0

Kejar Target 12 Juta Talenta Digital, Ratusan Siswi Dibekali AI Sejak Usia Dini

Share

Indonesia sedang gencar memacu akselerasi digital di berbagai sektor, namun di balik geliat kemajuan ini, tersembunyi sebuah tantangan krusial: kesenjangan keterampilan digital yang menganga lebar dan minimnya partisipasi perempuan di sektor teknologi. Situasi ini menjadi sorotan utama pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), yang menyadari bahwa keberhasilan transformasi digital nasional sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan inklusif. Dalam upaya ambisius mengejar target 12 juta talenta digital pada tahun 2030, sebuah inisiatif penting hadir membekali ratusan siswi dengan pengetahuan Kecerdasan Buatan (AI) sejak usia dini, menandai langkah strategis untuk meruntuhkan batasan gender di dunia teknologi.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, secara tegas menyoroti urgensi peran perempuan dalam mencapai target nasional talenta digital. Awalnya, pemerintah menargetkan 9 juta talenta digital, namun seiring dengan percepatan adopsi teknologi dan kebutuhan pasar yang kian meningkat, angka tersebut dinilai belum mencukupi. Oleh karena itu, target pun ditingkatkan secara signifikan menjadi 12 juta talenta digital pada tahun 2030. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari kebutuhan fundamental untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Ketersediaan talenta digital yang memadai adalah fondasi bagi inovasi, daya saing, dan kemandirian bangsa di era revolusi industri 4.0.

"Di Kementerian Komunikasi dan Digital, target kami pada tahun 2030 adalah membangun 9 juta talenta digital. Angka tersebut masih belum cukup, dan kami akan meningkatkan target menjadi 12 juta pada 2030," ujar Menkomdigi Meutya Hafid dalam sebuah siaran pers baru-baru ini. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas talenta digital yang mampu bersaing di kancah global. Meutya juga menekankan bahwa teknologi adalah kekuatan pendorong pemberdayaan yang luar biasa, tidak hanya bagi perempuan muda, tetapi juga bagi keluarga, komunitas, dan pada akhirnya, bangsa.

Untuk mewujudkan ekosistem digital yang inklusif dan berdaya, pemerintah memperluas makna konsep 3T menjadi Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Konsep "Terhubung" mengacu pada pemerataan akses infrastruktur digital di seluruh pelosok negeri, memastikan tidak ada lagi wilayah yang tertinggal dalam arus informasi dan komunikasi. "Tumbuh" berarti mendorong inovasi, pengembangan talenta, dan ekosistem bisnis digital yang berkelanjutan. Sementara itu, "Terjaga" menekankan pentingnya keamanan siber, perlindungan data pribadi, dan etika berinternet untuk menciptakan ruang digital yang aman dan produktif bagi semua. Ketiga pilar ini menjadi landasan strategis pemerintah dalam membangun masyarakat digital yang adaptif dan berdaya saing.

Kesenjangan keterampilan digital yang disoroti pemerintah bukanlah isapan jempol belaka. Laporan terbaru dari Amazon Web Services (AWS) dan Strand Partners mengindikasikan bahwa lebih dari 18 juta pelaku usaha di Indonesia, atau sekitar 28% dari total, telah mengadopsi teknologi AI. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan yang impresif, mencapai 47% dan diproyeksikan terus meningkat hingga tahun 2025. Namun, di tengah euforia adopsi AI, terdapat fakta yang memprihatinkan: 57% bisnis di Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam mengatasi kesenjangan keterampilan digital. Ini berarti, meskipun teknologi tersedia, SDM yang mampu mengoperasikan dan mengembangkannya masih sangat terbatas. Kondisi ini dapat menghambat potensi penuh dari investasi teknologi dan memperlambat laju inovasi.

Menanggapi kondisi krusial ini, Amazon, berkolaborasi dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI), kembali menyelenggarakan Amazon Girls’ Tech Day. Program global tahunan ini dirancang khusus untuk memotivasi lebih banyak anak perempuan agar berani mengenal, mempelajari, dan pada akhirnya, menekuni dunia teknologi. Inisiatif ini bukan sekadar pelatihan, melainkan upaya sistematis untuk menanamkan minat dan kepercayaan diri sejak dini, dengan harapan dapat membangun "pipa" talenta perempuan yang kuat di masa depan.

Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, program Amazon Girls’ Tech Day menunjukkan perluasan cakupan yang signifikan. Tahun ini, kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 400 siswi dari 10 sekolah di wilayah Karawang dan Bekasi. Yang paling menarik, untuk pertama kalinya di Indonesia, cakupan peserta diperluas mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Keputusan untuk melibatkan siswi SD merupakan langkah progresif yang diakui penting oleh para ahli, karena diyakini dapat menumbuhkan minat talenta perempuan di bidang teknologi sejak usia yang sangat muda, sebelum stereotip gender mulai mengakar kuat.

Meutya Hafid menyambut baik inisiatif ini, seraya menyampaikan keyakinannya terhadap potensi besar yang dimiliki para siswi. "Saya percaya kita perlu mendorong perempuan muda, seperti mereka yang hadir di Girls’ Tech Day, untuk menjadi bagian dari talenta digital masa depan kita," ujarnya, menggarisbawahi pentingnya peran mentor dan lingkungan yang mendukung untuk menggali potensi tersebut.

