Namanya baru hidup sekali di era pandemi, kepanikan muncul di mana-mana. Bersyukur pandemi COVID-19 sudah berakhir ya, detikers. Masa-masa kelam itu, yang dimulai sekitar awal tahun 2020, tiba-tiba mengubah seluruh tatanan kehidupan global. Sebuah virus tak kasat mata, SARS-CoV-2, penyebab COVID-19, dengan cepat menyebar dari Wuhan, Tiongkok, ke seluruh penjuru dunia, memaksa miliaran orang menghadapi kenyataan baru yang penuh ketidakpastian. Kepanikan yang melanda saat itu bukan tanpa alasan. Ini adalah pengalaman kolektif pertama bagi sebagian besar umat manusia dalam menghadapi pandemi berskala global di era modern, dengan tingkat penyebaran dan mortalitas yang mengkhawatirkan.

Saat itu, informasi tentang virus masih sangat terbatas dan seringkali berubah-ubah. Para ilmuwan berpacu dengan waktu untuk memahami karakteristik virus, cara penularannya, dan mengembangkan vaksin serta pengobatan. Di tengah minimnya kepastian ilmiah, spekulasi, rumor, dan bahkan teori konspirasi berkembang biak, memperkeruh suasana dan memicu kecemasan massal. Kita semua teringat bagaimana pemberitaan media didominasi oleh jumlah kasus yang terus meningkat, rumah sakit yang kewalahan, dan kebijakan pembatasan sosial yang semakin ketat. Rasa takut akan terinfeksi, takut menulari orang yang dicintai, dan ketidakpastian ekonomi menciptakan badai emosi yang kompleks di masyarakat.
Salah satu simbol paling ikonik dari kepanikan dan adaptasi saat pandemi adalah penggunaan masker. Awalnya, ada kebingungan tentang efektivitas masker bagi masyarakat umum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan beberapa otoritas kesehatan awalnya menyarankan masker hanya untuk tenaga medis atau orang yang sakit. Namun, seiring waktu, bukti ilmiah menunjukkan bahwa masker, terutama masker kain dan medis, sangat efektif dalam mengurangi penyebaran tetesan pernapasan. Hal ini memicu "demam masker" global. Permintaan masker melonjak drastis, menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga yang tak masuk akal. Di tengah krisis ini, kreativitas (dan kadang absurditas) manusia muncul ke permukaan.

Kita melihat bagaimana orang-orang mencoba berbagai cara untuk melindungi diri, bahkan jika itu berarti memakai masker dengan cara yang tidak tepat. Foto-foto viral memperlihatkan seseorang memakai masker, tetapi hidungnya masih terekspos, atau bahkan menjadikannya penutup dagu. Ini bukan hanya karena ketidaktahuan, tetapi juga bisa jadi karena frustrasi, ketidaknyamanan, atau bahkan bentuk protes terhadap aturan yang terasa membatasi. Ada pula yang ekstrem, menggunakan masker sebagai penutup mata, sebuah gambaran betapa putus asanya sebagian orang dalam memahami atau menerima situasi. Bukan dokter, tapi kita tahu ini bukan hal yang tepat. Namun, bisa jadi ada kisah penolakan penggunaan masker yang sedang ramai saat itu, dan gambar ini menjadi satir.
Kepanikan tidak hanya menjangkau manusia, tetapi juga "meluas" ke hewan peliharaan. Kita juga pernah melihat foto-foto kucing atau anjing yang dipakaikan masker oleh pemiliknya. Tentu saja, secara ilmiah, ini tidak ada gunanya untuk mencegah penularan COVID-19 dari atau ke hewan peliharaan (pada saat itu, penularan ke manusia dari hewan peliharaan sangat jarang dilaporkan dan tidak menjadi kekhawatiran utama). Namun, tindakan ini mencerminkan sejauh mana kekhawatiran dan naluri protektif manusia terhadap makhluk hidup di sekitarnya, bahkan jika itu dilakukan secara berlebihan atau tidak tepat sasaran. Kucingnya pakai masker… Ah, sudah lah.

Di tengah pembatasan sosial, tradisi dan perayaan pun harus beradaptasi. Halloween, misalnya, yang biasanya melibatkan anak-anak berkeliling rumah untuk ‘trick or treat’, menjadi tantangan besar. Bagaimana menjaga jarak sosial saat membagikan permen? Ide-ide kreatif muncul, seperti yang terlihat dalam salah satu foto: cokelat dimerosotkan melalui pipa dari jarak jauh. Ini adalah contoh nyata bagaimana masyarakat berinovasi untuk menjaga semangat tradisi di tengah pandemi, sambil tetap berusaha meminimalkan kontak fisik. Halloween pertama saat pandemi COVID-19, cokelatnya dimerosotin pakai pipa. Ini menunjukkan betapa seriusnya kita mengambil jarak fisik kala itu.
Ketakutan akan penularan melalui sentuhan juga memunculkan tindakan pencegahan yang ekstrem. Ada yang membungkus dirinya dengan plastik dari kepala hingga kaki saat berbelanja atau berada di tempat umum. Meskipun efektifitasnya diragukan dan justru bisa menimbulkan masalah pernapasan atau panas berlebih, tindakan ini adalah cerminan dari tingkat kecemasan yang mendalam dan keinginan untuk menciptakan penghalang fisik total terhadap virus. Dibungkus plastik agar merasa lebih aman, adalah hal yang menggambarkan ketidakberdayaan kita saat itu.

