Dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang meledak di awal 2026 bukan sekadar gejolak geopolitik di negeri orang. Getarannya telah merambat cepat hingga ke pasar-pasar tradisional di pelosok Jawa Tengah, memicu kenaikan harga sembako, pelemahan nilai tukar rupiah, dan lonjakan biaya hidup yang menekan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Bagi warga yang tinggal di desa atau kota kecil, krisis global ini terasa nyata dalam bentuk yang paling menyakitkan: dompet yang semakin cepat terkuras sebelum akhir bulan tiba. Di tengah situasi yang tidak menentu ini, Rifa’iyah—sebagai organisasi dengan akar sejarah panjang dalam semangat kemandirian dan perlawanan terhadap ketidakadilan—memiliki peran krusial. Tulisan ini hadir sebagai panduan praktis sekaligus refleksi strategis agar warga Rifa’iyah tidak hanya mampu bertahan di tengah badai ekonomi, tetapi juga menjadi pelita bagi sesama.
Untuk memahami akar masalahnya, kita perlu menyoroti Selat Hormuz, pintu gerbang energi dunia. Jalur laut sempit ini merupakan nadi distribusi bagi seperlima pasokan minyak dan gas bumi global. Ketika konflik AS-Iran menyebabkan gangguan jalur pelayaran sejak akhir Februari 2026, harga minyak dunia langsung melonjak drastis. Pada awal April 2026, harga minyak mentah jenis Brent menembus angka USD 109,77 per barel, jauh melampaui asumsi APBN Indonesia yang dipatok di angka USD 70 per barel. Dampaknya sangat sistemik; setiap kenaikan satu dolar pada harga minyak global menambah defisit anggaran Indonesia hingga Rp 6 triliun. Lebih jauh, nilai tukar rupiah yang terperosok ke angka Rp 17.055 per dolar AS telah memicu inflasi barang impor, yang secara langsung membebani daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Kondisi ini kian pelik dengan ancaman El Nino ‘Godzilla’ yang diprediksi berlangsung dari April hingga Oktober 2026, menciptakan ancaman gagal panen yang berpotensi menjadi "badai sempurna" bagi ketahanan pangan nasional.
Dampak krisis ini merembes ke berbagai lini kehidupan. Pada sektor energi, meski pemerintah menjamin subsidi BBM, risiko kenaikan harga BBM non-subsidi hingga 10% tetap mengintai, yang akan memicu efek domino pada biaya logistik dan distribusi barang. Di sektor pangan, beras, jagung, dan sayuran terancam oleh kemarau panjang, sementara komoditas berbahan baku impor seperti kedelai dan gandum mengalami kenaikan harga akibat pelemahan rupiah. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap mahalnya biaya distribusi. Ketika ongkos angkut melonjak, daerah-daerah terpencillah yang paling merasakan dampaknya. Selain itu, sektor kesehatan juga terancam karena mahalnya bahan baku obat-obatan impor, yang berpotensi menurunkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang terjangkau.
Di sinilah kekuatan Rifa’iyah sebagai modal sosial yang teruji menjadi sangat relevan. Organisasi yang didirikan berdasarkan silsilah murid-murid KH. Ahmad Rifa’i di Kalisalak, Batang, ini lahir dari semangat perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial. Ajaran dalam kitab Tarjumah bukan sekadar tuntunan ibadah formal, melainkan panduan muamalah yang komprehensif—bagaimana cara bekerja, berdagang, dan saling tolong-menolong. Doktrin kemandirian yang diajarkan KH. Ahmad Rifa’i menegaskan bahwa seorang mukmin yang bekerja keras, meski hanya dengan menanam ketela, jauh lebih mulia daripada mereka yang menggantungkan hidup pada pihak lain. Basis massa Rifa’iyah yang mayoritas berada di wilayah agraris seperti Batang, Pekalongan, Wonosobo, dan Kendal, merupakan aset strategis. Komunitas pembatik di Desa Kalipucang Wetan dan UMKM konveksi di sepanjang jalur Pantura adalah bukti nyata bahwa semangat berwirausaha sebagai ibadah mampu menciptakan lapangan kerja lokal yang tangguh di tengah krisis global.
Untuk merespons tantangan ini, diperlukan langkah konkret melalui tiga strategi utama. Pertama, kembali ke tanah. Kemandirian pangan harus dimulai dari pekarangan rumah. Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) perlu diaktifkan kembali dengan menanam cabai, sayuran, dan umbi-umbian di polybag atau lahan sempit. Menanam ketela, singkong, dan jagung adalah antisipasi cerdas ketika pasokan beras terganggu. Di tingkat ranting, pengurus dapat memfasilitasi kebun bibit komunal agar warga memiliki akses gratis terhadap bibit produktif. Ini adalah soal menjaga martabat keluarga agar tidak bergantung sepenuhnya pada fluktuasi pasar.

