Sebuah video viral yang menyebar luas di platform Instagram baru-baru ini menyulut perdebatan sengit mengenai kebiasaan penggunaan ponsel pintar atau gadget yang diklaim bisa menjadi penanda status sosial ekonomi seseorang. Dalam video tersebut, seorang perempuan bernama Jamie mengemukakan argumen yang cukup provokatif, menyatakan bahwa ada perbedaan mendasar dalam cara orang kaya sungguhan dan mereka yang bukan, berinteraksi dengan teknologi di genggaman mereka. Jamie, yang mengaku juga pernah mengalami sendiri, menyoroti fenomena kecanduan dopamin dan kebiasaan menggulir layar ponsel berjam-jam tanpa henti, atau yang lebih dikenal dengan istilah "doomscrolling".
Menurut Jamie, kebiasaan "doomscrolling" ini seringkali muncul sebagai respons terhadap pikiran yang sudah terlalu penuh dan kebutuhan akan istirahat dari hiruk pikuk kehidupan. Ia mencatat bahwa orang-orang yang sering terjebak dalam lingkaran doomscrolling dan merasa sangat butuh ‘istirahat’ dari tekanan hidup cenderung adalah mereka yang terlalu banyak bekerja hingga mengalami burnout. Kondisi burnout ini, imbuhnya, adalah indikasi bahwa mereka tidak sedang menjalani kehidupan yang mewah atau berkecukupan. Dengan kata lain, kecenderungan untuk melarikan diri ke dalam dunia digital melalui guliran tanpa akhir adalah cerminan dari beban hidup yang berat, yang seringkali diasosiasikan dengan perjuangan ekonomi.
Kontras dengan kebiasaan tersebut, Jamie mengamati pola perilaku yang berbeda pada golongan orang yang ia sebut sebagai "lebih banyak uang, lebih kaya, lebih makmur." Ia berargumen bahwa Anda tidak akan melihat mereka, atau anak-anak mereka, menjadi individu yang kecanduan iPad atau gadget lainnya. Sebaliknya, orang-orang kaya cenderung menginvestasikan waktu dan sumber daya untuk melibatkan anak-anak mereka dalam berbagai aktivitas yang memperkaya, seperti olahraga, seni, les privat, atau perjalanan edukatif. Anak-anak yang tumbuh dengan baik, menurutnya, bukanlah anak-anak yang terlalu bergantung pada teknologi. Mereka lebih banyak terlibat dalam interaksi sosial, eksplorasi dunia nyata, dan pengembangan keterampilan non-digital.
Argumen Jamie memang terdengar masuk akal dan relevan dengan realitas sosial saat ini. Semakin lelah seseorang karena terlalu banyak bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah ekonomi yang sulit dan biaya hidup yang tinggi, semakin besar pula kemungkinan mereka akan mencari pelarian. Layar ponsel menjadi gerbang termudah untuk melarikan diri sejenak dari tekanan, kekhawatiran, dan kelelahan mental. Guliran media sosial yang tiada henti, konsumsi konten hiburan, atau bahkan hanya sekadar menatap layar kosong, bisa menjadi mekanisme koping yang seringkali tidak sehat, namun terasa instan dan mudah diakses.
Fenomena "doomscrolling" sendiri telah menjadi istilah populer untuk menggambarkan kebiasaan terus-menerus menggulir berita, media sosial, atau informasi negatif, terutama yang berkaitan dengan krisis atau masalah dunia, hingga menimbulkan perasaan cemas, stres, atau kewalahan. Jamie menggarisbawahi bahwa orang-orang yang terjebak dalam siklus ini adalah mereka yang paling rentan terhadap informasi berlebihan dan merasa terbebani oleh realitas. Mereka mungkin merasa tidak memiliki kendali atas hidup mereka dan mencari pelarian di dunia maya, yang ironisnya, seringkali justru memperburuk kondisi mental mereka.
Tidak mengherankan, banyak orang di kolom komentar unggahan Jamie tersebut yang setuju dengan pendapatnya. Berbagai tanggapan muncul, memperkuat narasi bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan, terutama pada anak-anak, memang memiliki dimensi kelas sosial. "Ketika saya menyadari bahwa ‘anak-anak iPad’ adalah masalah kelas sosial, saya berhenti mengkritik orang tua mereka," aku salah satu pengguna, menyoroti empati terhadap orang tua yang mungkin tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan gadget sebagai "pengasuh digital" karena keterbatasan waktu, sumber daya, atau akses ke aktivitas alternatif yang lebih mahal.
Komentar lain menambahkan, "Sangat menarik karena meskipun dianggap sebagai cara bersantai dan mewah, ini adalah bentuk relaksasi yang sangat melelahkan/beracun." Pernyataan ini menunjukkan pemahaman kolektif bahwa meskipun teknologi menawarkan kemudahan dan hiburan, penggunaan yang tidak bijak justru dapat menguras energi mental dan emosional, alih-alih meremajakan. Istilah "kemewahan" di sini merujuk pada ilusi bahwa memiliki banyak waktu luang untuk bersantai dengan gadget adalah tanda kemewahan, padahal kenyataannya, relaksasi semacam itu seringkali tidak efektif dan bahkan merusak.