AI Tumbuh Pesat, Kesenjangan Skill Masih Menganga: Perlunya Intervensi Dini

Winu Adiarto, Indonesia Regional Manager of Data Center Operations AWS, menjelaskan bahwa Amazon secara berkelanjutan mengadaptasi program ini agar tetap relevan dengan kebutuhan masa depan yang dinamis. Perkembangan AI yang begitu pesat menuntut adanya penyesuaian kurikulum dan fokus pembelajaran.

"Indonesia tengah mempersiapkan diri dalam proses adopsi AI, dan kami mengadaptasi program tahun ini untuk meliputi AI dan teknologi serupa lainnya, sembari memperluas cakupan ke siswi SD. Tujuan kami adalah memicu minat dan membangun rasa percaya diri anak perempuan dalam hal teknologi sejak dini," tutur Winu. Pendekatan ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang pentingnya fondasi yang kuat. Dengan memperkenalkan konsep AI dan teknologi terkait sejak dini, diharapkan para siswi dapat tumbuh dengan pemahaman yang mendalam dan tidak merasa asing dengan teknologi di kemudian hari.

Dalam Amazon Girls’ Tech Day, para peserta mengikuti serangkaian workshop yang disesuaikan dengan kelompok usia mereka. Untuk siswi SD, diperkenalkan konsep dasar AI dan coding melalui permainan interaktif yang menyenangkan. Jenjang SMP dan SMA mendapatkan materi yang lebih mendalam, meliputi robotika pemula, hingga pengembangan game. Pendekatan praktis dan berbasis proyek ini memungkinkan para siswi untuk belajar sambil berkreasi, mengubah abstraksi teknologi menjadi pengalaman yang konkret dan menarik.

Tidak hanya workshop, program ini juga menghadirkan sejumlah perempuan pemimpin teknologi inspiratif (women tech leader) yang berbagi pengalaman dan wawasan. Mereka adalah sosok-sosok yang telah membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas dan kesempatan yang sama untuk berkarier di bidang teknologi. Di antaranya adalah Cecilia Astrid Maharani, VP Data & AI di Mekari, dan Riris Marpaung, CEO & Founder GameChanger Studio sekaligus Co-Founder Indonesia Women in Game. Kehadiran mereka berfungsi sebagai role model yang kuat, mematahkan mitos bahwa dunia teknologi adalah domain eksklusif laki-laki.

Cecilia Astrid Maharani secara khusus menyoroti rendahnya minat perempuan menjadikan teknologi sebagai karier utama. "Saat ini kurang dari 5% perempuan menjadikan teknologi sebagai pilihan karier utama mereka. Tidak ada batasan bagi perempuan untuk terlibat di dunia teknologi karena keberagaman perspektif sangat penting untuk inovasi yang bermakna," ucapnya. Pernyataan Cecilia ini menggarisbawahi bahwa kurangnya partisipasi perempuan bukan hanya masalah keadilan gender, tetapi juga kerugian bagi industri teknologi itu sendiri. Keberagaman perspektif, ide, dan pendekatan yang dibawa oleh perempuan dapat menghasilkan solusi teknologi yang lebih inovatif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat luas.

Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, sependapat bahwa intervensi sejak jenjang sekolah dasar memiliki peran vital dalam mematahkan stereotip yang telah lama melekat, bahwa teknologi adalah ranah laki-laki. "Kami ingin memberikan pengalaman nyata dan relevan bagi siswi dari SD hingga SMA agar mereka memiliki minat, kepercayaan diri, dan aspirasi jangka panjang untuk berkarier di dunia teknologi," jelas Utami. Memberikan pengalaman langsung dan positif di usia muda adalah kunci untuk membentuk persepsi dan minat yang kuat, membangun fondasi mental bahwa mereka juga bisa menjadi bagian dari masa depan teknologi.

Melalui Amazon Girls’ Tech Day, Amazon dan Prestasi Junior Indonesia menegaskan komitmen mereka untuk tidak hanya menyoroti isu kesenjangan gender di sektor teknologi, tetapi juga menjawabnya melalui aksi nyata. Program ini merupakan bagian integral dari upaya global Amazon yang menargetkan untuk menjangkau lebih dari satu juta anak perempuan dan perempuan muda hingga tahun 2030. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun jalur yang inklusif, memastikan bahwa generasi perempuan mendatang tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga kreator, inovator, dan pemimpin yang mampu membentuk masa depan digital.

Langkah ini, dengan membekali ratusan siswi dengan keterampilan AI sejak usia dini, adalah sebuah terobosan progresif. Ini adalah investasi pada masa depan Indonesia, sebuah komitmen untuk memastikan bahwa target 12 juta talenta digital tidak hanya tercapai secara kuantitas, tetapi juga diperkaya dengan keberagaman dan perspektif unik yang dibawa oleh perempuan. Dengan membuka akses, membangun kepercayaan diri, dan menyiapkan generasi perempuan sebagai kreator dan pemimpin di era AI, Indonesia selangkah lebih maju dalam mewujudkan ekosistem digital yang benar-benar inklusif dan berdaya saing global. Ini adalah janji untuk masa depan di mana setiap individu, terlepas dari gender, memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan berkembang di dunia teknologi yang terus berevolusi.