Selain masker, tisu dan hand sanitizer menjadi komoditas paling dicari. Kita menyaksikan fenomena "panic buying" atau pembelian panik yang mengakibatkan rak-rak supermarket kosong melompong. Tisu toilet, khususnya, menjadi simbol kelangkaan yang aneh, meskipun tidak ada korelasi langsung antara COVID-19 dan kebutuhan akan tisu toilet yang lebih banyak. Namun, bagi banyak orang, membeli tisu dalam jumlah besar memberikan rasa kontrol dan persiapan di tengah ketidakpastian. Jualan tisu era COVID-19 menjanjikan juga, soalnya termasuk komoditi paling dibutuhkan. Situasi ini juga dimanfaatkan oleh para oportunis yang menjual barang-barang ini dengan harga melambung tinggi.
Bagi sebagian orang, masker medis atau kain biasa dirasa tidak cukup. Mereka beralih ke perlengkapan pelindung diri yang lebih ekstrem, seperti masker gas. Foto seorang pembeli yang berbelanja dengan masker gas setelah Austria mengonfirmasi infeksi virus corona adalah gambaran visual yang kuat tentang tingkat ketakutan yang dialami masyarakat. Ini bukan lagi tentang sekadar mematuhi protokol, melainkan tentang upaya maksimal, bahkan berlebihan, untuk melindungi diri dari ancaman yang tidak terlihat. Belanja dengan masker gas menunjukkan tingkat kepanikan dan keinginan untuk perlindungan absolut.

Ketika pasokan masker sulit didapat, orang-orang terpaksa berinovasi dengan apa pun yang ada. Syal, bandana, bahkan pakaian dalam pun diubah menjadi penutup wajah darurat. Foto seseorang yang menggunakan selembar kain sederhana, mungkin bekas baju, sebagai masker menunjukkan betapa putus asanya kondisi saat itu. Apa aja bisa jadi masker saat itu. Ini adalah bukti nyata dari adaptasi dan daya juang manusia, meskipun dengan keterbatasan sumber daya.
Ketakutan akan penularan melalui permukaan benda mati (fomites) juga menyebabkan praktik-praktik yang tidak biasa. Salah satunya adalah mencuci uang kertas atau menyemprotkan disinfektan pada kemasan belanjaan. Meskipun virus dapat bertahan di permukaan, risiko penularan dari uang atau kemasan dianggap jauh lebih rendah dibandingkan penularan dari droplet pernapasan. Namun, di tengah informasi yang simpang siur dan keinginan untuk melakukan segala yang bisa dilakukan, tindakan ini menjadi lumrah. Nyuci uang demi cegah penularan virus corona adalah hal yang nyata terjadi.

Dan ketika masker benar-benar habis, dan tidak ada pilihan lain, beberapa orang memilih cara yang paling ekstrem namun sederhana: menggunakan kantong plastik sebagai masker. Foto seseorang yang mengenakan kantong plastik yang dilubangi untuk bernapas sebagai masker adalah pemandangan yang menyayat hati, mencerminkan keputusasaan akibat kelangkaan dan keinginan kuat untuk melindungi diri, terlepas dari risiko dan ketidaknyamanan. Mungkin saja maskernya benar-benar sudah habis. Dulu masker bahkan sempat langka karena diborong di mana-mana. Ini adalah bukti visual dari keputusasaan dan adaptasi ekstrem yang terjadi di masa-masa sulit itu.
Melihat kembali semua ini, kita menyadari betapa uniknya periode pandemi COVID-19. Itu adalah masa ketika kita semua dihadapkan pada ancaman yang sama, namun dengan reaksi dan cara adaptasi yang berbeda-beda. Kepanikan adalah respons alami terhadap ketidakpastian dan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari kesalahan penggunaan masker hingga tindakan perlindungan diri yang berlebihan, semua itu adalah bagian dari narasi kolektif tentang bagaimana manusia berusaha bertahan dan beradaptasi di tengah krisis global.

Kini, setelah pandemi dinyatakan berakhir, kita bisa melihat kembali masa-masa itu dengan perspektif yang lebih tenang. Kita belajar banyak tentang pentingnya sains, kesiapsiagaan kesehatan publik, dan resiliensi komunitas. Kita juga diingatkan akan kerapuhan hidup dan pentingnya empati serta solidaritas. Pengalaman pandemi mengajarkan kita untuk lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup yang dulu dianggap biasa, seperti berkumpul tanpa rasa takut, bepergian bebas, atau sekadar melihat senyum di wajah orang lain tanpa terhalang masker.
Maka, ketika kita melihat foto-foto lama dari era pandemi, dengan segala kepanikan dan tingkah lakunya yang kadang lucu atau absurd, kita bisa memakluminya. Kita semua berada dalam kapal yang sama, berlayar di lautan badai yang belum pernah kita arungi sebelumnya. Rasa syukur bahwa masa itu telah berlalu adalah perasaan yang universal. Semoga kita tidak pernah lagi harus menghadapi situasi serupa, dan jika pun demikian, kita telah belajar dari pengalaman pahit ini untuk menjadi lebih siap dan bijaksana.