Ada pula yang secara blak-blakan mengklaim, "Para miliarder tidak melakukan doomscrolling karena mereka tidak menghadapi malapetaka yang nyata." Komentar ini menyiratkan bahwa kekayaan memberikan perlindungan dari banyak "malapetaka" sehari-hari yang dihadapi masyarakat umum, mulai dari tekanan finansial, ketidakpastian pekerjaan, masalah kesehatan tanpa asuransi, hingga isu-isu sosial yang membebani. Dengan demikian, orang-orang kaya memiliki lebih sedikit alasan untuk mencari pelarian dari realitas yang keras, karena realitas mereka jauh lebih nyaman dan terkendali. Mereka cenderung lebih proaktif dalam menyelesaikan masalah daripada melarikan diri darinya.
Terlepas dari siapa yang melakukan doomscrolling dan apa motif di baliknya, para ahli kesehatan sepakat bahwa itu adalah kebiasaan buruk yang dapat merusak kesehatan seseorang, baik fisik maupun mental. Apalagi jika kebiasaan itu dilakukan sebelum tidur, dampaknya bisa sangat merugikan. Rachel Beard, seorang ahli yang dikutip oleh news.com.au, menjelaskan bahwa situs media sosial dan aplikasi lainnya dirancang secara cermat untuk menarik pengguna ke dalamnya dan kemudian membuat mereka tetap bertahan selama mungkin. Algoritma canggih dan fitur-fitur yang dirancang untuk memicu loop dopamin membuat pengguna sulit melepaskan diri.
"Jadi, pada saat waktu tidur tiba, orang-orang membuat keputusan yang disengaja untuk mengorbankan atau menunda tidur untuk menggulir layar ponsel mereka atau menonton TV. Ini berarti mengorbankan tidur sepanjang hari," kata Beard. Dampak dari kurang tidur akibat screen time berlebihan ini sangat luas. Tidak hanya sekadar kelelahan mata, tetapi juga berujung pada gangguan pola tidur, peningkatan kadar hormon stres kortisol, kecemasan kronis, depresi, dan bahkan isolasi sosial. Cahaya biru dari layar gadget dapat menekan produksi melatonin, hormon yang esensial untuk tidur nyenyak, sehingga siklus tidur alami seseorang terganggu secara fundamental.
Lebih jauh lagi, ketergantungan pada gadget juga dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi, produktivitas, dan kualitas hubungan interpersonal di dunia nyata. Jika seseorang terus-menerus mencari validasi atau hiburan dari layar, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk membangun koneksi yang bermakna dengan orang-orang di sekitar mereka, atau untuk terlibat dalam kegiatan yang benar-benar membangun dan memuaskan.
Pandangan Jamie dan resonansi yang ditimbulkannya di media sosial mengundang kita untuk merenungkan lebih dalam tentang hubungan antara teknologi, kesejahteraan, dan kesenjangan sosial. Apakah penggunaan gadget yang berlebihan benar-benar merupakan indikator tidak langsung dari kurangnya kemewahan atau kebebasan finansial? Mungkin saja. Orang-orang dengan privilese dan sumber daya lebih besar cenderung memiliki akses ke berbagai pilihan rekreasi dan pengembangan diri yang tidak melibatkan layar. Mereka bisa membayar kegiatan ekstrakurikuler mahal untuk anak-anak, memiliki waktu luang untuk berlibur, atau sekadar memiliki lingkungan yang memungkinkan mereka untuk terlepas dari tuntutan digital.
Sebaliknya, bagi mereka yang berjuang keras secara ekonomi, gadget bisa menjadi satu-satunya bentuk hiburan yang terjangkau, alat untuk mencari informasi pekerjaan, atau bahkan "babysitter" darurat yang murah saat orang tua harus bekerja keras. Ini bukan berarti bahwa orang kaya tidak menggunakan teknologi atau tidak memiliki masalah, tetapi frekuensi, intensitas, dan tujuan penggunaan mereka mungkin berbeda secara signifikan. Mereka mungkin menggunakan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas atau koneksi bisnis, bukan sebagai pelarian dari realitas yang menekan.
Pada akhirnya, diskusi ini membawa kita pada kesimpulan bahwa penggunaan teknologi yang sehat dan seimbang bukanlah hanya masalah disiplin pribadi, melainkan juga terkait erat dengan kondisi sosial ekonomi. Bagi banyak orang, kebiasaan "doomscrolling" adalah gejala dari masalah yang lebih dalam: kelelahan, stres finansial, dan kurangnya akses ke sumber daya yang dapat memberikan kelegaan nyata. Dengan demikian, alih-alih hanya mengkritik kebiasaan penggunaan ponsel, mungkin kita perlu melihat lebih jauh ke akar masalah yang membuat orang-orang begitu terpaku pada layar mereka.
Mewujudkan gaya hidup digital yang lebih seimbang, terlepas dari status ekonomi, menjadi tantangan bersama. Ini melibatkan kesadaran diri, penetapan batas waktu layar, mencari alternatif aktivitas yang memuaskan di dunia nyata, dan bagi orang tua, memberikan teladan dan lingkungan yang mendukung perkembangan anak tanpa terlalu bergantung pada gadget. Video viral Jamie ini mungkin hanya sekilas pandang, namun berhasil memicu percakapan penting tentang bagaimana teknologi membentuk kebiasaan kita, dan bagaimana kebiasaan tersebut, pada gilirannya, dapat mencerminkan lebih banyak tentang kehidupan dan kondisi sosial kita daripada yang kita sadari. Demikian dikutip detikINET dari The Post.

