BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan spiritual aktor muda berbakat, Emir Mahira, telah membawanya pada sebuah penemuan yang tak terduga dan mendalam. Jauh dari tanah air, ketika menempuh pendidikan di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada, Emir justru menemukan titik balik penting dalam pemahaman dan penghayatan agamanya. Pengalaman ini membawanya pada sebuah proses pencarian jati diri yang intens, yang akhirnya berujung pada momen pencerahan dan haru yang tak terlupakan. Emir, yang dikenal melalui perannya dalam film "Kupilih Jalur Langit", menceritakan bahwa lingkungan yang justru terasa jauh dari praktik keagamaan sehari-hari, justru menjadi katalisator bagi penemuan spiritualnya.
"Sebenarnya aku itu menemukan agama setelah aku menjauh dari agama. Jadi aku kuliah di Kanada itu aku sangat jauh dari agama, gak ada teman-temanku yang salat sama sekali, tapi kebetulan dari situ aku malah menemukan agama," ujar Emir Mahira dalam sebuah kesempatan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (11/3/2026). Pernyataan ini mencerminkan paradoks yang seringkali terjadi dalam kehidupan spiritual seseorang. Ketika seseorang merasa terputus dari akar agamanya, justru di situlah kerinduan dan pencarian yang lebih mendalam bisa muncul. Di tengah hiruk pikuk kehidupan akademis dan budaya yang berbeda, Emir mulai merasakan kekosongan yang kemudian mendorongnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang lebih dalam.
Masa pandemi COVID-19 yang melanda dunia juga turut memberikan warna tersendiri dalam perjalanan Emir. Selama periode isolasi dan ketidakpastian ini, ia mengaku sempat merasa terpuruk. Dalam upayanya mencari jalan keluar dari perasaan tersebut, Emir mulai meluangkan waktu untuk menelusuri berbagai literatur yang membahas tentang cara mengatasi depresi. Ia ingin menemukan solusi yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mendasar dan berkelanjutan.
"Aku menemukan bahwa waktu itu aku di Kanada iseng-iseng aja baca-baca tentang depresi. Salah satu obat depresi paling ampuh itu adalah meditasi dan bersyukur," bebernya. Penemuan ini menjadi sebuah titik awal yang krusial. Emir menyadari bahwa ada pendekatan-pendekatan universal dalam mengatasi gejolak emosi dan mencari ketenangan batin. Konsep meditasi dan rasa syukur, yang seringkali diasosiasikan dengan berbagai tradisi spiritual dan filosofis, mulai menarik perhatiannya. Ia mulai melihat bahwa prinsip-prinsip ini memiliki potensi besar untuk memulihkan keseimbangan mental dan emosional.
Yang lebih mengejutkan bagi Emir adalah ketika ia mulai menyadari adanya benang merah yang kuat antara metode meditasi yang ia pelajari dari literatur Barat dengan esensi ibadah salat dalam ajaran agama Islam. Sebagai seorang Muslim, salat adalah pilar utama dalam menjalankan agamanya. Namun, selama ini ia mungkin belum sepenuhnya menghayati kedalaman makna di baliknya. Penelusurannya terhadap meditasi membuka perspektif baru yang memungkinkannya melihat salat dari sudut pandang yang berbeda dan lebih komprehensif.
"Nah, itu kesamaan yang aku lihat di dalam sholat. Which is kalau misalnya aku salat itu kan adalah meditasi. Kalau kita berdoa segala macam, pasti kan kita juga bersyukur, salat itu adalah bentuk syukur kita terhadap hidup kita," terang Emir Mahira. Ia mulai memahami bahwa gerakan-gerakan, bacaan-bacaan, dan kekhusyukan dalam salat sejatinya adalah bentuk meditasi yang mendalam. Dalam salat, seorang Muslim diajak untuk sepenuhnya fokus pada Sang Pencipta, melepaskan diri dari segala urusan duniawi, dan merasakan kedekatan spiritual. Lebih dari itu, salat adalah ekspresi rasa syukur yang tak terhingga atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.
Momen pencerahan ini memberikan dampak emosional yang luar biasa bagi Emir. Ia mengingat dengan sangat jelas bagaimana reaksi spontannya ketika pemahaman baru ini akhirnya diterima oleh logikanya secara utuh. Perasaan yang campur aduk antara kegembiraan, keharuan, dan rasa takjub memenuhi dirinya.
"Pas aku menemukan ini, aku ingat banget waktu itu aku lagi sama temenku, aku kayak orang gila. Aku gambar Ka’bah berkali-kali dalam buku-bukuku, aku telepon kakakku: ‘Kak, aku ketemu Islam.’ Dari situ aku nangis-nangis, beneran nangis-nangis," kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Pengalaman ini begitu kuat hingga ia merasa perlu untuk segera membagikan penemuannya kepada orang terdekatnya. Menggambar Ka’bah berulang kali menunjukkan betapa besarnya rasa rindu dan koneksi spiritual yang ia rasakan terhadap simbol keagamaan Islam. Telepon kepada kakaknya adalah bukti nyata dari kebahagiaan murni yang ia rasakan, sebuah kebahagiaan yang datang dari penemuan makna hidup dan identitas diri yang sejati.
Rangkaian pengalaman berharga yang ia jalani di Kanada tersebut, termasuk proses pencarian, penelusuran literatur, hingga momen pencerahan spiritual, secara perlahan namun pasti membuatnya merangkul agamanya sendiri dari lubuk hati yang terdalam. Ini bukan lagi sekadar kewajiban atau kebiasaan, melainkan sebuah keyakinan yang telah teruji oleh logika dan terbukti memberikan kedamaian serta kekuatan batin.
"Mungkin dulu perkuat iman aja dan percaya, sekarang ada lo bukti-buktinya," pungkasnya. Perkataan ini menyiratkan bahwa sebelum ini, keimanannya mungkin lebih bersifat dogmatis atau berdasarkan warisan semata. Namun, melalui pengalamannya di Kanada, ia menemukan bukti-bukti konkret yang menguatkan keyakinannya. Ia tidak hanya percaya, tetapi ia memahami dan merasakan kedalaman ajaran agamanya. Perjalanan Emir Mahira di Kanada menjadi bukti nyata bahwa hidayah bisa datang dari arah yang tak terduga, dan terkadang, justru dengan menjauh dari sesuatu, kita bisa menemukannya kembali dengan pemahaman yang lebih matang dan hati yang lebih lapang. Kisahnya menginspirasi banyak orang untuk terus mencari makna hidup, tidak peduli di mana pun mereka berada, dan bagaimana pun kondisi yang sedang dihadapi. Ia mengajarkan bahwa keterbukaan pikiran dan hati adalah kunci untuk menemukan pencerahan, bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun. Pengalaman ini bukan hanya tentang menemukan kembali agama, tetapi juga tentang menemukan kembali diri sendiri dalam bingkai spiritualitas yang lebih luas.