Kedua, bersatu dalam wadah ekonomi berjemaah. Masalah ekonomi tidak bisa diselesaikan sendirian. Koperasi syariah harus menjadi motor penggerak di setiap ranting untuk memfasilitasi jual-beli hasil tani, pembelian sembako kolektif, dan akses pembiayaan tanpa riba. Peran Baitul Maal perlu dioptimalkan bukan hanya untuk konsumsi, tetapi sebagai instrumen pemberdayaan modal usaha bagi warga yang terdampak PHK atau inflasi. Melalui panitia zakat di tingkat kampung, kita bisa menggalang kekuatan untuk saling topang. Prinsip sederhana yang harus dipegang adalah "membeli produk sesama jemaah". Dengan memutar uang di dalam komunitas, kita memperkuat daya tahan ekonomi lokal dan meminimalisir ketergantungan pada rantai pasok global yang sedang tidak stabil.
Ketiga, disiplin keuangan keluarga. Mengikuti ajaran hidup bersahaja dalam kitab Tarjumah, warga Rifa’iyah harus memegang prinsip sekadar hajat kanggo tulung thoat (sesuai kadar kebutuhan untuk tegak jasmani sebagai wasilah taat kepada Allah). Keluarga harus memprioritaskan kebutuhan pokok, menghindari belanja impulsif, dan mulai membangun dana darurat setara 3 hingga 6 bulan pengeluaran. Mengurangi utang konsumtif dan membatasi penggunaan energi adalah langkah bijak untuk menjaga stabilitas keuangan rumah tangga. Diskusi terbuka mengenai kondisi keuangan di dalam keluarga sangat penting agar seluruh anggota keluarga memiliki kesadaran kolektif untuk berhemat.
Di luar aspek ekonomi, peran pengajian, pesantren, dan madrasah Rifa’iyah sangat vital sebagai benteng ketenangan. Di tengah kegaduhan informasi, ajaran agama menuntut kita untuk tidak panik dan menghindari panic buying. Tradisi lisan melalui syair dan nazam bahasa Jawa dalam pengajian Rifa’iyah memiliki kekuatan magis untuk menyentuh hati masyarakat pedesaan, menanamkan nilai kesabaran dan etos kerja (kasab). Majelis-majelis pengajian kini harus mulai mengintegrasikan literasi ekonomi syariah dan teknik pertanian ramah lingkungan ke dalam kurikulumnya. Ilmu tentang kedaulatan pangan dan manajemen keuangan yang sesuai syariat kini sama pentingnya dengan ilmu fiqih dan akhlak.
Pemerintah memang telah menyiapkan berbagai langkah, seperti pompanisasi pertanian dan penguatan cadangan beras nasional, namun ketahanan nasional tidak bisa dibangun hanya dari kebijakan pusat. Ia harus tumbuh dari akar rumput. Rifa’iyah dapat memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Kemandirian nasional tidak berarti menutup diri dari dunia, melainkan memiliki fondasi domestik yang kuat untuk menyerap guncangan eksternal.
Sebagai rekomendasi akhir, seluruh tingkatan pengurus Rifa’iyah harus segera melakukan pendataan potensi lahan dan sumber daya ekonomi warga untuk memetakan kebutuhan dan distribusi bantuan yang tepat sasaran. Koperasi-koperasi di lingkungan jemaah harus segera mengadopsi teknologi digital untuk pencatatan keuangan dan pemasaran produk agar lebih efisien dan memiliki jangkauan pasar yang lebih luas. Selain itu, kurikulum madrasah perlu diperkaya dengan keterampilan teknis bertani dan manajemen keuangan dasar bagi generasi muda. Integrasi nilai-nilai agama dalam pelestarian lingkungan juga harus ditingkatkan, karena menjaga tanah adalah wujud nyata rasa syukur kepada Allah SWT dan bentuk tanggung jawab kita kepada generasi mendatang.
Krisis 2026 adalah ujian besar, namun ujian bukanlah akhir dari segalanya. Ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan KH. Ahmad Rifa’i bukanlah sekadar teks mati dalam kitab, melainkan bekal nyata untuk menghadapi tantangan zaman. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an, Hadis, dan ajaran ulama, serta didukung oleh aksi konkret yang terencana, jemaah Rifa’iyah niscaya dapat melewati badai ini dengan kepala tegak. Menjaga martabat, mempertahankan kesejahteraan, dan tetap teguh dalam ketaatan kepada Sang Pencipta adalah tujuan akhir yang harus kita raih bersama. Melalui solidaritas jemaah yang kuat, kita tidak hanya akan bertahan hidup, tetapi juga mampu bangkit dan memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas bangsa. Mari kita jadikan krisis ini sebagai momentum untuk mempererat ukhuwah, memperkuat kemandirian, dan membuktikan bahwa warga Rifa’iyah adalah komunitas yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing di tengah ketidakpastian dunia.

