Ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja global diprediksi akan menjadi katalisator paling signifikan bagi kebangkitan gerakan buruh dan serikat pekerja di era modern. AI, dengan kemampuannya mengotomatisasi berbagai tugas dan bahkan mengambil alih fungsi kognitif, kini dipandang sebagai ancaman eksistensial terhadap mata pencarian jutaan pekerja di seluruh dunia, yang berpotensi menyatukan mereka melawan musuh bersama yang baru ini. Fenomena ini tidak lagi terbatas pada pekerja kerah biru, tetapi juga merambah ke ranah pekerja kerah putih, menciptakan solidaritas lintas kelas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut Sarita Gupta, Vice President Ford Foundation dan salah satu penulis buku berpengaruh "The Future We Need," perkembangan pesat AI justru membuka peluang emas bagi gerakan buruh untuk mendapatkan kembali kekuatan dan relevansinya. Dalam sebuah wawancara dengan Guardian, Gupta menyoroti bagaimana serikat pekerja telah mengalami erosi daya tawar kolektif selama empat dekade terakhir. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh kurangnya undang-undang yang memadai dan penegakan hukum yang lemah, yang pada gilirannya memungkinkan produktivitas melonjak tajam sementara upah pekerja cenderung stagnan. Kondisi ini diperparah dengan tingkat keanggotaan serikat pekerja yang menyentuh titik terendah dalam sejarah di banyak negara maju.
Namun, narasi tersebut kini mulai berubah drastis. Gupta mengamati bahwa ketika seorang insinyur perangkat lunak muda di Silicon Valley menyadari bahwa kinerjanya dilacak dan dievaluasi secara algoritmik, bahkan diremehkan oleh logika yang sama persis dengan yang diterapkan pada seorang pekerja gudang, sekat-sekat kelas yang kaku mulai memudar. Realisasi kolektif ini menumbuhkan kesadaran bahwa mereka semua, terlepas dari latar belakang pendidikan atau jenis pekerjaan, menghadapi ancaman yang serupa dari sistem yang semakin diotomatisasi dan dikendalikan oleh algoritma. Kondisi ini membuka jalan bagi gerakan kelas pekerja yang lebih besar dan inklusif, yang bersatu untuk menuntut martabat, keadilan, dan kontrol atas masa depan pekerjaan mereka. "Itulah yang mulai kita saksikan," tegas Gupta, menggarisbawahi potensi transformatif dari ancaman AI.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masif yang melanda berbagai sektor sejak tahun 2009 telah menjadi preseden yang menakutkan, menunjukkan kerentanan pasar tenaga kerja terhadap guncangan ekonomi dan teknologi. Kini, AI menambah lapisan kompleksitas baru pada kerentanan tersebut. Baik pekerja kantoran yang berpendidikan tinggi maupun pekerja kasar kerah biru sama-sama merasakan tekanan dan ketidakpastian. Survei terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 71% warganya khawatir AI akan menyebabkan terlalu banyak orang kehilangan pekerjaan secara permanen, sebuah angka yang mencerminkan tingkat kecemasan publik yang sangat tinggi terhadap dampak teknologi ini. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar, mengingat proyeksi bahwa AI dapat mengotomatisasi hingga 30% dari jam kerja global pada tahun 2030, menurut laporan dari McKinsey Global Institute.
