BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan spiritual pesinetron Faby Marcelia ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah bukan sekadar agenda keagamaan biasa, melainkan sebuah upaya mendalam untuk menemukan ketenangan batin pasca berakhirnya bahtera rumah tangganya. Niat suci ini sebenarnya telah bersemayam dalam hati Faby sejak ia resmi menyandang status janda di penghujung tahun 2023. Kesibukan dan beban hidup yang dirasakannya pasca perpisahan mendorongnya untuk mencari tempat "mengadu" yang paling mulia, yaitu di hadapan Sang Pencipta. "Aku aja mau umrah tuh sebenarnya dari karena aku berpisah kan di akhir tahun 2023. Nah setelah pisah itu sepertinya aku mau umrah, kayak pengin ngadu di sana ya," ungkap Faby Marcelia saat ditemui di Studio TransTV, Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, dikutip Senin (2/3/2026).
Namun, takdir berkata lain, keinginan mulia tersebut sempat tertunda akibat padatnya jadwal pekerjaan yang tak bisa dihindari. Sebagai tulang punggung keluarga, Faby harus memprioritaskan tanggung jawabnya untuk menafkahi kedua buah hatinya. Meski demikian, tekadnya untuk beribadah tidak pernah padam. Akhirnya, di awal tahun 2026, setelah semua urusan pekerjaan terselesaikan dengan baik, Faby memantapkan hati untuk berangkat ke Tanah Suci. Momen puncaknya adalah ketika ia berdiri di depan Ka’bah, kiblat umat Islam sedunia. Di sana, Faby tak mampu membendung air mata yang mengalir deras saat memanjatkan doa-doa yang telah terpendam. Getaran emosi yang luar biasa menyelimutinya saat ia merasakan kehadiran Tuhan begitu dekat. "Vibes-nya benar-benar kita langsung lihat Ka’bah. Maksudnya kita berdoa, kita nangis tuh benar-benar depan Ka’bah langsung," tuturnya dengan suara bergetar menceritakan suasana haru di Makkah.
Peran barunya sebagai orang tua tunggal membawa perubahan signifikan dalam pola pikir dan prioritas Faby, termasuk dalam doanya. Jika dulu mungkin ia lebih banyak memohon hal-hal bersifat materi, kini fokus doanya bergeser pada kekuatan fisik dan mental serta kelancaran rezeki. Ia menyadari bahwa sebagai single parent, ia memikul tanggung jawab yang besar untuk memastikan masa depan anak-anaknya. "Minta dikuatin, minta dikasih sehat, minta rezekinya lancar. Karena kan aku kerja juga buat anak-anak dan buat keluarga," jelasnya dengan nada tulus. Doa-doa ini dipanjatkan dengan penuh keyakinan, memohon agar ia senantiasa diberi kemampuan untuk menjalankan peranannya dengan baik.
Pengalaman berada di Tanah Suci memberikan Faby ketenangan yang luar biasa, sebuah anugerah yang sulit ia temukan di tengah hiruk pikuk kehidupan Jakarta. Di sana, ia merasa seolah terlepas dari segala beban dan kerumitan duniawi, fokus sepenuhnya pada ibadah dan refleksi diri. Selama berada di sana, Faby merasakan perubahan positif dalam dirinya, bahkan secara fisik. "Di sana alhamdulillah ya berat badan langsung naik, karena mungkin gak mikirin hal-hal yang lain gitu, mikirinnya cuma ibadah. Pokoknya azan, salat. Semuanya mikirinnya ibadah gitu ya," ucap Faby Marcelia dengan senyum lega. Pengalaman ini menjadi pengingat baginya akan esensi kehidupan yang sebenarnya, yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan.
Faby Marcelia juga merasakan perbedaan atmosfer spiritual antara Makkah dan Madinah. Jika di Makkah ia merasakan getaran emosi yang kuat saat berada di depan Ka’bah, maka di Madinah ia menemukan kedamaian yang lebih mendalam. Suasana kota Nabi Muhammad SAW memberikan nuansa ketenangan yang berbeda, di mana ia merasa benar-benar bisa melepaskan diri dari urusan duniawi dan hanya ingin tenggelam dalam ibadah. "Di sana tuh sangat tenang banget. Terus aduh pokoknya selama di Madinah itu beda kan Madinah sama Makkah ya, kalau di Madinah itu aku ngerasain benar-benar hidup yang kayak tenang, gak ada urusan duniawi, benar-benar maunya ibadah aja," tutupnya dengan nada puas. Perjalanan umrah ini bukan hanya sekadar menunaikan rukun Islam yang ketiga, tetapi juga menjadi momen penting bagi Faby Marcelia untuk menata kembali hati dan jiwanya, serta memperkuat fondasi spiritualnya dalam menghadapi tantangan hidup sebagai single parent. Pengalaman ini diharapkan dapat memberinya kekuatan dan ketabahan dalam menjalani sisa perjalanan hidupnya. Kepulangan dari Tanah Suci disambut dengan semangat baru dan tekad yang lebih kuat untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dan keluarga.

