Jakarta – Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal bergengsi Science telah menguak sebuah fakta penting: periode kekeringan ekstrem pada abad ke-6 Masehi ternyata turut menjadi faktor krusial yang membuka jalan bagi lahirnya Islam dan dominasi agama ini di Jazirah Arab. Studi revolusioner ini, yang dipimpin oleh para ilmuwan dari University of Basel, Swiss, bersama kolaborator internasional dari berbagai disiplin ilmu, berhasil menyatukan bukti-bukti paleoklimatologi, sejarah, dan arkeologi untuk merangkai kembali mozaik perubahan besar yang melanda wilayah tersebut pada masa lalu, memberikan perspektif baru tentang bagaimana faktor lingkungan dapat secara mendalam membentuk jalur peradaban manusia.
Temuan ini menantang pandangan tradisional yang seringkali hanya berfokus pada dinamika politik dan sosial semata dalam menjelaskan kebangkitan suatu peradaban atau agama. Sebaliknya, penelitian ini menegaskan bahwa perubahan iklim, khususnya fenomena kekeringan berkepanjangan, dapat memicu serangkaian efek domino yang melemahkan struktur kekuasaan yang ada, menciptakan kekosongan politik, dan pada akhirnya membuka ruang bagi ideologi serta sistem sosial baru untuk tumbuh dan berkembang.
Rekonstruksi Iklim dari Kedalaman Gua Oman
Inti dari bukti paleoklimatologi penelitian ini berasal dari analisis cermat lapisan stalagmit di Gua Al Hoota, Oman. Stalagmit, formasi batuan kapur yang tumbuh dari lantai gua, bertindak sebagai arsip alami yang merekam kondisi iklim masa lampau. Pertumbuhan stalagmit sangat bergantung pada jumlah tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua, yang pada gilirannya mencerminkan curah hujan di permukaan. Semakin banyak hujan, semakin cepat stalagmit tumbuh, dan sebaliknya.
Tim peneliti, yang dipimpin oleh Profesor Dominik Fleitmann, seorang pakar ilmu lingkungan terkemuka dari University of Basel, Swiss, menggunakan teknik analisis isotop pada lapisan-lapisan stalagmit ini. Analisis isotop oksigen, misalnya, memungkinkan mereka untuk tidak hanya mengukur laju pertumbuhan stalagmit tetapi juga untuk mendapatkan informasi rinci tentang sumber dan intensitas curah hujan di masa lalu. Hasil analisis menunjukkan adanya periode kekeringan yang sangat parah dan berkepanjangan, diperkirakan terjadi antara sekitar tahun 500 hingga 530 Masehi.
"Bahkan dengan mata telanjang Anda dapat melihat dari stalagmit bahwa pasti ada periode sangat kering yang berlangsung beberapa dekade," kata Profesor Fleitmann, seperti dikutip dari ZME Science, menyoroti betapa jelasnya jejak kekeringan ekstrem ini dalam rekaman geologis. Periode kekeringan ini jauh melampaui fluktuasi iklim musiman biasa; ini adalah krisis hidrologi yang mendalam, yang secara fundamental mengubah lanskap ekologis dan ketersediaan sumber daya vital di seluruh Jazirah Arab.
Dampak kekeringan berkepanjangan ini tidak hanya sekadar mengurangi jumlah curah hujan. Lebih dari itu, ia secara drastis melemahkan sistem pertanian dan irigasi kompleks yang selama berabad-abad menjadi tulang punggung ekonomi dan sosial Kerajaan Himyar di Yaman, salah satu kekuatan politik dan ekonomi paling dominan di Jazirah Arab selatan kala itu. Tanpa sumber daya air yang memadai untuk mengisi waduk dan saluran irigasi, serta tanpa tenaga kerja yang cukup untuk memelihara infrastruktur yang rumit tersebut, sistem sosial dan ekonomi kerajaan itu pun semakin tertekan dan rentan terhadap keruntuhan.
Kejatuhan Kerajaan Himyar: Sebuah Peradaban yang Menyerah pada Kekeringan
Kerajaan Himyar, yang juga dikenal sebagai Kerajaan Homerit oleh bangsa Yunani dan Romawi, adalah entitas politik yang perkasa dan berbudaya tinggi yang pernah berdiri di wilayah Yaman kuno. Sebelum abad ke-6 Masehi, Himyar merupakan salah satu kekuatan politik utama yang menguasai jalur perdagangan penting dan dikenal luas karena pencapaiannya dalam bidang pertanian, terutama sistem terasering dan jaringan irigasinya yang sangat maju. Bendungan-bendungan raksasa, seperti Bendungan Ma’rib yang legendaris, merupakan mahakarya teknik sipil kuno yang memungkinkan Himyar menopang populasi besar dan menghasilkan surplus pertanian di tengah lingkungan yang gersang.
Namun, sepanjang abad ke-6 Masehi, wilayah ini mengalami kombinasi faktor yang mengguncang stabilitasnya hingga ke akar-akarnya. Selain tekanan dari kerajaan tetangga yang ambisius seperti Aksum (Ethiopia) dan konflik internasional yang memperebutkan kendali atas jalur perdagangan, kekeringan ekstrem yang terdeteksi dari stalagmit Al Hoota Cave menjadi pukulan telak yang melemahkan basis ekonomi Himyar secara fundamental.
