Sejak tahun 2014, Dhiar Lukito Adhi telah mengukir namanya sebagai salah satu pionir dan ikon di ranah konten kreator teknologi Indonesia. Melalui kanal YouTube Dhiarcom, ia tidak hanya sekadar mereview gadget, melainkan juga membangun komunitas loyal berjumlah fantastis, mencapai 3,27 juta pelanggan. Dhiarcom dikenal dengan gaya penyampaiannya yang lugas, informatif, dan selalu up-to-date, menjadikannya rujukan utama bagi para penggemar teknologi yang haus akan informasi terkini seputar smartphone, laptop, wearable device, hingga inovasi-inovasi paling mutakhir di dunia digital. Konsistensinya selama bertahun-tahun telah memposisikannya sebagai suara yang kredibel dan berpengaruh di industri teknologi tanah air.
Namun, dalam langkah terbarunya yang penuh kejutan, Dhiarcom memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya. Bukan lagi tentang unboxing atau benchmark performa gadget, melainkan sebuah proyek musikal ambisius bersama musisi muda berbakat, Zoe Levana. Kolaborasi lintas genre ini menghasilkan sebuah single berjudul ‘Cinta Teknologi’, sebuah ode modern yang merayakan gairah terhadap inovasi dan kemajuan digital, sekaligus menjadi bukti bahwa kreativitas tidak mengenal batas. Proyek ini tidak hanya menarik perhatian karena kolaboratornya, tetapi juga karena biaya produksinya yang fantastis, mencapai estimasi Rp 1 miliar.
Asal muasal lagu ini ternyata berawal dari observasi Zoe Levana. Seringnya Dhiar dan Zoe terlibat dalam pembuatan konten bersama, bahkan hingga perjalanan ke luar negeri, membuat Zoe melihat secara langsung betapa mendalamnya kecintaan Dhiar terhadap teknologi. Zoe menyaksikan bagaimana Dhiar, sebagai seorang tech reviewer, tidak hanya sekadar mengulas spesifikasi, tetapi benar-benar menghayati setiap inovasi yang hadir. "Jadi, awalnya, karena seringnya Dhiar dan Zoe Levana bikin konten dan pergi ke luar negeri bareng, terbesit dibenak Zoe untuk bikin lagu tentang Teknologi, karena Zoe melihat sosok Dhiar sebagai penggiat gadget dan tech reviewer yang udah cukup lama," tutur Dhiar, mengutip inisiatif kreatif dari rekannya tersebut. Zoe, dengan naluri seninya, merasa ada potensi besar untuk menerjemahkan semangat teknologi Dhiar ke dalam melodi dan lirik yang menarik, sebuah ide yang belum banyak dieksplorasi di industri musik.
Gayung pun bersambut. Dhiar, yang selalu terbuka pada inovasi dan ide-ide baru, menyambut antusias ajakan Zoe untuk bernyanyi duet. Sebuah keputusan berani bagi seorang tech reviewer untuk terjun ke dunia musik secara profesional, menunjukkan keberaniannya dalam mengeksplorasi ranah kreatif yang berbeda. Proses kreatif pun segera bergulir. Pada bulan Agustus 2025, Zoe Levana mengambil alih kendali penuh dalam penulisan lirik dan penataan aransemen musik. Dengan keahliannya sebagai musisi, Zoe meramu setiap kata dan nada agar selaras dengan tema teknologi, namun tetap memiliki daya tarik universal yang bisa dinikmati oleh khalayak luas. Lirik-liriknya dirancang untuk menggambarkan interaksi manusia dengan teknologi, mulai dari ketergantungan hingga kekaguman akan kemajuan yang tiada henti. Setelah Dhiar menyetujui konsep dan demo yang disajikan, proses rekaman segera dilakukan di Studio Zoe Levana Record, sebuah studio yang memang dirancang untuk menunjang kreativitas bermusik dengan fasilitas lengkap. Suasana studio dipenuhi semangat kolaborasi, di mana Dhiar, meskipun bukan seorang penyanyi profesional, menunjukkan dedikasi tinggi untuk memberikan yang terbaik dalam setiap take vokal.
Namun, puncak dari ambisi proyek ini terletak pada pembuatan video klipnya. Tahap ini terbilang paling menantang dan memakan waktu, terutama karena harus menyinkronkan jadwal padat Zoe sebagai musisi yang sedang naik daun dan Dhiar dengan rutinitas syuting review gadgetnya yang tidak pernah berhenti. "Setelah dicicil dari bulan Oktober sampai Desember, jadilah video clip tersebut," ungkap Dhiar, menggambarkan upaya keras yang diperlukan. Proses syuting video klip ini bukan hanya sekadar syuting biasa; ia adalah sebuah perjalanan epik yang melintasi benua, dirancang untuk menciptakan visual yang memukau dan relevan dengan narasi ‘Cinta Teknologi’.

Lokasi syuting dipilih dengan sangat selektif dan strategis untuk menciptakan visual yang beragam dan merefleksikan jangkauan global teknologi. Dimulai dari hiruk pikuk Jakarta, kota metropolitan yang menjadi pusat inovasi dan startup di Indonesia, kemudian berlanjut ke keindahan eksotis Bali, yang menawarkan kontras visual menawan antara alam dan sentuhan modern. Tidak berhenti di situ, tim produksi terbang ke Singapura, sebuah negara yang dikenal sebagai hub teknologi, smart city, dan kemajuan urban di Asia Tenggara, memberikan nuansa futuristik dan efisien. Dan sebagai puncaknya, syuting dilakukan di Paris, Perancis, kota romantis yang juga menyimpan sejarah panjang inovasi dan seni, menghadirkan estetika klasik berpadu modernitas. Pemilihan lokasi-lokasi internasional ini tidak hanya untuk estetika semata, melainkan juga untuk merefleksikan jangkauan global teknologi dan bagaimana ia menyentuh setiap aspek kehidupan di berbagai belahan dunia, dari kota megapolitan hingga destinasi wisata yang mendunia.
