BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Dalam sebuah pernyataan yang menyentuh hati, Karina Ranau, istri almarhum Epy Kusnandar, mengungkapkan bahwa ia belum memiliki niat untuk melupakan suaminya dan justru ingin terus berada dalam suasana duka. Keputusan ini diambilnya bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk cinta dan penghormatan mendalam terhadap sosok Epy Kusnandar yang telah meninggalkan dunia fana pada Rabu, 3 Desember 2025, setelah berjuang melawan penyakitnya. Karina Ranau menyampaikan, "Saya nggak mau pernah move on. Kalau aku move on, ini versiku ya, berarti aku sudah melupakan almarhum gitu. Aku pengin terus berduka, agar dia tetap selalu di hatiku." Ungkapan ini mencerminkan betapa kuatnya ikatan emosional yang terjalin di antara mereka, dan bagaimana duka menjadi cara baginya untuk menjaga memori sang suami tetap hidup.

Keputusan Karina Ranau untuk tidak terburu-buru bangkit dari kesedihan ini patut dipahami. Kehilangan pasangan hidup adalah cobaan terberat yang bisa dialami seseorang, dan setiap individu memiliki cara serta waktu yang berbeda dalam menghadapi proses berduka. Bagi Karina, berduka adalah bentuk pengekspresian cinta yang abadi, sebuah cara untuk menjaga kedekatan spiritual dengan Epy Kusnandar. Ia meyakini bahwa dengan terus merasakannya dalam hati, ia tidak akan pernah benar-benar kehilangan. Proses ini baginya bukan tentang meratapi kesedihan tanpa akhir, melainkan tentang mengolah rasa kehilangan menjadi sebuah kekuatan yang menjaga kenangan indah tetap bersamanya.
Dalam kesehariannya, Karina Ranau kerap terlihat mengunjungi makam Epy Kusnandar. Momen-momen ini menjadi bagian penting dari ritual berdukanya. Bahkan, ia pernah mengajak anak dan karyawannya untuk makan sahur bersama di makam Epy Kusnandar. Pengalaman ini memberikan kekuatan tersendiri baginya. Ia menggambarkan perasaannya saat berada di makam, seolah-olah Epy Kusnandar masih menunggunya. "Saya datang ke sana karena, berziarah dan bercerita. Jadi, kayak ngerasa plong aja gitu. Terus sahur di sana, kayak nggak tahu ya itu perasaan saya saja kali ya, kayak aku ditungguin sama papi. Aku nggak tahu sih, apakah itu alam bawah sadarku yang berbicara. Tapi, momen itu ketika muncul otomatis dan memengaruhi psikologis saya," tuturnya. Pengalaman spiritual ini menjadi sumber ketenangan dan kekuatan baginya dalam menghadapi hari-hari tanpa kehadiran fisik Epy Kusnandar.

Epy Kusnandar, yang dikenal sebagai sosok yang menghibur dan dicintai oleh banyak orang, kepergiannya tentu meninggalkan luka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi para penggemarnya. Sebagai seorang istri, Karina Ranau merasakan kehilangan yang tak terukur. Ia tak ingin merayakan kebahagiaan baru dengan melupakan Epy. Baginya, setiap tetes air mata yang jatuh adalah bukti cinta yang masih membara, sebuah pengingat bahwa cinta sejati tidak mengenal batas waktu dan ruang. Ia lebih memilih untuk merawat luka itu, menjadikannya bagian dari dirinya, daripada menutupinya dengan kepalsuan.
Proses berduka yang dijalani Karina Ranau juga menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa tidak ada aturan baku dalam menghadapi kehilangan. Setiap orang berhak untuk berduka sesuai dengan caranya sendiri. Ada yang memilih untuk segera bangkit dan melanjutkan hidup, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses rasa sakit. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat menemukan kedamaian dalam proses tersebut, dan bagaimana ia dapat terus menghormati memori orang yang telah tiada.

Dalam konteks ini, keinginan Karina Ranau untuk terus berduka adalah bentuk ekspresi diri yang otentik. Ia tidak merasa perlu untuk mengikuti norma-norma sosial yang mungkin mengharuskan seseorang untuk cepat "sembuh" dari kesedihan. Sebaliknya, ia menemukan kekuatan dan kenyamanan dalam merawat ingatannya tentang Epy Kusnandar. Ia menjadikan momen-momen refleksi di makam sebagai terapi, tempat ia bisa berbicara, berbagi cerita, dan merasa lebih dekat dengan suaminya. Pengalaman "ditungguin" oleh Epy di makam saat sahur, meskipun mungkin bersifat psikologis, memberikan dorongan emosional yang sangat berarti baginya. Ini adalah cara alam bawah sadarnya untuk memberikan penghiburan dan kekuatan.
Pernyataan Karina Ranau juga menggarisbawahi pentingnya validasi terhadap perasaan seseorang yang sedang berduka. Tidak semua orang memahami mengapa seseorang memilih untuk tidak segera move on. Namun, bagi mereka yang mengalaminya, keputusan tersebut seringkali merupakan bagian dari proses penyembuhan yang mendalam. Ini adalah tentang bagaimana menjaga hubungan spiritual dengan orang yang telah meninggal, dan bagaimana membawa semangat serta kenangan mereka ke dalam kehidupan yang terus berjalan.

Kepergian Epy Kusnandar adalah sebuah kehilangan besar. Namun, melalui ungkapan Karina Ranau, kita dapat melihat bahwa cinta dan kenangan dapat terus hidup, bahkan setelah seseorang tiada. Keputusannya untuk terus berduka bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan cinta yang tak tergoyahkan. Ia memilih untuk merawat luka itu, menjadikannya sebagai pengingat akan keindahan hubungan yang pernah ada, dan sebagai sumber kekuatan untuk terus menjalani hidup dengan membawa semangat Epy Kusnandar di dalam hatinya. Keinginan untuk terus berduka adalah cara Karina Ranau untuk memastikan bahwa Epy Kusnandar tidak akan pernah terlupakan, dan bahwa cinta mereka akan abadi, terukir dalam relung hatinya yang terdalam.