Data dari Economic Policy Institute semakin memperkuat argumen ini, mengungkapkan bahwa lebih dari 50 juta pekerja Amerika di semua industri menginginkan perwakilan serikat pekerja pada tahun 2025, namun tidak mampu mendapatkannya karena berbagai hambatan hukum dan struktural. Angka ini adalah bukti nyata adanya permintaan yang besar terhadap organisasi pekerja yang dapat menyalurkan aspirasi dan melindungi hak-hak mereka. Dengan meningkatnya ketidakpuasan dan kecemasan, para taipan bisnis dan eksekutif perusahaan mulai menunjukkan kegugupan. Mereka menyadari bahwa gelombang ketidakpuasan pekerja yang terorganisir dapat mengganggu stabilitas operasional dan keuntungan mereka. Contoh nyata terlihat ketika lebih dari 50.000 warga Minnesota melakukan mogok kerja yang dipimpin serikat pekerja sebagai protes atas insiden tertentu, yang kemudian memicu lebih dari 60 eksekutif lokal untuk menulis surat terbuka yang menyerukan penurunan ketegangan sesegera mungkin. Ini menunjukkan bahwa kekuatan kolektif pekerja, ketika diorganisir dengan baik, memiliki dampak signifikan yang mampu menggerakkan para pemangku kepentingan tingkat atas.
Sejarah telah berulang kali menunjukkan bagaimana revolusi teknologi memicu pergeseran besar dalam struktur sosial dan ekonomi. Dari Revolusi Industri pertama yang melahirkan gerakan Luddite hingga era otomatisasi pabrik, ketakutan akan hilangnya pekerjaan akibat mesin bukanlah hal baru. Namun, AI menghadirkan dimensi yang berbeda. Jika sebelumnya mesin menggantikan otot, AI kini menggantikan pikiran. Ini berarti bahwa tidak hanya pekerjaan manual dan repetitif yang terancam, tetapi juga pekerjaan yang melibatkan analisis data, pengambilan keputusan, penulisan, desain grafis, dan bahkan sebagian dari pengembangan perangkat lunak. Skala dan kecepatan disrupsi yang ditawarkan oleh AI jauh melampaui gelombang teknologi sebelumnya, menuntut respons yang lebih cepat dan terkoordinasi dari para pekerja.
Agar upaya melawan ancaman AI membuahkan hasil yang nyata, semuanya bergantung sepenuhnya pada kemampuan para pekerja untuk mengubah ketidakpuasan yang tersebar luas menjadi kekuatan yang terorganisir dan efektif. Serikat pekerja di seluruh dunia perlu beradaptasi dan mengembangkan strategi baru untuk menghadapi tantangan unik yang ditimbulkan oleh AI. Ini mungkin melibatkan negosiasi kolektif untuk klausul perlindungan pekerjaan terkait AI, pelatihan ulang dan program peningkatan keterampilan yang didanai perusahaan, partisipasi pekerja dalam desain dan implementasi sistem AI, serta tuntutan untuk pembagian keuntungan yang lebih adil dari peningkatan produktivitas yang dihasilkan oleh AI. Model "transisi yang adil" (just transition) menjadi krusial, memastikan bahwa pekerja yang terkena dampak otomatisasi tidak ditinggalkan, melainkan diberikan kesempatan untuk beradaptasi dan berkembang di era baru.
Gupta menegaskan bahwa arah perkembangan teknologi bukanlah takdir yang tak terhindarkan, melainkan sebuah pilihan yang harus diambil bersama. "Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa arah teknologi adalah sebuah pilihan, bukan? Kita bisa menggunakan AI untuk membangun ekonomi pengawasan yang memeras setiap tetes keringat seorang pekerja, atau kita bisa menggunakannya untuk membangun era kemakmuran bersama," tutup Gupta, sebagaimana dikutip detikINET dari Futurism. Pernyataan ini menjadi inti dari tantangan dan peluang yang dihadapi masyarakat global. Apakah AI akan menjadi alat untuk memperdalam ketidaksetaraan dan kontrol korporat yang otoriter, ataukah ia akan dimanfaatkan untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan memberdayakan? Jawabannya akan sangat bergantung pada seberapa efektif pekerja dapat bersatu, menyuarakan tuntutan mereka, dan membentuk masa depan teknologi agar melayani kepentingan semua, bukan hanya segelintir elite. Kebangkitan gerakan buruh dalam menghadapi AI bukan hanya tentang melindungi pekerjaan, tetapi juga tentang mendefinisikan ulang nilai kerja manusia dan memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar membawa kemajuan bagi seluruh umat manusia.