Profesor John Haldon, sejarawan emeritus dari Princeton University, di New Jersey, Amerika Serikat, yang turut terlibat dalam studi ini, menekankan bagaimana kekeringan ini memperparah kerentanan Himyar. "Kita beranggapan kekeringan ini akan melemahkan infrastruktur ekonomi, dan karena itu infrastruktur politik Himyar, pada akhirnya turut pula membuka kerentanan terhadap tekanan asing," kata Haldon.
Kekurangan air berarti kegagalan panen yang meluas, menyebabkan kelaparan dan penyakit. Sistem irigasi yang rumit, yang membutuhkan perawatan konstan dan investasi besar, mulai rusak dan tidak dapat dioperasikan. Akibatnya, jutaan orang kehilangan mata pencaharian dan sumber makanan. Perpindahan penduduk besar-besaran terjadi, baik itu masyarakat pertanian yang mengungsi mencari lahan subur, maupun suku-suku nomaden yang terpaksa mencari padang rumput baru untuk ternak mereka. Gejolak sosial ini memicu konflik internal, melemahkan otoritas pusat, dan mengikis legitimasi penguasa Himyar.
Dalam kondisi yang sudah rapuh akibat kekeringan dan gejolak internal, Himyar menjadi target empuk bagi kekuatan eksternal. Invasi Aksumite dari Ethiopia, yang terjadi sekitar tahun 525 Masehi, berhasil menaklukkan kerajaan yang telah melemah ini. Meskipun invasi ini merupakan katalis langsung bagi kejatuhan Himyar, penelitian ini menunjukkan bahwa kekeringan ekstremlah yang menciptakan fondasi kerentanan yang memungkinkan invasi tersebut berhasil. Tanpa kekeringan, Himyar mungkin memiliki kekuatan dan ketahanan yang cukup untuk menahan serangan tersebut, atau setidaknya memulihkan diri lebih cepat.
Kekosongan Kekuasaan dan Lahirnya Era Baru
Walaupun penelitian ini secara eksplisit tidak menunjukkan bahwa kekeringan adalah penyebab tunggal kemunculan Islam, studi ini menegaskan bahwa kondisi tersebut menciptakan lanskap sosial dan politik yang sangat bergejolak dan tidak stabil di Jazirah Arab. Kejatuhan kerajaan besar seperti Himyar meninggalkan kekosongan kekuasaan yang signifikan di bagian selatan semenanjung. Disintegrasi struktur kerajaan yang mapan, bersama dengan krisis ekonomi dan sosial yang meluas, menciptakan lingkungan di mana tatanan lama telah runtuh, namun belum ada tatanan baru yang kokoh terbentuk.
Kekosongan ini, yang seringkali diikuti oleh anarki, perpindahan penduduk, dan pencarian identitas serta kepemimpinan baru, menjadi lahan subur bagi munculnya ide-ide dan gerakan-gerakan baru. Masyarakat yang telah kehilangan pijakan tradisional mereka, baik secara ekonomi, sosial, maupun spiritual, menjadi lebih reseptif terhadap pesan-pesan yang menawarkan harapan, persatuan, dan struktur sosial yang koheren.
Pada abad ke-7 Masehi, hanya beberapa dekade setelah periode kekeringan ekstrem dan kejatuhan Himyar, Islam muncul di Makkah. Dengan ajarannya yang menekankan monoteisme, keadilan sosial, dan persatuan umat (ummah) melintasi batas-batas suku, Islam menawarkan sebuah kerangka baru yang kuat bagi masyarakat yang terfragmentasi dan mencari arah. Dalam konteks Jazirah Arab yang baru saja melewati trauma kekeringan dan kekacauan politik, pesan Islam menemukan resonansi yang kuat. Ia menawarkan stabilitas, tatanan baru, dan tujuan bersama di tengah puing-puing peradaban lama.
Refleksi Lebih Luas: Iklim sebagai Arsitek Sejarah
Studi ini secara fundamental memperkaya pemahaman kita tentang interaksi kompleks antara faktor alam dan sejarah manusia. Peristiwa kekeringan ekstrem di abad ke-6 Masehi bukan sekadar anomali cuaca; ia menjadi salah satu elemen kunci dalam rangkaian peristiwa yang secara tidak langsung membantu Islam tumbuh dan berkembang di kawasan ini. Ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan fisik, tetapi juga dapat memiliki dampak besar pada struktur sosial, ekonomi, politik, dan bahkan agama dalam peradaban manusia.
Interaksi antara faktor alam yang tak terhindarkan (seperti kekeringan), gejolak politik, dan transformasi sosial menciptakan kondisi yang memungkinkan lahirnya transformasi besar dalam sejarah agama dan peradaban di Jazirah Arab. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah sesederhana yang kita bayangkan. Ia adalah hasil jalinan rumit dari berbagai kekuatan, di mana bahkan tetesan air hujan pun dapat memainkan peran penting dalam mengukir nasib bangsa-bangsa dan membentuk wajah dunia yang kita kenal sekarang. Memahami pelajaran dari masa lalu ini menjadi semakin relevan di era modern, di mana ancaman perubahan iklim global kembali menjadi sorotan utama, berpotensi mengubah lanskap geopolitik dan sosial di masa depan.

