pengajuan Carnet. Diterbitkan oleh Korlantas Polri.

  3. Carnet de Passages en Douane (Carnet): "Paspor kendaraan" yang berfungsi sebagai izin lintas batas untuk sepeda motor. Diterbitkan oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI). Dokumen ini sangat krusial untuk menghindari kerumitan birokrasi bea cukai di setiap perbatasan.

  4. Visa: Sesuai dengan kebijakan negara tujuan. Strategi pengurusan visa secara estafet sangat direkomendasikan. Visa China menjadi prioritas untuk diurus dari Indonesia. Untuk negara-negara lain, visa dapat diurus di negara transit sebelum memasuki negara tujuan.

  5. Asuransi Perjalanan: Sangat disarankan untuk memiliki asuransi yang komprehensif, mencakup kesehatan, kecelakaan, dan kehilangan barang.

  6. Surat Keterangan Sehat (jika diperlukan): Beberapa negara mungkin mensyaratkan surat keterangan sehat dari dokter, terutama terkait dengan persyaratan kesehatan tertentu.

  7. Fotokopi Dokumen Penting: Selalu simpan fotokopi dari semua dokumen penting Anda di tempat terpisah dari dokumen aslinya. Ini berguna jika dokumen asli hilang atau tertahan.

  8. Dokumen Kendaraan: Selain Carnet, pastikan juga membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) asli dan salinannya, serta buku manual kendaraan jika diperlukan.

  9. Sertifikat Vaksinasi (jika diperlukan): Beberapa negara mungkin memiliki persyaratan vaksinasi tertentu. Periksa informasi terbaru mengenai hal ini.

  10. Nomor Kontak Darurat: Siapkan daftar nomor telepon penting, termasuk kedutaan besar negara asal di negara tujuan, kontak keluarga, dan layanan darurat lokal.

Daeng Anhsar membuktikan bahwa dengan persiapan yang matang, mimpi untuk melakukan perjalanan spiritual yang luar biasa seperti umroh naik motor melintasi banyak negara bukanlah hal yang mustahil. Pengalamannya memberikan inspirasi dan panduan berharga bagi para petualang masa depan yang memiliki semangat serupa.