BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Juventus tengah terperosok dalam jurang performa yang mengkhawatirkan, sebuah periode kelam yang membuat para penggemar dan pengamat sepak bola terheran-heran. Tren negatif ini mencapai puncaknya ketika tim berjuluk Si Nyonya Tua ini secara mengejutkan dipermalukan di kandang sendiri oleh Como, sebuah tim yang seharusnya mampu mereka taklukkan dengan mudah. Kekalahan ini memperpanjang rentetan tanpa kemenangan Juventus menjadi lima pertandingan berturut-turut di seluruh kompetisi. Rentetan yang menyakitkan ini terdiri dari empat kekalahan telak dan hanya satu hasil imbang yang terasa hampa.
Dalam periode yang memilukan ini, Juventus harus menelan pil pahit kekalahan dari tim-tim yang berbeda. Di ajang Coppa Italia, mereka takluk dengan skor telak 0-3 dari Atalanta. Di pentas Serie A, kekalahan dramatis harus diterima dari rival abadi Inter Milan dengan skor 2-3, diikuti oleh kejatuhan yang lebih mengejutkan melawan Como dengan skor 0-2 di kandang sendiri. Penderitaan Juventus tidak berhenti di situ, karena di Liga Champions mereka dihancurkan oleh Galatasaray dengan skor yang mencolok 2-5. Satu-satunya poin yang berhasil diraih dalam rentetan ini adalah hasil imbang 2-2 melawan Lazio, yang lebih terasa seperti kehilangan dua poin daripada meraih satu poin berharga.
Yang lebih mengkhawatirkan dari rentetan kekalahan ini adalah pola pertahanan Juventus yang rapuh. Rata-rata, Si Nyonya Tua kebobolan tiga gol per pertandingan dalam lima laga terakhir mereka. Sebuah statistik yang sangat buruk bagi tim dengan reputasi pertahanan baja seperti Juventus. Di sisi lain, lini serang mereka juga terlihat tumpul dan tidak efektif. Hingga saat ini, Juventus hanya mampu mencetak enam gol dalam rentetan lima pertandingan tersebut, sebuah angka yang sangat minim dan jauh di bawah ekspektasi. Perpaduan antara pertahanan yang bocor dan serangan yang mandul ini menjadi resep yang sempurna untuk sebuah periode krisis.
Menanggapi performa buruk timnya, gelandang Juventus, Khephren Thuram, mengakui dengan jujur bahwa penampilan timnya jauh dari memuaskan. Pengakuannya ini datang sesaat setelah kekalahan terbaru melawan Como pada Sabtu malam (21/2/2026), sebuah malam yang seharusnya menjadi momen kebangkitan di hadapan pendukung sendiri. "Saya tidak bisa menjelaskan secara pasti apa yang terjadi, tetapi kami sebagai sebuah tim harus tampil jauh lebih baik," ujar Thuram dengan nada kecewa, sebagaimana dikutip dari sumber terpercaya Tuttojuve. Ia menambahkan, "Hari ini kami tidak bermain dengan baik melawan Como, sebuah tim yang justru bermain sangat bagus dan pantas meraih kemenangan."
Kekecewaan tidak hanya dirasakan oleh para pemain di lapangan, tetapi juga oleh para legenda klub. Michele Padovano, mantan pemain Juventus, secara terbuka menyuarakan keprihatinannya dan mempertanyakan inkonsistensi performa tim yang sempat menunjukkan secercah harapan. Padovano awalnya melihat adanya perbaikan di bawah kepelatihan Luciano Spalletti, terutama setelah pertandingan melawan Inter Milan. "Sepertinya (Luciano) Spalletti telah berhasil memperbaiki keadaan, dan hingga laga melawan Inter, saya harus mengatakan bahwa ia memang berhasil memperbaikinya. Namun, yang ingin saya pahami adalah mengapa tidak ada konsistensi performa seperti yang kita lihat saat melawan Inter dan di beberapa pertandingan sebelumnya," ungkap Padovano, seperti yang dilaporkan oleh JuveFC.
Padovano melanjutkan analisisnya dengan memberikan pandangan objektif mengenai pertandingan melawan Como. "Secara objektif, Como bermain sangat baik dan pantas mendapatkan kemenangan. Juventus hanya memiliki satu peluang yang diciptakan oleh Openda di awal pertandingan, dan setelah itu tidak ada lagi yang signifikan," katanya dengan nada prihatin. Ia menambahkan, "Mereka bahkan tidak lagi mampu menciptakan peluang seperti yang biasa mereka lakukan. Saya harus mengatakan, ya, kita terus melangkah mundur, bukan maju." Pernyataan Padovano ini mencerminkan kekhawatiran banyak pihak bahwa Juventus saat ini berada dalam fase kemunduran yang serius, sebuah situasi yang sangat kontras dengan citra dan sejarah panjang klub yang selalu berorientasi pada kemenangan.
Periode sulit ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai akar permasalahan di dalam skuad Juventus. Apakah ini masalah taktik, kelelahan pemain, penurunan motivasi, atau kombinasi dari semua faktor tersebut? Analisis lebih mendalam diperlukan untuk memahami penyebab di balik kemerosotan tajam ini. Para penggemar Juventus tentu berharap agar tim kesayangan mereka dapat segera menemukan kembali performa terbaiknya dan keluar dari tren negatif ini sebelum berdampak lebih jauh pada posisi mereka di klasemen Serie A dan peluang mereka di kompetisi lainnya. Konsistensi, pertahanan yang solid, dan ketajaman lini serang adalah kunci utama yang harus segera dibenahi oleh tim asuhan Luciano Spalletti. Kemenangan melawan Como di kandang sendiri adalah sebuah tamparan keras yang seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi dan perubahan.
Berikut adalah rincian performa Juventus dalam lima pertandingan terakhir di seluruh ajang:
5 Laga Terakhir Juventus (Semua Ajang)
- Serie A: Juventus 0 – 2 Como (21/02/2026)
- Liga Champions: Galatasaray 5 – 2 Juventus (17/02/2026)
- Serie A: Inter Milan 3 – 2 Juventus (14/02/2026)
- Serie A: Juventus 2 – 2 Lazio (10/02/2026)
- Coppa Italia: Atalanta 3 – 0 Juventus (07/02/2026)
Rekap Performa:
- Total Pertandingan: 5
- Menang: 0
- Seri: 1
- Kalah: 4
- Gol Dicetak: 6
- Gol Kebobolan: 15
- Selisih Gol: -9
Rentetan hasil yang sangat buruk ini tentu menjadi pukulan telak bagi Juventus. Para pemain, staf pelatih, dan manajemen kini berada di bawah tekanan besar untuk segera mencari solusi dan mengembalikan performa tim ke jalur yang benar. Kegagalan untuk segera bangkit dari keterpurukan ini dapat berdampak jangka panjang pada ambisi Juventus di berbagai kompetisi yang mereka ikuti. Masa depan klub yang diwarnai sejarah gemilang kini diuji oleh periode tergelap dalam beberapa tahun terakhir.

