BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Prospek Enzo Maresca menjadi pelatih Manchester United berikutnya telah memicu gelombang penolakan keras dari salah satu ikon klub, Nicky Butt. Anggota terkemuka dari "Class of 92" ini secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya, dan ia tidak ragu menguraikan alasan mendasar di balik sikapnya yang tegas. Pemecatan Ruben Amorim oleh Manchester United telah membuka pintu spekulasi mengenai kandidat pengganti, dan di tengah ramainya bursa pelatih, nama Enzo Maresca muncul sebagai salah satu opsi yang dipertimbangkan. Situasi ini semakin panas mengingat Manchester United tengah berupaya keras untuk kembali ke jalur kejayaan setelah periode yang kurang memuaskan di bawah kepemimpinan beberapa pelatih sebelumnya. Tensi yang memuncak antara Amorim dan petinggi klub, yang berujung pada pemecatan, menjadi titik krusial dalam pencarian sosok baru yang diharapkan mampu membawa Manchester United kembali ke papan atas.
Di tengah pencarian yang intensif, sejumlah nama pelatih ternama yang saat ini menganggur mulai dikaitkan dengan Old Trafford. Di antaranya adalah Xavi Hernandez, yang baru saja meninggalkan Barcelona, Joachim Loew, mantan pelatih tim nasional Jerman yang legendaris, Gareth Southgate, pelatih tim nasional Inggris yang kinerjanya terus dipantau, serta Zinedine Zidane, legenda Real Madrid yang dikenal dengan kesuksesannya di Liga Champions. Namun, sorotan tajam tertuju pada Enzo Maresca, yang baru saja diberhentikan oleh Chelsea. Keputusan Chelsea untuk mengakhiri masa kepelatihan Maresca, meskipun singkat, justru memicu minat dari klub-klub lain yang melihat potensi dalam dirinya. Maresca sendiri memiliki rekam jejak yang cukup menarik, terutama hubungannya dengan klub rival sekota Manchester United, Manchester City. Pengalamannya sebagai pelatih tim U-23 The Citizens dan perannya sebagai asisten Pep Guardiola di tim utama Manchester City telah membentuk identitasnya sebagai pelatih yang berpotensi.
Namun, justru latar belakang Maresca yang erat kaitannya dengan Manchester City inilah yang menjadi akar dari penolakan Nicky Butt. Bagi Butt, Manchester City bukan sekadar rival; mereka adalah musuh bebuyutan yang persaingannya telah membekas dalam sejarah panjang kedua klub. "Kalau Maresca masuk –saya menyukai dia sebagai seorang pelatih, saya benar-benar menyukainya– dengan latar belakangnya, saya akan mengembalikan tiket terusan saya," ungkap Butt dengan nada tegas kepada Sportskeeda, menyiratkan ketidakmampuannya untuk mentolerir kehadiran sosok yang terafiliasi dengan rival sekota di kursi kepelatihan Manchester United. Ia melanjutkan, "Saya tahu bisa duduk di sini dan dan membahas panjang lebar mengenai filosofi dan DNA Manchester United lalu berkata, ‘kami akan mencintai Maresca’, seorang mantan di Manchester City. Lalu Anda mempunyai Omar Berrada dan Jason Wilcox. Saya tak peduli kesuksesannya. Anda melupakan saya dari mana. Semuanya adalah pendukung City. Saya pendukung Manchester United, dan saya tak bisa menerima itu." Pernyataan Butt ini mencerminkan sentimen mendalam para pendukung setia Manchester United yang melihat klub mereka sebagai entitas yang unik dengan identitas yang harus dijaga dengan ketat, terutama dari pengaruh klub rival.
Lebih jauh lagi, Butt menekankan bahwa penunjukan Maresca akan menjadi sebuah ironi yang menyakitkan bagi para pendukung sejati Manchester United. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin klub yang memiliki sejarah panjang dan kebanggaan sebesar Manchester United dapat mempertimbangkan seorang yang pernah menjadi bagian integral dari Manchester City. Keberadaan Omar Berrada, CEO Manchester United yang baru, dan Jason Wilcox, direktur teknis, yang keduanya juga memiliki latar belakang di Manchester City, semakin memperburuk pandangan Butt. Ia merasa bahwa penunjukan Maresca, ditambah dengan kehadiran dua petinggi klub yang memiliki sejarah di City, menunjukkan adanya pergeseran nilai dan identitas yang mengkhawatirkan. Bagi Butt, loyalitas dan sejarah klub harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan rekrutmen, terutama untuk posisi sepenting pelatih kepala. Ia berpendapat bahwa kesuksesan yang mungkin diraih oleh Maresca di bawah kepemimpinannya tidak akan mampu menutupi luka emosional dan rasa pengkhianatan yang akan dirasakan oleh para pendukung yang telah lama mengabdi pada Manchester United.