Selama syuting video klip di berbagai lokasi megah ini, Dhiar tidak lupa membawa serta ‘sahabat-sahabat’ utamanya: perlengkapan gadget kelas flagship terbaru. Sebut saja Samsung Galaxy Z TriFold, sebuah perangkat inovatif yang mungkin belum dirilis secara resmi namun sudah dipegang Dhiar, Huawei MateBook Fold, dan beragam gadget anyar lainnya yang menjadi representasi puncak inovasi dan kemewahan di dunia teknologi. Kehadiran gadget-gadget ini bukan sekadar properti pelengkap, melainkan penegas identitas Dhiar sebagai tech reviewer sejati dan sekaligus berfungsi sebagai showcase visual yang memanjakan mata para penggemar teknologi. Setiap detail gadget dipilih untuk menambah kedalaman visual dan memastikan autentisitas konten, seolah-olah penonton diajak dalam tur teknologi global yang paling eksklusif.
Melihat skala produksi yang begitu besar, mulai dari perjalanan lintas negara, pemilihan lokasi premium, hingga penggunaan gadget-gadget mahal yang mutakhir, tentu pertanyaan mengenai biaya produksi menjadi sangat relevan dan mengundang rasa penasaran. Ketika disinggung oleh detikINET mengenai anggaran yang dihabiskan, Dhiar menjawab dengan santai namun tegas, menunjukkan bahwa ia dan timnya memang telah memperhitungkan segala sesuatunya. "Termasuk dengan kru kameramen dan videographer dari tim Dhiarcom, mungkin bisa diperkirakan memakan biaya kira-kira Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar," ujarnya. Angka fantastis ini menegaskan komitmen Dhiar dan timnya untuk tidak main-main dalam menghadirkan karya berkualitas tinggi yang bisa bersaing di kancah internasional. Biaya tersebut mencakup segala aspek, mulai dari transportasi dan akomodasi tim di empat negara, sewa peralatan syuting canggih seperti kamera sinematik dan drone, honor kru profesional yang terdiri dari sutradara, kameramen, videographer, editor, hingga perizinan lokasi yang tidak murah, terutama di negara-negara Eropa. Ini adalah investasi besar yang diharapkan akan sebanding dengan kualitas output dan dampak yang dihasilkan, baik dalam industri musik maupun teknologi.
Meskipun Zoe Levana menggarap lirik dan musik sepenuhnya, Dhiar tetap memberikan sentuhan personalnya yang mencerminkan identitasnya sebagai pakar teknologi. Ada sedikit masukan dari Dhiar, seperti pertimbangan apakah kata ‘Pixel’ perlu diganti dengan ‘ASCII’ untuk nuansa yang lebih teknis dan mendalam, serta saran agar musiknya menjadi makin asyik dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Masukan ini menunjukkan bahwa Dhiar tidak hanya berperan sebagai penyanyi dadakan, tetapi juga sebagai kurator konten yang memastikan lagu tersebut tetap relevan dengan identitasnya sebagai pakar teknologi dan memiliki resonansi yang kuat dengan audiensnya. Lirik lagu ‘Cinta Teknologi’ sendiri diharapkan menjadi jembatan antara dunia seni musik dan ranah teknologi, merayakan inovasi, konektivitas, dan dampak positif yang dibawa oleh kemajuan digital dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik investasi besar dan upaya keras ini, Dhiar menyimpan harapan yang mendalam. "Harapan saya terhadap lagu ini adalah, pertama dari diri saya sendiri suka dengan inovasi-inovasi baru, tidak monoton, makanya dengan adanya Music Video ini di nuansa teknologi, bisa membuat penyegaran di dunia khususnya konten kreator," ujarnya. Ia melihat proyek ini sebagai langkah inovatif untuk mendobrak batasan, menghadirkan sesuatu yang segar di tengah monotonnya konten yang ada. Dhiar sangat percaya bahwa kreativitas seni musik bisa dipadukan secara harmonis dengan balutan konten review teknologi. Ini bukan hanya tentang menghasilkan lagu yang enak didengar atau video yang indah dipandang, tetapi juga tentang membuka celah baru bagi produsen gadget untuk melebarkan kreativitas mereka dalam mempromosikan produknya, mungkin melalui integrasi artistik yang lebih mendalam. "Intinya sih, harapan saya ingin membuat tontonan yang menarik dan keren di rancah teknologi," tandasnya. Ia membayangkan sebuah ekosistem di mana seni dan teknologi saling menginspirasi, menciptakan pengalaman yang lebih kaya dan multidimensional bagi audiens, sekaligus menunjukkan potensi tak terbatas dari konten kreator di masa depan.
Proyek ‘Cinta Teknologi’ oleh Dhiarcom dan Zoe Levana ini bukan sekadar kolaborasi biasa, melainkan sebuah manifestasi dari kecintaan yang mendalam terhadap inovasi dan keberanian untuk bereksperimen. Dengan anggaran mencapai Rp 1 miliar dan produksi yang melibatkan lokasi-lokasi ikonis di seluruh dunia, mereka telah menetapkan standar baru untuk konten teknologi yang artistik dan ambisius. Ini adalah bukti bahwa passion bisa membawa seseorang melampaui batas-batas konvensional, menciptakan karya yang tidak hanya informatif tetapi juga menghibur dan inspiratif, sekaligus menunjukkan bahwa masa depan konten kreator mungkin jauh lebih beragam dan spektakuler dari yang kita bayangkan.

