0

Lebaran Ria Ricis Tahun Ini Sepi hingga Rindu Mendiang Ayah

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Suasana Hari Raya Idul Fitri tahun ini terasa berbeda bagi YouTuber Ria Ricis. Kehangatan yang biasanya meliputi rumahnya kini tergantikan oleh keheningan yang mendalam. Tanpa kehadiran sebagian besar keluarga besar di sisinya, pemilik nama asli Ria Yunita ini tak kuasa menahan gelombang kerinduan yang menghantam hatinya, terutama kerinduan mendalam kepada mendiang ayah tercinta, Sulyanto, yang telah berpulang menghadap Sang Pencipta pada Juni 2021. Kepergian sang ayah meninggalkan lubang emosional yang tak terisi, dan momen-momen perayaan keagamaan seperti Idul Fitri justru semakin mempertegas kekosongan tersebut.

Kesunyian yang kini menyelimuti kediamannya tak pelak membuat Ria Ricis larut dalam lautan memori lama. Ibu satu anak yang penuh semangat ini mengaku, belakangan ini ia sering menghabiskan waktu berharga dengan menyelami kembali koleksi foto-foto dan video kenangan yang merekam kebersamaan mereka di masa lalu. Tindakan ini menjadi obat penawar rindu yang paling ampuh baginya, sebuah cara untuk merasakan kembali kehadiran orang yang sangat ia cintai, meskipun hanya melalui rekaman visual. Ia tak menyembunyikan perasaannya, mengakui betapa ia merindukan sosok ayahnya.

"Tentu, tentu (kangen). Bahkan dari kemarin juga aku sudah melihat foto lebaran terakhir aku yang ada Papa aku juga, sudah melihat vlog-vlog tahun-tahun waktu masih ada Papa aku juga dan tentu itu menjadi memori yang tidak terlupakan. Tentu kangen sekali," ungkap Ria Ricis dengan nada lirih namun tulus saat ditemui di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, pada Sabtu (21/3/2026). Pengakuannya ini mencerminkan kedalaman ikatan emosional yang ia miliki dengan mendiang ayahnya, sebuah ikatan yang tak lekang oleh waktu dan jarak.

Perayaan Idul Fitri kali ini memang terbilang sepi bagi Ria Ricis, sebuah kontras yang menyakitkan dengan perayaan-perayaan sebelumnya. Situasi ini terjadi karena beberapa anggota keluarga inti tidak dapat hadir bersamanya. Sang ibunda tercinta, bersama dengan kakak pertamanya yang juga seorang figur publik, Oki Setiana Dewi, tengah menunaikan ibadah dan menimba ilmu di Kairo, Mesir. Sementara itu, kakak keduanya yang berprofesi sebagai dokter, Shindy Putri, memilih untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman mertuanya yang berlokasi di Pekanbaru. Jarak geografis yang memisahkan mereka menjadi alasan utama kesepian yang dirasakan Ria Ricis.

"Beda tentu, karena tahun lalu kan masih ada Ibu, ada Mbak Shindy juga. Jadi lebaran tahun ini cuma aku dan seonggok Moana saja," tuturnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan, merujuk pada putrinya, Cut Raifa Aramoana. Ungkapan ini menggambarkan betapa ia merasakan kehilangan suasana kebersamaan keluarga yang utuh. Kehadiran Moana tentu menjadi sumber kebahagiaan tersendiri, namun tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran dan kehangatan anggota keluarga lainnya.

Kenangan yang paling membekas dan paling sering terlintas di benak bintang film Thaghut ini adalah momen-momen ketika seluruh anggota keluarga inti masih berkumpul secara lengkap dalam keutuhan yang sempurna. Ia tak pernah lupa mengingat kembali momen-momen sederhana namun penuh makna, seperti saat mereka berbuka puasa bersama di akhir hari yang penuh berkah, serta tradisi sungkeman yang penuh haru, sebuah ritual memohon maaf dan restu yang kini hanya bisa ia saksikan melalui layar ponsel. Kehilangan momen-momen tersebut terasa sangat berat baginya.

"Momen yang pengin balik lagi waktu ada Papa sih, buka puasa bareng. Karena waktu itu sempat buka puasa terakhir bareng sama keluarga full, keluarga inti. Ada Papa, ada Uma Oki, ada Bunda Shindy. Terus sungkem, sungkeman. Habis itu sudah. Karena memang jarang juga kan sama keluarga jadi memorinya itu sedikit sekali," kenangnya dengan mata berkaca-kaca, merangkai kembali fragmen-fragmen indah dari masa lalu. Pengakuan tentang minimnya memori bersama keluarga inti menunjukkan betapa ia menghargai setiap detik kebersamaan yang pernah ia miliki.

Tradisi sungkeman, yang biasanya menjadi momen sakral dan puncak dari perayaan Idul Fitri untuk memohon maaf dan mendapatkan keberkahan dari orang tua, terpaksa harus dilewatinya tanpa kehadiran fisik mereka tahun ini. Mengingat sang ibunda berada di luar negeri, Ria Ricis belum sempat melakukan panggilan video untuk bersilaturahmi secara langsung pada hari pertama Lebaran. Hal ini menambah rasa kesepian dan kerinduannya. Keinginan untuk melakukan sungkeman secara tatap muka, merasakan kehangatan pelukan dan mendengar nasihat langsung dari orang tua, menjadi impian yang belum terwujud di hari yang penuh makna ini.

"Iya ini baru mau sungkeman cuma karena orang tuanya tidak ada di sini jadi ya cuma aku sebagai Ibunya Moana saja. Begitu," jelasnya dengan nada pasrah, menyadari situasi yang harus ia hadapi. Meskipun demikian, semangatnya untuk tetap menjalankan ibadah dan merayakan Idul Fitri tetap membara. Ia bertekad untuk menciptakan momen-momen berharga lainnya bersama putrinya, Moana, dan berusaha menjadikan perayaan ini tetap bermakna, meskipun dalam suasana yang berbeda. Kerinduan pada mendiang ayah dan absennya anggota keluarga lainnya memang meninggalkan luka, namun harapan untuk masa depan dan kebersamaan yang lebih baik terus ia genggam erat. Ia berjanji untuk terus menjaga kenangan indah bersama mendiang ayahnya dan berharap dapat berkumpul kembali dengan seluruh keluarganya di perayaan Idul Fitri mendatang, menciptakan momen-momen baru yang tak kalah berkesan.

Dalam upaya menjaga tradisi dan menghormati orang tua, meskipun tidak bisa bertemu secara fisik, Ria Ricis berencana untuk mengirimkan ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf melalui pesan video. Ia berharap komunikasi virtual ini dapat sedikit mengobati kerinduan dan menyampaikan rasa sayangnya yang tulus kepada ibunda dan kakak-kakaknya. Ia juga berjanji untuk selalu mengingat dan meneladani nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh mendiang ayahnya, serta terus berkarya dan memberikan inspirasi bagi para penggemarnya. Semangat Ria Ricis dalam menghadapi cobaan ini patut diapresiasi, menunjukkan kekuatan spiritual dan ketegaran hatinya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Ia bertekad untuk menjadikan Idul Fitri kali ini sebagai momentum introspeksi diri dan refleksi atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan, serta untuk mempererat ikatan batin dengan keluarga, meskipun terpisah jarak.