Nicky Butt, yang merupakan bagian dari generasi emas "Class of 92" yang meraih treble winners bersejarah di bawah Sir Alex Ferguson, memiliki pemahaman yang mendalam tentang apa artinya menjadi bagian dari Manchester United. Baginya, klub ini lebih dari sekadar tim sepak bola; ia adalah sebuah institusi dengan nilai-nilai dan tradisi yang harus dihormati. Peran Maresca di Manchester City, baik sebagai pelatih tim muda maupun asisten pelatih tim utama, dianggap sebagai sebuah "pelanggaran" terhadap nilai-nilai tersebut. Butt merasa bahwa penunjukan Maresca akan mengabaikan esensi dari Manchester United dan merusak warisan yang telah dibangun oleh para legenda klub. Ia menyindir bahwa meskipun Maresca mungkin memiliki kualitas sebagai pelatih, latar belakangnya di City menjadikannya sosok yang tidak dapat diterima oleh para pendukung sejati Manchester United, terlepas dari seberapa sukses ia di masa lalu.
Pernyataan Butt juga menyoroti kekhawatiran mengenai pengaruh klub rival di dalam struktur manajemen Manchester United. Kehadiran Omar Berrada dan Jason Wilcox, yang keduanya pernah bekerja di Manchester City, menimbulkan pertanyaan tentang kemurnian identitas Manchester United. Butt merasa bahwa penunjukan Maresca, yang memiliki koneksi kuat dengan City, akan semakin memperkuat persepsi bahwa klub ini mulai kehilangan jati dirinya dan terpengaruh oleh budaya klub rival. Baginya, ini adalah sebuah pengkhianatan terhadap sejarah dan para pendukung yang telah memberikan segalanya untuk klub. Butt menegaskan bahwa ia tidak akan bisa menerima keputusan tersebut, bahkan jika Maresca berhasil membawa kesuksesan bagi Manchester United. Loyalitas dan rasa memiliki terhadap klub adalah hal yang tak ternilai harganya bagi para pendukung sejati, dan hal inilah yang diyakini Butt sedang terancam.
Lebih jauh, Butt secara implisit menyerukan kepada para pengambil keputusan di Manchester United untuk tidak melupakan akar dan sejarah klub. Ia menekankan bahwa meskipun kesuksesan dalam jangka pendek mungkin menggoda, hal tersebut tidak boleh mengorbankan identitas dan nilai-nilai fundamental Manchester United. Menjadikan seseorang dengan masa lalu di Manchester City sebagai pelatih utama dianggap sebagai langkah mundur yang signifikan dan dapat menimbulkan perpecahan di kalangan pendukung. Butt berharap agar manajemen klub lebih bijaksana dalam memilih pemimpin yang benar-benar memahami dan menghargai warisan Manchester United, bukan sekadar mencari pelatih yang memiliki CV menarik di atas kertas. Ancaman boikot yang dilontarkan oleh Butt, meskipun mungkin bersifat metaforis, mencerminkan kedalaman kekecewaan dan kemarahan yang dirasakan oleh sebagian besar pendukung setia Manchester United terhadap potensi penunjukan Enzo Maresca.
Keinginan Butt untuk "mengembalikan tiket terusan" menjadi simbol yang kuat dari ketidaksetujuannya. Ini menunjukkan bahwa bagi para pendukung seperti dirinya, dukungan terhadap klub tidaklah tanpa syarat. Ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar, dan salah satunya adalah menjaga integritas dan identitas klub dari pengaruh rival. Butt ingin menegaskan bahwa Manchester United memiliki DNA-nya sendiri yang harus dijaga dan dilestarikan. Ia berpendapat bahwa menunjuk pelatih yang pernah menjadi bagian dari Manchester City akan menjadi pengabaian terhadap nilai-nilai tersebut dan dapat mengikis semangat juang serta kebanggaan yang selama ini melekat pada Manchester United. Keputusan akhir mengenai siapa yang akan menjadi pelatih baru Manchester United akan menjadi ujian krusial bagi manajemen klub dalam menyeimbangkan ambisi kesuksesan dengan penghormatan terhadap sejarah dan identitas klub yang dicintai para pendukungnya.

